
Pukul delapan malam, saat Andre selesai mengurus pasien terakhirnya. Gurat lelah sangat nampak pada wajah tampannya dengan kacamata tebal yang selalu setia bertengger di atas hidungnya.
"Maaf, Yesi! Udah malam sekali!" sesal Andre. Sementara hujan yang tadi reda, kini nampak turun dengan deras lagi. Cuaca memang sangat tak menentu akhir akhir ini. Kadang hujan, kadang panas, namun tiba tiba mendung dan hujan lagi.
"Tiap hari pasienmu sebanyak ini Ndre? terus kok ada yang bawa beras segala? Ada yang bawa kentang dan sayuran lainnya?" Yesi malah membahas hal lain. Andre tertawa di buatnya. Mereka duduk di teras dengan cahaya temaram lampu.
"Nggak juga sih, ini mungkin efek kemarin aku gak ada. Jadi begitu tahu aku pulang, mereka berbondong bondong berobat. Disini jauh sekali jika mau cari dokter lain, butuh jarak puluhan kilometer dari sini. Itupun kadang cuma ditangani asisten dokter, hingga membuat mereka tak puas hati."
"Mereka bawa semacam ini udah biasa. Nanti aku bagi bagikan sama penduduk yang membutuhkan sekitar sini. Mereka juga sering ngasih aku makanan."
"Buah tangan itu, mereka anggap sebagai rasa terimakasih, karena aku gak memasang tarif, seikhlasnya mereka saja. Padahal di dokter lainnya, mereka merogoh kocek yang gak sedikit. Jauh pula." sambung Andre.
Satu poin nilai plus buat Andre. Rasa sosialnya tinggi juga dia. Gumam Yesi.
Tiba tiba petir menggelegar, Yesi yang kaget dan ketakutan sontak memekik lalu memeluk Andre disampingnya.
"Jangan takut, petir dimalam hari gak bahaya, kok!" Yesi langsung melepas pelukannya begitu menyadari ia reflek memeluk Andre tadi.
"Maaf!"
Andre tersenyum menyadari kelakuan Yesi. Suasana romantis yang hanya sepersekian detik berlalu.
"Gak apa apa, pelukanmu hangat. Besok besok lagi pengen dong dipeluk kamu!" goda Andre membuat Yesi memerah mukanya.
"Apaan sih!"
"Jadi gimana, kita jadi pulang sekarang? Tapi makan dulu ya? Aku lapar banget, plus capek. Biar kuat nyetir nanti!" Yesi hanya mengangguk.
"Kamu juga lapar, kan? Kamu gak apa apa makan makanan dari Made tadi?" Yesi manyun lagi. Langsung merasa kesal teringat keakraban Andre dan Made tadi.
"Apa boleh buat, daripada kelaparan. Lagipula gak diracun, kan?"
"Kalau diracun mah, aku udah mati dari dulu!" komentar Andre mengajak Yesi masuk.
Oh, jadi dia sering memberi Andre makanan ya? Sungut Yesi.
"Masakannya enak loh, tapi masih enakan makanan di tempat kamu, sih!" komentarnya sambil membuka rantang yang dibawakan Made tadi. Langsung tercium aroma harum ayam bumbu kare.
"Menyebalkan! kenapa di banding bandingkan sih!" gerutu Yesi yang hanya dia sendiri yang dengar.
Mereka makan dengan lahap, selain karena makanannya enak, juga karena mereka lapar. Tadi setelah jalan jalan mereka langsung pulang karena keburu hujan. Benar kata ayah Yesi, tempat yang mereka datangi adalah wisata alam yang menyuguhkan panorama keindahan alami, tanpa banyak campur tangan buatan manusia.
Semakin malam petir malah sering menggelegar, selesai makan mereka duduk duduk di ruangan pribadi Andre, yang tak terlalu luas. Menunggu hujan dan petir mereda.
__ADS_1
Yesi mengedarkan pandangan disetiap sudut ruangan itu.
"Duh, Ndre! Cuacanya kok gini amat ya!" Yesi mengusap usap tangannya yang kedinginan. Yesi hanya mengenakan blouse lengan pendek dan rok sedikit dibawah lutut.
"Iya, nih! Mana dingin lagi!" sabungnya. Andre yang melihat Yesi kedinginan membuka jas dokternya, lalu menyerahkan pada Yesi.
"Lagian aneh banget ya! Masak malam malam gini banyak petir, fenomena alam apa ini?" Yesi menerima jas itu lalu memakainya.
"Terus elu gimana? Jas elu gue pake."
"Aku laki! masih sanggup nahan dingin seperti ini!"
" Hmmm, hawa seperti ini sih, yang demen tentunya pengantin baru!" oceh Andre tanpa Yesi bertanya.
"Maksudnya?"
"Iya, pengantin baru. Pastinya suka hawa yang dingin dingin empuk gini, enak buat pelukan, hehehe!" Andre menaik naikkan alisnya, berhalusinasi tak jelas.
" Sumpah! Elu tuh otaknya ngeres bin mesum aja pikirannya!"
"Hhh, kenapa? emang kamu gak pernah? Masa sih seusia gini gak pernah mikir hal gituan. Aku sih normal, Yes! Biasa halu in hal seperti itu. Laki seusia aku dan gadis seusia kamu seharusnya udah kawin punya anak kalau emang normal." Yesi melotot. mereka hanya berdua, tapi Andre malah berhalusinasi tentang hal ngeres dan mesum seperti itu.
"Napa lagi? Mo bukti kalau aku laki normal?" melihat Yesi menyebik, Andre beranjak berdiri untuk mendekati Yesi. Ia membuka dua buah kancing kemejanya.
Andre tertawa melihat raut khawatir Yesi dan menggeleng gelengan kepala. Dan Yesi agak menjauhkan duduknya dari Andre.
Yesi mengingat sesuatu, ia belum mengabari kedua orang tuanya, mereka pasti khawatir ia belum pulang juga. Ia lalu membuka hapenya, dan sialnya, tak ada sinyal sama sekali!
"Jangan main hape Yes! Ada petir. Bahaya!" Andre mengingatkan Yesi.
"Gue mo ngabarin Ayah sama Mami, mereka pasti khawatir."
"Tapi gak ada sinyal sama sekali, gimana gue ngabarin mereka?" keluh Yesi sambil mendecak.
"Biasalah, hujan dan petir gini. Udah, matiin aja ponsel kamu!" Yesi menurut, suasana seperti saat ini memang bahaya memainkan alat elektronik.
Yesi bertopang dagu menunggu hujan reda. Andre pun menguap. Rasa dingin yang menyergap membuat Andre meminta izin Yesi untuk menutup pintu dan jendela. Kantuk dan lelah pun telah menguasai diri keduanya.
****
"Yes, gimana kalau kamu aku anter besok pagi aja! Habis subuh, aku janji anter kamu. Kayaknya hujan sama petirnya masih betah juga sampe jam segini."
"Kamu pake kamar aku aja, aku biar tidur di sofa?" Andre menguap lagi. Melihat hal itu, Yesi juga khawatir jika Andre memaksakan diri
__ADS_1
untuk mengantarnya pulang. Malam begini, hujan dan petir,
pasti menyisakan jalanan yang licin. Akan sangat berbahaya jika menyetir dalam keadaan lelah dan mengantuk.
"Elu juga sih, harusnya tadi sebelum ujan elu antar gue. Nyesel deh gue ikut elu tadi!" omel Yesi sebal menyalahkan Andre. Padahal tadi ia juga begitu menikmati acara jalan jalan. Bahkan tadi andai ia tak malu ingin sekali Yesi mencebur ke dalam air kolam dibawah guyuran air terjun. Tak lama Yesi turut menguap, sambil menggerakkan kepala hingga berbunyi.
krek!
"Ya udah, nginep aja. Gue juga udah ikutan ngantuk banget!" putusnya kemudian.
"Awas elu ya, kalau sampai berani masuk deketin gue terus macam macam!" ancam Yesi menudingkan jarinya.
Andre menepis jari itu.
"Iya, gak bakalan macam macam. Kecuali kalau khilaf!"
Kata terakhir Andre membuat Yesi melotot.
****
Yesi berada di kamar Andre. Ia melepas bajunya dan hanya menyisakan dalaman tank top dan celana dalaman yang jauh diatas lutut. Karena tak membawa baju ganti, agar bajunya masih bisa dipakai untuk besok pagi.
Ia menyelimuti tubuhnya sampai leher karena hawa dingin menusuk pori kulit.
Terus Andre gimana, didalam aja dinginnya kek begini. Kasian juga dia kalau kedinginan! pikir Yesi.
"Ah, masa bodoh lah. Ini kan salahnya dia, maksa aku ikut kesini.
Yesi belum juga bisa tidur, jam didinding diatas pintu menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Tadi ia menguap berkali kali, namun saat ia telah membaringkan tubuh, ia malah belum bisa memejamkan mata.
Perlahan Yesi bangkit mendekati pintu, membuka sedikit pintu itu mengintip Andre yang sudah memejamkan mata dan tidur meringkuk di sofa. Ia menutupi kakinya dengan jas putihnya, sedang tangannya ia lipat dan sedekap.
Hampir lima menit Yesi menatap Andre yang terlelap, tak terasa senyum tipis terbit dari bibirnya.
Ganteng juga sih, Andre. Cuman gaya nya emang rada cupu. Dan kurang up to date style pakaiannya. Atau memang itu gaya dia!
Yesi lalu menutup pintu perlahan tanpa suara, dan saat ia melihat ke lantai, sebuah benda bergerak gerak membuatnya reflek menjerit.
Aaaaaaaa!
\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
__ADS_1