Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 104


__ADS_3

Pagi dihari Minggu ini tidak seperti biasanya Yesi merasa tak bergairah.


"Kamu kenapa Yesi? Kamu sakit, sayang?" Cemas mama yang menyadari anaknya tak seceria biasanya bertanya, lalu mendekati Yesi yang duduk malas di kursi tamu.


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh terasa.


Betapa kehadiran seseorang yang dinantinya semalam tak datang membuat mood nya langsung down.


"Sepertinya begitu ma! Kepalaku agak kliyengan. Sepertinya anemia ku kambuh, Ma!" ucap Yesi berbohong.


"Ya Tuhan Yesi! Jangan dibiarkan Anemia kalau sering kambuh. Harus cepat ke dokter, nanti sehabis dari church kita ke dokter, ya?" pinta sang mama mengelus rambut anaknya.


Terserah Mama deh!"


"Ma, kalau aku gak ikut kebaktian, gak apa apa kan, Ma?" sang Mama mengangguk. Lalu meletakkan kepala di bahu sang Mama.


"Nggak apa apa, sayang. Kan kamu lagi sakit!"


"Ya udah, ibu buatkan susu dulu buat kamu sebelum mama berangkat." ucap Mama membuat Yesi menegakkan kepalanya lagi, Mama Yesi bergegas ke belakang.


Yesi merebahkan dirinya di sofa, dengan kepala diletakkan di bantal. Ia merekatkan jaket yang dipakainya lalu bersedekap.


"Kenapa Yesi, kok kayaknya gak semangat gitu!" ucap sang ayah yang baru keluar kamar, sambil mengancingkan kemeja batiknya, bersiap pergi ke church. Mengambil duduk dekat kepala Yesi.


"Eh, Ayah! Nggak kok yah, cuman anemia lagi kambuh kayaknya." pura pura memijit pelipisnya.


"Oiya, nanti pulang dari church, tolong beliin tablet tambah darah aja deh, gak usah ke dokter. Males!" ucap Yesi pada sang Mama yang baru muncul membawa segelas susu putih.


"Diminum mumpung hangat. Biar cepat sembuh. Baiklah nanti kita mampir apotik pulangnya. Kamu gak usah kemana mana, kita gak lama kok."


"Iya, Ma. Yesi pengen dirumah aja, rebahan!"


Kedua orang itu pergi juga akhirnya, meninggalkan Yesi yang kurang tidur dan merasa pening kepalanya.


Apa Andre marah ya karena sifat kasar dan ketusku. Ihhh, jadi laki kok cuman gitu perjuangannya. Apa harus gue yang ngejar dia kayak dulu gue ngejar Romi.


****


"Apa nggak sebaiknya Kia dirumah saja, Nak Romi? Takutnya nanti rewel malah gak konsen dengerin kajiannya!" ucap Bu Kanti merasa khawatir. Romi sedang menggendong bayinya sambil menunggu Yulia dan Shila dandan. Mereka akan berangkat untuk ikut kajian atas saran Aam yang datang beberapa waktu lalu, di sebuah panti asuhan yang dikelola bunda Lilik yang diadakan sebulan sekali. Sambil menggalang dana untuk keberhasilan pengelolaan yayasan panti dengan lebih baik.


Aam mengatakannya sudah beberapa bulan yang lalu, namun baru kali ini mereka akan mengikutinya. Dengan niat menambah ilmu agama dan sekaligus ikut menjadi donatur panti asuhan itu.


"Nggak apa apa, Bu! Atau kalau ibu mau ibu ikut sekalian. Sekali kali keluar rumah, Bu!" ibu tampak berpikir. Saat itu Shila dan Yulia telah keluar kamar sudah rapi mengenakan gamis dengan warna yang sama. Sekilas takkan ada yang menyangka, bahwa antara Yulia dan Shila tak ada hubungan darah. Hanya sebagai ibu dan anak sambung.


"Ibu ikutnya bulan depan aja, kalian kan sudah rapi, kalau harus nunggu ibu nanti kalian terlambat!" ucap Bu Kanti menatap anak dan menantunya bergantian.


"Bener ya, Bu! Bulan depan ibu ikut!" sahut Yulia, Bu Kanti mengangguk.


"Ya udah, kalau begitu kami pamit Bu! Assalamu'alaikum!" Yulia dengan menggendong baby Kia menyalami ibunya, disusul di belakangnya Shila lalu Romi.


"Waalaikum salam. Shila ikut jagain adiknya ya!" pinta Bu Kanti saat Shila menyalaminya.


"Iya, nenek. Shila pasti jagain adik!"


"Anak Shalihah!" puji Bu Kanti.


Mereka meluncur ke tempat diadakannya acara. Butuh waktu duapuluh menit mereka untuk sampai ke tempat itu. Sebelumnya tadi mereka mampir ke swalayan untuk mengambil cemilan untuk dimakan Shila di mobil.


Mereka telah sampai diarea parkir yang disediakan panti. Disambut hangat dan ramah oleh pihak panti dan penyelenggara. Sebelum masuk diarea yang dipisahkan antara kaum pria dan wanita, mereka diminta menulis nama dan tanda tangan.

__ADS_1


"Akhirnya, datang juga ente!" celutuk seseorang dibelakang Romi.


"Eh, Aam! Gayamu pake ente ane! biasanya juga pake elo gue!" Romi terkekeh mendengar sapaan Aam.


"Ya iyalah, kita lagi pengajian. Entar kalau lagi nongkrong di kafe, baru pake elo gue!" Aam ikut terkekeh sambil menjabat tangan Romi dan melakukan high five.


"Urusan dunia ditinggal sebentar, sekarang kita ikut nyari bekal di kehidupan nanti yang lebih abadi! Semoga bisa istiqamah."


"Aamiin!"


Dan mereka semua para warga sekitar panti yang mau datang dan juga para donatur tetap beserta para penghuni panti mendapatkan taushiah dari seorang ustadz yang bukan hanya menambah wawasan agama bagi orang yang mendengarnya, namun juga diselipi joke joke yang membuat para pendengarnya tersenyum bahkan tertawa.


Kali ini selama satu jam sang ustadz mengupas habis isi dari salah satu surah dalam Alquran yaitu surah Al-Ma'un, yang menjelaskan ancaman terhadap mereka yang tergolong menodai dan mendustakan agama yakni mereka yang menindas anak yatim, tidak menolong orang yang meminta-meminta, riya' atau ingin dipuji sesama manusia, lalai dalam salatnya, serta enggan menolong dengan barang-barang yang berguna.


"Hadirin Rahimakumullah, jika kita ingin dekat dengan Nabi, ada salah satu caranya adalah dengan menyantuni anak yatim. Bahkan Rasulullah bersabda, bahwa Rasul dan orang yang menyantuni anak yatim kelak di surga laksana dua jari, jari tengah dan jari telunjuk, kerena saking dekatnya dengan beliau Rasulullah SAW." begitu sedikit penggalan tausiah beliau.


Dan ingat, Rasul sendiri adalah anak yatim, yang ditinggal oleh ayahnya sejak dalam kandungan ibunya.


Romi pulang dengan hati lapang dan semringah. Mendapat siraman rohani, hatinya menjadi lebih tenang. Ia pun dengan hati ikhlas menyerahkan sebuah amplop cukup tebal kepada pihak panti asuhan, berharap amal jariyahnya akan mendatangkan manfaat untuknya sekeluarga dan juga untuk pihak panti.


"Alhamdulillah, kita nambah anggota rupanya!" celutuk seorang pria yang membuat Romi menoleh dan langsung tersenyum lebar.


"Om Rama, Assalamu'alaikum!" ucap Romi sambil menjabat tangan Rama.


"Sejak kapan dek Romi ikut kajian disini, kok aku gak pernah liat?"


"Alhamdulillah, baru sekali ini, Om. Dikasih tahu Aam sama Raka kemarin waktu ngasih undangan mau nikahan!" jawab Romi masih dengan senyum mengembang.


"Alhamdulillah, semoga istiqamah, ya!"


Dan Romi pun mengamini.


"Iya, Alhamdulillah. Udah puluhan tahun malah. Oiya kenalkan ini Kakaknya Om. Namanya Om Farhan."


Om Rama mengenalkan seorang pria paruh baya yang berdiri di sampingnya.


"Iya, salam kenal Om. Om Papanya Aam, kan?"


"Nggak salah lagi." hehehe! sahut om Farhan. Merekapun sampai di pelataran dan mencari pasangan atau istri masing masing.


"Kita pulang sekarang?" Romi bertemu istrinya yang sedang berbincang dengan Diah, istri Aam. Lalu mengambil alih menggendong Baby Kia yang tadi bersama bunda nya. Sedang Yulia menggandeng tangan Shila. Mereka keluar area pengajian bersama peserta lainnya.


"Dadah dek Uyum!" Shila melambaikan tangan pada anaknya Diah. Dan dibalas pula dengan lambaian tangan Uyum.


"Memang mas Romi punya rencana kemana lagi?" Yulia balik bertanya.


"Gak ada sih, cuman nanya siapa tahu bunda pengen kemana gitu,"


"Nggak ah, pengen pulang aja. Capek."


"Tadi Kia rewel kah?"


"Nggak, malah senang dan anteng dia main sama anaknya mbak Diah juga. Malah sempet tidur tadi." Romi mengangguk angguk.


"Mas Romi!" seru seseorang, Romi yang sedang membuka pintu mobil pun menoleh.


"Eh, Raka. Wah pengantin baru nih! Apa kabar?"


Ditempat parkir, ternyata mobil Romi bersebelahan dengan mobil Raka dan istrinya.


"Alhamdulillah, mas!" Dan mereka pun basa basi sebentar, sebelum pamit untuk pulang.

__ADS_1


"Hai Shila! makin cantik nih, jadi emesh pengen nyium." seloroh Raka saat melihat Shila yang sedang membawa sebungkus besar snack potato chips.


"Gak boleh om, Shila udah besar. Gak boleh sembarangan nyium. Yang boleh cuma Bunda sama ayah!" jawab polos anak TK itu, lalu memasukkan sepotong potato ke mulutnya.


"Iya, Shila bener gak boleh sembarang orang nyium Shila. Tapi Om kepengen sekali aja nyium Shila. Sapa tahu nanti Om punya anak secantik Shila!"


"Bener ya Om, sekali aja. Lain kali gak boleh lagi. Nih..!" Shila menyodorkan pipinya, dengan gemas Raka menciumnya. Raka memang suka sekali dengan anak anak. Sang istri, yaitu Nuris dan juga Yulia yang berdiri berdampingan saling pandang dan tersenyum.


"Semoga cepet dikasih momongan!" ucap Yulia pada Nuris. Dan Nuris pun mengamini.


Dalam perjalanan pulang, baby Kia di pangkuan yulia merengek.


"Sepertinya Kia haus, Bund!" "Susuin gih, daripada nangis!"


Yulia membuka dua kancing bagian atas baju gamisnya, lalu mengarahkan put*ing pa yudaranya pada mulut si kecil Kia dan langsung dilahap dengan mulut mungilnya. Memberikan sensasi rasa geli karena gusi Kia yang menempel.


"Tuh, kan haus dia ternyata!" lirik Romi pada sang istri.


"Iya, tadi di sana juga sempat nyusuin sebentar, tapi malu. Kia tak mau wajahnya ketutup hijab, dibuka mulu. Jadi aku malu kalau itu keliatan orang banyak."


"Ya gak papa sih, selagi yang liat sesama perempuan. Aku juga sering liat kok ini ibu nyusuin bayinya, mereka biasa biasa saja Tapi malah aku yang malu, jadinya pura pura gak liat aja, hehehe!"


"Masa sih pura pura gak liat. Atau malah melotot ngeliatnya?" Yulia tersenyum sinis.


"Lah, kan bukan mahram. Ya disalah kalau melihatnya sampe melotot. Cukup liat punya kamu aja. Gak mau yang lain!" Yulia menyebikkan bibirnya.


"Alaah gak usah mangkir ya, kemarin aja waktu mas Romi lagi nyuci mobil, si Susi lagi lewat cuma pake tank top.


Mas Romi ngeliatinnya sampe miring miring gitu!" sungut Yulia.


"Ya Alloh, Bunda Yulia sayang. Kapan aku kayak gitu? Jangan ngada ngada deh. Tadi sih niatnya becanda, kok malah jadi gini!"


"Kita itu baru pulang pengajian loh. Malah bahas gituan. Ya, maaf kalau kata kataku tadi salah."


Peace


Mengacungkan dua jarinya.


Hhah, perempuan emang selalu benar.


"Tapi tuduhan kamu tadi gak bener. Aku gak pernah ngeliatin Susi seperti itu, cuma perasaan Bunda doang, mah!"


Susi adalah tetangga yang berjarak 3 rumah dari rumah Yulia dan Romi. Orangnya genit dan seorang janda muda karena dicerai suaminya.


Entahlah, padahal tak ada yang kurang pada Susi secara fisik. Orangnya cantik dan berkulit putih.


"Sudah, jangan bahas itu, malu sama anak anak! Walaupun mereka belum ngerti. Ya!" melirik Shila yang berada di jok belakang melalui spion tengah. Gadis kecil itu sedang bermain game dari tabnya. Sedang baby Kia sudah memejamkan mata dengan bibir yang agak mangap.


Aaaaaa


Tiba tiba Yulia memekik.


Didepan mereka ada sebuah kecelakaan, dimana seorang anak berusia delapan tahunan terserempet sepeda.


\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa pencet like di setiap Bab ya, hargai sedikit perjuangan author untuk nulis cerita receh ini dengan like dan komen juga Vote seikhlasnya.


Mudah sekali kan?


Makasih.

__ADS_1


__ADS_2