Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 50


__ADS_3

*****


Yulia memandang ke luar mobil. Sudah lebih setengah jam lebih mereka berkendara, ternyata mereka telah berada di pesisir pantai. Di sepanjang jalan yang terlihat adalah hamparan laut yang biru.


Ini kan hampir malam, ngapain juga ke pantai? pikir Yulia.


Menjelang Maghrib mobil yang dikendarai Romi dan Yulia berbelok dan saat Yulia membaca, ternyata itu adalah sebuah hotel.


"Apa yang di maksud hadiah dari dek Mima itu menginap di hotel, mas?" Romi hanya tersenyum simpul. Kini mobil telah terparkir dan mereka pun keluar.


Oalah ternyata ke hotel, aku kan gak pernah ke hotel.


Romi menenteng tas ranselnya dan menggandeng tangan Yulia menuju meja resepsionis hotel. Setelah mendapat akses untuk untuk masuk, Romi menggandeng lagi tangan Yulia menuju lift, karena kamar mereka berada di lantai tujuh.


"Eh, tunggu mas, aku kan gak bawa baju. Kita ambil koperku dulu ya di mobil?" Romi menggelengkan kepala.


"Sudah, gak usah khawatir. Di tasku ini sudah aku siapkan juga baju kamu." Romi menarik tangan Yulia yang berhenti.


"Tapi mas, mukenanya juga. Ini kan Maghrib, mukenanya ada di koper!" Romi menghentikan langkahnya. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah, ambil dulu!" mereka pun berbalik. Beberapa saat kemudian kembali lagi menyusuri lobi hotel menuju sebuah lift, naik ke lantai tujuh. Di dalam lift ada beberapa orang pria di sana, hanya Yulia satu satunya wanita. Terlihat oleh Romi seorang diantaranya melirik Yulia, ia lalu memeluk bahu Yulia namun tatapannya lurus ke depan.


"Mas, apaan sih. Malu banyak orang peluk peluk!" bisik Yulia agak berjinjit. Sedangkan Romi memiringkan kepala agar bisikannya jelas di telinga.


"Biarin lah! Biar mereka tahu kamu punya aku seorang!" ucapnya dengan bibir hampir menempel di pipi Yulia hingga orang yang memperhatikan nya langsung melengos. Misi terselesaikan.


Yulia memandang takjub kamar hotel yang baru mereka masuki, yang baginya tergolong mewah.


"Kamarnya bagus, mas!"


"Maaf, cuman begini. Bukan suite room. Tapi aku jamin view nya gak mengecewakan, mau lihat sekarang?"

__ADS_1


tawar Romi membuka gorden dan terlihatlah dibawah sana pemandangan yang tak akan ditemukan di tengah kota.


"Maghrib dulu saja mas, waktunya cuman sebentar!" Yulia mengingatkan kewajiban pada sang Pencipta.


"Sebentar aja, gak sampai lima menit, kemarilah! Lihat sebentar," ujar Romi setengah memaksa. Yulia pun mendekat dan memang benar pemandangan terlihat indah. Yulia tersenyum senang melihatnya.


Tiba tiba terasa sebuah tangan melingkar di pinggangnya, dan menghirup aroma dirinya dari belakang, hingga tengkuknya terasa geli karena helaan hangat nafas sang suami. Ternyata Romi menyibak kerudung bagian belakangnya.


Yulia menggerak bahu saat tubuhnya merasa meremang, sekarang bukan hanya nafasnya saja yang terasa, namun kecupan kecupan basah dengan tubuh yang menempel sempurna di belakangnya membuatnya berpikir untuk melepaskan diri.


"Iih, mas! Maghrib dulu, keburu habis waktunya!" Yulia berusaha melepaskan diri dengan membuka kaitan kedua tangan Romi. Namun bukannya lepas, kedua telapak tangan itu malah menempel di dada, menemukan sesuatu di sana yang akan membuatnya kecanduan. Helaan nafas Romi pun terdengar berat.


"Pas, susunya!" gumam Romi sambil terkikik.


"Mas Romiiii...!" pekik Yulia. Kalau sudah begini bisa bisa mereka kebablasan. Yulia mencubit tangan itu membuat Romi mengaduh dan melepaskan tangannya, namun tak berhenti disitu saja. Romi membalikkan tubuh Yulia menghadapnya. Mata itu terlihat sayu karena hasrat yang telah menggebu.


"Maas! Maghrib dulu ya! jangan begini, masih banyak waktu buat kita melakukannya. Please!" Yulia memelas dan memohon.


"Tapi kamu harus di hukum atas kelancangan kamu nyubit tanganku. Cium dulu sini!" Romi menunjuk bibirnya.


Dengan nafas tersengal, Yulia menjauhkan dirinya dan menatap suaminya tajam.


"Iya iya, ayo Maghrib dulu. Habis itu kita nyari makan di bawah!" Romi tertawa melihat ekspresi Yulia yang kini mengelap bibirnya yang basah akibat perbuatan Romi dengan tangan.


Selesai shalat Maghrib Yulia melihat jam. Lima belas menit lagi masuk waktu isya, ia pun meminta izin Romi untuk membaca Kitabnya yang selalu ia bawa dalam tas. Ia membaca dengan hikmat sampai menjelang waktu isya, Romi mendengarkannya sambil berbaring diatas bed, menyangga kepala dengan satu tangan menghadap Yulia. Bagi Romi suara Yulia begitu merdu melantunkan Ayat demi ayat. Dan setelah menjelang isya mereka segera menunaikannya.


Sehabis isya mereka bermaksud untuk turun ke restauran untuk makan malam. Romi telah rapi dengan pakaiannya casualnya sedangkan Yulia masih didepan cermin mengenakan kerudung segi empat, menyematkan pin dibawah dagunya.


"Sini, coba aku pakein penitinya!" ucap Romi berdiri merebut peniti lalu membungkuk di depan sang istri.


"Ih, mas. Mana bisa mas makein peniti. Bisa bisa kena kulitku!" Yulia berusaha meraih peniti yang di rebut Romi dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya ia gunakan untuk menahan kerudungnya. Dengan sigap Romi menjauhkannya.

__ADS_1


"Bisa..! makanya aku coba dulu. Sini...!"


Ckkkk!


Yulia pun hanya bisa pasrah. Ia membiarkan Romi menyematkan pin pada bawah dagunya. Wajah Yulia yang mendongak dan Romi yang menunduk membuat wajah mereka begitu dekat. Bahkan nafas mereka beradu, menerpa wajah satu sama lain.


"M _mas...!" Yulia begitu gugup, ia memundurkan wajah. Namun tangan Romi mencegahnya, menyusupkan tangan pada belakang leher Yulia. Tanpa perlawanan yang berarti, kejadian tadi sebelum shalat Maghrib berulang kembali. Namun kali ini Romi melakukannya lebih lembut, dan dalam.


Membuat Yulia begitu terbuai, dan memejamkan mata. Lama lama ci*man berubah, menjadi menuntut, lagi dan lagi.


"M_ mas Romi, katanya mau makan malam!" Yulia mengingatkan Romi ketika tautan bibir terlepas, sebelum semuanya terlambat. Tapi sepertinya otak suaminya sudah dipenuhi hasrat dan tak merasa lapar perut lagi. Namun lebih ke lapar untuk menuntaskan hasrat yang telah lama tak tersalurkan.


"Aku ingin makan... kamu dulu!" ucapnya dengan nafas memburu. Ia pun lalu menyatukan bibir lagi, sembari menggiring sang istri menuju pembaringan.


Kini Yulia berada di bawah kungkungan tangan kokoh Romi, wajah mereka begitu dekat, saling menatap sembari tersenyum. Kerudung yang dikenakan Yulia pun sudah kusut dan terbang ke sisi pembaringan. Padahal ia sudah tak ada pakaian ataupun kerudung cadangan yang dibawa ke dalam kamar hotel. Yulia menangkupkan kedua tangan pada pipi pria diatas tubuhnya.


"Sekarang ya, sayang!" tawar Romi, namun sebenarnya bukan sebuah penawaran. Karena walaupun Yulia menolak pun semua akan terjadi saat itu juga.


"Tapi aku lapar, mas Romi sayang!" Romi menyeringai mendengar Yulia memanggilnya sayang.


"Iya. Nanti sehabis ini kita makan. pasti akan terasa lebih nikmat makannya, karena kita benar benar merasa lapar! Sekarang aku maunya makan kamu dulu!"


Romi untuk ke sekian kali menyatukan lagi bibirnya, membuat Yulia mengalungkan kedua tangan ke leher suaminya. Puas dengan bibir Romi lalu menelusuri seluruh wajah, turun ke bawah, menyapukan bibir dan lidah pada setiap inci leher, dan meninggalkan jejak kemerahan bahkan di setiap kulit yang bibirnya hinggap. Matanya sayu, tubuhnya memanas dengan wajah kemerahan menahan rasa ngilu dibawah sana yang ingin melakukan penyatuan.


SKIP.....


*****


Yulia membuka mata, rupanya ia tertidur saat telah memuaskan hasrat sang suami sebanyak dua kali, perutnya terasa perih, seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia baru ingat kalau belum makan malam tadi.


Ia menoleh ke sebelahnya. Romi tak ada di tempat tidur. Kemana dia, setelah membuatnya lemas tak berdaya karena kelakuannya dan juga karena kelaparan?

__ADS_1


Teganyoooo...Romi....


\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2