Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 59


__ADS_3

*****🌷🌷🌷****


Empat bulan berlalu tanpa terasa. Semua berjalan normal seperti yang sudah sudah. Yulia seperti biasa, melakukan aktifitas sebagai ibu rumah tangga. Memasak di pagi hari, mengantar jemput Shila ke sekolah, mengurusi Bu Kanti ibunya.


Bu Alvi, mertuanya tinggal di rumah Mima, atas permintaan Mima, dan mempersilakan kalau Romi Dan Yulia membawa Bu Kanti ke rumah. Tentu ia merasa kasihan dengan besannya itu yang sudah sakit sakitan, dan harus tinggal sendiri di rumahnya.


Pada awalnya Bu Kanti menolak. Bagaimanapun juga, tinggal di rumah sendiri itu lebih nyaman. Seperti kata ungkapan Baiti jannati, rumahku adakah surgaku, adalah ungkapan yang pas untuknya. Bagaimanapun bagusnya rumah orang lain dan bagaimana buruknya rumah sendiri, tetap akan merasa nyaman di rumah sendiri. Walaupun itu rumah anak menantunya. Tak perlu sungkan jika mau melakukan apapun.


Namun Romi berhasil meyakinkannya jika ia membebaskan ibu mertuanya melakukan apapun di rumahnya. Karena Ia yakin Bu Kanti adalah orang yang gak akan berlaku neko neko.


Dua hari ini Yulia mengeluh sering pusing, ia memang sering mengalami anemia. Apalagi sehabis mengeluarkan darah kewanitaannya tiap bulan.


"Masih pusing, sayang?" tanya Romi pagi itu. Ia baru pulang mengantar Shila sekolah. Shila adalah anak yang mandiri walaupun ada dari beberapa anak yang minta di tunggui ibunya saat kelas berlangsung, namun Shila malah meminta Ayahnya atau Bundanya untuk pulang.


"Gimana? masih pusing?" tanyanya lagi lalu duduk di samping sang istri yang selonjoran di ruang tengah. Yulia mengangguk.


"Selain pusing, apa masih ada hal lain lagi yang dirasa aneh?" Yulia berpikir sebentar sebelum akhirnya menggeleng. Romi kini memijat lembut kepalanya yang tak terbungkus kerudung. Memperlihatkan rambutnya yang hitam dan lurus sebahu.


"Gak ada mas, itu aja!" jawabnya malas. Ia sedikit merebahkan kepalanya di dada sang suami. Namun kemudian ia seperti mengendus sesuatu dan menutup hidungnya.


"Mas Romi belum mandi? Kok bau terasi?" Yulia bangun, lalu mengibas kibaskan tangan di depan hidung. Seolah mengusir bau busuk dari Indra penciumannya.


"Heeh, bukannya tadi kita berendam di bathtub berdua. Bisa bisanya kamu bilang aku belum mandi!" Yulia meringis melihat suaminya sewot di bilang belum mandi, memperlihatkan gigi gingsulnya yang makin menawan saat tersenyum.


"Iya deh iya maaf. Aku lupa kalau tadi kita mandinya barengan. Tapi apa ya yang baunya kayak terasi. Mengganggu banget loh baunya!" Yulia masih menutup hidungnya dengan tangan.


Romi ikut ikutan mengendus, bahkan ia sampai mengangkat tangannya dan mengendus ketiaknya sendiri. Tak ada bau aneh yang ia cium. Apalagi bau terasi. Ia meneruskan kembali pijitan tangannya untuk sang istri tercinta.


"Tapi aku gak merasa ada bau terasi disini! Mak Minah juga gak masak terasi kok, iya kan Mak Minah?" Romi mengeraskan kata kata terakhirnya yang ditujukan pada Mak Minah yang berkutat dengan alat alat masaknya di dapur.


"Eh, apa mas? Gak kedengeran dari dapur, apa yang mas Romi bilang?" ia datang dengan tergopoh.


"Mak Minah, merasa ada bau terasi nggak? atau Mak Minah lagi nyambal terasi mungkin sekarang?" Mak Minah menggelengkan kepalanya seketika.


"Enggak tuh, Mas Romi! Dari pagi gak ada bumbu terasi. Saya kok gak nyium bau terasi ya!" ikut mengembangkan hidungnya untuk membaui.


"Baunya harum Super Pell. Bau apel, wangi lagi, gak ada tuh bau terasi!" komentar Mak Minah.

__ADS_1


"Saya kok gak ngeh ya, Mas Romi, emang kenapa sih kok kayak aneh gitu, ngomongin terasi dari tadi. Emang ada apa? Mas Romi atau mbak Yulia pengen sambel terasi? Biar saya buatkan nanti buat makan siangnya sama sayur asem cucok banget loh!" Mak Minah nyerocos memberikan ide yang langsung disambut gelengan kepala Yulia.


"Nggak Mau, aku gak suka bau terasi.Membayangkan saja bikin perut mual, Mak!" Yulia merasa merinding. Sungguh aneh ia merasakannya.


Tiba tiba mata Mak Minah bersinar.


"Eh, mbak Yulia. Tumben tumbenan gak suka terasi, biasanya juga mbak Yulia suka makan dan biasa aja. Atau jangan jangan...!" Mak Minah menggantung omongannya. Kedua orang majikannya itu menatap lurus ke arah Mak Minah.


"Jangan jangan apa, Mak?" Romi yang tak sabar segera bertanya. Tangannya masih bergerak gerak di kepala Yulia. Sepertinya Yulia merasa nyaman dengan pijitan itu.


"Jangan jangan Neng Shila mau punya adik! Iya, Mak Minah yakin, Neng Shila mau punya adik!" ucapnya dengan nada bahagia.


Namun Yulia menggelengkan kepalanya, " Nggak mungkin, Mak! Dua hari yamg lalu saya baru haid, meskipun cuman ngeflek sih! Biasanya tujuh hari, tapi kemarin itu cuman ngeflek!"


Yulia mencoba mengingat ingat. Ia tak mau terlalu antusias dan berharap terlalu jauh. Ia takut ia akan seperti terbang di angkasa lalu jatuh terhempas ke bumi, jika mengharapkan kehamilan secepat ini.


Walaupun di satu sisi hatinya ia mengaminkan kata kata Mak Minah barusan.


Romi yang sedari tadi menyimak pun akhirnya buka suara dengan raut penuh harapan baik.


"Tapi mas...!"


"Gimana nanti kalau hasilnya negatif?" Yulia takut dengan kekecewaan yang akan menghantuinya jika hasil tes negatif.


"Sayang, kamu lupa ya? Pasrahkan segalanya pada Yang di Atas. Hasilnya negatif atau positif, itu adalah hak prerogatif Alloh. Kita sebagai manusia cuma bisa berusaha. Ok! Don't worry. The God knows what's best for us.


Yulia mengangguk, berusaha menguasai perasaannya yang tak menentu.


"Kalau begitu, aku ikut!" Dan merekapun berangkat berdua ke apotek, dan kini di tangan Yulia ada beberapa jenis dan merk alat tes kehamilan.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah lagi, karena memang apotek dekat dari rumah mereka.


"Coba yang ini dulu ya, mas?" ucap Yulia memperlihatkan salah satu alat, yang bentuknya lebih besar dari yang lain. Sepertinya melihat dari harganya yang lebih mahal tentu hasilnya lebih akurat.


Dengan langkah agak gemetar Yulia masuk ke kamar mandi. Menampung sedikit air seninya seperti petunjuk yang tertera pada kulit pembungkus alat. Lalu mencelupkan bagian ujung benda itu pada air seni.


Deg Deg Deg

__ADS_1


Jantungnya bertalu kencang saat menanti selama sekitar lima menit. Ia tak berani membuka mata, dan tetap duduk di walk in closet. Tangannya gemetar menghasilkan keringat dingin.


"Yul, sudah belum..!" yang di luar kamar mandi sudah tak sabar dan mengetuk pintu dengan keras. Mirip gedoran malahan, membuatnya yang gugup tambah menjadi.


"Iya, sebentar!" teriaknya.


Sepertinya sudah lewat dari waktu yang di tentukan, ia lalu mengambil alat tes dan melihat dengan melotot tak percaya.


Dua garis merah!


Dengan satu garis berwarna merah dan nyata, yang satunya lagi agak samar.


Yulia menepuk nepuk pipinya agak keras, dan meringis karena merasa sakit.


Ini nyata!! Ini bukan mimpi!! Aku... aku hamil...? Mas, aku hamil...


Namun suaranya tercekat di tenggorokan.


\=\=\=\=\=\=


TBC


hai hai hai.. aku up lagi ...


Selamat hari Senin ya...


Dan menjadi kebiasaan othor remahan yang gak tahu diri ini kalau hari Senin ngemis vote nya...


Sekadar mengingatkan, dan sapa tahu ada yang dengan ikhlas hati mau ngasih vote...


Hohoho....Mimpi kali ye...


Alahhh.. tak payah gitu lah....


yayaya ....


🙄🙄🙄

__ADS_1


__ADS_2