Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 58


__ADS_3

Mas Romi lama amat ya di kamar mandi! Aku turun aja ah, sekalian wudhu!


Yulia lalu turun, ke tempat toilet para karyawan di bawah. Ia sudah tak tahan mau buang air.


Saat Yulia menggantung kerudungnya, kerudung itu jatuh dan basah.


"Aduh, gimana nih. Masa aku pakai kerudung basah. Gak bawa buat ganti lagi, ckkk!" Yulia bermonolog dan berdecak.


"Ah, di depan kan ada toko baju, pasti jual kerudung juga." lagi lagi bermonolog. Ia mengibas ngibaskan kerudungnya yang basah saat ada ketukan di pintu.


"Siapa ya di dalam? aku kebelet nih!!" sepertinya suara Risma.


"Iya sebentar!" teriak yang di dalam. Segera Yulia membuka pintu kamar mandi, dan benar, Risma gelisah karena menahan sesuatu yang mau keluar.


"Ih, Bu Bos, cepat ah keluar. Aku udah gak nahan nih!" Risma benar benar gak sabar, namun saat sekilas menatap Yulia yang hanya memakai ciput atau dalaman kerudung, Risma mundur lagi dan melotot.


"Oh my God! Bu Bos serem amat!" ucapnya menutup mulutnya yang melongo. Menatap Yulia antara kaget dan tak percaya.


"Apaan sih, Risma! Kayak lihat hantu aja kamu!" mengibaskan kerudung yang dibawanya.


"Itu, itu kamu habis digigit gerandong ya, masa leher sama dada kamu merah semua!" Menyadari akan hal itu, dengan wajah merah seperti kepiting rebus, Yulia menutupi lehernya menggunakan kerudung basahnya.


"Apaan sih, gak penting tahu!" elak Yulia saat Risma akan membuka kerudung yang menutupi lehernya yang banyak tato kemerahan hasil ciptaan Romi.


"Hush, gak sopan. Kayak belum pernah aja. Sudah sana ntar keburu keluar di sini itu pipis!" Yulia mendorong pelan Risma yang masih kepo akan stempel cap bibir yang masih sangat kelihatan di kulit putih Yulia.

__ADS_1


"Ahaha, si Bos. Kayak singa kelaparan hahaha!" tawa Risma menggema setelah menutup pintu.


Ckk! ini aku pasti bakal jadi bahan ledekan para karyawan nih! Mana mulut mereka ember semua! Sungut Yulia,


Ia segera naik menuju mushala. Di sana Romi telah rapi mengenakan Koko dan sarungnya. Tak lupa kopiah hitam bertengger di kepala.


"Aku cuma hapal beberapa surat pendek Yul, nanti kalau salah setelah shalat tegur ya!" pinta Romi sebelum mereka memulai berjamaah. Yulia sedang memakai mukenanya.


"Lah, mas! Ini shalat Dzuhur, jadi bacaan surah Fatihah dan surah pendeknya nggak dikeraskan. Nggak seperti Subuh, Maghrib dan isya'. Kalau ketiga waktu shalat tadi, surat Fatihah dan surah pendeknya dibaca dengan keras."


"Emang mas Romi gak pernah jamaah Dzuhur sama ashar?" Romi mengusap belakang kepalanya dan nyengir.


"Nggak sih, kalau shalat jama'ah siang cuman waktu Jumat doang! Yuk ah, di mulai shalatnya."


Mereka pun menghadap kiblat, memasrahkan diri pada sang Penguasa langit dan bumi beserta seluruh isinya.


Shodaqallahul adzim.


Romi menutup bacaannya setelah membaca beberapa surah pendek dan di simak oleh Yulia.


"Makasih ya istriku, sebenarnya aku malu kalau harus minta di ajarin kamu. Tapi buat ngaji sama ustadz, aku belum ada waktu yang benar benar longgar." mengusap kepala Yulia yang masih terbungkus mukena.


"Iya, gak papa, mas! Yulia juga masih belajar. Kita sama sama masih belajar, cuman jika di bandingkan, atau di kelas kelaskan, kita beda angkatan, itu aja!"


" Lain kali, aku mau nyari info kalau ada majelis taklim yang aktif ngajinya. Biar kita bisa nimba ilmu sama sama mas!" Romi mengangguk setuju.

__ADS_1


****


"Gimana Imah, apa baby Rayyan rewel?" tanya Wahyu setelah ia pulang dan mendapati anaknya sedang tidur. Imah menungguinya sambil mengajari Ifah belajar berhitung dan belajar menulis.


Imah segera bangkit dari selonjoran ya di karpet saat terdengar suara Wahyu.


"Eh, pak Wahyu. Tidak pak, baby Rayyan hari ini sangat anteng. Cuman sedikit rewel tadi waktu mau tidur siang, pak!" lapor Imah.


"Adik Rayyan tadi rewel karena Neneknya nyuruh ibu masak. Padahal waktu itu ibu lagi gendong Rayyan yang mau bobok paman. Kenapa sih, ibunya paman jahat sama ibu aku, paman?" Wahyu terlihat terkejut, dan menatap Imah yang menunduk.


"Benar begitu Imah? Apa yang dikatakan Ifah itu tadi?" Imah hanya menunduk.


"Maaf, pak Wahyu. Saya... saya... gak seperti itu kok. Tadi ibu pak Wahyu minta tolong sama saya buatin makan siang, terus Rayyan di tunggui sama ibunya pak Wahyu. Jangan dengerin omongan Ifah pak! Saya minta maaf!" Wahyu menghela napas. Ia tak kaget dengan perkataan yang di lontarkan Ifah. Sebab ia tahu betul, ibunya tak menyukai Imah menjaga anaknya.


Ibu memang keterlaluan. Lama lama aku gak betah juga tinggal sama ibu. Tapi terus aku tinggal di mana? Rumah sudah telanjur aku jual dan sekarang cuma sisa setengahnya saja. Gaji juga habis karena harga susunya Rayyan juga menguras kantong, apalagi tanpa saduran ASI. Ibu juga sering minta uang, belum lagi ngasih buat gaji Imah. Duuuh! kepalaku nyut nyutan. Belum lagi nanti aku kena potong gaji karena kelalaianku. Ya Alloh, begitu berat rasanya hidupku! Apa aku sedang kena karma karena telah menyia nyiakan wanita sebaik Yulia. Yulia, tolong maafkan aku! Ampuni semua salah aku padamu Yulia!


Imah dan Ifah saling pandang karena Wahyu terlihat melamun.


"Paman! Kok paman diam saja?" Wahyu gelagapan dan langsung tersenyum saat menyadari kebodohannya. Melamun di depan Imah dan Ifah.


"Eh iya, Ifah! Kenapa? Apa Neneknya Rayyan menyakitimu?" tanya Wahyu begitu perhatian pada Ifah.


"Nggak kok pak! Sebenarnya Bu Adnan baik kok sama kita. Benar! Bu Adnan baik, cuma anak saya memang begini, suka ceplas ceplos jadi ibunya pak Wahyu kadang ngomel sama anak saya. Sekali lagi maaf, Ifah hanya anak anak! Dia belum ngerti, pak!" Imah merasa tak enak hati. Ingin rasanya menjewer telinga Ifah.


"Mangkanya anak anak, ia akan lebih jujur daripada orang dewasa yang penuh kepalsuan dan kebohongan. Saya percaya Ifah gak akan bohong. Kamu gak perlu menutupi kelakuan ibuku Imah, aku sudah hapal luar kepala. Tolong maafkan ibuku ya! Ya sudah, aku mau mandi dulu! " pamit Wahyu pada kedua orang itu. Sebelum pergi Wahyu menyempatkan diri mengusap rambut Ifah.

__ADS_1


Ya Alloh, sepertinya pak Wahyu juga tertekan dengan sifat ibunya! Kasihan sekali. Ternyata orang berduit juga belum tentu bahagia hidupnya. Ampuni aku ya Alloh, yang kurang bersyukur akan nikmat Mu. Aku berpikir selama ini hidupku lah yang paling menderita.


__ADS_2