Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 48


__ADS_3

*****


"Cinta yang sesungguhnya itu, adalah rasa dimana kita akan membiarkan orang yang kita cinta itu bahagia. Walaupun kebahagiaannya bukan bersama kita."


"Cinta menuntut kerelaan, untuk ia memilih dengan siapa atau dengan apa ia akan merasa bahagia."


"Oiya, bukankah dia menikah hari ini, kau tak ingin mengucapkan selamat untuknya?" Wahyu menunduk.


"Apa aku sanggup, Yah?" Pak Adnan mengguncang bahu Wahyu.


"Aku tahu anak Ayah kuat. Anak Ayah bukan pengecut. Jika kau mau kesana, pergilah! Biar bayi ini disini bersama Ayah!" Wahyu bimbang, namun sejurus kemudian dia menuju lemari pakaiannya. Setelah menemukan baju yang ia rasa pantas untuk dipakai kondangan, ia segera memakainya.


"Yah, Wahyu pergi dulu, ya! Titip Rayyan!" Wahyu sudah terlihat rapi dan buru buru keluar dari rumah.


Didepan pintu, ia berpapasan dengan ibunya yang baru pulang entah dari mana.


"Wahyu, Minggu Minggu gini, kamu mau kemana? Kok kayak mau kondangan gitu?" Wahyu hanya menoleh sebentar, namun tak menghentikan langkah lebarnya menuju mobil di halaman rumah.


"Wahyu titip Rayyan Bu! Ada teman yang menikah!" Bu Adnan hanya bengong di depan pintu.


Mau kemana dia?


Wahyu POV


Aku tahu hari ini Yulia, mantan istriku akan menikah. Ah, ya Tuhan mengapa? Mengapa sudut hatiku terasa ada yang kosong, hampa! Ada sisi lain pula yang berdenyut nyeri. Aku tahu aku salah, aku menyesal. Andai aku tak malu, aku ingin merengek dan bersimpuh didepannya untuk mau kembali padaku waktu itu. Waktu aku datang ke rumahnya seminggu yang lalu.


Tapi tidak!


Ada seorang pria yang terlihat posesif saat pertama kali kami bertemu di mall. Yang saat itu aku bersama Wida yang sedang hamil enam bulan.. Aku tak menyangka akan bertemu kembali dengannya, bersama seorang pria dan anak kecil. Mungkinkah mereka menjalin tali asmara?


Untuk menutupi rasa gugup aku mencacinya. Sungguh, hatiku juga terasa sakit, seperti cacian yang aku lontarkan, aku pula yang menerima cacianku sendiri. Seperti bola yang memantul mengenai diriku sendiri. Di depan istriku, Ahhh! Walaupun sudah jadi mantan, nyatanya aku adalah pria yang paling buruk di matanya. Ya, aku suami yang buruk.


Saat dia bersama sebagai istriku, ibu selalu saja mengumbar keburukannya, dia begini lah, dia begitu lah. Aku sering marah marah padanya, dan pada puncaknya emosiku tak dapat di kendalikan saat suatu hari pulang aku dalam keadaan kacau dan lapar, tapi sepertinya dia lupa atau pura pura lupa, aku benci yang namanya sayur lodeh kacang dan terung. Tapi hari itu ia masak dua jenis sayur itu, maka meluaplah amarahku.


Dan saat itulah aku sudah tak bisa mengendalikan diriku lagi, aku pergi dari rumah. Aku pergi ke rumah ibuku dan di sana suasana hatiku makin panas. Ibu laksana pembawa kayu bakar, sekali pantik saja api akan menyala, makin membesar dan meletus. Meluapkan lahar panas yang ada di hati.


Sejak saat itu ibu lebih getol mendekatkan ku dengan Wida, anak teman ibu. Dan ternyata ibu dan mantan mertua tiriku sama sama berhati jahat.


Entah bagaimana sebabnya, saat aku dan ibuku bertandang ke rumah mereka, mereka mengajak makan kudapan, setelah itu aku tak tahu lagi, tiba tiba pandanganku gelap. Dan saat membuka mata, kudapati diriku tidur dengan Wida, tanpa mengenakan sehelai benangpun.


Aku bingung dan panik, aku benar benar tak sadar dengan apa yang aku lakukan. Kalau dibilang terlalu bodoh dan naif, ya! Aku akui itu.


Aku bodoh.


Sangat bodoh.

__ADS_1


Dan karena peristiwa itu, tak ada alasan lagi aku untuk tidak mau menikahinya. Pada awalnya aku terpaksa, namun lama kelamaan menjadi sebuah kebutuhan. Aku seperti kecanduan dan melupakan Yulia hingga aku jarang pulang, hanya sesekali saja. Aku pun tak memberi uang yang banyak padanya, entah cukup atau tidak, tapi saya yakin tidak. Tapi ia tak berani mengeluh.


Karena jika dibandingkan, akumulasi pengeluaran untuk makan saja aku 2 kali lipat dari uang yang ku berikan padanya. Belum lagi uang kebersihan, uang listrik, uang air dan lain lain. Saya yakin tak cukup, tapi Yulia tak pernah mengeluh berkata kurang. Entah darimana ia mendapatkan uang tambahan aku tak tahu. Bahkan sampai saat ini.


*****


Tak terasa hampir tiga puluh menit perjalanan, aku tiba di depan gang rumah ibunya Yulia, mantan mertuaku. Masih terlihat beberapa mobil dan sepeda berjejer, terparkir dengan rapi.


Syukurlah ternyata acara memang belum selesai. Segera ku parkirkan mobilku. Seorang juru parkir memberi aba aba dimana aku harus memarkirkan mobil, aku pun mengikuti petunjuknya.


Aku ambil kado yang aku bawa dalam perjalanan tadi, bukan barang mewah memang. Hanya sekedarnya saja.


Aku langkahkan kakiku menuju tempat resepsi, ternyata sepasang pengantin itu sedang unjuk pamor. Ya, Yulia memang suka menyanyi, dulu aku sering mendengar ia mengerjakan sesuatu sambil bersenandung. Tapi setahun belakangan aku sama sekali tak pernah mendengarnya lagi, aku sering pulang telat bahkan tengah malam. Kadang aku hanya sekedar mampir saja, tak pernah ku dengar lagi nyanyiannya.


Mereka sepertinya begitu menghayati lagu yang mereka nyanyikan. Lagu itu, seperti mewakili isi hati mereka.


Ketika pertama ku jumpa denganmu


bukankah pernah ku tanyakan padamu kasih


takkan kecewakah kau pada diriku


takkan menyesalkah kau hidup denganku nanti


Memang kau bukan yang pertama bagiku


pernah satu hati mengisi hidupku dulu


dan kini semua kau katakan padaku huuu


Semua terserah padamu aku begini adanya


ku hormati keputusanmu apapun yang akan kau katakan (kau katakan)


sebelum terlanjur kita jauh melangkah, kau katakan saja


Dan katakan padaku


jangan ada dusta di antara kita


Memang kau bukan yang pertama bagiku


pernah satu hati mengisi hidupku dulu


dan kini semua kau katakan padaku huuu

__ADS_1


Semua terserah padamu aku begini adanya


ku hormati keputusanmu apapun yang akan kau katakan (kau katakan)


sebelum terlanjur (sebelum terlanjur) kita jauh melangkah


kau katakan saja huuu uuuu


Sebuah tembang lawas yang dinyanyikan secara duet, dinyanyikan dengan apik oleh keduanya. Suara suaminya juga lumayan oke rupanya.


Para tamu dan semua yang ada di acara itu memberikan standing aplause


pada sepasang pengantin, tak terkecuali aku. Sepertinya mereka belum menyadari kedatangan ku.


Dengan bergandengan tangan dan senyum bahagia terpancar mereka turun dari panggung kecil, menuju tempat pelaminan.


Aku yang semula berdiri di luar tenda segera melangkah masuk. Masa bodo lah, jika ada orang yang mengenaliku sebagai mantan suaminya. Yang penting niatku baik, hanya ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru, sembari berdoa supaya kehidupannya lebih baik daripada saat bersamaku.


Yulia dan suaminya terlihat terkejut saat aku naik ke pelaminan dan menyalami keduanya. Sorot netra lelaki itu, yang jadi suaminya sekarang, benar benar menunjukkan rasa tidak sukanya padaku. Aku tak ambil peduli,


Aku dan Yulia sudah berakhir. Tak ada alasan dia untuk mencemburuiku.


Setelah mengucapkan selamat dan menyerahkan kado, aku segera turun dan pergi begitu saja, aku hanya mengangguk saat penerima tamu memintaku untuk mengambil makanan, dan aku langsung pergi.


Dan hanya satu yang tertinggal, kenangan. Namun kenangan yang aku tinggalkan begitu buruk.


Kini, tiada lagi kesempatan untuk aku memperbaiki kesalahan ataupun menebus kesalahanku pada Yulia, semua telah berakhir. Tak ada jalan lagi menuju kesana.


Namun aku merasa lega, karena Yulia tak membenciku, dan aku berharap pria itu memperlakukannya lebih baik dari aku.


Kini saatnya aku melangkah, aku tak akan menyia nyiakan lagi apapun yang aku punya. Sekarang aku punya anak, akan aku jaga dia, sepenuh hatiku.


\=\=\=\=\=\=\=


Ehehe....kemarin othor cuma becanda...bilang mo namatin...


Tentu saja nggak ya...


Kan judulnya aja bukan wanita mandul, tentu harus ada bukti dong kalau Yulia suatu saat nanti hamil dan punya anak....


Cuman othor rada resah nih....


Ga ada yang kasih kopi biar jadi temen melek mata othor buat begadang .....


Hmmmmm.....

__ADS_1


__ADS_2