
*****
Yulia membuka mata, bangun dari tidurnya. Kemudian bangkit dari pembaringan, ia merasa tenggorokannya kering, merasa sangat haus dan juga lapar. Dan saat melihat disisinya Romi pun tak berada di sana.
Apa mungkin di kamar mandi?
Namun tak ada suara apapun dari sana.
Yulia mengedarkan pandangan, Saat ekor matanya menangkap ada beberapa gelas air mineral kemasan diatas meja, ia segera berdiri. Ia lupa saat ini tak mengenakan sehelai pakaian pun, hingga ia melingkarkan selimut tebal itu ke tubuhnya dan berjalan dengan kesusahan karena selimut itu merepotkannya berjalan menuju meja.
Sruuut sruuut! hmmm! Alhamdulillah!
Gumam Yulia.
Segelas air mineral langsung tandas, berpindah ke perut Yulia dengan menggunakan sedotan. Kini perutnya sudah lebih enakan. Lalu ia duduk di sofa masih bergelung selimut sebagai pakaiannya. Memulihkan kembali tenaga yang telah terkuras. Tenaganya seperti disedot sampai ia benar benar lemas tak bertulang.
Setelah sekian lama duduk, iapun merasa tubuhnya lebih segar, Yulia memunguti pakaiannya yang teronggok di lantai dan memakainya kembali. Namun saat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, Romi belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sudah jam sepuluh malam. Kemana perginya mas Romi? Aku lapar hikkks!
Karena jemu menunggu, Yulia berjalan keluar menuju balkon kamar. Udara dingin nan segar langsung menyeruak menerpa tubuhnya. Sambil menghirup udara dalam dalam, ia melihat ke bawah. Yulia merasa takjub, saat melihat pemandangan di bawah sana. Kerlap kerlip air laut berwarna biru, bergerak gerak dibawah cahaya bulan dan gemerlapnya bintang diatas sana. dikombinasikan dengan cahaya lampu terlihat begitu indah.
Subhanallah! Maha Suci Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isi nya.
Saat asyik menatap keindahan ciptaan Tuhan, tiba tiba sebuah tangan mendekapnya erat dari belakang. Membuatnya terkejut dan memekik.
Aaaaa!
"Ihhh, mas Romi! Ngagetin aja. Kemana saja sih mas Romi, aku cari cari gak ada tadi? Kupikir kamu ninggalin aku sendirian disini?" Yulia manyun, ia tahu itu Romi, karena Yulia sudah. hafal dengan aroma parfum suaminya. Hmmmm, bercampur keringat. Wangi maskulin.
"Aku lagi keluar cari makan, sayang! Aku lapar, dan kamu tadi bilang lapar juga, 'kan?" mencium pipi sang istri dan melepas pelukannya. Ia lalu bersandar di pagar balkon, berdiri berhadapan dengan Yulia. Bersedekap sambil menatap istrinya. Mengu lum senyum. Teringat saat saat indah tadi, dalam hati tak menyangka wanita di hadapannya kini sudah sah berstatus sebagai istrinya. Dan ia berstatus suami (lagi)
"Lagian, kamu tadi tidurnya pulas banget. Gak tega aku bangunin kamu, aku juga sambil ambil sesuatu di mobil! ucapnya yang ternyata ia mengambil kado di mobil. Yulia ingat itu adalah kado dari adik iparnya.
"Aku kaget waktu tadi di ranjang kamunya sudah gak ada."
"Huuuh, aku kira kamu hilang, sayang!" ucap Romi.
"Hmmm, rupanya suka ya kalau aku menghilang. Lagian, mas Romi pergi juga gak kasih tahu aku! Aku bingung nyarinya tahu...!"rajuk Yulia, berbalik lagi menghadap dinding kaca balkon, menatap laut dari ketinggian. Mulutnya yang maju segaris sejajar dengan ujung hidungnya membuat Romi menahan tawa. Takut kalau istrinya tersinggung.
"Iya deh iya, maaf. Lain kali aku bakslan bilang dulu kalau pergi. Lagian kan ada alat komunikasi, dimanfaatin dong, telpon atau kirim pesan gitu!"
"Oiya ya, kamu pasti lapar kan? Aku juga. Ayo kita makan!" Romi mengalihkan pembicaraan, berbalik ke kamar bermaksud mengambil sesuatu, namun diurungkannya.
__ADS_1
"Eh, sebelum makan yuk kita buka kado dari Mima sebentar, aku penasaran apa isinya. Ya?" Romi mengacungkan benda yang di berikan sebagai hadiah pernikahan dari sang adik. Yulia menoleh, lalu mengangguk.
Romi perlahan menyobek sampul kado.
"Aku buka ya!" ujar Romi lagi meminta persetujuan sang istri. Yulia mengangguk lagi.
"Issh, dari tadi bilang ingin buka, iya buka aja!" ujar Yulia sewot. Romi terkikik senang, menggoda sang istri.
Pembungkus pertama telah dibuka, dan isinya adalah sebuah kotak yang lebih kecil.
"Ini kok di bikin dobel gini sih kotaknya!" gerutu Romi.
"Ya, dibuka lagi mas!" Romi mengangguk lalu membuka lagi kotak kedua. Dan ternyata isinya adalah kotak lagi yang lebih kecil.
"Ngerjain kita nih anak rupanya." gumam Romi agak kesal dengan sifat iseng adiknya. Lalu dibukanya lagi kotak itu.
Dan saat kotak ketiga dibuka isinya adalah...
Yulia mengenyitkan dahi tatkala Romi membuka kado itu. Romi membuka kado didepan Yulia dengan mata berbinar. Isi kado itu adalah sebuah baju dalaman wanita yang indah, terdapat renda renda yang berwarna hitam.
"Subhanallah, sayang! indah banget ini, apalagi kalau kamu yang pakai. Huuuh, jadi berandai andai kalau kamu yang pakai ini! pasti akan lebih indah dan seksi."
"Hhh, saringan tahu!" sahut Yulia melihat kain indah namun sangat transparan itu.
"Enak aja, saringan tahu! Jadi membayangkan kamu pakai ini!" ujar Romi tertawa senang.
"Gak ah mas, Gak! malu juga pakai gituan. Bisa masuk angin aku nanti!" bantah Yulia, bukan karena Yulia tak pernah memakainya. Dulu sewaktu pengantin baru, Wahyu juga menuntutnya untuk memakai yang seperti itu.
"Ayolah sayang, pakailah ini untuk menyenangkan suamimu!" pinta Romi memohon. Yulia menerima kain itu.
"Bukannya menyenangkan hati suami itu pahala, ya! Please, pakai sekarang ya!" Romi meminta dengan penuh harapan. Namun Yulia masih menggeleng.
"Nanti aja makainya ya mas, kalau sekarang aku pakai ini, bisa bisa aku gak dapat kesempatan buat makan. Aku tuh lapar perut tahu!" melipat kembali kain penutup tubuh yang cantik, namun kurang bahan itu. Jika benda itu dipakainya sekarang, di depan Romi, di jamin ia akan di terkam langsung oleh sang singa kelaparan.
"Ah iya, sebentar! kita makan dulu disini saja, suasananya lebih mendukung. Makan dulu, biar ada stamina buat perang nanti!"
Ish, ini laki ngomongnya stamina mulu. Menjurusnya pasti ke situ!
Romi masuk ke dalam kamar, diikuti tatapan mata Yulia. Ia mengambil kresek putih diatas meja yang tadi ia bawa dari luar hotel. Dan membawa serta dua gelas air mineral dan meletakkannya pada meja kecil di balkon. Mereka lalu duduk santai di dua buah kursi yang berjejer menghadap ke luar, ke arah laut yang terlihat di bawah.
Karena rasa lelah, mengantuk dan juga lapar menyatu, Yulia dan Romi memakan nasi kotak dengan lauk daging, sambal goreng hati ayam dan mie putih dengan lahap, sambil menatap di kejauhan, tanpa kata yang terucap.
"Alhamdulillah!" ucap Romi setelah makanannya tandas. Meminum air mineralnya.
__ADS_1
Ia lalu menoleh pada istrinya, nasi punya Yulia masih separuh, padahal tadi katanya ia kelaparan.
"Habiskan makannya, Yul! Biar kuat, gak lemes lagi. Nanti biar kuat perang lagi" Romi menaik naikkan kedua aslinya.
"Ckkk. Gak ada capeknya apa kamu ini, mas! Tadi aja udah dua jam full loh! Masa' masih mau lagi! Simpan tenaga buat esok juga, kenapa!"
"Mana ada capeknya. Apalagi kalau nanti lihat kamu pakai benda yang tadi, Hmm, gak bisa bayanginnya!" pikiran nakal Romi berkeliaran. Travelling kemana mana, Jika membayangkan sang istri memakai baju minim nan tipis serta transparan.
"Gak usah membayangkan yang aneh aneh deh mas! Udah, ah aku capek mas." gerutu Yulia menutup kotak nasinya dan meletakkan kembali dimeja.
"Lah, kenapa gak dihabiskan, sayang kalau mubadzir. Tadi katanya lapar?"
"Ayo, biar aku suapin, ya?" Romi bangkit dari duduknya, mendekatkan kursinya pada kursi Yulia, mengambil kotak nasi yang diletakkan di meja itu lalu menyuapkan.
"Aaa! ayo buka mulutnya!"
"Maas aku bukan anak kecil lagi!!" serunya agak kesal pada sang suami yang sukanya maksa itu. Yulia sudah tak ada keinginan makan lagi. Ia tak biasa makan berat sebelum tidur.
"Iya, kamu bukan anak kecil lagi, sayang! tapi kamu sama aku lagi mau usaha buat bikin anak kecil, ayo makanya kamu kudu makan banyak supaya kuat, jangan sampai ngeluh kecapekan loh ya, nanti!"
Wadidaw... bakalan kena gempur lagi nih kayaknya Yulia. Romi seperti singa kelaparan saat bermain mesra mesraan dengan sang istri.
Akhirnya makanan pun habis juga, karena Romi juga ikut memakan jatahnya. Hingga kedua kotak makanan yang telah kosong telah di buang di tempat sampah oleh Romi, Yulia masuk sembari menguap panjang. Sepanjang hari tadi dan juga beberapa hari sebelumnya telah menyita banyak tenaganya. Ia ingin benar benar tidur sampai pagi malam ini. Sudah tak ia pedulikan walau ia baru makan berat.
Sekali kali gak apa lah, habis makan tidur. Yang penting tidak setiap hari.
Baru saja merebahkan diri dan menutupi tubuh dengan selimut, Romi menariknya dan membuang selimut itu hingga sebagian terjatuh ke lantai sambil menyeringai. Lagaknya sudah seperti singa yang siap menerkam mangsanya. Ia benar benar memanfaatkan waktu berdua mereka.
"Maaas, aku capek. Please lanjut besok aja ya, aku janji. Aku gak bakal nolak besok, aku juga mau pake yang tadi yang dikasih Mima sebagai kado tadi, ya..ya...!" wajah Yulia di buat semelas mungkin. Romi mendesah dengan raut wajah kecewa. Namun ia juga menyadari kalau istrinya lelah dan mengantuk.
"Ya sudah. Ayo kita tidur!" rupanya Romi tak tega juga pada istrinya. Di kecupnya pipi sang istri yang sudah tinggal beberapa Watt. Walaupun hasratnya masih sangat menggebu. Masih ada esok hari, masih sangat banyak waktu ia bersama dengan Yulia. Walaupun nanti ke depannya, mereka akan melakukannya layaknya maling, mencuri curi waktu jika Shila sudah tidur. Tak butuh waktu lama untuk Yulia terlelap dan terbang ke Alam mimpi.
Namun yang namanya Romi juga masih banyak akal bulusnya, diam diam dia menghubungi pihak hotel, jika ia menambah sehari jadwal check in mereka berdua.
\=\=\=\=\=\=
Hai hai.... gimana....
Othor sudah menfilter sebisa mungkin agar adegan MP tak terlalu vulgar. Dan hasilnya ya seperti itu.
Maaf kalau ada yang menganggap ini masih terlalu blak blakan ya...
yuk komen....
__ADS_1
**Oh, iya! Ini kan hari Senin Yah, boleh dong othor remahan ini berharap di kasih vote.... juga gift. Syukur syukur dapat kopi.
Terima kasih**.....