Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 49


__ADS_3

*****


Suasana pernikahan Yulia dan Romi sederhana namun cukup meriah. Bahkan di samping pelaminan ada panggung kecil, diperuntukkan beberapa penyanyi untuk membawakan lagu lagu yang bertemakan cinta dan keromantisan.


Sementara itu dari balik jendela kaca sebuah rumah depan gang di lantai dua, seseorang berdiri dengan memasukkan tangannya kedalam saku celana, menatap tamu yang berlalu lalang di depan rumah. Bahkan halaman rumahnya dijadikan tempat parkir beberapa mobil dan motor.


Sirna sudah harapanku, kini tak ada lagi kesempatan yang bisa aku dapatkan. Semoga kamu bahagia, menjalani hari harimu, Yulia!


Pria berkaca mata itu memejamkan mata, menghirup udara dalam dalam agar paru parunya terisi oksigen. Karena sedari tadi ia merasa sesak di dadanya. Beberapa lama berdiri, ia lalu mengambil koper besar diatas lemari, membuka pintu tempat pakaiannya, memilah milah baju yang akan ia bawa. Lalu memasukkannya ke koper. Selain baju, ia juga membawa alat alat yang dibutuhkannya saat ia bekerja. Ia sudah memikirkan jauh jauh hari apa rencana yang akan dilakukannya. Ada sebuah desa yang jauh dari keramaian membutuhkan tenaganya sebagai tenaga medis. Ia akan mencurahkan ilmu pengobatan yang didapatnya di desa itu, sembari mengobati luka hatinya.


Ah, aku seorang dokter. tapi aku bahkan tak bisa mengobati luka hatiku sendiri.


Ceklek ...


Suara pintu kamar terbuka. Terlihat Bu Santo heran dengan apa yang dilakukan Andre. Ya lelaki itu adalah dokter Andreas.


"Ndre, kamu sudah yakin mau pergi? Mana enak tinggal jauh dari kota, Ndre!


Internet susah, gak ada cafe gak ada restoran. Mau kamu? Kamu juga bakal bergaul dengan petani, dan satu yang ibu takutkan...


jangan sampai kamu kecantol gadis desa. Ihh.." Andre tertawa sumbang.


"Gadis desa kalau cantik juga gak masalah Bu! Malah gadis desa itu masih pure, kecantikannya alami. Sudahlah, Bu, keputusanku sudah bulat. Maaf Bu! Andre sudah dewasa. Sudah saatnya Andre menentukan pilihan hidup Andre sendiri, tanpa campur tangan ibu dan Ayah." ucapan yang mampu membungkam Bu Santo, yang hanya menatap nanar Andre yang sedang berkemas.


"Bukan aku tak menghormati ibu yang telah melahirkan Andre, atau ayah yang berjuang untuk memberikan apapun yang terbaik untuk keluarga kita, tapi Andre juga berhak menentukan sendiri arah dan tujuan hidup Andre ke depannya."


Di dekatinya sang ibu yang berdiri diambang pintu. Menangkup kedua pipi wanita yang telah melahirkannya itu dan menatap mata ibunya lekat.


"I love you Mom, always and forever." dan memeluknya erat. Ia tumpahkan tangisnya sambil mendekap sang ibu.


"I love you too, my son!"

__ADS_1


*****


Perhelatan pernikahan telah usai sore itu. Sebuah koper besar berisi barang barang Yulia siap untuk dibawa ke rumah suaminya.


Suami?


Ah, rasanya seperti mimpi, aku telah bersuami, dan aku bergelar istri (lagi). Dari seorang lelaki bernama Romi. Yulia.


Di depan rumah, ada beberapa orang dari pihak WO yang masih membereskan barang barangnya. Beberapa orang juga terlihat membereskan tenda. Para tetangga yang membantu juga telah pulang ke rumah masing masing.


Sebenarnya berat hati Yulia meninggalkan ibunya yang sudah sakit sakitan, namun gimana lagi, sebuah komitmen atas pernikahan ia harus terima resiko, mengikuti kemana suami pergi. Dimana pun suami tinggal.


"Lalu gimana dengan ibu kalau aku ikut mas Romi, Bu!" tanya Yulia waktu itu saat ia ragu ragu, antara menerima atau menolak pinangan itu.


"Sudahlah, jangan pikirkan ibu, ibu sudah biasa sendiri. Dulu waktu kamu menikah sama Wahyu, kamu juga ninggalin ibu sendiri di rumah!" ungkap sang ibu membuat Yulia menatap ibunya iba.


"Tapi itu dulu, Bu! Ibu masih sehat walafiat. Sekarang 'kan ibu sakit sakitan!" Yulia yang semula duduk di kursi berpindah duduk di samping Bu Kanti, diatas dipan. Lalu memeluk ibunya, rasanya berat berpisah dengan ibu. Andai dia boleh meminta, ia mau minta Romi membolehkannya membawa ibu ke rumah Romi.


"Tapi, Bu! sebenarnya Yulia masih pengen sendiri Bu! Yulia gak pengen buru buru nikah lagi!" menyandarkan kepala pada bahu Bu Kanti. Sambil mulutnya manyun.


"Hhh, apa kata orang Yulia, kamu sering pergi sama laki laki itu yang bukan suami atau saudaramu. Apalagi itu anaknya nempel terus sama kamu. Lebih baik di resmikan segera, takut nanti jadi fitnah."


"Ihh, ini kepalanya jangan disenderin gini Yul, berat tahu!" Bu Kanti menggerak gerakkan bahunya. Yulia menegakkan kepalanya kembali, maksud hati tadi ingin bermanja- manja pada ibunya.


****


"Buu...!" panggil Yulia pada bu Kanti yang duduk di sofa usang ruang tamu rumah mereka. Di sampingnya ada mas Angga dan mbak Dila, serta Romi yang menunggu Yulia. Riasan pengantin yang cukup tebal telah ia bersihkan, kini waktunya berpamitan. Bu Kanti terlihat berkaca kaca. Gurat wajah tuanya berusaha menyembunyikan kesedihan.


Yulia berjongkok di depan ibunya,


"Bu, aku pamit ya! jaga kesehatan ibu. Insyaalloh Yulia bakalan sering main ke sini!" menciumi tangan sang ibu. Wajahnya memerah menahan isak tangis. Semua orang di ruangan itu tak dapat menahan rasa harunya. Setelah selesai berpamitan mereka segera melangkah meninggalkan semuanya dengan menyeret sebuah koper.

__ADS_1


"Kenapa? sedih berpisah dengan ibu?" sedari tadi berangkat wajah Yulia terlihat murung.


"Saya... cuma gak tega kalau ninggalin ibu sendiri di rumah, mas. Besok, mbak Dila sama mas Angga pulang." Romi meraih kepala istrinya dan mengusapnya lembut.


"Kamu pengen ibu tinggal sama kita?"


"Memang boleh, mas? Ibu pasti tak enak hati juga. Dan aku pastinya. Masa' besan tinggal serumah!"


"Nggak mungkin 'kan? Ibu juga gak bakal mau tinggal sama mas Angga. Mas Angga masih ngontrak dan tempatnya juga gak besar. Ibu dari dulu memang gak mau jadi beban anak anaknya." keluh Yulia.


"Ya kalau itu masalahnya, tinggal bujuk ibu saja agar mau tinggal sama kita. Nanti kita bisa bicarakan baik baik sama ibu!" Romi bicara sambil mengemudi. Matanya tetap fokus ke jalanan.


"Loh, mas! Kok kesini jalannya? Kita mau kemana dulu, memang mas Romi gak capek ya? Gak pengen langsung istirahat?" Yulia mengernyitkan alis dan toleh toleh keluar mobil. Karena jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju rumah Romi. Lalu saat Yulia menoleh pada Romi, dan merasa curiga karena suaminya itu hanya tersenyum.


"Kita mau ngambil hadiah yang dikasih Mima dan Chris!" ujarnya pendek. Senyumnya tak pudar malah tambah lebar.


"Perasaan hadiah dari mereka belum aku buka deh! Kok diambil apanya? kadonya ada di dalam bagasi 'kan?" senyum dan gerak gerik Romi makin mencurigakan, membuat Yulia kesal.


"Maaas! Gak usah senyam senyum gaje gitu ah, ngeselin!" Romi terkikik. Merasa lucu jika istrinya cemberut begitu. Karena tak dapat jawaban apapun akhirnya Yulia diam.


Hingga mobil yang Romi kemudikan berbelok ke sebuah hotel.


"Loh, mas! Kok ke hotel? Ngapain ke hotel?" pekik Yulia, namun sejurus kemudian ia menunduk. Malu.


"Apa yang di maksud hadiah dari dek Mima itu menginap di hotel, mas?" Romi tersenyum simpul. Kini mobil telah terparkir dan mereka pun keluar.


*Duuh, aku kan gak pernah ke hotel.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


To be continued*

__ADS_1


__ADS_2