Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 99


__ADS_3

"Kenapa mas?" Yulia yang baru keluar dari kamar mandi mendengar suaminya menggumam sendiri. Ia lalu meminta baby Kia dari tangan suaminya.


"Awas, ini nanti bangun lagi terus rewel." ternyata Baby Kia hanya menggeliat, lalu Yulia duduk dengan memangku baby Kia.


"Hhhh, sejak ada Dini di toko, ada aja masalah yang timbul sebab dia. Heran deh tuh anak, dari dulu gak ada berubah sama sekali!" keluh Romi, ia sedari pagi belum ke toko, dan berencana untuk kesana setelah Yulia dari kamar mandi.


"Dia bikin masalah apa memangnya mas?"


"Iya, si songong itu pengen ngasir, tahu sendiri kalau dia duduk di meja kasir, bisa kacau semuanya. Duitnya malah bisa habis ditilep sama dia!"


"Ish, kok gitu. Walaupun begitu juga adik ipar mas Romi." protes Yulia


"Ya, kalau memang gak bantu, kenapa dipekerjakan. Kenapa gak ditolak aja, Mas ini ada ada aja." Yulia geleng kepala dengan keputusan suaminya yang mengiyakan Dini bekerja padanya.


"Menurutmu, gimana enaknya? Kasih pendapat dong?" di ciumnya pipi gembul sang bayi yang berusia empat bulan itu yang tidur dengan mulut agak mangap itu. Lalu beralih mencium pipi istrinya.


*****


Yesi berjalan menuju rumahnya yang telah ramai orang yang sedang makan siang di lantai satu, mengabaikan Andre yang telah mengantarnya pulang.


Namun Andre dengan cuek cenderung tak tahu diri mengayunkan langkah mengikuti Yesi di belakangnya.


Merasa ada yang mengikutinya, Yesi menoleh saat tiba di teras.


"Lu ngikutin gue, Ndre?" mata Yesi langsung melotot. Ia pikir tadi Andre langsung pergi.


"Ya iyalah, masa udah jauh jauh nganterin kamu, gak ngajak mampir dulu, ngopi or makan dulu kek. Capek tauk! Aku juga ngantuk, dari semalam nungguin kamu tidur." Yesi memutar bola mata, ia tahu Andre bohong. Dia tadi malam tidur dengan nyenyak walau hanya di sofa.


"Yeee, parah banget elu boongnya. Gue berkali kali bangun aja elu tetep tidur, ngaku ngaku nungguin gue tidur. gimana sih."


"Eh, emang bener kan aku nungguin kamu tidur, tapi sambil tidur juga, hehehe!" Andre nyengir menggoda Yesi. Merasa lucu dengan omongannya sendiri.

__ADS_1


"Garing.. gak lucu tauk!" sewotnya.


Namun tak lama Yesi pun terlihat menahan senyum. Andre tertawa dibuatnya.


"Ya udah, masuk gih! Biar Dona ambilkan makanan dan minum buat elu!" Yesi memimpin jalan Andre supaya mengikutinya. Yesi membuka private room dan menyuruh Andre masuk.


Yesi melambaikan tangan pada Dona, salah satu karyawannya ditempat itu dan memintanya menanyai Andre, menu apa yang ia mau.


Tanpa pamit Yesi keluar menuju kamarnya di lantai atas. Andre menatap punggung Yesi yang sedang menaiki tangga tanpa menoleh. Rambut hitam panjangnya yang tergerai bergerak gerak dengan indah.


Aku harus optimis untuk bisa menaklukkan hatinya.


Andre mengetuk meja pelan. Ucapan Ayah dan Mama Yesi kemarin menyiratkan kalau mereka menyetujui jika ia memiliki hubungan yang lebih dengan anak mereka. Tinggal bagaimana ia bisa membuat Yesi menerima dirinya.


"Siang mas! Masnya mau pesan apa?"


Dengan sopan dan penuh senyum Dona menanyakan menu apa yang ingin Andre makan. Namun membuat Andre terkejut dari lamunannya.


"Oh, iya mbak! Saya mau pesen satu paket seperempat ayam betutu dan minumnya teh hangat aja." pelayan bernama Dona menulis pesanan Andre di secarik kertas.


Pelayan wanita itu mengangguk dan berlalu dari hadapan Andre yang segera menyusul Yesi. Di tangga atas ia berpapasan dengan Ayah Yesi.


"Eh, nak Andre. Om pikir kamu udah lupa jalan kesini buat nganterin Yesi pulang!" ledek Om Wibisana. Andre garuk garuk kepala yang tak gatal sambil nyengir.


"Mana gak bisa dihubungi lagi. Hari ini rencananya Om mau ke kantor polisi buat laporan kalau anak saya diculik seorang pria!" candanya lagi.


"Hehehe, maaf Om! Kemarin itu hujan angin terus banyak petir juga, jadi Yesi saya minta nginep di sana. Kemarin itu sama sekali gak ada sinyal buat ngubungin om sama Tante, sekali lagi maaf!"


"Om tenang aja, kita gak ngapa ngapain, kok. Sumpah!" mengacungkan dua jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V.


"Huuush! Dasar, bocah tengil!" hardik Om Wibisana malah membuat Andre terkekeh.

__ADS_1


*****


"Dini, ikut aku ke atas!" titah Romi pada mantan adik iparnya. Ia berjalan lurus menuju ruangannya di lantai atas. Dini mengikutinya dari belakang.


Kini mereka telah masuk ke dalam ruangan itu. Dengan keras Romi melempar kunci mobilnya ke atas mejanya yang berlapis kaca, hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Ia lalu berbalik dan berkacak pinggang didepan Dini.


"Maunya kamu apa, Din? Kamu ngerengek minta kerjaan udah aku kasih. Kamu bisa nggak sih kerja yang bener!" sentak Romi dengan muka merah. Berkali kali ia mendapat laporan tak mengenakkan sejak adanya Dini di tokonya.


"Masa, dua minggu kamu disini yang ada semua pada ngadu, kalau kamu itu cuman ongkang ongkang doang. Gak mau kerja. Sering bikin masalah sama karyawan lama lagi." Kalau karyawan lain yang hengkang dari situ, ia pasti bakal kerepotan membuka lowongan kerja lagi. Selama ini mereka cukup loyal dan bekerja dengan baik tanpa banyak keluhan.


"Bukan begitu, mas Romi!" Dini tersenyum manis berusaha mendekat. Senyum yang mirip dengan senyum almarhumah istrinya yang membuat Romi terhenyak sejenak. Dulu ia bertekuk lutut melihat senyum Dina yang manis, tapi tidak untuk adik iparnya. Ia berusaha menetralkan perasaannya, sekarang ini hanya senyum Yulia yang begitu ingin selalu ia lihat tiap harinya.


Dini mendekat dan tak disangka oleh Romi ia melingkarkan tangannya di lengan Romi yang masih berkacak pinggang. Namun Romi langsung menepisnya. Ia tak mau ada salah paham jika ada orang yang tahu. Apalagi kalau sampai istrinya melihat.


"Apaan sih! Jangan pegang. Dan jangan coba coba merayuku pakai wajah innocent mu itu. Gak mempan." ia menunjuk kening Dini yang langsung mengaduh.


Sebenarnya ia merasa sayang pada Dini, sebagai tanda kutip 'seperti adiknya sendiri. Bagaimanapun juga ia adalah adik almarhumah wanita yang pernah mengisi hatinya. Dan sebagai tantenya Shila. Namun kelakuan Dini sejak dulu sangat tidak disukai Romi dan juga Dina, ialah ia suka menghamburkan uang, berfoya bersama teman temannya


Dini mendesah kecewa.


Bercampur rasa kesal.


"Ternyata mereka tukang ngadu semua ya?" Omelnya.


"Di toko ini full cctv, Dini. Walaupun mereka gak ngadu, aku tetap tahu bahwa kamu kerjanya gak pernah bener!"


"Mas Romi, bukan seperti itu maksud aku. Aku tuh adik iparnya mas Romi, masa cuman jadi pelayan. Harusnya aku yang di kasir, bukannya si Fani mas!"


"Aku tuh udah jatuh sejatuh jatuhnya, hikkks hikkks! Aku dicampakkan suamiku setelah ia mendapat wanita baru!" Alih alih merasa iba, Romi malah tersenyum sinis.


"Lalu sekarang, aku cuma bisa kerja jadi pelayan. Betapa malangnya nasibku! huuuu!" Mata Dini berkaca kaca.

__ADS_1


"Aku gak akan iba melihat air mata buayamu itu, Dini. Yang jelas, kalau kamu gak mau jadi pelayan, ya jangan kerja di aku. Dan jangan harap aku serahkan bagian kasir ke kamu!" Tuding Romi begitu kesal.


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2