
****
"Eh, Romi, kamu gak bawa anak kamu? Tega ya, padahal Tante udah lama gak ketemu sama cucu Tante! Kayak apa dia sekarang, pasti cantik kayak ibunya!" Tante Nisa bersungut sungut. Kini mereka duduk bertiga di bagian depan toko, hingga Romi bisa mengawasi dengan leluasa jika anaknya keluar dari mobil. Tante Nisa meminta seorang pegawainya untuk membawakan kue untuk kedua tamunya.
"Eh, maaf ya Yulia. Tante keceplosan." Tante Nisa merasa tak enak hati melihat Yulia yang diam saja.
"Gak apa apa kok, Tan. Santai aja sama Yulia." Yulia berusaha senormal mungkin tersenyum. Ia lalu mengamati wajah Shila dan Romi bergantian. Anak itu memang tak mirip dengan Romi, hanya senyumnya saja yang agak mirip.
"Eh, iya Rom, gimana? Om Rama bilang beberapa waktu lalu kamu nganter ibu ibu berobat, terus ibu itu punya anak gadis yang cantik kata Om kamu!" Romi melirik Yulia, pasti yang Tante Nisa ceritakan adalah Bu Kanti dan Yulia waktu itu.
"Yul, Tante ini adalah istrinya dokter Rama, yang nangani ibu kamu waktu itu!"
" Rupanya Om cerita sama Tante ya? Iya kira kira dua bulanan lah, anak gadis ibu itu cantik banget, makanya Romi rela berbuat apa aja buat menarik simpatinya mereka. Apalagi sama anak gadisnya, Tan. Romi rela ngelakuin apa aja, asal dia mau sama Romi." saat Romi selesai bicara, pegawai Tante Nisa datang membawa cake sebagai hidangan untuk Romi dan Yuli.
"Ooo jadi, nak Yulia ini anaknya ibu yang dimaksud Om Rama ya? Pantesan anak Tante bucin banget. Cantik gini, cepet dihalalin aja!"
"Jangan lupa, undang Tante ya? awas kalau nggak!"
"Ya udah, silakan di makan dulu, Rom, Yulia! Ini cake sangat laris loh, lagi trend sekarang!" beberapa cake berbagai varian rasa menggugah selera terhidang di meja.
Romi dan Yulia mengambil satu dari piring itu.
"Oiya, pegawainya tante cantik banget! boleh dong kenalan, Tante! Siapa dia namanya?" Romi bertanya saat gadis itu sudah pergi, lalu menyuapkan potongan cake ke mulut. Yulia membuang muka. Cemberut.
Dasar lelaki, gak bisa lihat cewek cantik!
"Heeh, kamu itu Rom, gak perasaan sama yang di samping kamu. Lihat tuh! cemberut gitu" terlihat jelas kalau Yulia tak suka Romi memuji cewek lain.
"Gak apa apa Yul! kalau dia macem macem sama kamu, biar Tante yang jitak kepalanya biar otaknya gak konslet lagi. Laki emang gitu, gak bisa lihat yang cantik, padahal disampingnya ada cewek lebih cantik dan udah sah di apa apain juga!" Malah Tante Nisa yang merepet, berusaha menghibur Yulia. Yulia hanya tersenyum kikuk pada Tante.
"Ahaha... kayaknya pengalaman nih Tante Nisa. Ahahaha!" Romi tertawa tawa. Yulia geregetan, lalu menyumpal mulut Romi dengan sebuah cake utuh, membuat Tante Nisa ikut tertawa. Menertawakan Romi.
"Namanya tuh Diah, dia udah ada yang punya. Dia itu, istrinya Aam. Eh, dulu waktu nikahannya Aam kayaknya kamu gak kelihatan deh! Kemana?" sekarang Romi yang mengerutkan kening.
"Benarkah, Tante? Aam dan nikah?" tanya Romi tak percaya.
Ia menggeleng, ia benar benar tak tahu Aam menikah. Semenjak kematian sang istri, yang Romi lalui tiap harinya adalah mengasuh Shila di rumah, mengurusi swalayannya dan ke makam Dina.
Kenapa aku gak tahu Aam menikah. Aku pikir ia balikan sama Ana yang ditinggal mati suaminya! Romi.
"Aku pikir Aam masih ngarepin dokter Ana ya Tante, Sumpah! Aku gak tahu Aam menikah, Tan!" sudah menghabiskan cake keduanya.
__ADS_1
"Mungkin mereka memang tidak berjodoh!" hanya itu jawaban Tante Nisa.
"Sekarang ini Ana dekat dengan seorang dokter juga, Namanya dokter Nugraha.Tapi entahlah, ia masih ragu sepertinya." Tante Nisa menghela nafas, tak menyangka Ana yang sudah ia anggap anak sendiri nasibnya begitu memilukan.
"Kalau begitu, aku titip salam sama Ana ya, Tante. Katakan aja sama dia, kalau dia nikah jangan sampai lupa undang aku. Jangan kayak Aam, sepertinya ia benar benar lupa sama sohibnya."
"Sohib, sohib dari Hongkong apa!" sebuah suara tiba tiba muncul. Seorang pria muncul dari belakang Romi. Romi langsung menoleh ke arahnya.
"Aam! hei panjang umur elo Aam!" Romi langsung berdiri menyambut Aam yang sepertinya pulang kerja.
"Siapa tadi yang ngaku ngaku sohib gue!" mereka berdua tertawa sambil high five.
"Sejak kapan elo jadi sohib gue. Perasaan waktu nikahan aja elo juga kagak undang gue." Aam merepet.
"Iya, deh iya, maaf! kalau gitu udah impas kan sekarang? Hahaha..." keduanya tertawa tawa lagi. Sudah cukup lama mereka tak bertemu. Romi terpuruk karena kehilangan istrinya, dan Aam terpuruk karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan lebih memilih menghindar pergi ke negri Jiran untuk meneruskan studi S2 nya di sana.
"Mereka itu dulu musuh bebuyutan. Ngerebutin cewek tau! Dan keduanya sama sama gak dapetin cewek itu!" celetuk Tante Nisa yang ditujukan pada Yulia. Aam langsung diam menatap wanita di sebelah Romi.
"Jadi ini...!"
"Separuh napas gue. Tanpa dia aku kehilangan separuh hidup gue ...!" Romi langsung menyahut.
"Kenalkan namanya Yulia." Yulia menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum manis pada Aam.
"Hei, jangan senyum sama dia! Dia bisa kesemsem sama kamu!" Romi pasang badan di depan Yulia, hingga Aam tak bisa melihat wajah Yulia. Benar benar berlebihan sikap Romi.
"Ahahaha, calon bucin akut nih kayaknya...." Aam malah tertawa lebar.
Sama dong kalau gitu.
Diah terlihat berjalan mendekati mereka dengan membawa stroller bayi.
"Kalian udah punya baby? wah wah wah, kejam sekali kau Aam. Anak masih bayi kayak gitu, istri udah kerja aja. Kekurangan duit elo! Bokap elo kaya. Elo juga manager kepercayaannya, masa sih masih kurang?" hina Romi lagi.
"Sia lan elu, Rom Rom!" umpat Aam.
Pembicaraan mereka terhenti saat dua orang anak bergandengan mendekat.
"Ayaaah! Kok gak bangunin Shila sih, Shila kan pingin makan cake buatan Oma Nisa juga Yaaah!" omel Shila dengan mulut cemberut. Tante Nisa yang melihatnya pun langsung berseru,
"Waaha! Hai, ini pasti Shila ya?lama gak jumpa, Shila makin gede tambah imut sekarang." puji Tante Nisa menyejajarkan tubuh dengan kedua anak itu, lalu memeluknya sebentar.
__ADS_1
"Gak usah kuatir Shila, ini Oma bawakan banyak buat kamu dan temen kamu. Ayahmu nih,gada akhlak, masa anaknya di tinggalin di mobil. Tahu gitu tadi Oma samperin Shila di mobil!"
"Tadi mereka tidur Tante, jadi aku gak tega bangunin mereka." alasan Romi.
"Makasih Oma Nisa. Oma Nisa paling the best deh!" Shila mengacungkan jempol. Mereka semua tertawa, yang mengundang orang disekitar mereka menoleh.
"Shila, Shila kamu belajar merayu dari siapa sih, Ayah kamu aja gak bisa ngerayu." celutuk Tante Nisa yang kemudian pamit untuk pergi ke dalam dan mempersilakan mereka melanjutkan makan sambil ngobrol.
Shila setelah menerima box berisi kue itupun meminta izin pada Romi untuk makan cake nya di dalam mobil.
"Ayah, aku bawa ini buat makan di mobil sama Rima, ya Ayah!"
"Ok, sayang. Kalian kembali saja ke mobil." Dan mereka pun langsung meninggalkan para orang tua di dalam toko.
Para lelaki masih bicara kemana mana, tentang masa bujang mereka. Begitu juga Diah, duduk di samping suaminya dan langsung akrab dengan Yulia, yang menimang baby Yumna dalam strollernya. Baby berumur satu tahun itu sibuk menggigit mainan dari karet untuk merangsang pertumbuhan gigi susunya.
"Lucunya anak mbak Diah! Namanya siapa?" Yulia memegang megang pipi baby Yumna.
"Namanya baby Yumna mbak Yuli. Umurnya genap satu tahun satu bulan lagi." Yulia menatap intens anak itu, sangat lucu, giginya baru tumbuh dua yang atas, dan sepertinya mau tumbuh lagi yang bagian bawah. Yulia lalu mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan pose baby Yumna saat meringis menunjukkan gusinya. Begitu imut dan lucu.
Tak terasa sudah satu jam berlalu, Aam pamit untuk membawa pulang anak istrinya pada Tante Nisa. Begitu juga Romi dan Yulia. Mereka juga undur diri.
Langit berwarna jingga keemasan saat senja kala. Saat mobil Romi keluar dari pelataran toko milik Tante Nisa. Beberapa saat kemudian gradasi warna jingga itu pudar dan digantikan dengan langit malam yang hitam, namun terang dengan adanya cahaya lampu lampu di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Terima kasih, pak Romi. Sudah ngajak saya dan Rima main, dibeliin kue pula. Terima kasih banyak." Ucap Yulia membungkuk hormat. Mereka telah sampai di depan gang masuk ke rumah Yulia.
"Gak perlu terimakasih juga Yul, itu semua jadi tanggung jawabku, aku yang harusnya terima kasih, kamu sudah mau menemani aku. Dan jangan lupa ya! jawaban kamu lusa aku nantikan. Dan jawabnya harus iya." Eh, maksa banget ni orang. Dan yang di paksa pun kayaknya mau tapi malu.
"Ihh, pak Romi maksa banget ya jadi orang. Jangan terlalu berharap pak! Saya... saya....
\=\=\=\=\=
Haish ini Romi.... jangan buat Yulia tekanan batin dong Rom....
😂😂😂😇😇😇. Maksa banget.... udah kebelet ya......
Kerisnya udah lama gak di asah....
Lama gak masuk sarung warangkanya....
Bersambung ah....
__ADS_1