
****
"Yesi, tunggu aku!" Andre setengah berteriak memanggil Yesi yang berjalan cepat menuju kendaraannya. Mereka kini ada di klinik milik Andre dan telah makan siang berdua. Setelah itu mereka berbincang mengenai masa depan, berkali kali diskusi berdua mengenai pernikahan namun menemui jalan buntu.
Mereka sama sama anak tunggal, sama sama keras kepala. Yesi menginginkan setelah pernikahan, Andre meninggalkan kliniknya ini dan bekerja di rumah sakit yang jaraknya dekat dengan rumah Yesi.
Sedang Andre masih betah dan memang dibutuhkan di kliniknya sekarang ini.
"Oke, aku bakal turutin kemauan kamu. Aku yang pindah!" ucapnya setelah berhasil menangkap tangan Yesi.
Don't just bullshit, Andre! Lo itu omdo! Omong doang, kenyataannya ga ada!"
Andre mencium punggung tangan Yesi.
"I promise. Okay! For my love to you!"
"Please jangan marah lagi, kita bicara baik baik!" ucapnya seraya menggandeng tangan Yesi duduk di ruangannya. Yesi menatap tak suka pada sosok seorang gadis berambut panjang yang tak berpindah dari tempatnya duduk. Tetap bergeming walau Yesi sangat kentara tak menyukainya.
"Aku juga gak suka dia jadi asisten kamu, Ndre. Aku gak suka kamu seharian dekat deket sama dia!" Andre menoleh pada wanita itu, ia yakin wanita itu mendengar protes Yesi. Beberapa bulan lalu ia merekrut Made menjadi asistennya. Gadis itu yang menawarkan diri menjadi asisten yang menangani data data pasien yang datang, dan membantu hal hal lain yang dokter Andre tidak bisa menanganinya sendiri, sembari belajar karena kebetulan Made baru lulus dari sekolah keperawatan.
"Gak bisa semudah itu, Yesi, sayang! Selama aku masih praktek disini, please biarkan dia kerja ya! Aku masih butuh tenaganya. Aku profesional, kok. Nanti kalau aku udah pindah, aku janji gak bakalan ngajak dia, oke!" rayu Andre merangkul bahu Yesi. Kini mereka duduk bersisian di kursi ruangan milik Andre berdua. Yesi hanya diam tanpa ekspresi. Tiba tiba Andre berdiri dan menghampiri Made yang duduk acuh di mejanya, sembari menekuri buku catatan pasien dihadapannya. Entah apa yang dilakukannya dengan buku itu.
"Uhhhm, De!" sapa Andre. Made mendongak menatap Andre dihadapannya yang tinggi menjulang.
"Aku mau pergi dulu sama calon istriku. Ini kamu tutup aja ya, nanti keburu ada pasien yang datang. Bisa gak jadi pergi aku. Kamu free siang ini, bisa istirahat dirumah!" Made berdiri dan menengok ke arah Yesi di ruangan Andre.
"Tapi, mas!" Andre menggeleng.
"Tak ada tapi tapian. Aku juga punya privasi, Made. Aku butuh istirahat, butuh refreshing. Kamu nurut aja apa kata aku, ya! Segera kamu tutup, aku mau pergi sekarang!" tanpa mendengar jawaban Made, Andre bergegas ke ruangan pribadinya. Made menatap tajam punggung Yesi sembari menghentakkan kaki dan mengerucutkan bibirnya. Terlihat sekali ia dongkol, namun tak bisa berbuat apa apa.
Hanya butuh beberapa menit, Andre keluar lagi sudah mengenakan pakaian kasualnya. Celana jeans dengan kaos lengan pendek, dipadukan dengan outfit jaket denim.
"Mas, eh! Dokter Andre memangnya mau kemana? Biar nanti kalau ada yang tanya, aku bisa jawab?" Andre terlihat berpikir sejenak.
"Bilang aja, aku pergi ke luar kota!"
"Terus pulangnya?" Andre yang sudah mau melangkah mengurungkannya dengan agak kesal.
"Bilang aja gak tahu. Besok atau lusa! Gampang kan?" setelah berucap seperti itu, ia segera pergi menemui Yesi.
__ADS_1
"Sayang, yuk kita pergi!" merasa Andre tak memberitahu apapun padanya, Yesi mengerutkan kening.
"Kemana?"
"Kemana aja, asal sama kamu. Dan aku bisa lihat kamu senyum lagi."
Yesi tersenyum tipis mendengar gombalan Andre.
"Ya udah, ayo!" Andre menggenggam erat jemari Yesi yang berjalan disampingnya menuju mobil baru milik Yesi. Tak melihat reaksi gadis yang didalam ruangan memperhatikan mereka tajam dengan hati yang tergores dan perih.
"Pakai mobilmu ya, sayang!" Yesi mengangguk, Andre memperlakukannya dengan manis, melepas genggamannya lalu membukakan pintu mobil penumpang depan untuknya.
"Silakan tuan Puteri!"
"Apaan sih!" sipu Yesi.
****
"Kita mau kemana, Ndre?" Andre menoleh sejenak dari fokusnya mengemudi.
"Kemana aja mau kamu! Aku siap mengantar!"
"Mantai, yuk!" Andre mengangguk mantap.
"Yesi sayang, sesegera mungkin aku bakalan pinta Ayah sama Ibu kesini melamarmu!" tangan kiri Andre menggenggam jemari Yesi lalu mendekatkan tangan itu ke wajahnya dan mengecup punggung tangan itu berkali kali.
"Terus gimana sama orang tuamu, memang mereka langsung setuju gitu, Ndre?!"
"Of course. Aku sudah bicara sama mereka, tapi ibuku saat ini masih dalam masa pemulihan setelah lehernya sakit karena jatuh. Maklum tulang tua, jadi lama pemulihannya. Nanti kalau beliau sudah benar benar sembuh, mereka dengan senang hati mau kesini sembari liburan."
Really?
"Mereka juga udah gak sabar punya mantu. Mereka kan juga kenal baik dengan Mama dan Ayahmu. Lagian, Secara aku kan anak tunggal, sudah sejak lama mereka menginginkan aku segera menikah. Dan segera memberi mereka cucu!"
"Kok, samaan ya maunya mereka?"
"Lusa juga, aku ngobrol sama ayah dan Mama kamu, keinginan mereka kurang lebih sama. Menginginkan kita segera menikah. Kamu siap kan!"
"Iya, Ndre! Aku juga sudah memantapkan hati aku. Maafin aku yang suka emosian jika ngadepin masalah."
__ADS_1
"Dan tentu saja, aku sudah siap lahir batin untuk menuju gerbang kehidupan baru yang namanya pernikahan. Semoga kedepannya lebih bisa menjaga emosi. Baik itu kamu atau aku!"
"Kita belajar sama sama, sayang."
" Sebuah rumah tangga itu dijalani oleh laki laki dan perempuan yang berstatus suami istri. Aku dan kamu menjadi kita. Aku dan kamu menjadi satu, hanya kamu dan aku tak ada yang lain."
"Bener ya! Sumpah ya kalau gak ada yang lain?" Andre tergelitik untuk menggoda Yesi sembari masih menggenggam jemarinya.
"Bener. Janji kalau gak ada yang lain. Kecuali....!"
"Kok ada kecualinya?" Yesi sudah menyambar omongan Andre.
"Dengerin dulu, sayang! Gak baik loh suka nyambar ucapan orang. Biasakan biar orang yang ngajak kamu ngomong menyelesaikan bicaranya sampai tuntas, biar gak ada salah paham, biar gak sepotong potong. Jadilah pendengar yang baik. " Andre sudah terbiasa menghadapi klien atau pasien yang seperti Yesi, menjadikannya lebih sabar menghadapi ucapan orang dan menjadi pendengar yang baik setiap keluhan pasiennya.
"Iya, iya. Maaf!"
"Kamu sih, kayaknya memang sengaja menggantung omongan, biar aku penasaran kan? Ayo ngaku!" Andre terbahak mendengarnya, Yesi bisa membaca maksud hatinya.
" Teruskan sekarang!" dengan kesal yang dibuat buat, dengan bibir mengerut dan menatap tajam. Andre melirik Yesi sekilas.
"Nanti kalau dah jadi istri, gak boleh loh menatap tajam semacam itu. Tatapannya yang lembut gitu sama suami, yang mesra, kalau perlu dengan senyum menggoda. Tapi khusus. buat aku, bukan yang lain."
"Ckkk. Belum nikah aja udah banyak maunya kamu, Ndre!" mencubit tangan Andre yang menggenggam tangannya dengan tangan kiri. Andre terbahak lagi.
" Yah, gitu deh, sepasang suami istri kan wajib menyenangkan hati pasangannya. Bukan cuma istri ke suami, suami juga wajib menyenangkan perasaan dan berusaha tahu dan memenuhi keinginan hati istri, gak cuman maunya disayangi tapi gak mau menyayangi istri. Gak cuma mau dihormati tapi juga harus menghormati istri. Asal tak melenceng dari aturan agama dan negara. Catat ya! wajib itu. Biar awet sampai tua, jadi kakek nenek." Andre sampai menghirup napas dalam karena bicaranya yang panjang kali lebar. Mengeluarkan uneg-unegnya. Melepaskan beban di dadanya.
*****
\=\=\=\=\=\=\=
Aah, ini mah authornya yang curcol.
Wkwkwk. Monmaap ya, baru hadir lagi. Otaknya author lagi ngebulll. gak bisa diajak mikir. Dunia nyata aja sudah bikin pusing sepuluh keliling lapangan. Bukan lagi tujuh keliling ya...
Semoga kita semuanya diberi nikmat sehat dan rejeki melimpah. Aamiin.
Oiya, sampai lupa. Authornya ini tahu diri bingit loh, cerita ini memang receh banget. Jadi, author gak akan minta yang berlebih juga. Cuman minta kalau baca ini cerita, cukup dengan tekan tombol like. Gitu doang dan itu geratis tis tis tis.....Aman kok, aku yakin jempolnya reader gak bakalan keriting cuman tekan like doang, gak minta lebih. Gift apalagi vote. Sesukanya dan seikhlasnya reader saja, itu pun kalau mau, gak menekan apalagi mewajibkan. Ya ya ya....
__ADS_1
Seperti ini loh, yang author maksud, yang author tandai lingkaran. Maaf ya, sapa tahu ada yang belum paham dan itu geratis, gak bikin keriting jari juga.
Salam Love Luar Biasa.....sekebon cabe yang harganya melangit.....biar pedes huhhh haaah.