
"Mas, berhenti sebentar, mas! Itu... itu bukannya Dini ya!" terlihat dari kaca mobil Dini meraung menangis ditepi jalan depan sebuah pertokoan. Romi dan Yulia memperhatikan dari dalam mobil, lalu Romi membelokkan mobilnya ke area parkir toko. Banyak orang yang berhamburan ikut merubung di tempat kejadian itu.
"Apa itu yang kecelakaan anaknya Dini, mas?" tatapan Yulia tak lepas dari wanita yang menangis itu.
"Sepertinya begitu!"
"Mas, mas gak turun nolongin dia? Dia keponakannya mas, loh!" Romi membuang nafas kasar.
"Lalu aku harus apa, Yul. Aku tak mau berurusan lagi dengan Dini." keluh Romi.
"Tapi ini lain, keponakanmu kecelakaan. Masa kamu tega sih"
"Hhhhh baiklah, kamu tunggu sini ya! Biar aku lihat sana." Romi pun turun mendekati kerumunan orang. Seorang ibu terdengar sedang memaki maki pengendara sepeda motor yang menabrak anak itu sambil berkacak pinggang.
"Huuuu Dion, bangun nak! huuu!"
"Dini.. Dion kenapa?" Romi menyeruak diantara para pengerumun. Melihat Dion yang bersimbah darah dan matanya terpejam, hati Romi seakan teriris.
"Mas, tolong panggilkan taksi mas! bawa anak ini segera ke rumah sakit, cepat!" perintah Romi pada seorang seorang lelaki yang baru dimaki maki ibu tadi.
Dini mendongak, wajahnya penuh air mata, sembab dan memerah.
"Mas Romi... Dion mas!"
"Iya, sabar Din! Dion pasti sembuh. Kita bawa ke rumah sakit ya, nunggu taksi dulu!"
Tak berapa lama sebuah taksi datang, dengan sigap Romi menggendong keponakannya menuju mobil. Dini mengikutinya dari belakang.
"Kamu pangku Dion ya, Din. Tapi maaf, aku ngantar pulang istriku dulu، nanti aku susul. Ya!"
"Tapi, mas! Aku takut!" Dini berusaha menahan Romi.
"Mas, mas ini yang nabrak kan? Mas harus tanggung jawab, ikut taksi ini ke rumah sakit!" seorang lelaki seumuran Romi yang menabrak Dion mengangguk, dan ikut masuk kedalam taksi. Sepedanya di amankan oleh sekuriti pertokoan itu.
"Udah gak papa, Din. Nanti aku nyusul. Pak, cepat bawa ke rumah sakit Harapan Bunda ya, Pak!" perintah Romi yang diangguki sopir taksi.
Setelah taksi melaju bersama pengendara motor, Romi berlari menuju mobilnya.
"Hiiii, Ayah! bajunya kena darah!" Shila yang melihat noda darah di baju ayahnya begidik takut.
"Gak apa apa, nak!" Romi melihat baju kokonya. Ia lalu membuka baju itu dan menyisakan kaus putih tipis yang biasa ia pakai sebagai dalaman.
" Bund, kalian aku antar pulang ya! Habis itu aku nyusul Dini ke rumah sakit, boleh kan? Kasian juga dia sendirian ngurus anaknya!" usul Romi pada istrinya. Yulia hanya mengangguk mengiyakan. Bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga. Tak mungkin juga berlepas tangan saat keluarga sedang kesusahan.
"Kira kira anaknya Dini kecelakaannya parah gak sih, mas?"
"Gak tau Bund! Tadi Dion dalam keadaan pingsan."
Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah, anak anak telah tidur. Romi membopong Shila ke dalam kamarnya, begitu juga Yulia menggendong Kia dan menidurkan di box bayi. Setelah membersihkan diri dan ganti baju, Romi segera menyusul ke rumah sakit.
"Mas, segera kabari aku ya! Gimana keadaan Dion! Aku juga ikut khawatir, nih!"
"Iya, aku pergi dulu ya! Semoga keadaannya tak menghawatirkan dan bisa segera sembuh!" Yulia melambaikan tangan pada Romi yang telah melajukan mobil keluar gerbang rumah.
"Gimana keadaan Dion, Din?" Setelah sampai dirumah sakit, Romi langsung ke ruangan IGD. Dan ia mendapati Dini duduk di ruang tunggu sambil menundukkan wajah dalam.
"Dia lagi di CT scan, mas! takutnya dia gegar otak!" jawabnya pendek lalu menunduk lagi. Kesedihan jelas nampak di raut wajahnya.
"Sabar, semua pasti baik baik aja. Kalau boleh tahu, kenapa ia sampai ketabrak motor? Harusnya anak seusia Dion sudah bisa menjaga diri!"
"Aku yang salah, mas! Dion, dari kemarin ngerengek kangen Papanya. Ia ingin ketemu papanya, ia tak pernah jauh dari mas Arsen." ungkapnya dengan nada sedih.
"Lalu, kamu udah hubungi Arsen, belum?" Dini menggeleng lemah.
"Aku gak berani, mas! Dia pasti sangat marah. Aku memang brengsek, tapi aku mencintai Dion melebihi apapun, mas! Hikkks hikkkks." sekali lagi Dini menangis. Romi menggaruk kepala yang tak gatal. Ia bingung harus melakukan
apa.
"Aku takut terjadi apa-apa pada Dion, mas Romi hiikkks hikkks!"
__ADS_1
"Kalau tahu Dion celaka karena aku lalai, dia pasti bakalan maksa bawa Dion pulang. Aku gak mau!" rengeknya masih sambil terus menangis.
Itu adalah salah satu resiko dari orang tua yang memutuskan berpisah. Anak yang akan jadi korban.
"Sabar, ya! Dion pasti sembuh."
Tiba tiba Dini meletakkan kepalanya di bahu Romi, membuat Romi kaget dibuatnya.
"Din, aku tahu kamu lagi sedih, tapi jangan begini. Kalau ada orang lewat yang kenal aku ataupun kamu, mereka pasti berpikir macam macam." keluh Romi.
"Maaf, mas. Aku benar benar butuh bahu buat bersandar sekarang!" Romi hanya pasrah. Tak mungkin juga ia modus dalam keadaan seperti ini. Begitu pikir Romi.
Mereka tak tahu, seseorang sedang bersembunyi di balik tembok, mengarahkan lampu blitz ponselnya untuk membidik kebersamaan Romi dan Dini dengan senyum menyeringai licik.
Tak lama seorang suster keluar, angin segar bagi Romi terlepas dari kepala Dini yang bersandar padanya.
"Ibu dari adik Dion Dani Arsenio!" Dini langsung berdiri.
"Saya, sus! Ada apa dengan anak saya?" tanya Dini sambil mendekat. Suster itu tersenyum.
"Tenang, Bu! Adik Dion ingin ditemani ibu di ruangan sebelum di scan. Silakan ibu masuk!"
Dini menoleh pada Romi.
"Mas, aku temani Dion dulu ya!" pamitnya yang diangguki Romi.
Selepas kepergian Dini, Romi teringat untuk menghubungi istrinya, menceritakan apa yang dilihatnya. dan belum bisa memastikan keadaan Dion.
*****
Aku datang kepada pantai di waktu senja yang mulai memerah
Menikmati sajian alam yang tiada bandingannya.
Kudengar suara debur bersahutan,
gelombang menjadi hancur di bibir pantai dan melebur.
Betapa luas alam semesta ombak bergulung gulung yang berlarian dari tengah lautan.
Sedangkan burung camar berkicau bersahut-sahutan, terbang diantara perahu nelayan lalu hinggap sebentar
di tiang-tiang.
Yesi duduk ditempat pertama kali ia bertemu dengan Andre dipantai petang itu. Sembari menopang dagu, ia teringat kala mereka berbincang dan bercanda hingga malam bertaburan bintang menyergap, dan mereka akhirnya kembali ke hotel tempat Andre menginap.
Sudah tiga minggu lamanya tak bersua dengan Andre, tak bertukar kabar. Dimana gerangan kini keberadaannya. Ia tak tahu. Seminggu lalu ia memberanikan diri menghampiri klinik tempat Andre praktik, namun pintu tertutup rapat. Beberapa orang yang ditemuinya pun menggeleng saat ditanya kemana perginya dokter Andre.
Yang mereka tahu dokter Andre sudah dua minggu pergi, entah keluar kota atau mungkin keluar pulau. Bahkan bisa saja keluar negri. Yesi pulang dengan tangan hampa.
Disaat lamunannya terbang melayang, ponsel dalam tas selempangnya berbunyi.
"Haaah, Andre!" pekiknya tak percaya. Ia mengerjap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bagaimana ini, aku sedang ada ditempat pertama kali aku ketemu dia. Malu aku! Tapi ini sudah mulai gelap, dia gak akan memperhatikan sedetil itu.
Masa bodo ah!
Yesi menggeser tombol video.
"Hai...!"
Terlihat wajah lelah diseberang sana. Ia seperti disebuah ruangan.
Tunggu, itu kan ruangan rumah sakit. Siapa yang sakit.
Wajah diseberang sana tampak tersenyum walau gurat lelah tak dapat disembunyikan.
"Hai..Ndre! Apa kabar?"
__ADS_1
"Baik, Yes. Kamu sendiri?"
"Iya, puji Tuhan aku juga sehat. Mmm, Ndre! itu siapa yang sakit?"
Andre menoleh pada ranjang disebelahnya. Dan mengarahkan kamera pada wanita yang tengah memejamkan mata.
"Ibuku yang sakit, Yes! Itu sebabnya aku pulang. Udah dua Minggu lebih aku disini."
"Owwh!" hanya itu jawaban Yesi. Sekarang ia tahu kemana Andre selama ini. Tapi, kenapa dia gak ngabarin ya?
"Kamu sepertinya capek sekali, istirahat sana gih! Entar sakit lagi!"
Upss, kenapa aku perhatian sama dia.
Andre tersenyum lebar.
"Makasih udah perhatian. Aku memang lelah banget. Itu sebabnya aku telpon kamu, jadi moodbooster aku banget kamu. Capekku langsung hilang, setelah lihat kamu dan dengar suara kamu!"
"Apaan sih!" untung gelap, jadi Andre tak tahu bahwa ada yang sedang merona pipinya.
"Eh, kamu kok ditempat gelap gitu, Terus tunggu, itu kayaknya suara ombak ya! Kamu lagi mantai?" Andre membelalakkan mata.
"Hmmm, iya Ndre. Lagi suntuk dirumah."
"Apa karena gak ada aku?" pertanyaan dengan tingkat narsis level tinggi.
"Kamu jangan kepedean deh! Aku sering kok mantai seperti ini. Siapa tahu ada turis ngajak kenalan. Apalagi sunset lagi indah indahnya gini, cuacanya juga lagi bersahabat banget." Yesi memutar kamera hapenya, dan tampak di layar matahari sedang terbenam, menampakkan warna lembayung jingga. Andre pun tertawa.
"Oiya, ibumu sakit apa, dan gimana keadaannya?"
"Ibu kecelakaan, terjatuh dari tangga. Dia mengalami fraktur servikal, dan tangan sebelah kiri, tapi udah mendingan kok. Ini tadi lagi kontrol, eh malah tensi darah nya tinggi, jadi rawat inap deh dari kemarin."
"Fraktur apaan tuh tadi? Gak paham aku istilah kamu!"
"Fraktur servikal itu patah tulang leher, penyebabnya salah satunya ya kecelakaan itu tadi. Dan juga tangannya keseleo." jelas Andre. Yesi ber oh dan setelahnya diam tak tahu harus bicara apa. Keduanya sama sama diam.
"Yesi!" sapa Andre setelah beberapa menit mereka diam.
"Kamu kangen gak sih, sama aku?"
"Nggak tuh!"
*Nggak salah maksudnya Ndre!
"Alaah, bo'ong*, kamu pasti kangen sama aku!"
"Aku bilang nggak ya nggak, Ndre!"
"Bo'ong, kamu kangen kan?"
"Ih, dibilangin enggak kok ngeyel!"
"Please kangen lah! Masa nggak kangen!"
"Yeee, orang gak kangen kok dipaksa kangen! Huuu dasar!"
"Trus, kalau gak kangen kenapa kemarin kamu datang ke tempat aku? Hayooo, ngaku. Kena kau!" Andre tertawa lepas.
Skak mat dah. Siapa sih yang bilang kalau gue kesana?
"Kok, Lo tahu gue ke tempat Lo. Tahu darimana coba, atau Lo punya mata mata ya?" tuduh Yesi sambil cemberut.
"Hahaha, tuh kan kamu ngaku. Aku tuh tadi cuman menduga saja. Ternyata bener kamu cari aku di klinik?"
Kurang aseeeem.
"Kemarin tuh, ada tetangga baik aku di sana, bilang ke aku. Katanya ada cewek cantik datang nyariin aku, dua juga pernah liat kamu sebelumnya waktu kamu nginep gara gara kehujanan tuh!"
Issh dasar!
__ADS_1
"Ndre, lagi telpon siapa?" tanpa sadar Bu Santo, ibunya Andre telah bangun, dan mendengar percakapan anaknya dua jadi penasaran.
\=\=\=\=\=