
Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Yulia keluar kamar dalam keadaan sudah rapi. Ia celingak celinguk dan heran. Rumah ini sangat sepi seperti tak ada orang. Shila tentu belum pulang dari sekolah, karena tempat ia bersekolah menerapkan program fullday school.
Dimana Kia sama Ibu?
Yulia lalu berjalan ke kamar Shila bersama Kia, membuka pintu kamar, dan mendapati ibunya ada disana.
“Eh, Ibu disini?”
“Sudah sehat, Yul? Iya, ini Kia mau tidur, nih.” Bu Kanti bergeser dari sisi Kia, digantikan Yulia karena tangan Kia menggapai gapai. Meminta sang Bunda mendekat walau mata si kecil yang imut itu sudah tertutup sempurna.
"Unda cini puk puk!" pintanya sembari menggigit dot.
Sekitar limabelas menit menggantikan posisi ibunya mengepuk ngepuk bo kong Kia yang mau tidur, perlahan Yulia turun dari ranjang. Ibu Kanti masih duduk di kursi meja rias kamar itu.
“Kamu keliatannya sudah sehat Yul? Udah rapi juga. Mau ke toko?” ibu memberondong Yulia dengan pertanyaannya.
“Iya, Bu, aku mau nyusul mas Romi ke toko Bu. Titip Kia lagi ya, kalau dia bangun terus rewel, telpon Yulia segera. hehehe!” Yulia mencium pipi keriput sang ibu.
"Hati hati." Setelah mengangguk dan mengucap salam, Yulia meraih kunci motornya.
Yulia belum melajukan motor, masih nampak berpikir untuk membelikan Romi makan siang dan juga para karyawan toko. Ia pun terlebih dulu meluncur menuju warung langganan yang menjual nasi rawon, karena ia sedang ingin makan rawon.
Hampir jam dua belas siang sembari membawa bungkusan makanan, Yulia melenggang masuk ke toko yang siang itu agak sepi.
“Assalamu’alaikum, Fan.”
“Waalaikum salam. Weeh, tumben Mbak Yulia dateng gak bawa baby?"
"Ditinggal dirumah baby Kia nya. Lagi tidur dia."
"Bu Bos bawa apa, tuh?” canda Fani sang kasir saat tahu Yulia menenteng beberapa kresek ditangannya. Terlihat juga muka bersinar anak anak menghampiri Yulia. Risma, Yeni dan Lasmi yang segera mendekat.
“Ada makan siang buat kalian, tuh." satu kresek Yulia berikan pada Lasmi, setelah mengucap terimakasih mereka pun berlalu ke belakang.
" Mas Romi diatas kan, Fan?”
Sembari membuka bungkusan khusus untuknya Fani mengangguk. Yulia pamit dan langsung naik ke lantai atas. Ia menajamkan pendengaran saat mendengar suara tawa dari dalam ruangan suaminya. Dan... sepertinya suara ...perempuan.
Siapa sih, yang bertamu siang begini.
Pintu ruangan tak tertutup sempurna, hingga Yulia berinisiatif mengintip dulu sebelum masuk. Ia mengerutkan kening saat terlihat di depan Romi ada seorang wanita berambut panjang tergerai dan ia hanya bisa melihat punggung wanita itu. Mereka terlihat akrab dan tertawa tawa.
Siapa sih! Bikin Penasaran!
Yulia merengut melihat keakraban suaminya dengan wanita itu yang bahunya terlihat terguncang karena tawa, ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan hanya bengong di depan pintu. Entah mengapa ia merasa sangat kesal.
“Hei..!” Yulia terjingkat kaget dan menoleh saat seseorang mendorong bahunya pelan.
“Kok gak masuk? Ngapain berdiri disini, Yul?” Yulia terpana melihat pria berkacamata yang menyapanya. Pria yang lebih tiga tahun tak bertemu.
“Eh, mmm...Andre. Kamu disini juga, ngapain?” Andre tertawa geli mendengar Yulia membalikkan pertanyaannya.
“Aku sama calon istri aku mau nemuin Romi sama kamu, nganter undangan nikahan. Tahunya kamu baru datang.” cerocos Andre.
Calon istri? Jadi wanita itu calonnya Andre? Syukurlah.
__ADS_1
Buru buru Yulia menengok ke dalam ruangan, penasaran dengan wanita yang diakui Andre sebagai calonnya.. Ternyata yang didalam juga sedang menoleh ke arah pintu dimana Yulia dan Andre berdiri.
“Yesi!” gumam Yulia agak terkejut, ternyata wanita yang bersama suaminya orang lama.
Romi terlihat memasang wajah datar begitu melihat istri dan Andre di depan pintu, padahal tadi mereka haha hihi begitu serunya.
"Hai, Yulia. Pa kabar?"
***
“Jadi, kalian ini mau menikah? Syukur deh, udah gak jomlo lagi!” tanya Yulia semringah saat mereka duduk berhadapan. Setelah mereka saling bersalaman dan menanyakan kabar Yesi yang menghilang hampir dua tahun lamanya.
“Ya, ibunya Andre pengen ngadain resepsi disini. Paginya pemberkatan, setelah itu resepsi sampai malam harinya. Kuharap kalian bisa datang. Di daerah Bali Mama nanti juga bikin resepsi sesudah yang disini.” Jawab Yesi penuh harap. Surat undangan jenis jasmine paper berwarna biru muda tergeletak diatas meja. Yulia meraihnya, membuka dan membacanya.
“Dua minggu lagi, ya! Insya Alloh kami datang.” jawab Yulia antusias lalu menutup lagi kertas undangan itu.
"Kalian pasangan yang serasi." puji Yulia tulus.
"Makasih."
Setelah berbasa basi sebentar, Yesi dan Andre pun berpamitan untuk mengantar undangan ke teman mereka yang lain.
“Alhamdulillah, gak nyangka mereka berjodoh. Jadi gak ngerecokin kita.” Ucap Romi penuh kelegaan.
“ Ah, itu mas Romi aja yang over curigaannya. Tapi tumben juga, hari ini mas Romi akur sama Andre. Biasanya kalau ketemu dia mas Romi udah kayak singa siap tempur aja. Sama juga kalau ketemu mas Wahyu, mas Romi juga seperti itu, kayak mau nelen hidup hidup.” Yulia memeragakan seekor singa yang siap menangkap mangsa dengan kedua tangannya seolah mencakar, bermaksud mencandai suaminya.
“Itu sih karena dia udah mau nikah. Kalau enggak ya, gak tau juga. Tapi tadi sempet kesel juga kalian ngobrol di depan pintu.” Romi memencet hidung kecil Yulia gemas.
"Ihh!"
“Ya, karena dia mantan suami kamu. Tentu aku cemburu kalau kamu ketemu sama dia. Sebagai mantan pasangan, kalian pastinya dulu punya romansa, cinta cintaan sama dia, takutnya kamu inget aja lagi sama dia kalau udah ngobrol berdua." alasan Romi dengan nada agak tinggi, yang bagi Yulia tak logis.
“Idihh mas Romi, cemburunya tuh kelewatan. Yang udah jadi mantan itu ya mantan, kenangan tetap aja ada. Tapi gak mungkin juga bakalan kita mengulang lagi masa itu, apalagi balikan. Kan udah ada pasangan masing masing. Amit amit deh kalo gitu.”
“Lah, siapa tahu dia ngungkit ngungkit masa lalu kalian, terus kamu jadi inget kenangan kamu sama dia.” Yulia memutar bola matanya, jengah dengan apa yang dikatakan suaminya yang jika berdebat tak mau kalah.
“Ish mas Romi, ada aja jawabnya. Sama sekali gak mau kalah kalau ngomong. Bikin kesel aja. Kalau inget itu ya wajar, namanya juga masa lalu, kita pernah bersama tiga tahun lebih walaupun banyak pahitnya kehidupan rumah tangga aku sama dia. Masa iya, mas Romi nggak? Masa iya gak pernah ingat sama sekali kenangan sama mantan istri. Apalagi kalian kan punya Shila, ayo ngaku!” ucapan Yulia juga mulai bernada tinggi, ia benar benar kesal dan cemberut menatap suaminya sembari berkacak pinggang.
“Ya, seperti katamu, wajar kalau aku inget Dina. Kita dulu juga saling cinta. Tapi dia kan udah gak ada, Udah meninggal, beda sama Wahyu yang masih bisa kamu perhatikan, bisa diajak bicara. Wajar kalau aku cemburu."
"Ya udah, berarti impas kan? Aku minta sih mas Romi jangan jutek jutek sama mas Wahyu. Masa lalu itu anggap aja kita habis makan terus udah jadi kotoran yang harus di buang. Jadi kalau udah dibuang gak usah ditengok lagi, gak usah dipikirin lagi, meski itu adalah kotoran dari makanan paling enak sekalipun."
"Belain aja terus itu si mantan."
Ckkk, selalu begitu.
"Ya iya. Yaudah deh, gak usah debat lagi. Yang waras ngalah. Capek ngomong sama kamu.” gerutu Romi.
"Apa? jadi mas Romi anggap aku gak waras gituh?" kedua tangan Romi yang hampir melingkar di pinggang sang istri, ditariknya lagi sembari senyum senyum melihat sang istri melotot.
"Ampun ampun, yang gak waras tuh aku, sayang. Gara gara cintaku sama kamu setinggi gunung dan seluas samudra, jadikan aku gak waras kalau sampe kamu nengok ke belakang, ke mantan kamu. Gitu maksud aku! Ampun ya! Udahan berdebatnya, aku lapar!" Romi tertawa mengangkat kedua tangan seperti orang menyerahkan diri ke polisi.
“ Kalau aku yang inget mantan kan salah, kalau mas Romi yang inget mantan itu gak salah. Ya salaaaam!” Yulia terus mengomel sembari menghempas bo kong pada sofa yang tadi di buat duduk Yesi.
"Iya deh, maaf! Sampai berapa kali ku harus minta maaf, hmmm!"
__ADS_1
“Bawa apa nih, kayaknya enak.” Romi mengalihkan topik segera menghampiri keresek yang tergeletak di atas meja kerjanya, dan membawanya menyusul Yulia ke sofa dekat dia duduk.
“Wah, rawon. Jadi lapar banget!” Yulia tak menanggapi suaminya. Ia benar benar kesal.
“Jangan ngambek dong. Aku kan udah minta maaf!” mencolek colek dagu sang istri, berusaha merayu. Merapatkan badannya.
“Apaan sih.” Yulia menepis tangan suaminya karena masih merasa kesal, berdiri lagi karena Romi menjejeri duduknya. Romi yang berhasil menangkap tangan sang istri menyentaknya hingga Yulia terduduk di pangkuan dan langsung di peluknya erat.
“Lepas ih, aku masih kesel sama mas Romi.” Apalah daya rontaan Yulia tak ada artinya bagi Romi yang malah menambah erat pelukannya.
“Ihh, engap ah, lepas!!!” sembari mendesah Romi melepas juga pelukannya.
“Aku laper, sayang!” mimik Romi yang merengek seperti anak kecil membuat Yulia mau tak mau tersenyum juga.
“Ihh, kalau udah bikin kesel aja manggilnya Yang Sayang. Gak mempan, tau.” Yulia mendorong kedua bahu Romi yang akan mendekatkan wajahnya. Lalu ia berdiri untuk mengambil piring yang biasa buat Romi makan saat di tempat itu.
"Habisnya, kamu juga yang mancing mancing, sayang. Tadi kalau kamu gak protes sikap aku sama Andre,
ya gak bakalan kayak gini."
tak ada jawaban.
Mulai lagi deh, mulai.
Yulia melayani mengambilkan makanan untuk Romi beserta lauknya, lalu mengambil untuk dirinya sendiri.
"Makasih, sayang." ucap Romi tersenyum lebar, menerima piring dari istrinya, riang. Merekapun duduk bersebelahan.
“Oiya lupa. Kamu udah gak pusing lagi, kan?” Yulia menggeleng, tapi tak menoleh, menekuri piringnya sendiri.
“Kalau masih pusing, ya aku gak kesini, mas!” ucapnya terdengar ketus.
“Padahal tadi aku pikir, aku mau pulang dan makan siang dirumah.” Yulia sudah tak menyahutinya, terlihat ia mengucap bismillah sebelum menyuapkan nasi ke mulutnya.
Romi makan dengan lahap, berbeda dengan Yulia yang hanya berhenti di suapan pertamanya. Ia mengaduk makanannya sembari memperhatikan sang suami yang makan dengan cepat.
“Kenapa, kok cuman diliatin aja makanannya?” tegur Romi saat Yulia tak juga memakan isi piringnya. Malah asyik memperhatikannya makan.
“Entahlah, Mas. Punya aku kok rasanya asem ya, kayak basi gitu. Gak enak banget, tapi kok mas Romi makannya lahap. Coba deh, aku minta dikit, cicipin punya aku!” Romi menerima suapan dari istrinya. Merasainya. Lalu menautkan alis. Dan merasa tak ada yang aneh dengan makanan itu, sama seperti yang ia makan karena memang sama.
“Gimana, kayak rawon basi, kan? Gak enak benget, kan?” Yulia melihat ekspresi Romi biasa biasa saja.
“Gak ada yang aneh kok, sama rasanya dengan yang aku makan. Lidah kamu aja yang mungkin memang gak normal, beneran sakit nih." meraba dahi sang istri, tapi suhunya normal.
" Atau pencernaan kamu bermasalah? Nanti habis ini kita ke dokter, ya? Gak usah nunda besok.” bujuk Romi pada sang istri.
“Tapi sekarang kamu makan dulu, ya? Kalau aku suapin. Mau?” Yulia mengangguk antusias.
Walau semula ragu untuk menerima suapan itu, tapi setelah Romi mengulurkan sendok berisi nasi akhirnya ia membuka mulut.
“Mmm, enak. Kok rasanya beda ya, dari yang tadi. Padahal kan sama tadi...!” heran Yulia setelah mengunyah dan merasai makanan itu. Romi tertawa dibuatnya.
”Hmm, bilang aja pengen di suapin mas suami yang ganteng. Gitu aja kok repot. Gengsinya digedein, sih.” ledek Romi yang mendapat pukulan di bahu oleh istrinya.
“Awww, duh! Kira kira dong kalo mukul. Jadi jatuh ‘kan, sendoknya.” Romi membungkuk mengambil sendok yang jatuh, lalu mengelapnya dengan tisu basah.
__ADS_1
"Biarin. Orang kok narsisnya kelewatan. Setinggi gunung." cebik Yulia.