Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 71


__ADS_3

*****


"Wahyu, apa ibu gak salah denger? Barusan ibu nawarin kamu perempuan cantik dan kaya buat dijadikan istri, eh malah kamu punya rencana sana perempuan kampungan ini? Ibu gak bakal terima." seperti biasanya sikap dominan dan ego tinggi Bu Adnan langsung merusak suasana.


"Ibu tenang Bu, duduk dulu! Ibu jangan selalu memaksakan kehendak pada Wahyu, ia sudah dewasa dan berhak dengan jalan hidupnya sendiri. Jangan jadikan dia boneka yang harus menuruti semua kemauanmu Bu!" pak Adnan mengingatkan tapi malah membuat istrinya semakin menjadi jadi kemarahannya.


"Kamu mendukung mereka, Pak. Kalian waras? atau sudah sama sama gila?" pekik Bu Adnan. Ia tak peduli kalau suaranya terdengar sampai di rumah tetangga. Urat malunya sudah hilang, seusia dirinya masih suka bertengkar dengan suami.


"Lihat tuh perempuan, kalian kena pelet apa sih, perempuan dekil, kumal, kampungan macam dia. Ibu aja jijik dekat dekat sama dia, malah Bapak mau jadikan dia menantu? Cih, ibu gak bakalan sudi! Sampai mati ibu gak bakalan sudi," ancaman mematikan Bu Adnan sambil menuding nuding ke arah Halimah yang hanya menunduk dan meneteskan air mata.


Imah merasa hina walau sebelum Bu Adnan menghinanya. Salah. Hubungannya dengan Wahyu yang masih dalam hitungan jam adalah salah.


"Cukup ibu! Selama ini Wahyu sudah turutin semua kemauan ibu, menikahi Wida, menceraikan Yulia. Tapi apa yang Wahyu dapatkan? Hanya kekecewaan. Kehancuran! Apa itu yang ibu inginkan, kehancuran Wahyu?"


"Mana ada ibu menginginkan kehancuran anaknya Wahyu, ibu hanya gak ingin kamu hidup susah, karena menikah dengan orang susah, hanya akan menambah susah." sang ibu masih tetap ngotot.


" Sekarang Wahyu hanya ingin hidup tenteram dan menginginkan pasangan yang sesuai keinginan Wahyu, masih saja ibu tentang? Belum cukupkah hidup dan rumah tangga Wahyu hancur karena campur tangan ibu?"


"Bu, mungkin menurut ibu wanita yang ibu bilang tadi sempurna di mata ibu, tapi apakah ia akan terima kekurangan Wahyu, apa ia akan bisa menyayangi Rayyan bagai anaknya sendiri seperti yang Halimah lakukan selama ini? Saya yakin tidak, Bu!" debat Wahyu, pak Adnan diam, sedang Imah terus menunduk.


"Aku akan tetep milih Imah jadi pendamping hidup Wahyu, dengan atau tanpa restu ibu!" tegas Wahyu.


"Kita pulang sekarang!" Wahyu bicara dengan lembut kepada Imah. Imah mendongak, menatap bergantian Wahyu dan ibunya. Mata Bu Adnan terlihat melotot. Dikacangin anak sendiri. Ia lalu menurunkan tangannya.


"Bukannya kamu tadi mau nginap di sini, Wahyu. Menginaplah barang semalam. Ibu sama Ayah belum sempat bermain dengan Rayyan, cucu kami."


Andai ibu tahu yang sebenarnya, apa ibu masih bisa bicara sayang pada Rayyan.


"Tidak, ibu masih emosi, mana bisa saya dan Imah menginap disini. Saya sayang sama Ibu dan Ayah, Tapi saya akan tetap menikahi Halimah."


Wahyu berdiri, hingga Imah pun mengikutinya.

__ADS_1


"Baiklah, kali ini ibu ngalah dengan kemauan kamu, Wahyu. Menginaplah, ibu akan merestui kalian menikah!" Bu Adnan melunak, sambil mengatur siasat, ia harus berpikir ekstra cepat, agar Wahyu tak semakin jauh darinya.


Aku akan tempuh cara apa pun agar pernikahan kalian batal. Bu Adnan.


"Terima kasih, ibu!" Wahyu menghampiri ibunya, meraih tangannya lalu mencium pipi dan memeluknya erat. Lalu ia melakukan hal tsng sana pada Ayahnya. Pak Adnan hanya bengong, mendengar keputusan istrinya yang berubah 180 derajat dalam hitungan menit. Pak Adnan curiga ada sesuatu di balik ucapan setuju itu.


Wahyu tersenyum. Akhirnya ibu mau merestui hubungan nya dengan Imah. Tanpa curiga, ia tak tahu apa yang akan di rencanakan oleh ibunya itu. Akhirnya mereka pun menginap. Imah tidur di kamar yang dulu ia tempati. Sedang Wahyu tidur di kamarnya bersama Rayyan.


Pagi harinya seperti biasa Imah bangun pagi untuk bersih bersih dan membuat sarapan. Setelah memandikan Ifah dan Rayyan bergantian.


"Jemputlah mereka setelah pulang kerja, Wahyu! Biar kamu tak harus bolak balik pulang ke rumah terus berangkat kerja." tungkas Bu Adnan. Suaminya juga membenarkan. Entah mengapa Imah merasa ada firasat buruk. Dari semalam ia tak bisa tidur. Merasa ada sesuatu yang aneh akan menimpa.


Setelah sarapan pak Adnan dan Wahyu berangkat kerja, untung saja kemarin Wahyu lupa membawa masuk ke rumah tas kerjanya, sehingga ia tak perlu bolak balik mengambil tas, sedang pakaian kerjanya, ia masih ada di rumah itu. Sengaja ia tinggalkan jika sewaktu waktu menginap di rumah ibunya.


Hari menginjak siang. Dengan seringai liciknya Bu Adnan merencanakan sesuatu. Ia menuang sesuatu cairan di depan kamar Wahyu, yang di dalamnya ada Imah dan anaknya. Serta Rayyan cucunya.


Selesai menuang, ia menggedor pintu itu.


Imah membuka pintu dengan muka seperti menahan sesuatu.


"Maaf, Bu! Saya lagi kebelet!" Imah langsung pergi dari hadapan Bu Adnan. Sedang Rayyan menangis kencang karena gedorannya tadi, Ifah di samping boks Rayyan sambil menatapnya penuh ketakutan.


"Apa....!" melotot ke arah bocah itu tanpa dosa.


Bu Adnan menunggu di depan pintu agak lama. Ia mulai tak sabar.


"Imaaah, ngapain sih lama banget di kamar mandi, Rayyan nangis terus tuh!" Tak ada sahutan dari kamar mandi. Naas buat Bu Adnan, ia lupa dengan jebakannya sendiri dan melangkah masuk ke dalam kamar karena Rayyan menangis kencang, sedang bocah di sampingnya tak bisa berbuat apa apa.


Aaaaaaaa!


Bu Adnan berteriak kencang, tubuhnya limbung, ia jatuh terpeleset oleh cairan yang sengaja ia tuang, hingga kepalanya membentur lantai. Ia tergeletak di lantai dan langsung tak sadarkan diri.

__ADS_1


Melihat Bu Adnan jatuh, Ifah tambah ketakutan, dan berlari menggedor pintu kamar mandi. Imah yang sudah selesai itu membuka pintu dengan wajah pucat.


"Ada apa Fah! kamu kok gak bisa bikin adek diam, ya?" Imah terlihat meringis. Ia merasa sakit perut hari ini karena kedatangan tamu bulanannya. Hingga ia agak lama di kamar mandi, belum menyadari Bu Adnan tergeletak di lantai.


"Bu... ibu itu....!" Ifah yang ketakutan menunjuk ke arah Bu Adnan. Imah yang mengikuti arah telunjuk Ifah terkejut.


"Astaghfirullah, Ibu..!" Imah berlari ke arah Bu Adnan, bahkan ia tak hiraukan Rayyan yang nangis. Begitu juga rasa sakit di perutnya.


Saat ia di dekat Bu Adnan dan jongkok, ia melihat seperti tumpahan minyak berceceran.


Kok ada minyak di sini?


Imah melangkah dengan hati hati. agar tak menginjak minyak. Lalu jongkok mengguncang bahu Bu Adnan.


"Bu... ibu... Bangun...!" Bu Adnan hanya diam sepertinya pingsan, pikir Imah. Ia lalu meletakkan jari di depan hidung Bu Adnan. Masih bernafas,


walau agak lemah.


Imah lalu meminta Ifah mengambilkan ponselnya, dengan langkah gemetar, Ifah mengambil ponsel Imah dan melangkah mendekati ibunya.


"Hati hati nak, ada bekas minyak." setelah ponsel berada di tangannya, Imah segera menelpon nomer Wahyu.


Dua kali dering, telpon diangkat.


Wahyu dengan tergesa pergi ke rumah sakit, setelah sebelumnya ia menghubungi ayahnya. Mereka datang sama sama karena Wahyu menjemput ayahnya lebih dulu.


Tadi ia di telpon Imah, bahwa ibunya pingsan karena terjatuh di depan kamar. Ia lalu menelpon rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulan, namun meminta Imah dan Ifah tak usah ikut. Biar menjaga Rayyan dan Ifah saja.


Saat ini Bu Adnan sedang ditangani tim dokter di ruang ICU.


Wahyu dan pak Adnan duduk di depan dokter, mendengar keterangan yang di berikan oleh dokter itu.

__ADS_1


"Bu Adnan mengalami benturan cukup keras di kepala bagian belakang. Dan di perparah dengan keadaan Bu Adnan yang tensinya cukup tinggi hingga terjadi penyumbatan pembuluh darah. Membuatnya saat ini koma, dan hanya keajaiban yang membuat Bu Adnan selamat.


__ADS_2