Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 7. Telat


__ADS_3

@@@


"Alhamdulillah, adek selamat. Hhh, untung aja kakak datang tepat waktu. Kalau nggak, adek bisa tenggelam dan gak bisa nafas." Yulia mau berucap seperti itu, namun entah kenapa ia tak bisa. Ia hanya bisa mengucap dalam hati.


"Eh, kenapa perahunya goyang ya? adek, jangan terlalu minggir! Nanti perahunya oleng!" Lagi lagi Yulia hanya bisa berucap dalam hati. Tapi anak kecil itu tak mengindahkannya dan Yulia merasa akan jatuh ke air.


"Aaaaa!"


Bruuukk!


Yulia terjatuh, keningnya membentur perahu dan kepalanya terkena air.


Tok tok tok!


"Yuliaaa!" terdengar suara ibu. Yulia lalu membuka matanya. Keningnya benar benar terasa sakit. dan wajahnya basah.


Ia tersadar. "Ah, ternyata hanya mimpi. Tapi kenapa wajahku basah? Dan....


Ya Tuhan ternyata aku jatuh dari tempat tidur. Dan air ini?


Air ini berasal dari gelas yang jatuh. Dan airnya tumpah ke wajahku, Pantas keningku sakit, sepertinya kejatuhan gelas tadi.


Yulia bangun dari lantai sembari meringis menahan sakit di kening. Untung jatuhnya tadi kepalanya diatas bantal. Tak kebayang kalau tak ada bantal, mungkin kepalanya sudah benjol terkena lantai keramik. Masih kejatuhan gelas pula. Tapi bantal Yulia jadi basah.


Tok tok tok.


Terdengar lagi sebuah ketukan.


"Yulia. kenapa kamu teriak Nak?" panggil sang ibu terdengar khawatir. Yulia segera bangun dan membuka pintu kamarnya.


"Kamu kenapa, Nak?" Ibu menangkup pipi Yulia.


"Ah nggak Bu, Yulia cuma lihat kecoa tadi, tapi sudah kabur kecoanya." bohong Yulia sambil nyengir. Ia lalu menguap pura pura masih ngantuk.


"Yulia nggak apa apa kok, Bu. Bener, tadi ada kecoa. Ibu kan tahu Yulia paling takut sama kecoa!" Ibu terlihat tak percaya.


"Tapi kenapa kening kamu? Ini kok benjol Yul?" Yulia meraba keningnya.


Terasa sakit.


"Ini, ini tadi waktu ngusir kecoa kening Yulia kena pojokan meja, iya meja, Bu!"

__ADS_1


"Betul Bu. Aaaww!" Yulia mengaduh, ibunya tiba tiba memegang kepalanya yang benjol.


"Ayo kamu duduk dulu di kursi, ibu mau ambil air anget dulu! buat ngompres dahi kamu biar gak membiru." kata sang ibu.


" Apa sih Bu? Ini cuma benjol biasa kok. Sebentar lagi juga sembuh." Ibu tak menggubris ucapan yulia, ia tetap menarik Yulia untuk duduk di kursi. Setelah menaruh air hangat dalam baskom, ibu kembali lagi dihadapan Yulia.


"Bisa berabe nanti Yul. Kalau gak segera di kompres pake air hangat, bisa membiru." ujar ibu sambil memeras waslap. Lalu dengan hati hati menempelkan kain lap pada kening yang sakit.


Yulia mendesis menahan sakit.


"Sudah ah, Bu! Nanti juga baik sendiri." rengek Yulia seperti anak kecil. Ibu melotot sambil mulutnya cemberut.


Pagi harinya Yulia buru buru menuju swalayan. Ia bangun terlambat tadi bahkan tak sempat sarapan. Setelah mimpinya tadi malam ia tak bisa tidur, hingga menjelang subuh ia sudah tak bisa membuka mata lagi. Seperti kena lem, iapun tidur lagi.


Duuuh, harus**nya aku tadi gak tidur lagi. Ngopi kek, jalan jalan kek. Biar gak tidur. Huuh! semo***ga aku gak kena marah, Ya Alloh*.


Rabbishrahli sadri. Wayassirli amri. Wahlul uqdatam millisani. Yafqahu qauli


Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkanlah bagiku urusanku, dan lancarkanlah lidahku supaya mereka faham ucapanku. (Surah Taha Ayat 25-28)


Dengan menahan degub jantung yang tiba tiba berdetak cepat, Yulia mengucap salam dan masuk.


Deg!


Duuh, si bos minim ekspresi dan jutek itu ada di meja kasir. Ia menatap tajam Yulia, sudah ada beberapa orang yang berbelanja. Mbak Fani yang kemarin duduk di kasir tak terlihat di situ.


"Ma-maaf Pak, saya telat." Lelaki itu menatap jam di dinding.


"Kau telat 10 menit!" ucapnya dingin.


"I-iya saya tahu pak, sebab itulah saya minta maaf!"


"Saya janji saya tak akan mengulangi." ucap Yulia dengan gugup. Udah gak sempat sarapan, malah berhadapan dengan bos jutek. Kalau tak segera minum banyak air ia yakin ia akan pingsan.


"Bapak bisa memotong gaji saya, tolong jangan pecat saya!" ucap Yulia tiba tiba. Laki laki itu terlihat terkejut dan menatap lekat Yulia yang menunduk. Laki laki itu mengibaskan tangannya bermaksud mengusir Yulia agar cepat bekerja. Namun karena Yulia asyik memandangi ujung kakinya yang terbungkus sepatu sneaker hitam ia tak melihat isyarat itu.


"Kenapa masih disini? Cepat kerja sana!" hardik lelaki itu yang membuat Yulia kaget dan mendongak. Yulia mengucap terimakasih dan segera berlalu. Bergabung dengan teman temannya.


Eh, takut banget dia padaku, sampai pucat begitu. Jadi merasa bersalah aku. Bos Jutek.


"Baru bekerja kamu udah telat Yul, Bos ngasih hukuman apa buat kamu? Aku harap sih kamu gak dipecat." cerocos Risma.

__ADS_1


"Dia itu calon guru privatnya neng Shila. Mana mungkin bos mecat dia, iya gak Yul?" Kali ini Yeni yang menimpali. Yeni sedang menggunting shampoo sashetan. Sedang Risma menggunting sabun cair sashetan juga.


"Benarkah Yul, waaah berkah ya jadi orang pinter ngaji. Pasti bonusannya banyak." Yulia hanya mendesah.


"Apaan sih! Ngajarin ngaji itu buat bekal akhirat, Risma. Aku gak mengharap imbalan apa apa. Aku senang jika ilmu agamaku yang sedikit ini bisa aku tularkan ke orang lain." ujar Yulia berargumen.


"Kalau diantara kalian ada yang belum bisa baca tulis Arab, aku mau kok berbagi, tenang aja. Gratis tis buat kalian." Yeni dan Risma saling pandang.


"Iya, Ustadzah." ucap mereka barengan.


"Ya udah, calon ustadzah gak apa apa 'kan kalau membungkus lalu menimbang terigu setengah kiloan?" Yulia tersenyum


"Emang udah pekerjaannya. Mau gimana lagi?" Mereka bekerja giat, terkadang larut dalam candaan. Dan tak terasa waktu pun semakin siang.


Siang harinya sehabis makan dan salat dhuhur, Shila menagih janji untuk mengajari mengaji. Dengan cepat ia menyerap apa yang Yulia ajarkan. Mereka belajar mengaji di mushala dengan masih mengenakan mukena.


Rupanya Shila sudah lancar huruf Hijaiyah. Tinggal mengulang karena ada beberapa huruf yang ia lupa.


Yulia juga mengajari cara menulis huruf Arab. Tulisan Shila cukup bagus untuk ukuran anak seusianya.


"Nah, sekarang Tante mau tanya pada Shila. Apakah Shila sudah hafal doa untuk kedua orang tua?"


Shila mengangguk cepat.


"Di sekolah Shila diajarin doa itu, Tante. Bismillahirrahmanirrahim.


Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar." ucap Shila yang membuat Yulia tertawa.


"Bukan! Bukan itu sayang do'anya. Kalau do'a yang baru saja Shila sebut itu doa sebelum makan. Jadi kalau do'a untuk kedua orang tua itu bunyinya adalah


Rabbighfir lii Waliwaalidayya Warhamhumaa Kamaa Rabbayaanii Shagiiran


Artinya: "Tuhanku, Ampunilah dosa-dosaku dan kedua orang tuaku, serta kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mengasuh aku pada waktu aku kecil."


"Oiya ya, Shila sampai lupa." sambil menepuk dahinya dan tertawa. Yulia sangat gemas dengan kelakuan Shila, ia memeluk Shila dan menciumi pipi gadis kecil itu. Keduanya tertawa bersama dan tanpa sadar sepasang mata elang mencuri pandang dari jendela kaca mushala dan tersenyum tipis.


\=\=\=\=\=\=\=


Haii, aku datang lagi! semoga gak bosen dengan cerita recehku.


Jangan lupa tekan like , favorit, dan komen ya! Love you.....

__ADS_1


__ADS_2