
*****
Pagi harinya Yulia berkemas, untuk berangkat bekerja. Hari ini dan seminggu ke depan pekerjaannya akan lebih ringan karena ada mbak Dila yang membantunya masak dan beberes rumah.
"Makasih ya mbak Dila, sering sering kesini deh, bikin aku tambah seneng punya kakak ipar mbak Dila!" ucap Yuli sambil nyomot tempe goreng yang baru di tiriskan dari penggorengan.
"Adududuh, panaas!" pekiknya lalu meniup niup tempe di tangan.
"Huuuu!" sambut Angga, yang ada didekatnya, yang juga lagi makan tempe goreng sambil memukulkan tangan kirinya.
"Makanya kalau mbaknya lagi masak dibantuin, bukannya males malesan! main comot aja" ucap sang kakak membuat Yulia tak terima.
"Yeee, siapa yang malesan, kek yang situnya nggak. Itu tuh tadi yang nyikat kamar mandi sama nyuciin bajunya Rima siapa? Kak Angga?" Terus yang nyapu halaman sama beresin piring piring bekas makan tadi malam siapa? Kak Angga juga!" sungutnya yang disambut tawa Dila, Angga pun garuk garuk kepala.
"Kakak kamu memang gitu Yul, kalau istrinya bukan orang sabar mah, wis mutung, mangkel karo kelakuane kakakmu!" adu mbak Shila dengan logat daerah asalnya.
"Iya nih mbak, saya yakin kok kalau yang malesan itu dia!" melirik Angga, yang mengambil tempe keduanya.
"Ih, ini tempe ojo diganyang, kangge lawuh mas!" Mbak Dila memarahi suaminya, membuat Yulia menjauh dan tertawa. Angga melotot pada Yulia tak terima. Awas kau ya!
"Bu, kak Angga, mbak Dila! Yulia berangkat kerja dulu, Assalamu'alaikum!" pamit Yulia.
"Rima, Tante berangkat dulu!" pagi ini Yulia terlihat begitu ceria dan banyak senyum.
"Cieee, cieee... yang udah kangen sama calon. Mau ketemuan kelihatan seneng banget nih. Mukanya keliatan berseri banget!!" goda mbak Shila. Kemarin saat Romi sudah pulang, ia di berondong banyak pertanyaan dari kakak dan kakak iparnya. Yulia sudah seperti terdakwa yang di sidang di pengadilan.
"Ihh, mbak Shila apaan sih, biasa aja lagi. Aku kan juga belum jawab, belum sah jadi calon suami." jawab Yulia malu dan pipinya merona.
"Emang sih, belum jawab. Tapi dari raut muka kamu udah menggambarkan kok dek, kalau ini mah bakalan bilang iyess, aku terima lamaranmu, sayang! Ahahaha!" mbak Dila tertawa keras sekali. Gak ada jaim jaimnya nih orang! Ia sampai mengelap matanya yang basah dengan ujung jilbabnya. Yulia merengut. Gayanya terlihat seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
"Aku pergi aja deh sekarang!" Yulia mulai merajuk dan segera beranjak. Namun baru beberapa langkah keluar halaman, terlihat sepeda motor dengan pengendara yang tidak asing baginya. Yulia menoleh ke teras rumahnya, dua orang sepasang suami istri yang menggodanya tadi sudah gak ada di tempatnya berdiri.
"Hai, bunda! Assalamu'alaikum."
sapa gadis cilik yang duduk di jok belakang mendekap erat punggung ayahnya. Sudah cantik dan wangi memakai jaket yang membalut tubuh.
"Waalaikum salam. kok pagi pagi udah kesini?" heran Yulia. Membantu Shila turun dari sepeda, lalu menciumi pipi yang dingin itu karena terkena angin pagi.
__ADS_1
"Yul, aku mau pergi ke luar kota pagi ini sama ibu. Adikku melahirkan dan aku mau ngantar ibu kesana sekalian nengok bayinya. Tapi Shila tak mau ikut, katanya pengen main sama Rima. Aku titip dia gak apa apa ya, sehari ini?" Yulia mengerutkan alisnya.
"Eh, bukannya Shila suka dengan adik bayi ya? kenapa gak ikut sayang?" menghampiri Shila yang telah turun dari sepeda.
"Kalau bunda ikut sama Rima ikut, aku mau ikut!" mata Shila berbinar.
Eh, kok malah gini?
"Ya udah deh, Shila disini aja sama Tante sama Rima." akhirnya tak jadi membujuk Shila untuk ikut ayah dan neneknya.
"Kalau kau mau ikut boleh kok Yul, biar sekalian kenal sama adik aku!" ucap Romi penuh harap Yulia mau menemaninya pergi ke luar kota.
"Tapi, pak! Biar Shila disini saja deh pak. Aman kok dia sama saya seharian. Insya Alloh!" Yuli merasa sungkan kalau harus pergi jauh, dengan keadaan mereka belum resmi. Apalagi ia baru melirik tetangganya, Bu Nur, sedang ada dibalik kelambu kaca transparan rumahnya. Dia adalah tetangga yang paling suka nyinyirin Yulia. Ia tidak mau jadi bahan ghibah mereka.
"Tapi bunda, aku juga pingin tengik adik bayi!
Ya...ya...ya...!" rayu Shila mengedipkan kedua matanya dan mengguncang lengan Yulia.
"Kalau boleh, kamu ajak sekalian ponakanmu, biar jadi temannya Shila main, Yul!"
Yulia bimbang. Namun ia sepertinya tak bisa menolak permintaan Shila.
"Assalamu'alaikum, Bu!" belum Yulia membuka mulut, Romi mendahuluinya mengucap salam.
"Waalaikum salam!" Raut heran tergambar jelas di wajah yang keriput itu.
"Bu, saya mau minta izin ibu untuk pergi ke kota sebelah, adik saya melahirkan. Dan Shila pengen lihat adik bayi maunya dia ajak Yuli sama Rima. Boleh 'kan Bu!"
"Tapi, Nak Romi...!"
"Saya kesana sama ibu dan Shila kalau boleh ngajak Rima juga." Bu Kanti mau protes, tapi setelah tahu mereka tak hanya pergi bertiga membuat Bu Kanti menghela napas.
"Ya udahlah. Mau gimana lagi, ibu juga gak akan menghalangi kalau Yulia sendiri mau!" Romi langsung berjongkok di depan Bu Kanti. Wanita tua itu merasa kaget dengan reaksi Romi yang menggenggam tangannya.
"Terima kasih Bu, terima kasih atas kesempatan yang ibu berikan supaya saya dan anak saya dekat dengan Yulia, anak ibu. Saya janji saya tak akan menyia nyiakan kesempatan yang ibu berikan. Saya berharap ibu merestui kami agar Yulia tak ragu lagi dengan saya." Menciumi punggung tangan Bu Kanti. Bu Kanti menjadi terharu.
Sejak awal dia suka dengan anak ini.
__ADS_1
"Tapi tetap saja keputusan ada di tangan Yulia, bukan saya, Nak Romi." tangan kiri Bu Kanti menyentuh rambut hitam Romi.
"Iya saya tahu, tapi Yulia sangat tergantung dengan restu ibu juga." disaat itu Yulia dan Shila keluar dari rumah. Romi segera berdiri.
"Gimana?" tanya Romi pada Yulia.
"Iya, boleh. Rima sedang ganti baju dulu!" sahut Yulia.
"Ya udah, ayo kita berangkat keburu siang, ibu juga pasti sudah nunggu!" menyalami Bu Kanti, dan Dila ibunya Rima. Sedang Angga, entah kemana.
Mereka melambaikan tangan saat Romi melajukan pelan motornya membonceng Shila Rima dan Yulia.
Mereka melakukan perjalanan ke luar kota menempuh jarak perjalanan sekitar tiga jam. Dalam perjalanan tak henti Shila dan Rima bercerita, tentang apa saja, pembicaraan khas anak anak. Tak jarang mereka tertawa dan berteriak berdua. Sudah seperti pasar, kaya Romi.
Akhirnya mereka telah sampai di tempat yang dituju. Rumah gaya minimalis modern. Ornamen rumah cukup unik dengan desain interior juga wah dan elegan dimata Yulia. Beda dengan rumah yang ditempati Romi dan Shila, lebih ke arsitektur klasik. Mungkin karena rumah lama, peninggalan almarhum ayah mereka.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, Yulia tak tahu harus berucap apa. Jika ia bertamu ke rumah orang biasanya mengucap salam. Lah ini, didepan pintu masuk sudah disuguhi sal*b, dan pohon Cemara dengan aneka hiasan dan lampu lampunya.
\=\=\=\=\=\=\=
mutung \= pundung, marah
mangkel\= gemes, geram
di ganyang\= di makan tanpa nasi
Kangge lawuh\= buat lauk
Bersambung lagihhh.....
Masih ada yang menanti kah....
Atau dah mulai bosan....
Yuk komen dan likenya jangan ketinggalan.
Aishiteruuu....
__ADS_1
Wo ai ni....