
"Tidur diluar kamar berteman nyamuk. Sorry lah ya! Gue malah dapat jatah dobel sampe kosong. Habis gak tersisa. Emang Lo, pusaka Lo karatan, sebab gak pernah kepake! Gak pernah Celap celup. Tayik lo." ejek Romi pada pria didepannya.
Setelah puas menghakimi manusia lak nat didepannya Romi segera pergi menuju ruangan Dion. Namun sebelum pergi, ia masih saja menoleh dan mengancam.
"Awas Lo, kalau Lo masih berani gangguin keluarga gue. Gue bakal buat perhitungan!" Andre menatap Romi yang menudingnya, masih dengan meringis menahan sakit di perut. Romi mendorong bahu Andre sebelum melangkah pergi.
Romi telah tiba didepan ruangan perawatan Dion. Lamat lamat, ia mendengar suara seorang pria yang sedang marah. Dan dari omongannya Romi yakin itu siapa. Tak lain dan tak bukan adalah Papanya Dion alias Arsen.
"Kamu tuh ya Din! aku udah beri kamu kebebasan bawa Dion kesini, kamu janji bakalan sayangin dia. Bakalan jagain dia sepenuh hati, Tapi nyatanya apa. Kenapa ada kejadian begini?"
"Maaf mas, semuanya bukan sebuah kesengajaan. Aku tahu aku salah, tapi tolong, maafkan aku. Beri aku kesempatan sekali lagi, aku bakalan jaga Dion dengan baik."
"Aah, itu janji palsu kamu, dari dulu kamu juga bilangnya begitu. Mau berubah lah, mau tobat lah. Nyatanya apa."
"Kamu tuh bisanya hanya foya foya menghabiskan uang hasil jerih payahku. Dan setelah uangku habis kau kuras, kau minta cerai dan bawa anak kesayanganku pergi! Benar benar ya kamu itu!" ucapannya terdengar sangat geram. Romi mengintip dari balik jendela.
Terlihat olehnya Arsen dan Dini dekat dengan jendela ruangan, sehingga ia dengan jelas mendengar apa yang diperdebatkan keduanya.
Dini terlihat terisak pilu. Jika diamati, seperti tak ada rekayasa padanya. Ia benar benar sedih. Sedangkan Arsen didepannya menjambak rambut. Frustasi.
Dion, dia juga terlihat menangis sedih. Papah yang diharapkannya datang dan melepas rindu, malah hanya mempertontonkan kemarahannya pada sang Mama didepan matanya.
Yulia yang masih disitu terlihat bingung. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu pada mantan pasangan suami istri itu. Tapi dia bukan siapa-siapa, takut disalah artikan. Dan kemarahan Arsen masih masih berlanjut.
"Dini, kamu suka atau tak suka, mau atau tak mau, aku sudah membuat keputusan. Setelah Dion keluar dari rumah sakit ini, aku bakalan bawa dia pulang ke Samarinda. Dengan atau tanpa kamu, aku sudah gak peduli!" Dini kaget mendengarnya.
"Mas, jangan begitu, tolong sekali ini saja. Percaya sama aku, aku akan menjaganya. Tolong, jangan bawa Dion jauh dariku, aku mencintainya, mas! Aku tak ingin kehilangan dia. Aku gak bisa jauh dari Dion!" kedua tangan Dini menggenggam lengan Arsen, namun Arsen menepisnya.
"Emang kamu pikir aku mau kehilangan dia, kamu pikir aku tak mencintainya. Aku ayahnya Dini, akan sekuat tenaga buat dia bahagia. Tidak seperti kamu. Sama sekali gak becus jaga anak!"
"Pokoknya aku bakal bawa dia ikut aku ke Samarinda!"
Dini tanpa dinyana, tubuhnya merosot ke lantai, memegang kaki Arsen yang nampak terkejut dengan apa yang dilakukan Dini.
"Kumohon mas, kasihani aku! Jangan bawa Dion. Dia hidup aku!"
Yulia benar benar sudah tak kuat melihat pemandangan didepannya. Apalagi Dion mendengar pertengkaran kedua orang tuanya itu, dan menangis sedih.
"Dini, Arsen! maaf kalau aku turut campur, aku sudah gak tahan lihat pertengkaran kalian. Tolong, lihatlah anak kalian, sedari tadi ia menangis, sedih. Apalagi melihat kalian orang tuanya berkata kasar di hadapannya."
__ADS_1
"Dion butuh istirahat dan ketenangan. Dengan kalian seperti ini, akan bertambah beban mentalnya. Kalau kalian masih mau lanjut berdebat, marah dan caci mencaci, lebih baik kalian keluar. Selesaikan diluar saja, jangan sampai Dion dengan pertengkaran kaluan. Biar Dion aku yang jaga!" Yulia bicara panjang lebar, membuat Dini dan Arsen bungkam. Sejak tadi Arsen saat datang langsung menghardik Dini, hingga ia tak menyaksikan bahwa ditempat itu ada orang lain juga.
"Dia istrinya mas Romi mas, bener kata mbak Yulia. Kita tak seharusnya adu mulut di ruangan ini. Kasihan Dion, dia pasti tertekan." Dini sudah berdiri lagi dan mencengkeram lengan Arsen.
"Maaf, mbak!" ucap Arsen singkat. Ia lalu mendekat, diikuti Dini. Hampir satu bulan ia tak melihat anaknya. Hanya terkadang berkomunikasi dengan Videocall.
"Dion, maafkan Papa Nak!" menghapus air mata Dion yang meleleh di pipi.
"Pa, Dion kangen banget sama Papa."
"Papa juga kangen kamu, Nak!" Arsen meluk anaknya, ia lupa bahwa anaknya terluka.
"Pah, sakit!"
"Oh, maaf, maaf!"
"Assalamualaikum!" setelah menonton drama dari luar, Romi akhirnya memutuskan untuk masuk.
"Mas Romi!"
"Sen, sejak kapan kamu datang? Tadi aku hubungi nomer kamu gak aktif. Tapi tetiba saja kamu malah udah di sini!" mereka bersalaman lalu berpelukan.
"Oh, iya!"
"Berarti dari bandara kamu langsung kesini!" Arsen mengangguk.
"Baiklah, karena kalian sudah lengkap disini, aku dan istriku mau pamit. Aku punya bayi, Sen! Takutnya anak kami nangis kalau lama ditinggalkan."
"Ah, sebenarnya aku ingin bicara banyak sekali dengan mas Romi, tapi ya sudahlah. Mungkin lain kali kalau Dion udah mendingan, aku mampir main ke rumah mas Romi."
"Kutunggu kedatangan kamu."
"Dion, ada Papah sama Mama kamu, cepat sembuh ya, Nak. Nanti kalau sudah sembuh main ke rumah Shila, kalian bisa main bersama." Yulia mengusap pipi Dion lembut.
"Terimakasih, Tante!"
"Dion, om juga pamit. Ku tunggu dirumah Om. Di rumah ada baby Kia yang lucu. Kamu pasti suka." Dion tersenyum.
"Iya, Om."
__ADS_1
"Mas, tadi kamu keluarnya lama banget, Kemana kamu mas?" tanya Yulia saat mereka telah keluar dari ruangan Dion, berjalan diantara orang yang lalu lalang di lorong rumah sakit.
"Lagi ngurusin pengacau!" jawab Romi pendek. Ia menautkan jemarinya pada jemari Yulia.
"Maksud mas Romi?" Romi menghela napas.
Aku udah nemuin dan menghajar orang yang ngirim foto ke kamu!" Yulia membulatkan mata.
"Haaah! benarkah, siapa mas?" mereka berbicara sambil terus berjalan.
"Kamu benar benar mau tahu?" Yulia mengangguk.
"Andre!"
"Apa? Aku gak salah dengar kah, mas?"
"Ishh, kamu gak percaya sama aku suamimu?"
"Iya sih, aku percaya. Tapi motifnya apa?" Romi gemas dengan kepolosan sang istri.
"Dia itu pernah suka sama kamu, Yul. Tentu saja, ia bisa melakukan apa saja asal kamu bisa kembali sama dia, jadi milik dia. Dia itu berusaha mengacau rumah tangga kita." omel Romi berasumsi sendiri.
"Masa sih, mas. Aku gak percaya Andreas bisa begitu. Aku pikir dia sudah move on. Aku gak yakin pemikiranmu ini benar." Romi berdecak. Memang susah meyakinkan sang istri.
"Ya udah kalau gak percaya. Terusin aja. Bagos, ya! Lebih percaya sama orang lain di banding suami sendiri." kesal Romi karena asumsinya dipatahkan sang istri. Hingga tiba tiba Romi menabrak seseorang yang tengah berjalan berlawanan arah. Karena sama sama gak fokus lihat jalan.
Brugh.
Sebuah kertas jatuh. Yulia sempat melihat kop surat keterangan itu adalah dari poli andrologi.
"Maaf! Aku gak sengaja nabrak." lelaki itu meminta maaf. Dan membungkuk berusaha mengambil kertasnya.
"Mas Wahyu?"
...\=\=\=\=\=\=...
Nah loh, ketemu Wahyu. Lagi ngapain ke rumah sakit Wahyu...?
Bersambung
__ADS_1