
"Assalamu'alaikum." sapa Yulia saat diambang pintu ruangan Bu Adnan.
"Waalaikum salam. Loh, ini kan Yulia, apa kabar kamu Nduk?" sapa pak Adnan pada mantan menantunya itu. Ia yang duduk dekat ranjang dimana istrinya berada mendekat pada Yulia dan Romi lalu menyalami keduanya.
"Alhamdulillah Yah, saya sehat, dan kenalkan ini suami saya, namanya mas Romi!"
Romi menganggukkan kepala hormat, pada semua orang yang ada di situ.
"Waah, kamu sedang hamil rupanya Yul, Alhamdulillah! Ternyata yang kita semua khawatirkan dan perdebatkan selama ini salah besar. Kamu hamil, Wahyu juga sudah punya Rayyan!" sahut pak Adnan yang membuat Wahyu yang mendengarnya menelan ludah. Imah melirik suaminya, ekspresi wajahnya datar dan serasa aneh menurutnya.
"Iya, Ayah! Sudah tujuh bulan."
"Kami turut prihatin, Yah! atas sakitnya ibu, semoga ibu cepat sadar. Dan sehat kembali." pak Adnan mengangguk dan mengaminkan. Ia menghela nafas, tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Maafkan semua kesalahan ibu ya, Nduk! Ayah mohon kerelaan kamu untuk memaafkan ibu. Walau kesalahan ibu sangat besar sama kamu, saat kamu jadi istri Wahyu!" Yulia merasa tak nyaman dengan situasi ini. Ia cepat cepat mengangguk.
"Iya, Ayah! Saya juga banyak salah sama ibu. Semoga ibu juga berkenan memaafkan Yulia." jawaban Yulia membuat pak Adnan lega. Yulia tak menaruh dendam pada istrinya.
"Ayo sayang! kita pulang. Kasihan Shila cuman sama ibu!" ajak Romi setelah mereka semua terdiam. Ingin segera berlalu dari sana, jengah berada di tengah tengah keluarga mantan suami Yulia.
"Ah iya! kalau begitu kamu pamit dulu! Yah! Om Firman. Mas Kevin! dan juga mas Wahyu! Mbak Halimah, kami permisi." pamit Yulia.
"Oiya, selamat menempuh hidup baru, semoga Samawa, keluarga mas Wahyu dan mbak Imah." Yulia menangkupkan tangannya.
"Salam untuk ibumu, Yulia. Maaf, ayah tak bisa menjenguk ibumu saat beliau sakit." Yulia mengangguk. Dan mereka pun melangkah pergi setelah mengucapkan salam.Tanpa ada yang menyadari, sudut mata Bu Adnan terlihat basah. Karena fokus mereka tertuju pada Yulia dan Romi.
"Kasian ibunya mas Wahyu, mas! Semoga ibu Alvi sama ibu Kanti kita sehat ya!" harap Yulia sepenuh hati.
"Aamiin!"
"Yuk, ah! Jadi makan ikan tuna bakar nggak?"
"Iya dong! Kalau nggak bisa ileran anak kita hihihi!" Yulia tertawa membayangkan bayi dengan liur menetes karena keinginan ngidamnya nggak terpenuhi.
"Ah, teori dari mana itu. Yang namanya anak kecil ileran itu wajar. Yang gak wajar ya kalau udah gede masih ileran, itu baru menjijikkan!"
"Ih, mas Romi ngomong apa sih? Aku kan ngomongin bayi, kok sampai ngomong orang gede ileran. Amit amit jabang bayik!" ucap Yulia sambil mengelus perutnya.
Tak terasa mereka telah sampai di parkiran. Yulia berdehem merasa tenggorokannya kering. Yulia melihat ada tukang asongan tak jauh dari mobil mereka parkir.
__ADS_1
"Mas, aku haus! tolong belikan air mineral ke anak tukang asongan itu ya?" Yulia menunjuk pada anak kisaran umur 15 tahunan berjualan keliling dengan sekotak barang dagangannya.
Romi mengangguk, lalu membeli dua botol air mineral.
"Berapa dek, harganya?" tanya Romi ketika menerima pesanannya.
"Sepuluh ribu, mas!"
Romi mengeluarkan uang berwarna hijau, dan diserahkannya pada anak itu.
"Kembaliannya ambil aja dek!" kata Romi sambil berlalu mendekati istrinya dalam mobil.
"Makasih, mas! Semoga rejekinya melimpah!" teriak anak itu merasa senang. Mendapat rejeki lewat tangan Romi.
" Sama sama, dek!" jawab Romi tanpa menoleh.
"Ih, suamiku dermawan banget!" puji Yulia tersenyum lebar. Ia makin kagum pada suaminya.
*****
Om Firman dan Kevin, sepupu Wahyu telah pulang sejak sore. Sedang Wahyu dan Imah, masih setia menunggui Bu Adnan menemani Ayahnya. Imah sudah merasa tak nyaman dengan pakaian pengantinnya, dia yang biasanya hanya mengenakan kaos longgar dan bawahan rok merasa gerah. Ingin rasanya dia segera mandi dan berganti dengan kaos oblong kesayangannya. Namun ia tak berani mengganggu suami dan ayah mertuanya yang sedang berbincang di dalam ruangan. Sedang dia duduk diluar ruangan.
Sedang apa ya, Ifah dan Rayyan sekarang. Mereka sama sekali tak menghubunginya. Apa Rayyan tidak rewel? gumam Imah.
Saat asyik melamun, bahunya ditepuk seseorang dari samping yang membuatnya terlonjak kaget.
"Astaghfirullah, pak Wahyu. Kaget saya!" Wahyu yang semula tersenyum berdecak.
"Ckk, kok masih pak manggilnya, Aku kan suami kamu sekarang. Kamu panggil pak nya ke bapak aku aja!" pipi Imah berubah merah. Ia tersenyum malu malu.
"Maaf, masih suka lupa, mas Wahyu!"
"Nah, gitu dong."
"Ayah ngusir kita!" ucap Wahyu kemudian yang membuat Imah menoleh dan berkerut heran.
"Maksudnya kita di suruh pulang duluan. Ayah yang bakal temani ibu malam ini. Yuk, kita pulang!" Wahyu berdiri, mengulurkan tangannya agar Imah menggandengnya. Dengan malu malu Imah menyambut tangan Wahyu, berdiri dan berjalan mengikuti arah suaminya berjalan.
Waktu menjelang isya saat mereka sampai di rumah, karena terdengar suara adzan dari surau yang hanya berjarak lima ratusan meter dari rumah pak Adnan. Mobil Wahyu telah terparkir rapi di garasi. Namun Imah merasa janggal dengan keadaan rumah mertuanya.
__ADS_1
"Kok sepi, mas? Mobil punya Om firman dimana? terus Rayyan sama Ifah?" raut wajah Imah terlihat khawatir. Pasalnya Rayyan dan Ifah di titipkan pada istri Kevin dan istri Om Firman di rumah.
"Sebentar, aku hubungi mereka, ya! Gak usah panik gitu!" pinta Wahyu melihat istrinya kebingungan karena rumah kosong.
"Assalamu'alaikum, Om! Om sama Tante dimana?" beberapa saat Wahyu terdiam, mendengar suara orang di seberang telpon yang bicara.
"oh, ya udah Om! Makasih ya! Kalian pengertian sekali hehehe!" Wahyu menutup telponnya. Tak sabar Imah ingin mengetahui kabar kedua anaknya.
" Gak usah bingung, gak usah khawatir. Om dan Tante membawa mereka berdua pulang. Besok pagi kita di suruh ke rumah mereka ambil Rayyan dan Ifah. Sekalian kita berkunjung ke sana!"
Walaupun masih terlihat khawatir, Imah pun mengangguk paham.
"Mbak Yola istrinya mas Kevin kedua anaknya perempuan. Dan mereka pengen anak laki laki. Jadi, mereka seneng sekali sama Rayyan." ucap Wahyu memberi alasan seraya mengelus bahu istrinya yang diam.
"Aku mandi dulu ya? Atau kamu mau mandi bareng?" goda Wahyu saat mereka tiba di kamar. Kemarin kemarin Imah merasa biasa saja, di kamar itu. Namun sekarang ia terlihat canggung. Ia biasanya masuk kamar Wahyu saat Wahyu tak ada di rumah.
Imah langsung menggeleng, menghindari Wahyu yang terus tersenyum padanya.
Wahyu sudah siap masuk kamar mandi dengan handuk di pundaknya. Imah berdiri merapat di dinding dekat jendela kamar yang terbuka, menampakkan pemandangan depan rumah mertuanya. Wahyu yang melihatnya spontan mendekati istrinya.
"Tutup daun jendelanya, sudah malam!" perintah Wahyu pada Imah, mereka berdiri begitu dekat sekarang. Wahyu sepertinya sengaja merapat ke tubuh istrinya, membuat Imah meremang dan tambah gugup. Ia menutup daun jendela untuk mengusir rasa gugup dan jantungnya yang berdetak lebih cepat.
Saat daun pintu telah tertutup rapat, ia mendesak tubuh Imah hingga tubuh Imah menempel di dinding, dan kedua tangannya mengungkung tubuh Imah yang menundukkan mukanya.
"Mmmmas!" Perlahan tangan kanan Wahyu menarik dagu Imah hingga wajah itu sekarang mendongak, dan Wahyu menundukkan wajahnya. Hingga hidung mereka beradu. Wahyu memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya. Imah terlihat memejamkan mata, siap menerima perlakuan Wahyu padanya.
\=\=\=\=\=\=
Up yang kedua hari ini. Makasih pada teman teman yang telah memberikan vote nya dan juga bunga nya.
Tak ada balasan yang bisa othor Receh ini bisa berikan selain ucapan terimakasih yang setulus tulusnya. Dan hanya Tuhan pemilik segala Nya yang akan membalas segala kebaikan para pembaca yang Budiman semua.
Dan teruntuk pembaca yang merasa kurang puas dengan tulisan othor Receh ini, mohon maaf. Memang hanya seperti ini yang bisa othor tulis.
Jika tak berkenan boleh unfav.
Ok, thank you.
Gek cuap cuap opo to yo, othor rempeyek ajur iki? 😂😂😂.
__ADS_1
Wis koyo rempeyek ajur, cerewet pisan, jaaaan...njelehi.....