
*****
Yulia memandang Romi yang hilir mudik dengan mengendarai jet nya, bersama para pengendara yang lain. Berkali kali ia menyeruput es kelapanya hingga tenggorokannya terasa nyaman dan adem karena udara sore masih lumayan terik. Dengan duduk duduk diatas tilam plastik agak jauh dari bibir pantai ia leluasa memandang kemana arah kendara jet milik Romi.
Yulia tersenyum saat Romi terlihat turun dan berjalan ke arahnya.
"Wow amazing, sayang! Kamu harus coba naik jet ski. Menyenangkan loh." Yulia langsung menggeleng kuat.
"Gak ah, gak mau! Entar mabok lagi!"
"Mas Romi mau minum es kelapa?" tawarnya sambil menyodorkan es kelapa muda pada Romi.
"Makasih, sayang!" ucap Romi sebelum meminumnya.
"Ayo, kamu harus coba! Sebentar saja kalau memang takut, please!"
"Mas, aku gak mau! Takut aku liatinnya juga. Aku liat aja kamu naik dari sini, Ya!" tawar Yulia, namun Romi tetap memaksa istrinya ikut naik jet sky. Ia menarik narik tangan Yulia seperti anak kecil yang main dan gak mau diajak pulang oleh ayahnya.
"Ayolah, sayang! Kamu cuman perlu duduk di belakang aku, terus pegang erat pinggang aku kalau memang takut, yakin deh kamu bakal ketagihan." Tetap saja, Yulia menggeleng. Ia punya pengalaman buruk dulu waktu masih remaja, naik roller coaster. Yulia pusing dan mabuk berhari hari, mual serta muntah. Dan sampai saat ini pun ia tak pernah membayangkan jika harus naik kereta luncur itu. Bisa mati berdiri, pikirnya.
"Mas, kok maksa banget sih, aku kan takut mas! Kenapa sih gak ngerti aku?" ucap Yulia dengan nada tinggi. Tadi ia sudah melihat gaya Romi saat naik jet, meluncur diatas air yang bergelombang, hatinya sudah miris dan was was.
Namun sepertinya Romi yang pemaksa tak tahu di tolak. Ia rengkuh pinggang Yulia lalu menuntunnya ke arah bibir pantai di mana jet ski sewaannya berada.
"Mas Romiiii!" Yulia cemberut saat Romi menyuruhnya duduk di belakangnya, dibantu oleh seorang instruktur. Memegang kedua tangannya dan dilingkarkan pada pinggang Romi lalu mengaitkannya satu sama lain.
"Udah nyaman 'kan duduknya?" tanya Romi sebelum meluncur, Yulia mengangguk lemah. Dan meluncurlah jet itu agak ke tengah pantai dengan pelan.
Yulia menikmatinya saat jet melaju pelan, namun saat Romi mempercepat lajunya, Yulia terlihat begitu tegang di kursi belakang. Berkali kali ia berteriak agar Romi menghentikannya di bibir pantai agar ia bisa turun. Namun Romi tak mengindahkannya. Ia tetap asyik melajukan jet itu bolak balik dan berulang ulang.
Akhirnya Yulia hanya bisa pasrah, duduk di kursi penumpang.
__ADS_1
Setelah puas bermain di tengah air yang bergelombang itu, akhirnya Romi menepikan jetnya. Dengan tergesa Yulia langsung turun, dan berlari ke arah tempat yang tidak banyak orang berlalu lalang sambil menahan gejolak di perutnya. Romi terlihat heran dan segera berlari menyusul. Saat tiba di tempat yang agak sepi, akhirnya Yulia memuntahkan isi perutnya.
"Hooek! Hoooek!
Romi melihat Yulia yang muntah, menjadi tak enak hati, memaksa sang istri ikut dengannya.
"Maaf, sayang! Aku tak tahu kalau kamu benar benar takut. Aku cuma ingin kamu mencobanya. Gak tahu kalau sampai seperti ini."
Romi mengusap dan memijit pelan tengkuk istrinya.
"Mas, aku pusing. Ayo kita balik hotel, mas! Hoooekkk!" Yulia masih saja memuntahkan isi perutnya dengan muka merah padam.
Penyesalan benar benar sangat terlihat dari muka Romi, tak tahu efeknya akan seperti ini.
Yulia memasuki area hotel dengan langkah sempoyongan dan memijit pelipisnya yang pening. Romi hendak menggendongnya, namun Yulia tak mau. Dan Romi sudah mengkerut tak berani memaksa karena Yulia mengancam gak akan memberikan jatah malam seminggu lamanya.
Harus puasa seminggu? Ah, mana tahan! Jika tak ada lawan pertandingan sih, sudah lima tahun lebih Romi jabani tanpa jatah malam, tanpa olahraga malam, tanpa bersebadan hanya berteman bantal guling atau apalah namanya. Romi sanggup menjalaninya.
Dan ia harus menahan diri, manalah sanggup!
Mereka telah sampai di kamar dengan susah payah karena jalan Yulia yang gak normal. Dan berkali berucap mas Romi jahad sambil cemberut. Namun Romi hanya bisa meminta maaf dan menerima omelan Yulia tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya. Ia memang salah karena memaksa tanpa tahu apa yang melatar belakangi Yulia seperti itu.
"Ya maaf! Kalau dari awal kamu terus terang pernah trauma naik roller coaster, aku gak bakal maksa. Tapi aneh ya! Itu kan kegiatan yang jauh beda, kok ya mabok juga!" heran Romi.
"Memang sih beda, tapi sama sama memacu ketegangan. Meningkatkan hormon adrenalin kita!" jawab Yulia lemah. Yulia berjalan dengan meletakkan kepala pada pundak Romi.
Mereka kini memasuki lift, ada beberapa orang yang juga akan naik. Melihat gaya Yulia yang terlihat manja seorang pengunjung hotel yang bersama mereka nyelutuk tak jelas.
Mungkin dikiranya Yulia mabok karena minum minuman keras.
" Aku pesankan teh panas ya? mau apa yang lainnya, sayang?" untuk teh panasnya Yulia mengiyakan. Namun untuk memesan makanan Yulia menggeleng, perutnya benar benar tak bisa diajak kompromi. Rasa mulas masih mendera ditambah lagi rasa pusing di kepala yang terasa berdenyut.
__ADS_1
Kali ini Romi tak menanyakan lagi, ia menghubungi pihak room service hotel untuk memesan teh, jus buah, beberapa jenis makanan dan parasetamol, serta minyak kayu putih untuk meredakan sakit Yulia.
Ia kembali mendekati istrinya yang bergelung selimut diatas ranjang.
"Maaf! aku benar benar minta maaf!" tak ada respon dari Yulia. Ia lalu memeluk istrinya dari belakang. Menyesal sendiri dengan kelakuannya memaksa Yulia ikut bermain ski.
Tak berapa lama terdengar ketukan dari luar, ia yakin itu adalah pelayang yang membawakan pesanannya.
"Ayo sayang, makanlah dulu. Tadi isi perutmu keluar semua. Harus di ganti dengan makanan yang baru, jangan sampai perutmu kosong!" Terlihat Yulia menggelengkan kepalanya yang hanya terlihat rambutnya.
"Ayolah, setelah itu kamu minum obat terus tidur, Ya!!" bujuk Romi mengelus kepala Yulia. yang meringkuk memunggunginya. Romi menyibakkan selimut sampai bahu, lalu membimbing Yulia untuk duduk.
"Tapi perutku masih mual, mas!" rengeknya.
"Tapi harus tetap makan. Sedikit saja, terus minum obat!" paksa Romi. Ia tak mau istrinya jadi sakit. Gak lucu juga kalau pulang dari menghabiskan malam pertama di hotel, pulang dalam keadaan sakit.
" Kita kapan pulang ke rumah, aku kangen ibu, kangen Shila, kangen semuanya!" Romi melihat jam tangannya. Sudah sore. Tadi pagi mereka menghabiskan waktu di kamar hotel, mempraktekkan berbagai gaya bercinta dalam beberapa ronde. Hingga kelelahan dan bermandikan peluh hingga tertidur dan baru bangun saat tengah hari.
"Besok pagi kita bisa check out. Masih ada sisa satu malam kita di sini. Kamu harus sembuh. Jangan sampai pulang dalam keadaan sakit. Bisa dikeroyok orang se RT aku nanti!" gurau Romi membuat Yulia sedikit tersenyum.
Ia lalu mendorong mangkuk makanan yang dibawa Romi, hanya masuk tiga suapan kedalam perutnya.
"Masih mual mas, aku pengen tidur aja!"
"Ya udah, minum obatnya dulu, baru tidur." Setelah minum obatnya, Yulia pun meringkuk lagi di balik selimut, Romi dengan telaten memijit pelan pelipis dan sesekali mengusap rambutnya dan menciumi bagian belakang kepala Yulia.
\=\=\=\=\=\=\=
Maafkeun kalau othor up-nya randoom. Othor nulis cuma saat waktu senggang aja terus kalau udah sampai seribu kata atau lebih, baru tahap editing terus di up.
TBC
__ADS_1