
"Assalamu'alaikum!" Yulia nyelonong masuk ke dalam ruangan Romi saat mendengar ada seorang wanita tengah berbincang. Benar saja, Romi dan wanita yang mengenakan pakaian sedikit terbuka di bagian bahu dan dengan dada menonjol berbincang begitu dekat.
Wanita itu duduk dengan menggeser kursi ke dekat Romi.
"Waalaikum salam!" Romi menjawab setengah gugup. Hanya Romi yang menjawabnya. Sedang wanita itu menatap tajam Yulia. Tak mau kalah, Yulia pun menatap wanita itu tanpa gentar.
Romi segera berdiri menghampiri istrinya.
"Sayang, tumben kamu kemari?"
"Ayo disini. Kenalkan Ini Dini, dia adiknya Dina. Ibunya Shila." Romi memperkenalkan wanita itu sebagai adik iparnya.
"Dan, ini Yulia istriku, Din!" Romi tersenyum sambil memegang pundak sang istri.
"Oh, jadi ini istrinya mas Romi?" wanita itu lalu berdiri, tatapan tajamnya agak melunak.
"Kenalin mbak, aku Dini!" ucapnya tersenyum dan menjabat tangan Yulia.
"Yulia!" menyambut uluran tangan Dini. Lalu berdiri dibelakang Romi yang duduk lagi ditempatnya, dengan tangan menempel di pundak Romi.
"Kok mas Romi gak pernah cerita, kalau mbak Dina punya adik. Shila pasti seneng kan punya Tante. Gak diajak ke rumah sekalian?" ucap Yulia di dekat telinga Romi, sambil melirik Dini. Romi mendongak dan tersenyum menyentuh pipi sang istri.
"Eh, ketemu Shila besok aja. Aku mau pulang sekarang. Dion pasti sedang mencariku." berdiri lalu menggeser kursinya.
"Aku permisi mas Romi, mbak!"
"Loh, kenapa? Gak pengen ketemu keponakan dulu! " seru Yulia bingung.
"Iya, tapi besok aja. Aku ada perlu sekarang, tadi aku lupa." jawab Dini membuat alasan.
"Maaf!"
"Oiya, mas Romi! mulai besok aku boleh langsung kerja ya, mas?" tanya Dini pada Romi, sambil mengambil tas yang tergeletak di meja, namun tak dijawab Romi. Malas banget rasanya Romi berurusan dengan adik almarhumah istrinya itu. Dan Dini pun sepertinya tak butuh jawaban Romi, ia langsung saja ngeloyor pergi.
Kok gitu sikapnya? Ada apa apa nih sepertinya.
Yulia mengatur nafasnya, menghirup dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan, berusaha tenang. Feelingnya mengatakan ada sesuatu diantara mereka. Romi menatap kepergian dini dari tempatnya duduk, sedangkan Yulia mengantarnya sampai depan pintu.
Romi memang ganteng dan kaya, so wajar kalau banyak yang suka. Yulia hanya menduga, walaupun berharap praduganya tak benar. Apalagi tadi dia bilang mantan suami, berarti wanita itu telah bercerai dari suaminya. Sekuat tenaga Yulia menepis semua dugaan itu.
Tanpa sadar Yulia menatap kepergian Dini sambil terbengong.
"Hei kenapa bengong di depan pintu. Ada setan lewat," Romi menakuti istrinya yang langsung tersadar dari bengongnya.
"Gak takut!" jawab Yulia percaya diri, ia lalu masuk dan menutup pintunya.
"Adiknya mbak Dini mau kerja di sini, mas?" tanya Yulia mencoba mengorek info. Ia berjalan menuju sofa dan menghempaskan bo kong dengan kasar.
"Pake baju seksi gitu! Dan suamiku ini seneng betul dekat dekat dengannya." cibir Yulia, ingat bagaimana tadi mereka duduk berdekatan.
__ADS_1
"Malas sih sebenernya aku kalau dia disini. Track record nya sangat buruk. Dulu, Dina aja yang kakak kandungnya gak betah sama dia." Mendekati Yulia yang duduk di sofa dan ikut duduk disampingnya. Tangannya ia jatuhkan di paha sang istri.
"Oh, memangnya kenapa?"
"Aku gak yakin dia bisa bekerja dengan baik. Apalagi pekerjaan disini seperti ini, dia perempuan manja yang bisanya cuma seneng seneng menghabiskan uang."
"Sekarang sih suaminya dah bangkrut, mangkanya dia minta cerai. Dia pasti lagi cari mangsa baru!" ucap Romi lagi.
"Dan target berikutnya, mangsa barunya itu mas Romi sepertinya?" Romi menghela nafas.
"Kita liat aja nanti! Kalau aku sih, gak akan mungkin tertarik sama dia. Apalagi aku sudah punya yang ini, yang bisa diuyel uyel tiap hari." menjawil dagu istrinya sambil tersenyum.
Romi mengalungkan tangan kiri di leher istrinya, mendekatkan wajah hendak mencium, namun dicegah Yulia dengan menekan pipi Romi dengan telapak tangan.
"Apaan sih, gak malu apa kalau tiba tiba ada yang masuk dan liat mas Romi mesum seperti ini." sungut Yulia.
"Ish, gak apa apa kali mesum sama istri. Diapa apain juga udah halal." tangan Romi merayap mengelus paha istrinya. Matanya lalu beralih menatap dua buah sumber nutrisi bayinya dan tersenyum.
"Minta susunya dikit dong! Jangan cuma di kasihkan ke baby Kia aja!" Romi berusaha membuka resleting atasan istrinya.
"Aku juga butuh asupan nutrisi!"
"Issh, apalagi ini mas!" sentak Yulia, menahan tangan yang akan menarik ke bawah resleting bajunya
" Kamu itu mesumnya kok gak ilang ilang ya! Aku tuh tadi kesini mau ambil Pampers, terus naik mau nengok keadaan kamu. Eh, tak taunya lagi berduaan sama mantan adik ipar." keluh Yulia.
"Awas ya, kalau sampai kamu macam macam di belakangku!" ancam Yulia dengan mata mendelik. Bukannya takut, Romi malah tertawa.
"Udah ah! Mau pulang aja, digombalin terus disini." Yulia beranjak berdiri.
"Pulang dulu, Assalamu'alaikum!" meraih tangan suaminya lalu mencium tangan itu.
"Sebentar, masa sih cuman cium tangan!" menarik tangan yang masih menggenggamnya dan menaruh di pundak.
"Kita sekarang jarang banget berduaan seperti ini. Kangen banget, kapan ya?"
"Aku juga kangen sih, mas! Tapi kasihan baby kalau ditinggal lama!" menyandarkan kepala di dada Romi.
Sekian menit mereka saling mendekap, merasakan kehangatan dan kenyamanan yang setelah kehadiran baby semakin jarang mereka lakukan.
"Ishh, sudah sudah. Ngapain jadi lebay gini?" protes Yulia melepas pelukan.
"Masih belum!" Romi mengangkat dagu Yulia. Dengan perlahan ia menyatukan bibirnya, lidahnya bereksplorasi menjelajah masuk bertukar saliva di mulut sang istri. Saling memagut, saling mencecap cukup lama.
Yulia memaksa menghentikan ciuman saat sadar bagian tubuh Romi ada yang mengeras. Ia segera beranjak menjauh tapi tangannya langsung ditangkap Tomi.
"Mau kemana? Setelah membangunkan keris sakti ku, kamu mau lari! Huh, tak bertanggung jawab amat!" Gerutu Romi namun dengan senyum nakal.
"Tahan dulu! Buat nanti malam saja. Aku mau pulang, kasihan baby kalau sampai nangis karena aku kelamaan disini," Romi mengeluh dan menggerutu, karena istrinya setengah berlari meninggalkan ia yang menahan ngilu dibawah sana
__ADS_1
****
Sore dengan suasana mendung menggelayuti bumi. Telah terjadi hujan yang cukup deras, menyisakan genangan air dan banjir di beberapa tempat di wilayah kota. Dan ternyata masih belum cukup, karena rintik rintik air masih saja turun ke bumi.
Suasana mendung juga dirasakan seorang gadis cantik yang duduk seorang diri di kursi panjang teras sebuah klinik kecil. Mulutnya mengerucut sebal, dikala teringat bagaimana lelaki yang bersamanya dan mengatakan ingin menjalin hubungan yang serius dengannya tengah asyik bersenda gurau dengan seorang gadis didalam klinik.
Gadis itu keluar dari dalam bersama Andre. Ya, lelaki itu Andre dan Yesi, dan gadis yang bersama Andre adalah gadis asli daerah itu.
"Makasih ya Made, atas makanannya. Pasti aku habisin kok!"
"Iya, sama sama dokter. Kalau begitu saya permisi. Selamat sore!" gadis itu berbalik sambil tersenyum lebar mengayun langkah keluar halaman klinik. Tak memperdulikan keberadaan Yesi yang duduk manyun di teras. Menoleh pada Yesi pun tidak.
Andre pun begitu menyebalkan malah melambaikan tangan sambil tersenyum. Setelah tak terlihat clue gadis itu, Andre menoleh pada Yesi yang menahan gemetar karena kesal.
"Hhhm, ada yang lagi jeles nih, kayaknya!"
Tanpa rasa bersalah dia duduk di samping Yesi, menoleh lalu menopang dagu menatap gadis disampingnya.
"Hhh, siapa juga yang jeles. Jangan ge er elu!" semprotnya.
"Yakin, nggak jeles?
"Nggak!" seru Yesi.
"Kok aku gak yakin, ya!"
"Gak jeles, tapi cemburu iya, kan?" Andre masih juga ngeyel. Ingin pengakuan Yesi.
"Nggak juga!"
"Beneran nih, gak suka sama aku, gak cemburu?" cecarnya.
"Di bilang nggak, ya enggak! Ngeyel amat sih, jadi orang!"
Andre makin lebar senyumnya.
"Ini nih, bener benar gak salah. Kamu sedang cemburu!"
"Enggak aku bilang!" mata Yesi sudah melotot saking kesalnya.
"Oh, salah ya! Kamu nggak sedang cemburu ternyata."
"Antar gue pulang, sekarang juga!" titah Yesi sama sekali tidak ramah.
"Kata Made, sebentar lagi ada pasien datang. Sabar, ya! Nanti aku antar setelah ini." ucap Andre tak bersemangat. Kebalikannya tadi ia tersenyum lebar, sudah optimis Yesi merasa cemburu saat ia bersama Made.
Dan benar, tak lama datang seorang yang diantar diapit menggunakan sepeda motor. Seorang pemuda yang sepertinya baru mengalami kecelakaan.
Sesaat setelah pemuda itu dibawa masuk, warga lain pun berbondong bondong datang. Ada yang duduk di teras, di bangku yang sama dengan Yesi. Ada pula di kursi yang lain. Beberapa pengantar hanya duduk di jok sepedanya karena tak kebagian tempat duduk. Yesi hanya melongo menyaksikannya, sementara hari sudah menjelang petang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=