
Sementara itu, kita tinggalkan Romi dan Yulia yang sedang bahagia dengan kehadiran baby Zaskia yang menambah warna dalam kehidupan mereka.
Nun jauh di lain pulau, seorang laki laki berkacamata tengah duduk menopang dagu pada satu lututnya diatas batu karang, ditepi sebuah pantai yang sore itu telah nampak sepi. Hanya tinggal segelintir orang yang sedang jalan jalan atau duduk bercengkrama dengan pasangannya, menikmati suasana sore di pantai yang ombaknya sedang tenang itu.
Lelaki dengan postur tinggi, rambut berombaknya yang agak gondrong di ikat bagian atasnya. Dan bagian bawah dibiarkan tergerai sebahu, jenggot, kumis dan rambut dirahangnya dibiarkan tumbuh subur tak terawat. Mengenakan celana denim warna biru dan kaos putih polos, menikmati indahnya panorama sore itu sendirian.
Ia mengambil beberapa batu kecil disampingnya, lalu melemparnya satu persatu batu itu ke tengah lautan tenang berwarna biru, seakan ingin melemparkan beban hidup yang harus dipikulnya. Melemparkan masalah masalah yang menggelayut dihatinya.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, sudah tak ada seorang pun selain dirinya. Ah, tidak. Dari kejauhan nampak seorang wanita berjarak ratusan meter darinya.
Lalu ia pun meletakkan kedua telapak tangannya disisi kiri kanan mulutnya. Dan kemudian berteriak sekencang kencangnya.
Yuuuuuuuliiiiiiiiiaaaaaaa!
Teriakan yang begitu panjang menggema, meluapkan sedikit beban yang mengganjal di hati. Dan karena setelah berteriak ia merasa sesak didada sedikit lega, maka ia pun berteriak lagi untuk kedua kalinya.
Yuuuuuuuliiiiiiiiiaaaaaaa!
Dan ia terengah engah, karena teriakan itu melibatkan seluruh tenaganya yang tersisa. Namun hatinya terasa lebih plong sekarang.
Ia lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tak ada orang yang tiba tiba datang menuju kearahnya karena terganggu oleh teriakannya.
Tapi heiii!
Wanita yang tadi ia lihat di bibir pantai secara perlahan berjalan ke tengah.
Apa yang dilakukan wanita itu, apa ia dalam keadaan sadar.
Heii, bukankah ini hari menjelang petang, bagi sebagian orang waktu petang adalah waktu yang dipercaya dimana para makhluk gaib keluar dari sarangnya. Dan kemungkinan mengganggu perempuan itu dan secara tak sadar ia masuk kedalam air.
"Apa wanita itu mau bunuh diri dengan menenggelamkan diri di laut? Ckkk benar benar picik. Aku saja yang patah hati selama bertahun tahun tak akan mau melakukan hal sepicik itu. Bah...!" ucapnya bermonolog.
Lelaki itu segera berlari kearah wanita yang air laut tenang itu sampai dadanya.
"Hei apa yang kau lakukan!" teriak lelaki itu kemudian menyambar tangan wanita itu dan membawanya ke tepi.
"Apaan sih kenapa kamu seret aku ke tepi, biarkan aku mati!" pekik wanita itu tak terima. Seketika wajahnya merah menahan tangis.
"Kamu....!" mulut lelaki itu hendak memaki, namun saat melihat wajah wanita itu ia membelalakkan mata.
"Yesi..! Ka_kamu Yesi kan? Anaknya pak Hendrawan Wibisana?" wanita itu pun terkejut, pasalnya lelaki itu tahu siapa dirinya dan siapa ayahnya. Ia lalu menyeka air mata yang telanjur ada di pelupuk mata.
"Si_siapa ka_kamu?" tanyanya tergagap.
Lelaki itupun tertawa. Lalu melepas tangan sang wanita kemudian melepas kacamatanya.
__ADS_1
"Kita dulu sekolah di SMP dan SMA yabg sama. Rumah kita dulu juga tak terlalu jauh. Bahkan kita sering barengan pulang dan pergi sekolah." wanita yang bernama Yesi mengernyit.
"Kamu selalu memanggilku si culun. Tapi kamu sering minta contekan ke aku kalau pelajaran biologi!" wanita itu mengingat sesuatu. Lalu menunjuk sang lelaki.
"Andre? elu Andreas, Anaknya Om Santo?"
Lelaki itu tertawa dan mengangguk.
"Tak menyangka gue sama elu ketemuan disini." Mereka tertawa tawa bersama. Yesi lupa bahwa ia baru saja menangis. Lalu Andre duduk bersila di pasir menghadap ke pantai yang biru itu. Dengan kedua tangan ia kaitkan pada kakinya. Yesi pun melakukan hal yang sama.
Perlahan lahan warna biru berubah menjadi gelap, berganti dengan lampu lampu yang kerlap kerlip dari rumah rumah penduduk.
"Apa kabar elu, yes?" tanya Andre basa basi. Yesi memukul bahu Andre di sampingnya.
"Aww, sakit Yas!" keluhnya.
"Elu tahu gue disini. Berarti ya gue baik!" ucapnya sewot.
"Ya elah, gitu aja sewot." gumam Andre. Yesi hanya melirik Andre. Beberapa waktu mereka terdiam.
"Yes, kapan elu terakhir kali pulang ke tanah kelahiran?"
"Beberapa bulan yang lalu, memangnya kenapa?"
"Sia lan elu, Ndre!" mendorong bahu Andre, hingga Andre terjengkang namun tertawa tawa. Andre pun duduk lagi seperti semula.
"Iya gue tahu, dia sudah menikah lagi, bahkan istrinya tengah hamil tua waktu itu. mungkin sekarang sudah lahiran malah!" ucap wanita yang ternyata Yesi dan dokter Andre.
"Terus elu sendiri gimana sama gebetan elu dulu? Hahaha, apakah elu sudah move on atau masih suka sama perempuan yang sama?"
"Iya, masih sama. Dan apa elu tahu siapa dia?"
Yesi menggeleng.
"Siapa memangnya?"
"Dia adalah Wanita yang dinikahi Romi saat ini. Yulia...!"
"Apa Ndre? gue gak salah dengar kan?"
"Nggak, elu gak salah dengar. Yulia adalah perempuan masa lalu gue yang bahkan belum sempat gue bisa meraihnya, setelah menjanda ia malah kawin sama gebetan elu...!"
"Nikah woi!"
"Iya nikah. Tapi kawin juga kan?"
__ADS_1
" hahaha" keduanya tertawa terbahak.
hambar.
"Gak nyangka ya, gebetan elu ternyata nikahnya sama gebetan gue. hahaha!"
"Berarti elu lagi patah hati, dong?"
"Elu kan juga!"
"Hahaha, rupanya nasib elu sama nasib gue sama, gagal move on!"
Ckkkk!
Mereka mendecak bersamaan. lalu hening. Hari sudah mulai gelap.
"Ndre, gimana elu bisa sampai sini? Harusnya kan elu buka praktek dirumah sama bokap elu? Atau kerja di rumah sakit!" Mereka kini duduk berhadapan.
"Gak, gue pergi sebab mereka menikah, gue gak sanggup lihat Yulia bersanding dengan Romi."
"Yah, walaupun rumah Yulia dekat sama rumah gue, itu sebabnya gue pergi. Mengabdi di sebuah klinik kecil di desa yang jauh dari keramaian kota."
"Gue lagi liburan disini, gue tinggal di hotel seberang itu!" menunjuk sebuah hotel yang tinggi menjulang.
"Terus, elu sendiri?" Andre
"Bokap nyokap gue punya usaha rumah makan dekat sini! Sama dua cabang di tempat lain. Gue urus yang disini!"
"Woow! tajir dong elu ternyata!"
"Gue kalau mampir makan di tempat elu gretong kan?"
"Ya elah, elu maunya gretongan. hadeuuh! Ya udah, gue kalau periksa kesehatan ke elu gretong juga!"
"Udah malem, yuk pulang!" ajak Andre, mereka pun berdiri dan melangkah menjauhi bibir pantai.
"Gue boleh mampir ke hotel? Biar gue pesankan makan malam buat kita, gue masih pengen ngobrol sama elu!"
"Ok! siapa takut!"
Mereka berjalan berdua menuju hotel tempat Andre menginap.
\=\=\=\=\=\=\=
TBC
__ADS_1