
******
"Aduh mas, kebetulan sekali pohon mangganya berbuah!" Yulia menelan ludah saat melihat pohon mangga depan rumahnya. Ia mengelus perutnya, tiba tiba merasa ingin makan buah mangga muda yang di rujak.
Sudah hampir dua bulan Yulia tak mengunjungi rumah ibunya, Bu Kanti yang ikut tinggal di rumah Romi entah mengapa ingin sekali menengok rumahnya hari ini.
Dan kini mereka beramai ramai menuju ke sana, bersama Shila dan juga Romi.
"Ayo, mas! kita rujakan di bawah pohon mangga itu!" Yulia menunjuk bawah pohon mangga yang di bawahnya terdapat kursi panjang dari bambu. Biasanya tempat itu untuk kongkow kongkow para emak emak yang gerah di dalam rumah. Berkumpul di tempat itu sambil meng ghibah tentang apa pun.
"Apa di rumah ibu masih ada bahan bahan untuk rujakannya?" tanya balik Romi. Yulia bergegas pergi ke dapur, dan tak ada bumbu apa pun disana.
"Ya udah, kalau begitu mas Romi beliin cabe, garam, bawang putih sama gula merah ya, mas! Di warungnya mbak Munaroh ada!"
"Ok sayang, demi my baby yang ada di dalam sini dan juga ibundanya, apapun akan Kakanda lakukan, walaupun harus beli bahan bahan dapur."
"Tapi aduh, entar kalau ada emak emak histeris ngejar ngejar aku gimana, secara kan suami kamu ganteng begini... !" mengelus perut Yulia yang terlihat sedikit berisi. Yulia memukul pelan bahu Romi yang menunduk di depannya.
"Iih, Nak! Ayahandamu narsis banget, Amit amit jabang bayik, jangan sampai kau tiru sifat ayahmu ya, Nak!" Romi malah tertawa lebar.
"Gak narsis kok, Nak! Ayahanda berkata apa adanya! Tak ada yang perlu di tutup tutupi!" Mereka bicara seolah olah sang jabang bayi ada dan ikut dalam obrolan di antara mereka.
"Yang penting baby di sini baik baik aja!" mengecup perut itu sebelum beranjak ke warung dan mengajak Shila bersamanya.
Setelah Romi pergi Yulia menemui ibunya.
"Ibu, istirahat dulu di kamar gih! ibu pasti capek kan?" Kini tinggal Yulia dan ibunya di rumah. Bu Kanti akhirnya mengangguk, dan bersedia untuk istirahat.
Rumah ini adalah hidupnya, semua kenangan manis ada di rumah ini. Mulai dari pernikahannya dulu, sampai terlahir Angga dan Yulia hampir tiga puluh tahun yang lalu.
Bagaimanapun juga kisah cinta romansa Bu Kanti waktu muda ada di rumah ini, hingga ia sangat berat untuk jauh darinya.
__ADS_1
Setelah Bu Kanti berbaring di kamarnya, Yulia pergi ke halaman lagi membawa sebilah pisau dapur. Sambil menunggu suami pulang Yulia memetik mangga muda yang bisa di jangkaunya. Yulia telah mendapatkan empat buah mangga, saat Romi dan Shila datang membawa kresek kecil.
"Nah, sekarang giliran Ayah ambilin cobek sama uleknya di dapur ya!" Yulia siap dengan pisau dapurnya untuk mengupas mangga. Shila duduk di sampingnya memperhatikan apa yang di lakukan Yulia.
Keempat mangga telah di kupas. Kini Yulia sibuk memasukkan satu persatu bahan untuk membuat bumbu.
"Bunda, yang putih ini namanya apa?" tanya Shila dengan keingin tahuannya.
"Ini namanya garam, sayang! Garam rasanya asin. Terus yang merah ini namanya cabe atau Lombok, ini rasanya pedas."
"Nah, kalau ini namanya bawang putih, rasanya getir dan yang ini namanya gula merah yang rasanya manis!" Yulia menunjuk satu persatu bahan dapur yang ada disitu dan menjelaskan fungsi dan bagaimana rasanya.
Ia pun mulai mengulek bumbu bumbu itu menjadi satu.
"Kalau yang ini mangga muda, rasanya asam!" Romi pun menyahut.
"Dari semua bahan bahan itu, jika di jadikan satu secara benar dan sesuai porsinya, di campur rata dengan cara di ulek atau di blender, maka akan menghasilkan sensasi rasa nikmat yang luar biasa, begitu kan sayang!" tanya Romi sambil mengiris mangga, sedang Yulia masih mengulek bumbu.
"Dan semua itu di butuhkan dalam kehidupan kita, sesuai dengan porsinya masing masing. Maka, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?"
"Senikmat makan rujak mangga muda ini!" sambar Yulia mengambil satu iris mangga dan mengacungkan di depan mulut suaminya. Ingin Romi mencicipi rasa rujak mangga muda. Romi merasa bergidik, giginya terasa ngilu.
"Sayang, rujak mangga muda ini terasa sangat nikmat buat ibu hamil muda sepertimu. Tapi serasa sangat menyiksa bagi suamimu ini jika memakannya. Gimana nanti kalau aku sakit perut? siapa yang bisa merawatku? Sedang kamu sendiri enggan dekat dekat dengan aku!" ucap Romi diplomatis agar istrinya mengurungkan niat untuk menyuruhnya makan mangga muda.
"Yaah, gimana nih? Padahal baby di dalam perut pengen ayahnya makan ini! Sedikit aja, ya! Ayo buka mulutnya, sayang!"
Ingin rasanya Romi berteriak saat itu. Melihatnya saja mulut rasanya mengeluarkan saliva. Sekarang ia memikirkan cara untuk terlepas dari di minta memakan rujak mangga.
"Aduh, sayang! Perutku mulas, kepingin berak nih! Aduduuh!" Romi pura pura meringis memegangi perutnya.
"Aaaa, kamu pasti pura pura sakit, ngaku kamu mas! Ayo makan ini dulu! biar baby merasa puas!" Kembang kempis hidung Romi, bahkan ludahnya pun terasa kecut, padahal mangga muda belum menyentuh lidahnya.
__ADS_1
"Tapi satu ini aja, ya!" Yulia kegirangan, raut wajahnya terlihat seperti telah memenangkan undian.
Kerongkongan Romi seperti tersumbat, sangat kesulitan menelan rujak yang membuat ngilu, bibirnya mengkerut, ingin rasanya meludahkan apa yang ada di dalam mulutnya. Namun sinar bahagia di wajah sang istri menahannya untuk tidak mengeluarkan mangga yang di suapkan padanya.
"Sayang, sudah ya! Aku mohon, perutku benar benar sakit nih! Aku ke belakang dulu." Romi tergesa berdiri dan berlalu ke belakang, berpikir untuk bersembunyi di dalam kamar mandi saja.
Sensasi dari rasa masam dan pedas yang luar biasa membakar kerongkongan.
Di saat Romi pergi, muncul Bu Nur dan mbak Musri mendekat Yulia dan Shila. Shila asyik bermain membuat lubang di tanah dengan sendok mainannya.
"Waah, aku dengar tadi dari suami kamu, kamu hamil ya, Yul? Selamat ya! Akhirnya Bu Kanti bakal tambah cucu!" seru Bu Nur menyalami Yulia. Lalu bergantian Mbak Musri.
"Selamat juga ya Yul! Semoga anak yang kamu kandung menjadi kebanggaan orang tuanya kelak. Jadi anak shalehah kalau perempuan dan shaleh kalau laki laki. Oiya, sudah berapa bulan, udah kelihatan agak berisi perut kamu!" Mbak Musri memperhatikan bagian perut Yulia.
" Aamiin. Alhamdulillah, jalan empat bulan, Bu Nur, mbak Musri. Terima kasih ya atas doa kalian. Semoga Alloh mengabulkan doa kalian!" sahut Yulia ramah.
"Dan ini acara ngidamnya seperti ini! Aduh, bikin perutku langsung mules, Yul! Mangga ini kan terkenal sangat masam, iya kan, Bu!" wanita yang bernama mbak Musri meminta persetujuan Bu Nur.
"Alaah, memang mbak Musri aja yang belum pernah tahu yang namanya ngidam. Aku dulu ngidamnya juga seperti Yulia ini kok, sama sekali gak kerasa masam waktu itu. Eh, giliran bayi udah keluar, mau makan mangga muda yang seperti ini, ih boro boro. Sumpah, gigiku langsung linu ngelihatnya aja."
" Ya udah, saya mau pergi aja deh! Gak kuat lihatnya juga. Iya kan, mbak Musri?" mbak Musri langsung mengangguk. Dan mereka berdua pun segera berpamitan.
Yulia telah memakan separuh dari rujak yang langsung di makan dari cobek dengan menggunakan garpu. Dari caranya makan, orang melihatnya akan terlihat sangat nikmat. Sedang Shila masih asyik bermain sendiri. Yulia celingukan mencari suaminya yang gak juga menampakkan diri.
Kok gak kesini lagi ya, mas Romi! Apa bener bener sakit perutnya?
"Bundaaa, kapan Rima kesini lagi, aku kangen pengen main sama dia?" rengek Shila tiba tiba sudah berdiri di samping Yulia dan menarik narik roknya. Rupanya gadis kecilnya itu bosan bermain sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=
TBC
__ADS_1