Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 70


__ADS_3

Jika cinta hanya untuk si kaya, si miskin bisa apa.


****


Dua minggu lamanya, Wahyu begitu getol mendekati Imah. Mereka sering menghabiskan waktu senggang berdua dengan berbincang, lebih tepatnya Wahyu yang dominan melakukan percakapan. Hingga mereka sering jalan jalan bareng keluar rumah, berempat. Yang paling sering adalah mereka jalan di pagi hari, sekedar menghirup udara di luar ruangan, di jalan dan menyapa tetangga yang mereka jumpai. Karena mereka adalah penghuni rumah baru, sekedar berkenalan.


Saat berdekatan Wahyu seringkali menggenggam erat tangan wanita itu, sekedar menyalurkan rasa hangat, pada awalnya Imah malu malu dan berusaha menjauh, tapi lama kelamaan ia pun menikmati perlakuan manis Wahyu. Hingga wanita itu ada sedikit perubahan dalam bersikap, ia tak lagi menunduk dalam saat bicara, lebih sering tersenyum manis, bukan lagi senyum canggung.


"Bagaimana Imah, apa kamu sudah siap memberi jawaban?" tanya Wahyu malam itu setelah mereka menikmati makan malam. Mereka kini duduk berhadapan di teras rumah dengan lampu yang temaram. Anak anak telah tidur di kamarnya.


Teras minimalis dengan aneka tanaman bunga yang menghiasinya, menjadikan tempat itu terasa hidup dan segar. Membuat orang betah berlama lama duduk santai di sana.


Di bawah lampu yang temaram, Wahyu bisa melihat wajah Imah yang merona. Ia menunduk memainkan jari jarinya di bawah meja. Setelah dua Minggu lebih Wahyu berharap hubungan mereka ada kemajuan. Ia tak ingin lama lama menundanya, mereka sudah terlalu lama tinggal serumah, walau di kamar yang berbeda. Ia was was jika dirinya tak sanggup lagi menahan rasa, setelah hampir setahun menduda untuk yang kedua kalinya. Karena ia adalah pria yang tentu saja masih sangat normal.


Wahyu mengusap tengkuknya saat melihat Imah tak kunjung menjawab. Wanita itu hanya asyik bercumbu dengan kuku kukunya.


"Apa masih perlu banyak waktu lagi kamu mikirnya? sampai kapan coba kamu tentukan sendiri!"


Imah menggeleng samar. Waktu dua Minggu sudah lebih dari cukup, ia hanya sedang menunggu Wahyu bertanya. Tapi sekarang ini ia bingung gimana jawabnya.


Setelah sekian menit keduanya berdiam diri. Akhirnya Imah memberanikan diri menatap Wahyu yang ternyata sedang memandangnya pula. Dari sorot matanya memancar harapan.


"Apa yang pak Wahyu harapkan dari saya?" akhirnya ia bisa bicara lancar di depan Wahyu.


"Tentu saja harapanku kamu menjadi pendampingku, berjalan bersisian untuk mengarungi bahtera rumah tangga, membesarkan anak anak bersama. Dalam suka dan duka di jalani bersama, sampai jadi kakek dan nenek. Hingga maut yang memisahkan."


"Iya, saya bersedia!"


Dengan senyum malu malu dan lirih Imah menjawab. Wahyu yang mendengar jelas walaupun perkataan Imah lirih, langsung menengadahkan kedua tangannya. Mengucap syukur.


"Alhamdulillah. Akhirnya... Ya Alloh, aku berjanji tak akan menyia nyiakan apa yang Engkau titipkan padaku! Terima kasih Tuhan. Engkau masih memberiku kesempatan membina rumah tangga lagi."


"Terima kasih, Imah! Kau percayakan aku menjadi imammu. Akan aku jaga selalu kepercayaanmu. Kita sama sama belajar dari kegagalan masa lalu. Saling mengingatkan jika salah, ya!" Imah mengangguk. Tak mampu mengeluarkan suara. Malah yang keluar air mata bahagia.

__ADS_1


"Kemarikan tangan kirimu, Imah! aku ada sesuatu untukmu!" Imah menurut, ia ulurkan tangan kirinya, dan Wahyu mengeluarkan kotak kecil dari saku bajunya.


Sebuah cincin ia sematkan di jari manis Imah, yang langsung menutup mulutnya tak percaya.


Apa ini mimpi, pak Wahyu! Kalau benar, aku tak ingin bangun dari tidurku!


"Ini sebagai tanda bahwa aku serius denganmu. Besok kita ke rumah ibu, minta restu dari mereka!" dada Imah langsung merasa sesak. Namun ia hanya mengangguk. Wahyu mendekatkan kepalanya pada tangan yang terpasang cincin dan mengecupnya.


****


Esok harinya, Wahyu pulang kerja lebih awal, segera mandi dan menyelesaikan ritual sebagai muslim, Imah dan anak anak juga telah rapi, mereka siap berangkat menuju rumah Bu Adnan.


Di sepanjang jalan Imah hanya diam. Pikiran Imah kacau balau. Ia sangat yakin Bu Adnan alias ibunya Wahyu tak akan merestui mereka.


Pikirannya yang semalam melambung terlampau tinggi di awang, kini langsung terjun bebas terhempas ke tanah.


Terkadang Wahyu capek juga mencari topik pembicaraan dengan Imah. Orangnya pendiam. Apa setelah mereka nanti menikah juga akan diam seperti ini?


****


"Oiya, Wahyu! Ibu punya teman arisan, anaknya cantik banget. Dia pasti cocok dengan kamu yang ganteng! Ibu kenalin, yah? Dia punya usaha salon kecantikan yang lumayan ramai di sebuah mall." Wahyu menghempas tubuhnya di sofa. Sang ibu antusias menjodohkannya lagi dengan seseorang. Benar benar tak berubah.


"Bu, ibu apa kabarnya? Kelihatannya ibu sangat sehat dan penuh energi hari ini?" Bu Adnan sedang menyiram bunga saat Wahyu datang.


"Ibu sehat, Yu! seperti yang kamu lihat."


"Alhamdulillah, kalau begitu!"


"Bu, aku kesini selain menengok Ibu dan Ayah, Wahyu mau mengabarkan sesuatu."


"Anak teman arisan ibu itu, anak yang sopan. Selain punya usaha salon, dia juga seorang desainer dan punya butik sendiri." masih promosi anak gadis teman arisan. Selalu saja, materi yang ibunya kedepankan.


"Bu..!" sela Wahyu, jengah dengan perkataan ibunya. Padahal Imah sedang menggendong Rayyan di dekat mereka.

__ADS_1


"Turunkan Rayyan di kamarku, Imah!" Imah mengangguk dan berlalu menuju kamar Wahyu. Ifah yang takut dengan Bu Adnan yang sering memarahinya mengekor di belakang ibunya. Tangannya tak lepas dari baju sang ibu.


"Ibu, Wahyu sayang ibu!" rayu Wahyu sambil merangkul ibunya. Ia lalu menciumi wajah ibunya yang sudah beberapa bulan tak ditemuinya karena kesal, atas sikap tak baiknya dengan Imah yang sudah membantunya merawat Baby Rayyan.


Bu Adnan tersenyum senang anaknya seperti itu, pikirnya ia pasti bisa mempengaruhi Wahyu seperti saat membujuk Wahyu menikahi Wida dan menceraikan Yulia.


"Wahyu sayang ibu, tapi....!"


"Tapi apa? Sayang sama ibu kok ada tapinya?" sungut Bu Adnan.


"Oiya, ibu. Wahyu ada hadiah untuk ibu, semoga suka ya!" Wahyu mengeluarkan sebuah kotak, yang berisi sebuah gelang emas yang cantik. Wahyu tahu apa ibunya penggemar perhiasan.


Bu Adnan tersenyum senang, mendapat hadiah dari Wahyu, dan langsung memakainya di pergelangan tangan kirinya.


" Makasih ya, Wahyu! Gelangnya bagus. Kamu memang anak kebanggaan ibu!" pujinya kemudian.


Malam harinya mereka makan bersama, Wahyu, Bu Adnan dan pak Adnan. Bu Adnan menolak saat Wahyu dan suaminya meminta agar memperbolehkan Imah makan satu meja dengan mereka.


Kini mereka telah selesai makan malam. Dan tengah duduk santai di ruang tengah bertiga. Lalu Wahyu pergi sebentar, dan tak lama ia datang lagi dengan membawa Imah di belakangnya.


Wahyu meminta Imah duduk di sampingnya, berhadapan dengan pak Adnan dan Bu Adnan. Melotot mata Bu Adnan saat tahu Wahyu mengajak perempuan itu duduk bersamanya.


"Bu, Ayah! Tadi Wahyu datang kesini untuk mengabarkan kalian sesuatu."


Menggenggam tangan Imah erat, ingin menyalurkan kekuatan pada wanita itu. karena terlihat sekali Imah gugup dan takut.


"Kabar apa Wahyu, Ayah berharap kabar baik!" sela pak Adnan.


"Kami berencana akan menikah!" pernyataan Wahyu mengejutkan Bu Adnan. Namun tidak dengan pak Adnan yang terlihat biasa saja.


"Apaaa!" pekik Bu Adnan langsung berdiri, dan berkacak pinggang. Ia menepis kasar tangan pak Adnan yang memegang tangan lalu menyuruhnya duduk dan sabar.


"Wahyu, apa ibu gak salah denger? Barusan ibu nawarin kamu perempuan cantik dan kaya buat dijadikan istri, kamu diem aja. Eh malah kamu punya rencana menikah sama perempuan kampungan ini? Ibu gak bakal terima ya" seperti biasanya sikap dominan dan ego tinggi Bu Adnan langsung merusak suasana.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=


TBC


__ADS_2