Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 28. Luka Lama Berdarah Kembali


__ADS_3

*****


"Selamat ya, selamat untuk seumur hidupmu yang akan cuma jadi Babysitter anak orang." cibir sang mantan suami, mata Yulia sudah mengembun. Ia lalu mengusap usap bo kong Shila yang mungkin terasa sakit karena jatuh terduduk.


"Mana yang sakit sayang?" tanyanya pada Shila sambil mengelap hidungnya yang basah. Shila Menggeleng namun matanya menatap ke arah Wahyu yang terlihat bermuka masam.


" Tidak sakit bunda! Itu,,, Om itu kok jahat sama kita, Bunda?" menunjuk Wahyu yang berkacak pinggang dan melotot padanya.


"Sudah sayang, gak usah dipikirin dia bukan siapa siapa. Gak usah takut, Shila nggak salah. Ada tante disini!" dikecupnya kening Shila. Lalu menatap dua makhluk didepannya.


"Mas Wahyu, kita baru bercerai dua bulan yang lalu, tapi wanita ini..." Yulia melihat perut wanita yang bersama Wahyu, sedang hamil besar. Perkiraan Yulia usia kehamilannya lima atau enam bulan.


" Sejak kapan kau mengkhianati aku mas, jawab? Sejak kapan kau berhubungan dengan wanita ini?" tanya Yulia dengan isak tangisnya. Alhasil mereka menjadi tontonan orang yang berlalu lalang. Dada Yulia serasa sesak. Mungkin pikir mereka yan melihat, Wahyu ketahuan jalan dengan selingkuhannya oleh istri sah.


"Kamu ingin tahu, sejak kapan aku bersamanya? kami bersama sudah sejak setahun lebih. Dan ini...!" menyentuh perut buncit wanita itu, Yulia melengos tak sanggup melihatnya. Bagaimanapun luka hatinya masih terasa nyeri, dan kini disiram pula dengan air garam karena ia baru mengetahui Wahyu selingkuh. Yulia pikir dulu Wahyu hanya menuruti kata ibunya dan menjauhi dia.


"Dan ini, adalah anak kami. Kita akan menjadi orang tua, ya kan sayang!" ucap Wahyu pada wanita disampingnya. Wanita itu tersenyum. Cantik, tapi pelakor.


Shila masih berlindung dibelakang Yulia. Sesekali mengintip dengan memegang erat gaun Yulia.


"Dan itu, apakah dia anak suamimu?


Atau kau jadi baby sitternya? Karena yang kudengar dari ibu, kamu sekarang bahkan cuma bisa beli baju murahan pinggir jalan. Hheeh!" ejek Wahyu lagi. Menuding pada Shila.


"Ada apa ini?" tiba tiba terdengar suara Romi dari belakang Yulia.


"Ayaahh! Om ini jahatin Bunda sama Shila, Ayah. Dia bilang bunda itu baby sitter!!" Adu Shila berganti menggelayut pada ayahnya.


"Hei bung! Dia anak anda? Kalau punya anak itu diawasin betul betul, dia nabrak istri saya yang sedang hamil sebab gak hati hati. Gimana kalau terjadi apa apa sama istri saya. Dan juga saya sarankan, kalau nyari Babysitter itu yang becus jaga anak. Bukan asal asalan." Wahyu masih juga bersikap tak baik melirik Yulia yang sudah menitik air matanya walau sudah ia tahan sebisa mungkin.


"Hei Bung! bicara yang sopan. Kalau anak saya salah, oke saya minta maaf. Dia hanya anak anak, jika salah tegur dia baik baik!"


"Anak anak katamu? Tapi gimana kalau ada apa apa sama istri dan anakku heh?" Wahyu mulai terprovokasi, darahnya mendidih. Ia maju beberapa langkah mendekati Romi, dan Romi pun mengambil ancang ancang andai ia diserang secara fisik. Shila didorongnya mendekati Yulia dan ia menjauhi kedua wanita itu. Yulia dan wanita yang katanya istri Wahyu menjadi panik.


"Hai, kalian mau apa? jangan berkelahi disini?" tiba tiba dua orang berseragam security datang. Tak mau masalah menjadi panjang Romi pun berniat pergi membawa Yulia dan Shila.


"Gak apa apa pak! Ada orang gila mau ngamuk itu. Amankan saja dia!" menggandeng tangan Yulia dan pergi.


"Kurang ajar, kamu bilang aku Gila? Kamu yang gila!" teriak Wahyu mau menyusul Romi, tapi dua security dengan sigap menghalangi langkahnya.


"Awas kamu!" geramnya berusaha lepas dari dua security yang menahan tubuhnya. Ia meronta ronta namun kalah tenaga dari kedua orang itu.


"Mas Wahyu, sudahlah. Kamu yang salah. Udah aku katakan aku gak apa apa. Masih aja ngeyel. Ayo pak, lepaskan suami saya, saya jamin dia gak akan ngapa ngapain!" pinta wanita itu. Sedang Romi, Yulia dan Shila sudah jauh dari tempat tersebut.

__ADS_1


"Awas ya pak! jangan memancing keributan di sini!" salah satu security mengingatkan Wahyu.


"Jadi wanita tadi mantan istrimu, mas? Ibumu bilang kamu belum pernah nikah? Harusnya dulu aku cek dulu kartu identitas kamu. Ternyata aku secara tak sadar adalah pelakor!" cerocos wanita itu setelah dua security pergi. Kini mereka berjalan berlawanan arah dengan Yulia dan Romi.


"Sudahlah, nanti kita bicarakan di rumah. Ibu melakukan itu ada sebabnya, dan nanti kita tanya waktu di rumah." menggandeng lengan istrinya yang cemberut.


Sementara itu di tempat yang lain.


Romi memilih langsung pulang, melihat Yulia murung dan bersedih hati. Mereka tak jadi mampir makan pizza karena insiden tadi.


Berkali kali Yulia mengusap matanya, semua tak luput dari perhatian Romi yang menyetir di sampingnya.


"Ayah! kalau Shila nangis sama ayah sama Nenek bakal dicium dan dipeluk. Cium dan peluk Bunda dong Yah, biar bunda berhenti nangisnya!" celutuk Shila membuat Romi tak bisa menahan geli.


"Ahaha Shila, Bunda sama Shila beda ya! Kalau Shila nangis, ayah sama Nenek boleh cium Shila.


Tapi kalau bunda...." Romi menggantung kalimatnya. Shila memajukan badannya ke depan.


"Kalau bunda kenapa Yah?" rasa ingin tahu Shila membuatnya tak sabar. Yulia hanya menunduk, tak selera menanggapi ocehan kedua Ayah anak itu. Baginya sama sekali tak lucu. Ia lalu melengos menatap kaca mobil sebelah kiri.


"Karena apa ya?" Romi terlihat berpikir.


"Karena Bunda belum sah menikah sama Ayah. Kalau Bunda, yang boleh nyium cuma Nenek Kanti sama Shila." jawaban Romi malah membuat alis Shila bertautan, seperti bingung.


"Jadi Ayah harus menikah dulu, baru boleh cium dan peluk Bunda kalau Bunda nangis." sepertinya Shila cukup paham, karena ia tak bertanya lagi, lalu memundurkan tubuhnya. Duduk lagi di jok belakang. Yulia masih memalingkan muka.


"Ayaahh! Bundaa! Shila lapar," rengeknya saat mereka di mobil.


"Pak, kalian mampir aja ke restoran buat makan, biar saya menunggu di mobil!" ucap Yulia merasa kasihan pada anak itu. Setelah berjalan jauh dan berenang, ia pasti kelaparan.


"Shila mau makan apa, sayang?" Romi melihat anaknya yang duduk di jok belakang dari kaca spion.


"Tadi Shila kan udah bilang mau makan pizza, Ayaaah!" rajuknya. Tangan mungil memukul mukulkan boneka kesayangannya ke bagian belakang jok ayahnya sambil merengut.


"Maafin Tante ya, Shila! Gara gara Tante Shila tak jadi makan tadi!" Shila hanya diam saja. Kalau perut lapar, memang bawaannya mau marah. Emosi.


Sebenarnya Yulia merasa geli dengan tingkah Shila, namun bibirnya tak dapat ia gerakkan untuk tersenyum. Peristiwa tanpa di duganya tadi menguras energinya.


Romi memilih take away pizza yang mereka pesan. Karena Yulia tak mau turun. Wajahnya benar benar berantakan, dan Shila makan dengan lahap di belakang. Menghabiskan dua slice pizza.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian tak ada suara dari arah belakang membuat Yulia menoleh. Rupanya setelah kenyang, Shila merasa mengantuk dan tertidur.


"Kasihan Shila." gumam Yulia.

__ADS_1


"Sepertinya dia sangat lelah," komentar Romi melihat anaknya tertidur.


"Nanti kita antar Shila pulang dulu, terus aku antar kamu pulang." sambungnya lagi.


Mereka terlebih dulu pulang ke rumah Romi, setelah mengangkat dan menidurkan Shila di kamar, ia kembali mengantar Yulia, namun sebelumnya tanpa persetujuan Yulia ia membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan.


"Kamu harus makan dulu. Biasanya orang sedih larinya ke makanan. Biar kuat menghadapi kenyataan hidup." gurau Romi yang tanpa tanggapan dari Yulia.


"Tapi aku tak selera makan!" ucap Yulia enggan keluar dari mobil.


Romi pun mengalah. Mereka hanya pesan makanan take away.


Romi meletakkan makanan berbungkus stereo foam diantara duduk mereka. Setelah menutup pintu mobil, Romi tak juga melakukannya.


" Yul, mungkin aku kepo. Apa boleh aku tahu sedikit perjalanan rumah tanggamu bersama dia?" Ragu Romi bicara.


"Maksud aku, apa kamu tak ingin berbagi kisahmu, untuk mengurangi beban. Istilahnya ya sharing gitu, jangan di pendam sendiri." lama, pertanyaan Romi tak berjawab.


"Secara garis besarnya pak Romi sudah tahu sepertinya. Maaf, saya belum bersiap berbagi cerita saya dengan anda." Romi mengangguk mengerti.


"Baiklah, aku hargai keputusanmu. Aku tak apa, cuma menawarkan bahu tempat bersandar jika kamu butuhkan. Mungkin lain kali kalau kamu udah siap cerita."


Mobil pun melaju di jalanan. Waktu sudah menunjukkan hampir jam tujuh malam. Waktunya pulang dan rehat.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung.....


Hai, **reader semua! Apakah masih setia membaca, aku harap masih ya! Hehehe....


Jangan lupa ritualnya ya....


Jangan jadi pembaca ghaib. ...


Tinggalkan jejak berupa like ...


Komen....


Gift seikhlasnya....


Vote juga upps.....


Salam Dari Author Receh....

__ADS_1


Binti Ulfa....


Love you all**....


__ADS_2