Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 21. (di) Belanja (in)


__ADS_3

Jangan lupa tinggalin jejaknya. Like, komen daaan Gift seikhlasnya. Jangan jadi pembaca ghaib ya! bikin merinding tahu. Hehehe.....


****


Sepet ning pinggir embong


Kalah cepet disaut uwong


Telat ngomong tresno


Cintamu digondhol wong liyo


Nelongso rasane


Sing tak tresno ono sing nduwe


Nyapo tresno tak pendhem


Yen wis getun sambat kalih sinten


Abote nyonggo tresno


Mung disimpen ning njero dodo


Ngungkap tresno rasane bimbang


Amung bantal tak sayang sayang


Suwi yen tresno kowe


Jebul wis ono sing nduwe


Ora ngiro lan terbayang


Kalah cepet tresnomu ilang


Tresno tak terbalas rasane loro


Mergo sing tak tresno milih wong liyo


Tiwas kowe tak gowo mimpi


Mergo kependem ing ati


Nganti bantal tak sayang sayang


Jebul tresnomu digondhol ilang


*****


berdiam diri di pinggir jalan


kalah cepat diambil orang


terlambat mengungkapkan cinta, cintamu direbut orang lain

__ADS_1


merana rasanya yang ku cinta sudah ada yang punya


kenapa cinta ku pendam


kalau sudah menyesal curhat pada siapa


apa yang menyangga cinta


hanya disimpan di dalam dada


mengungkapkan cinta rasanya bimbang


hanya bantal ku sayang-sayang


lama sudah mencintaimu


ternyata sudah ada yang punya


tidak mengira dan (tidak) terbayang


kalah cepat cintamu hilang


cinta tak terbalas rasanya sakit


karena yang ku cinta memilih orang lain


terlanjur kamu ku bawa mimpi karena terpendam di hati


hingga bantal ku sayang-sayang, ternyata cintamu direbut hilang


*****


Bahkan setelah menjadi eks istri orang pun ia tak bisa menggapai hatinya, selain perbedaan dalam segala hal, ada pria lain yang telah menyambutnya.


Romi dan Andre sebenarnya berteman karena dulu adalah jemaah yang sama saat sebelum menikahi Dina.


******


Seseorang menarik tangan Yulia saat ia berjalan dengan tergesa menghindar dari Andre yang memanggil manggil namanya.


"Astaghfirullahaladzim." pekik Yulia kaget, ia sampai terhuyung.


"Hati hati napa!" Ternyata bos Romi yang menarik tangannya. Dada Yulia turun naik saking kagetnya.


"Bos, ngagetin saya!" Romi tersenyum sinis.


"Lagian, aku suruh kamu gak ke toko hari ini buat mikir, ngapain kelayapan di sini, sama dia lagi!" menunjuk dengan dagunya keberadaan Andre dan Ayahnya yang masih berdebat. Ah sudahlah Yulia masa bodoh. Tapi kasian juga sama Andre. Dia dengan suka rela membantunya mengobati sakit sang ibu tanpa dibayar, namun sekarang ia mengabaikannya. Dan malah membuatnya patah hati. Lagian juga ngapain dia bilang mau ngerubah keyakinan segala, hanya demi Yulia, seorang janda miskin.


Mikir Yul, mikir! Pekik batin Yulia. Tapi kasihan juga sih.


"Heh, malah bengong lagi, ngapain tadi kamu barusan berduaan di sana sama dia?" Nada suara Romi agak tinggi, naik beberapa oktaf. Wajah gantengnya menegang. Ada raut cemburu terlihat di sana.


"Gak ngapa ngapain, tadi aku jalan mau ke pasar, tiba tiba dia datang terus ngajak aku ke sana pengen ngomong sesuatu katanya. Tapi belum sampai dia ngomong, bapaknya keburu datang, terus marah sama dia! " bohong Yulia. Ia tak mau mengatakan kalau Andre barusan menyatakan perasaan padanya.


"Dia suka sama kamu?" kejar Romi.

__ADS_1


"Sudahlah Bos, saya mau ke pasar beli keperluan dapur kesini tadi. Bukan untuk berdebat dengan siapapun!" suara tegas Yulia. Yulia sudah berani bicara lantang dengan Romi sekarang. Disini dia bukan seorang karyawan dengan bosnya.


Hhh, belum juga jadi suami sudah ngatur ngatur.


"Bas bos bas bos! sudah aku bilang jangan panggil Bos. Dan lagi, kamu kan pegang kunci motor, ngapain juga jalan kaki. Sengaja ya pengen cuci mata!" nada penuh kecurigaan. Weeleeh, sudah kayak miliknya saja.


Duuuh, ini orang ya.


Ingin rasanya Yulia meremas wajah orang didepannya itu dengan kedua tangan dan kuku yang runcing. Tampang aja ganteng, tapi mulutnya pedas. Ia jadi ingat, waktu pertama kali kerja, dan ketemu sama dia. Tampangnya sok cool dan wajahnya lurus.


"Saya manggil anda Bos, karena memang saya karyawan anda. Ntar dikira saya gak punya sopan santun, dan juga saya jalan kaki itu karena anda tahu kan? Kalau jalan kaki di pagi hari itu sehat, sudah seperti olahraga." Ucap Yulia berapi api. Ia sudah berbalik mau meneruskan langkahnya menuju pasar yang cuma tinggal beberapa puluh meter didepan. Ngomong dengan orang didepannya itu bisa membuat ia naik darah.


" Tunggu, aku antar!" Titahnya. Yulia sudah gak peduli, tak menoleh lagi. Namun cuma hitungan detik, Romi yang mengendarai sepeda motor telah ada didepannya.


"Ayo naik, aku tungguin kamu belanjanya!" titahnya.


"Gak! Gak usah Bos, saya bisa sendiri." ucapnya sambil menghindar.


"Ayo naik atau aku gendong kamu buat naik ke motor!" paksanya.


Ya Tuhan, ini orang gak tahu udah di tolak ya, Jadi pusing saya. Yulia.


Tak mau berdebat dipinggir jalan akhirnya Yulia duduk di jok belakang. Menatap melotot punggung lebar yang memakai dalaman kaos putih, kemeja kotak kotak dan celana jeans biru itu. (Yaelah, standar banget penampilannya Bos.) Wangi sampo campur parfum masuk di hidung Yulia. Hhhh, harum maskulin. Ah, andai halal, ia pasti memeluk erat dan menghirup lebih dalam aroma itu.


Hhhhh, apa?


Yulia tersadar dari lamunannya saat Romi mengerem mendadak, tubuhnya membentur tubuh Romi, baru kali ini tubuhnya menempel rapat dengan laki laki, selain ayahnya dulu, Kak Angga dan... Wahyu. Hidungnya bahkan mencium leher Romi.


" Aduuuh!"


"Apaan sih bos, ngerem mendadak. Sengaja ya?" Sekarang Yulia yang sengit dengan Romi, yang hanya ditanggapi senyum nakalnya.


"Kalau iya napa? Lumayan kan di cium sama kamu, biarpun gak sengaja."


Bahkan sekarang aku sering melihatnya senyum. Walau kadang senyum sinis.


"Sudah sana cepat belanjanya." titahnya lagi. Hati Yulia sekarang dag dig dug tak karuan. Mulutnya maju. Jika ada orang yang melihatnya ia seperti istri yang merajuk pada suaminya karena gak dikasih belanja....batin. Semalam.


Yulia segera turun dari jok motor, dan segera masuk area pasar. Tanpa memperdulikan pria yang seperti pengawal dirinya, mengikuti kemana ia pergi. Tanpa protes. Walaupun pasar tradisional, namun cukup bersih. Yulia membeli bumbu dapur, dan tet*k bengek urusan perdapuran.


Setelah memasukkan semua belanjanya pada tas kain, Yulia membuka dompetnya.


"Berapa Bu, total belanjaan saya?


"158 ribu mbak cantik!" waah rupanya ibu itu senang juga merayu, mungkin biar jadi langganan tetapnya. Yulia menyerahkan uang pada pedagang, namun sudah keduluan Romi di belakangnya.


"Eh, gak usah bos, saya ada kok uangnya." Namun Romi tak menggubris.


Ya Tuhan, kenapa laki laki ini, aku kan belum jawab lamarannya. Udah main bayarin belanja aja. Udah keliatan banget posesifnya.


"Bos aku ingin bicara sebentar. Bisa?" pinta Yulia saat mereka keluar dari pasar.


"Bisa sambil minum teh atau kopi?"


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ngomong apa sih Yulia, Hayooo! Curiga nih!


Bersambung ya....


__ADS_2