Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 47


__ADS_3

Pernikahan adalah sunnahku. Barang siapa yang mengikuti sunnahku berarti bagian dari umatku (H R Ibnu Majah)


*****


Pukul 09.00.


"Saudara Romi Yosep Setiawan, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik kandung saya Yuliana Sukanti binti Munandar dengan maskawin berupa seperangkat alat shalat dan emas seberat 100 gram, tunai." ucapan lantang Mas Angga setelah menjabat tangan Romi sebagai ganti wali nikah Yulia.


"Saya terima nikah dan kawinnya Yuliana binti Munandar dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya pak penghulu.


"Saaahh!"


"Alhamdulillahi rabbil Alamin. Jama’allahu syamlakuma wa baaraka lakuma wa athaaba naslakuma waja’ala naslakuma mafaatiha ar-rahmati wa ma’aadina al-hikmati wa amnal-ummati,”.


“Semoga Allah mempersatukan hati kalian berdua, melimpahkan berkah-Nya atas kalian, memberikan keturunan yang baik bagi kalian dan menjadikan mereka kunci-kunci pembuka rahmat, sumber segala nikmat dan pembawa keselamatan bagi umat,” Aamiin.


Setelah pak penghulu membaca doa, kini giliran Romi membaca doa setelah Aqad nikah yang ia hafalkan jauh jauh hari atas permintaan Yulia. Berharap pernikahan kelak mendapat berkah. Romi menggeser duduknya menghadap Yulia.


"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."


lalu meniup tiga kali ubun ubun wanita yang telah resmi menyandang status sebagai istri beberapa menit lalu.


Setelahnya Romi mencium kening Yulia, penuh takzim. Dan Yulia pun ganti mencium punggung tangan Romi.


Romi memandang sang istri yang terlihat manglingi dan tersenyum malu di hadapannya. Rasa haru sekaligus bahagia membuncah, menyeruak dalam dadanya. Ia telah berhasil mempersunting wanita yang pada awalnya sangat di sukai oleh anaknya.


"Selamat ya untuk kalian berdua, siang ini kalian telah resmi menjadi suami istri." ucap pak penghulu.


"Ini mas Romi dan mbak Yulia sudah sama sama pernah menikah 'kan? Sama sama sudah pernah berumah tangga sebelumnya. Jadi tak perlu diajari pastilah sudah pada pintar. Iya kan, bang Romi, mbak Yulia?!" Kedua pengantin hanya menunduk sambil tersenyum malu.


Dan saat yang paling membuat haru adalah saat diadakannya acara sungkeman. Bu Alvi duduk berdampingan dengan Om Gun, mata ibu mertua Yulia itu terlihat berkaca kaca dan memerah. Berkali kali mengusap air matanya.


"Romi, ibu berdoa ini adalah pernikahan terakhirmu. Semoga kalian langgeng sampai kakek nenek, sampai maut yang memisahkan kalian." Bu Alvi mengusap air matanya. Tangan kanannya sibuk membelai rambut putranya. Dan saat berganti posisi Yulia sungkem pada Bu Alvi, beliau juga tak kuasa menahan rasa harunya.


"Yulia, anakku! Tolong jaga dan rawat Shila cucuku ya, perlakukan dia seperti anak kamu sendiri." ucap Bu Alvi berurai air mata sambil memeluk Yulia. Yulia pun mengangguk mengiyakan. Beberapa lama mereka pun berpelukan.

__ADS_1


Begitu juga saat sungkem pada Bu Kanti yang berdampingan dengan kak Angga. Terdengar mbak Dila menahan tangis haru sambil menggendong Rima. Ia sampai menggigit jarinya agar tangisnya tak keluar.


"Adikku, jadi istri yang salehah ya! Jadikan kegagalanmu yang dulu menjadi cermin, buat kamu melangkah ke masa depan. Jangan membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kakak mendoakan segala yang terbaik untukmu." nasehat sang kakak sambil membelai kepala Yulia yang diangguki Yulia.


Dan pada Romi, Angga juga mengatakan sesuatu.


"Dek Romi, sekarang Yulia, adikku adalah tanggung jawabmu.


Sayangi dan cintailah dia. Jangan pernah sakiti dia." Romi mengangguk mantap.


"Iya, mas! Doakan kami, dan ingatkan jika aku salah memperlakukan istriku!" mas Angga pun mengangguk mengusap sudut matanya.


Teruntuk sang ibu, Bu Kanti tak bisa mengucap sepatah kata pun. Hanya tetes air mata bahagia yang terpancar dari wajah tuanya.


Beliau pun berpesan pada Romi dan Yulia yang baru menjalin pernikahan, akan selalu saling menjaga dan saling mencintai serta menyayangi.


Setelah selesasai Aqad nikah dengan segala ritual ritualnya, Kini saatnya acara resepsi pernikahan. Tak banyak tamu yang datang, karena Yulia dan ibunya menginginkan pernikahan yang sederhana saja.


Sebelum para tamu undangan datang, yang terlebih dahulu mengucapkan kata selamat adalah para keluarga dekat.


"Bundaaa!" Shila yang memakai baju bak princess bersama Rima, merentangkan tangan pada Yulia yang berdiri di pelaminan. Merekapun saling berpelukan.


"Naah, sekarang Shila bener bener punya Bunda! Seneng gak?" tanya Romi pada anaknya yang sedang saling menatap dengan Yulia.


"Iya, senang Ayah! Nanti malam Shila mau tidur sama bunda, boleh kan?" ucap Shila penuh semangat. Yulia tertawa melihat Romi menepuk jidat.


"Kenapa mas! pusing?" ledeknya.


"Shila sayang, harusnya nanti malam kan malam berdua Ayah sama Bunda, sayang! Jadi nanti kamu ikut sama Nenek ya? Tidur sama Nenek?" bisik Romi pada Shila yang langsung menggeleng.


"Enggak, Ayah! Shila nanti malam mau tidur sama Bunda! Ini kan bundanya Shila, kalau bundanya Ayah 'kan Nenek. Jadi Ayah harusnya tidur sama Nenek!" jawaban Shila membuat Yulia terpingkal dan menutup mulutnya. Apalagi melihat Romi menghela nafas berat.


"Terima nasib aja, mas!"


Romi ingin mengatakan sesuatu pada anaknya, namun beberapa keluarga naik ingin mengucapkan selamat untuk mereka berdua lalu mereka pun berdiri.


"Selamat ya, akhirnya laku juga kau, bang! Jangan lupa, kado dari aku sama istriku di buka nanti malam ya, dan harus dipakai!" bisik Christian yang membawa bayinya yang berusia dua bulan.

__ADS_1


Di belakangnya ada Yemima, Fani dan Sandi, Mas Angga dan mbak Dila, ada juga teman teman Yulia di toko. Lasmi, Risma dan Yeni bersama pasangan masing masing. Sebelum turun dipastikan semuanya sudah berselfi ria bersama pengantin.


Shila yang tadi menggelayut pada Yulia kini telah turun dan ikut bermain bertiga bersama Safa dan Rima.


Sementara di sebuah rumah yang lain.


"Yu, anakmu dari tadi nangis, emang kamu gak dengar apa?" omel pak Adnan, ayah Wahyu melihat anaknya hanya bengong dipinggir jendela menatap keluar kamarnya.


"Wahyu...!" ulang pak Adnan lebih keras, karena Wahyu tak beranjak sementara anaknya terus menangis. Bahkan menoleh pun tidak.


"Eh, iya Ayah!" rupanya ia sedang melamun, sang ayah geleng kepala, sambil menimang cucunya yang belum berhenti menangis.


"Sepertinya dia haus, Yah!"


Wahyu buru buru keluar kamar membuat susu formula untuk anaknya. Dalam hitungan menit ia kembali lagi, membawa botol susu dan langsung memberikan pada baby Rayan. Ya, ia memberi nama anak lelakinya Rajat Narayan. Entah mengapa ia suka dengan nama yang berbau Bollywood itu.


"Kamu kenapa, melamun saja?" Ayah lebih peka pada kegundahan anak satu satunya itu.


"Nggak, Yah! Nggak ada apa, Wahyu cuma capek yah!" Elak wahyu. sambil melengos dan berjalan menuju sofa untuk duduk setelah menyerahkan botol susu.


"Jangan bohong sama ayahmu ini, Nak! Katakan pada ayahmu ini! Ayah jamin ayah adalah tempat curhat yang baik." baby dalam gendongan telah tidur lagi, dan diletakkannya didalam box bayi, ia lalu menghampiri Wahyu yang duduk di sofa, dan menepuk pundaknya. Berusaha menguatkan hati putranya.


"Ayah juga tahu, kamu butuh tempat curhat yang benar!" Wahyu menggeser duduknya hingga sang ayah bisa duduk di sampingnya.


"Apa kamu, masih mencintai Yulia dan ingin kalian kembali seperti dulu?" Ayah menerka apa yang dipikirkan sang putra. Wahyu menggigit bibirnya dan menoleh pada sang ayah. Tatapan matanya menyiratkan ada luka yang mencoba di sembunyikan.


"Hari ini Yulia menikah, ayah!" ucapnya lalu melengos. Dalam keadaan seperti ini, hati sang ayah pun terenyuh melihat nasib anaknya. Walaupun ia tahu ini adalah kesalahan putranya sendiri.


"Jangan melakukan kesalahan tuk kedua kali. Kalau kau masih mencintainya, doakan ia bahagia dengan pasangannya yang baru."


"Dan kau harus mencoba move on. Ayah tahu, dari lubuk hatimu yang paling dalam, masih ada rasa cinta pada istri pertama mu itu. Ayah masih ingat betul. bagaimana kau memperjuangkannya untuk mendapat restu ibumu. "


"Cinta yang sesungguhnya itu, adalah rasa dimana kita akan membiarkan orang yang kita cinta itu bahagia. Walaupun kebahagiaannya bukan bersama kita."


"Cinta menuntut kerelaan, untuk ia memilih dengan siapa atau dengan apa ia akan merasa bahagia."


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Itu adalah definisi cinta menurut othor ya! Kalau menurut pembaca sih, ane kagak tahu!!


TBC....


__ADS_2