
"Terus gimana tadi, Ndre? Kecuali apa... tadi belum kamu jawab kan?" Yesi masih menagih jawaban Andre yang menggantung.
"Hmmm, aku kok malah lupa... coba tolong ingetin aku bilang apa tadi?" Andre masih pura pura tak ingat sembari menyeruput minumannya.
"Astaga, Ndre. Jangan pura pura pikun. Tadi kamu bilang, kamu janji gak bakalan ada yang lain, kecuali apa....?" Andre tertawa, ekspresi Yesi begitu lucu dan menggemaskan dimatanya.
"Masih penasaran? Mmmm, aku tadi mau bilang apa ya...?" mengetuk ngetuk pelipis mencoba berpikir. Pura pura.
"Oh, yang itu? Aku baru ingat!" Andre tersenyum lebar sembari menjentikkan jari sampai berbunyi.
Tik...
Saat ini mereka sedang minum es kelapa muda sembari makan cemilan di kafe dekat pantai yang tak begitu ramai.
"Ihhh, suka banget bikin penasaran. Bete ah!" Yesi merengut melempar Andre dengan tisu, lalu melempar pandang ke arah pantai melihat anak anak yang bermain dipinggir dengan ditemani ayah atau ibunya. Andre menarik dagu Yesi, menghadapkan wajah cantik namun judes itu menatapnya.
"Gitu aja ngambek. Be smile, please!" Aku tuh janji... tak akan ada yang lain, selain kamu dan aku. Kecuali nanti jika udah ada anak anak. Betul bukan, apa kataku?" Andre tersenyum menatap Yesi yang bersemu merah.
"Gombal ah!" ia menahan senyum Tetiba dari tempat mereka duduk, ada seorang pengamen yang sedang memetik lagu untuk sepasang lelaki perempuan muda yang sedang berduaan. Dan lelaki itu mengusirnya dengan isyarat tangan. Terlintas sebuah ide di benak Andre. Ia bergegas memanggil pemuda gondrong itu.
"Iya, mas!" kata pemuda gondrong setelah mendekat.
"Mmm...!" Andre terlihat berfikir, lalu lebih mendekat, ia lalu membisikkan sesuatu di telinga pemuda gondrong yang terlihat manggut manggut paham akan apa yang diinginkan Andre darinya.
Ehemm...
Sebelum memulai sang pengamen berdehem.
"Halo mbak Yesi, saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk mbak Yesi." Yesi menatap Andre yang tersenyum sembari mengedipkan sebelah mata padanya.
"Lagu ini adalah persembahan dari mas Andre untuk mbak Yesi seorang yang mas Andre cinta. Judulnya adalah... Takkan ada cinta yang lain." Ia mulai memetik gitarnya.
Haruskah ku ulangi lagi kata cintaku
padamu
Yakinkan dirimu
Masihkah terlintas di dada keraguanmu itu
Susahkan hatimu
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan dirimu
Ingatkah satu bait kenangan cerita cinta kita
Tak mungkin terlupa
Buang semua angan mulukmu itu percaya takdir kita
Aku cinta padamu
Yesi dan Andre saling pandang dengan backsound deburan ombak dan lagu dari sang pengamen yang menyentuh hati Yesi.
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu wo
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan dirimu
Akankah nanti
Terulang lagi jalinan cinta semu
Dengar bisikku
Bukalah mata hatimu
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
__ADS_1
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan... dirimu...
Lagu by Dewa 19
Rilis ulang oleh Titi DJ.
Yesi dengan wajah sumringah namun malu malu meresapi setiap bait lagu yang dipersembahkan untuknya. Ia menopang dagu saling menatap mesra dengan Andre yang juga menatapnya penuh cinta.
"Woow, rupanya pasangan serasi ini begitu terhanyut oleh suasana lagu yang saya bawakan." seru pemuda itu setelah mengakhiri lagu, dan tepuk tangan meriah datang dari sepasang kekasih dan juga pengunjung lainnya.
Andre mengambil dompetnya dan menyelipkan selembar uang berwarna merah yang langsung disambut senyum lebar pemuda gondrong yang mengucap terimakasih berkali kali sebelum beranjak pergi.
"Tunggu!" seru Yesi membuat pemuda itu urung melangkah. Gantian Yesi membisiki sesuatu pada pengamen yang lagi lagi mengangguk menerima job, membuat wajahnya sumringah.
"Aku mau nyanyi, aku harap kamu suka, Ndre."
***
Ku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang menaklukkan hari-hari mu yang tak mudah
Biar ku menemanimu membasuh lelah mu
Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa
Biar ku lukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
jangan berhenti
Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang menaklukankan hari-hari mu yang tak indah
Biar ku menemanimu membasuh lelah mu
Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa
Biar ku lukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia....
Melukis senja by Budi Doremi
Tepuk tangan meriah dengan selesainya lagu yang dibawakan Yesi.
Lumayan suaranya.
"Woow, surprise!" pekik Andre ikut bertepuk tangan. Standing applaus.
"Maaf ya Ndre, suaraku gak bagus. tapi lagu ini keluar dari hati aku yang paling dalam."
Andre menggeleng.
__ADS_1
"Suaramu cukup merdu kok. Aku suka. Dan terima kasih ya!" Andre mendekati Yesi dan memeluknya dari belakang. Kemesraan yang mereka tunjukkan membuat pengunjung lain bilang woow!
"I love you!" bisik Andre.
"Love you too!" balas Yesi mengusap rambut Andre sembari menoleh. Hingga pipinya bersambut dengan bibir Andre.
Dan Andre menahan tangan Yesi yang hendak membuka dompetnya. Uang berwarna merah sekali lagi masuk ke kantong pemuda gondrong itu.
Andre dan Yesi menghabiskan waktu berdua di pantai itu. Berfoto ria, bersantai sambil bercanda, bermain air. Tertawa lepas melepaskan penatnya beban pekerjaan sehari hari, hingga saat petang mereka menikmati sunset sepuas hati.
Mereka baru meninggalkan pantai selepas Maghrib, memilih memesan kamar hotel dengan doublebed room untuk istirahat.
*****
Malam harinya ditempat yang jauh.
Yulia tertidur pulas dengan mulut sedikit mangap saat Romi masuk ke dalam kamar.
Kasian, kamu pasti capek banget sayang, ngurus anak anak sendiri. Ditambah ibu Kanti sedang gak enak badan. Padahal kepala ini udah cenut cenut gak dapat jatah hampir seminggu, kamu udah tidur aja.
Romi duduk di sisi Yulia yang memunggunginya. Menatap punggung yang setengah terbuka bahunya karena baru menyusui, dan sepertinya ketiduran sebelum sempat menutupnya kembali. Pemandangan yang membuat Romi menelan ludah, menahan gejolak yang menggeliat dibawah sana. Ingin rasanya ia menyentuh sang istri, namun rasa kasihnya menahan hasrat itu.
"Heran aku! Dulu waktu gak punya istri, rasa itu seperti lenyap tak berbekas. Tapi sekarang, liat istri tidur mangap aja bisa bikin on. Gilak...!" Romi mengacak acak rambutnya dan mendesis.
"Pusiing...!" gumamnya lirih.
"Kenapa, mas?" Romi menoleh, Yulia mengucek mata sembari menguap.
"Tadi aku dengar kamu bergumam sendiri." Romi membalikkan badan dan merangkul istrinya.
"Nggak apa apa. Kamu capek kan? Yuk tidur aja, udah malam!" Romi merebahkan diri, lalu menarik bahu istrinya untuk mengikutinya rebahan.
"Kalau ada masalah, bilang dong mas! Jangan dipendam sendiri!" Yulia masih mendongak menatap manik mata Romi yang juga menatapnya.
"Sungguh, gak ada apa apa. Cuman ya... biasalah. Yuk tidur, yuk! Udah ngantuk ini." sudah menepuk bantal mencari posisi kepala agar lebih nyaman.
"Yakin nih, mau tidur? Gak ada ritual dulu sebelum tidur, hmm?" Yulia malah tersenyum menggoda. Karena yang sebenarnya iapun menginginkan sesuatu dari suaminya. Romi yang paham akan arti kata kata sang istri, tersenyum cerah.
Yulia menarik wajahnya keatas wajah Romi, tatapan pun beradu. Lewat sorot netra itu mereka saling tahu keinginan masing-masing.
"Aseeek, dapat jatah" girang Romi.
"Tapi, balonnya habis sayang, tadi lupa beli di apotik!" senyum cerah Romi memudar mengingat alat pengaman agar Yulia tidak isi lagi telah habis. Bukannya tak mau, Baby Kia belum genap dua tahun, kasihan kalau dia punya adik lagi sekecil itu.
" Banyak cara biar gak terjadi pembuahan. Keluarin aja di luar mas, yakin aman." Yulia memberi solusi.
"Tapi, kalau lupa gimana? Bisa berabe, kan kalau kamu hamil lagi, sedang Kia masih kecil." pernah sekali mereka kehabisan alat pengaman, dan saat itu mereka sepakat untuk mengeluarkannya diluar. Namun karena kenikmatan yang dirasakannya membuat Romi lupa dan mengeluarkannya didalam. Baru sadar jika ia tak memakai pengaman membuat Romi panik waktu itu, bagaimana kalau sampai Yulia hamil dan Kia masih berusia beberapa bulan. Namun nyatanya aman aman saja sampai sekarang.
"Ya diingat ingat dong, mas. Kamu tuh ya, kalau udah e na e na, lupa segalanya." Yulia menarik wajahnya menjauh, namun Romi menahannya.
"Aah, bodo amat. Yang penting kita seneng seneng sekarang. Kalaupun jadi, terima aja. Aku bakalan tanggung jawab kok!!" seketika Romi bangkit, melepas kaos dan membuangnya asal. Namun saat akan mendekatkan bibir mereka Yulia menahannya.
"Kia dipindahin dulu, mas. Entar keganggu lagi tidurnya dia." Romi mendengus membuat Yulia terkikik geli. Suaminya itu sudah seperti orang yang sudah gak sabar untuk berbuka puasa saat bedug Maghrib di tabuh. Ia menoleh pada anaknya yang tidur telentang dengan kepala agak miring.
"Ya!" Yulia menatap suaminya yang dengan gesit memindahkan Kia mereka ke boks bayi. Seperti yang sudah tak sabar dengan gerakan agak kasar.
"Pelan, mas! Malah kebangun nanti adeknya!" ucap Yulia pelan. Dan benar, Baby Kia menggeliat. Romi menepuk nepuk bo kong Kia pelan beberapa saat. Dan saat dirasa sudah aman karena baby Kia benar benar lelap, ia kembali ke peraduannya.
"Wooow!" Romi bersorak girang. Tanpa ia tahu, sang istri duduk di tepi ranjang mengenakan piyama tipis berbelahan dada rendah. Entah kapan ia mengganti bajunya.
" Rupanya istriku ini sedang berusaha menggoda aku. Padahal, tak digoda aja aku udah tergoda dan tergila gila!" tanpa sempat menjawab Romi menjatuhkan sang istri di ranjang dan segera meraup bibir yang menjadi candu baginya. Yulia membiarkan saja, sang suami mengeksplor raga yang sah menjadi milik dia seutuhnya, sembari sesekali membalas dan mengimbangi gai rah sang suami. Sesekali mende sah, merasakan nikmat yang terbang melayang tinggi ke angkasa, merasakan surga duniawi yang memabukkan.
"Tuh kan, lupa!" seru Yulia lirih saat sang suami menyemburkan miliknya kuat dengan rasa hangat menjalar dengan tanpa pengaman saat mencapai kli maks kenikmatan. Karena merasa telanjur, Romi meneruskan saja kegiatannya yang memang sudah kepalang tanggung.
"Aah!"
Romi menjatuhkan tubuhnya dengan mengatur nafas ngos ngosan dan tubuh penuh peluh.
"Gak usah monyong gitu, aku tanggung jawab kok kalau yang barusan berhasil jadi bayi. Mau nambah lagi?" ucap Romi setelah berhasil mengatur nafas.
****
Assalamu'alaikum.
Alhamdulillah, tak terasa kita sudah berada diawal bulan Januari tahun 2022. Tak terasa juga usia kita berkurang satu tahun. Semoga kita semua tetap dicucuri Nikmat sehat, Iman, dan Rizki yang melimpah, yang melebih dari tahun kemarin. Semoga perilaku kita pun menjadi lebih baik lagi dari tahun sebelumnya.
Tak lupa terima kasih pada semua teman teman yang telah membersamai saya selama ini hingga saya masih bertahan sampai sekarang. Pertahankan ya...
Hanya dia yang bisa saya panjatkan untuk para readerku semua seperti yang tersebut diatas tadi.
__ADS_1
Love you all...