Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 67


__ADS_3

*****


"Ifah, paman ingin tanya sesuatu boleh?" Ifah membereskan mainannya dan di masukkan ke dalam kardus yang berisi mainan kepunyaannya.


"Pingin tanya apa, Paman?"


"Mendekatlah sini, jangan keras keras. Nanti ibumu dengar!" menepuk karpet di dekatnya sambil berbicara lirih, takut ada yang dengar. Dan Ifah menurut, ia mendekat ke arah Wahyu, duduk bersila di dekatnya.


"Ifah, Paman mau tanya. Tapi janji ya, gak bilang ke ibu!" Ifah mendongak menatap Wahyu. Merasa aneh dengan permintaannya. Wahyu lalu mengangkat jari kelingkingnya.


"Mau janji nggak?"


Mmmm


Hampir setengah menit Ifah berpikir, jari telunjuknya di ketuk ketukannya pada dagu.


"Paman bakal belikan pizza, deh!" tak kurang akal merayu Ifah dengan makanan kesukaannya.


"Sama Coca cola sekalian ya, Paman?" tipe ngelunjak nih anak. Tapi Wahyu mengangguk juga. Ifah mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Wahyu yang mengayun di udara.


"Janjiiii!"


"Ssssttt! jangan keras keras! " Wahyu berbisik.


"Ok! Sekarang pertanyaan Paman adalah, Ayahnya Ifah ada di mana sekarang?" bisiknya di telinga Ifah yang langsung mengusap kupingnya.


"Ih, Paman! geli tahu. Paman tanya Ayah Ifah, ya"


Wahyu mengangguk dengan semangat.


"Ifah gak tahu, Paman! Kata ibu... Ayahku pergi jauh dan gak kembali lagi!"


Ifah menunduk, terlihat raut wajahnya bersedih. Wahyu menjadi merasa bersalah.


"Eh, maaf. Maaf kalau Paman membuatmu sedih. Bukan maksud Paman ya. Mmmm! Oiya, Ibu kamu udah selesai belum ya nyucinya? Paman mau ngajak kamu jalan jalan. Jadi kan pizza sama Coca cola nya?" wajah Ifah terangkat dan berubah seketika. Cerah. Acara yang tadi mau mengorek keterangan pun ambyar.


"Iya, Paman. Jadi... jadi...asyiiikk! Ye ye..Ya ya....!" Ifah tertawa saking asyiknya.


"Ono opo, Fah? Kok seneng banget? tanya Imah dari balik pintu, hanya kepalanya saja yang menyembul. Rupanya Imah sudah selesai mencuci heran melihat Ifah dan Wahyu tertawa.


"Bilang tuh sama ibu, Ifah kenapa emangnya?" Ifah berlari menghampiri ibunya. Melapor bahwa Paman akan membelikannya pizza.


Wahyu membuntuti Ifah yang menemui ibunya. Dari balik tembok terlihat Imah sedang menyetrika dengan Ifah memeluk pinggangnya.


"Kalau baju rumahan gak di seterika juga gak apa spa kok, Mah! Yang penting baju buat ke kantor rapi dan gak kusut!" Imah mengangguk. Anaknya masih saja memeluk pinggangnya.


"Ifah udah bilang ibu belum? kalau Ifah mau jalan jalan sama Paman. Beli pizza?" Imah memandang heran Wahyu sekilas lalu menunduk menatap anaknya yang sedang mendongak.

__ADS_1


"Boleh 'kan, Bu?" pintanya dengan raut puppy eyes.


"Maaf Pak Wahyu jangan memanjakan Ifah, nanti jadi kebiasaan"


"Sekali kali gak apa-apa Imah. Tolong jaga Rayyan ya! Aku mau keluar dulu! Ayo Ifah..." Wahyu mengulur tangannya, menggandeng Ifah pergi setelah mengucapkan salam pada ibunya.


Imah mengiringi kepergian Wahyu dan anaknya. Saat mobil berjalan Ifah menyembulkan kepalanya dan melambaikan tangan pada Imah.


Mereka telah sampai di gerai cepat saji. Sepanjang perjalanan tadi, Ifah terlihat bahagia. Ifah sedikit bercerita, kata ibunya Ayah Ifah pergi lama karena ingin punya mobil seperti punya Paman Wahyu, dan punya rumah yang lantainya mengkilat. Juga ingin Ifah sekolah dengan baik dan menjadi kebanggaan Ayah dan Ibu kelak.


"Hmmm, masih istri orang!" Wahyu menggumam.


"Pantas saja, selama kerja aku belum pernah lihat dia pulang, atau suaminya menemui dia.


"Ayo Ifah makan pizza nya. Yang banyak ya, biar cepet gede!" Ifah mengangguk dan segera memakan pizza di depannya dengan lahap. Sedang Wahyu di tangannya memegang satu cup kaserol makaroni panggang.


Perut terasa kenyang, Ifah menepuk nepuk perutnya karena kenyang dengan bahagia. Bisa memakan makanan yang biasanya hanya bisa ia lihat di tivi. Mereka juga membawa kaserol makaroni dan pizza untuk di bawa pulang.


Mereka tak langsung pulang. Wahyu mengajak Ifah menuju sebuah toko pakaian yang cukup ramai. Di tempat itu Wahyu meminta Ifah untuk memilih baju. Dengan tersenyum lebar Ifah memperhatikan satu persatu baju yang di gantung. Semuanya cantik cantik.


"Paman, baju yang ini cantik sekali!" Ifah menunjuk gaun berwarna biru laut bertuliskan princess Anna Frozen.


Dan baju itulah yang telah di pilih Ifah.


Ifah pulang dengan membawa dua goodie bag ditangannya. Satu baju princesnya dan satu lagi sebuah mainan LEGO ia pamerkan pada sang ibu.


"Waalaikum salam, senangnya anak ibu!" mengusap kepala Ifah yang mengangguk mengeluarkan mainannya.


"Ya sudah sekarang sudah sore, mandi gih, udah ibu siapin air hangatnya. Handuk juga udah di kamar mandi. Cepat sana, biar ibu siapin baju gantinya!" Imah mendorong pelan anaknya. Setelah itu ia bermaksud menuju kamarnya untuk menyimpan baju dan mainan baru Ifah.


Namun ia ragu saat akan melewati Wahyu yang berdiri dengan menyenderkan bahu ke kusen pintu sambil menatapnya. Separuh pintu tertutup badannya yang tinggi. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana.


"Ibuuu! Nanti Ifah mau pakai baju princesnya ya? yang baru dibelikan paman!" teriak Ifah dari dalam kamar mandi menyembulkan sebagian kepalanya.


"Gak bisa Ifah, ini bajunya harus di cuci dulu, biar bersih!" Ifah langsung cemberut dan menutup pintu kamar mandi.


"Permisi pak, saya mau lewat! Mau ke kamar nyimpen ini terus nyiapin bajunya Ifah!" ucapnya saat seakan akan Wahyu menghalanginya untuk lewat.


"Kamu marah sama saya Imah? Karena saya membelikan mainan buat anakmu?" Imah mengurungkan niatnya untuk lewat demi mendengar ucapan Wahyu, bahkan ia agak mundur biar tak terlalu dekat dengan majikannya itu.


"Saya tak punya hak untuk marah sama pak Wahyu. Tapi, saya mohon ini terakhir kalinya pak Wahyu memanjakan Ifah dengan mainan. Saya takut anak itu makin ngelunjak dan minta macam macam yang saya gak sanggup buat membelikannya, Pak!" tutur Imah memberi penjelasan sambil menunduk. Ia tak berani bersiborok pandang dengan Wahyu.


"Ya, yang namanya anak anak gak masalah di beliin mainan. Biar dia kerasan tinggal di rumah, gak ngelayap di luaran atau sibuk bermain hape. Itu kan lebih bahaya, Imah!" bantah Wahyu memberi alasan yang cukup masuk akal.


"Oiya, ini makanan buat kamu!" menyerahkan paper bag pada Imah yang di sambut anggukan dan ucapan terima kasih.


****

__ADS_1


Kini usia kehamilan Yulia telah memasuki bulan keenam. Ia sudah tak lagi mencium bau terasi dari tubuh sang suami. Malah kini ia lengket seperti kena pelet, kemanapun Romi pergi, maunya dia ikut saja. Kecuali ke kamar mandi tentunya.


Bahkan ia selalu menyimpan baju Romi yang belum di cuci jika orangnya sedang pergi dan ia tak bisa mengikutinya.


Yulia berlenggak lenggok di depan cermin yang memperlihatkan perutnya yang buncit. Dengan senyum yang terus mengembang, ucap syukur dalam hati telah di pertemukan dengan Romi, suami yang saat ini begitu di cintanya. Dan kini buah cinta mereka telah tumbuh di dalam rahimnya.


Romi yang dulu selalu menatapnya tajam dan selalu ketus hingga ia memanggilnya bos jutek, kini berubah 180 derajat menjadi pria yang ramah, tatapannya lembut, dan selalu tersenyum padanya.


Tapi hanya pada Yulia ia selalu memamerkan senyum manisnya. Awas saja kalau ia sampai senyam senyum pada perempuan lain. Habislah ia.


Kembali lagi Yulia yang memperhatikan perut buncitnya dengan rasa bahagia.


Ini harus diabadikan! Yulia.


Besok aku akan mengajaknya foto maternity.


Sedang apa ya mas Romi sekarang? hmmm, aku rindu aromanya.


Yulia mengambil kaos Romi yang dipakainya seharian kemarin.


Hmmm!


Ia menghirup aromanya dalam dalam sampai terasa di paru paru. Begitu segar dan menenangkan.


Bayi di dalam perut Yulia juga bereaksi dengan aktif bergerak.


Sayang, kamu juga rindu sama Ayah, ya? Padahal tadi ia berangkat jam sembilan ya! dan sekarang jam sebelas kurang sepuluh menit.


Belum juga dua jam, rasa rindu ini sudah menggunung. Mengelus perut yang membuncit sembari berjalan ke sisi tempat tidur dimana terdapat ponselnya tergeletak di sana.


Masih dengan meletakkan kaos di depan hidungnya, ia mendial nomor telepon Romi.


Satu kali panggilan tak terjawab, wajahnya langsung gusar.


Sedang apa sih, dia? Sampai tak menjawab teleponku?


Yulia lalu mendial untuk kedua kalinya, sekali bunyi langsung tersambung.


"Assalamu'alaikum!" suara bariton di seberang sana membuyarkan kegusarannya.


"Waalaikum salam, mas!"


"Kangeeeen!" rengeknya melebihi Shila.


"Belum juga dua jam, sayang!"


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


TBC


__ADS_2