Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 62


__ADS_3

******


Tetaplah menjadi baik walau keadaan tidak baik baik saja. Tetap sabar walau keadaan memaksamu untuk marah, dan juga ikhlas, semoga berkah.


quote by Rizz qr. jendela literasi kita.


Kehidupan diibaratkan roda yang terus berputar. kadang di atas dan kadang juga di bawah. Ada saatnya kita bahagia, ada saat pula sedih dan menderita. Oleh karena itu mari tidak berlebihan menyikapinya.


Bila mendapat kebahagiaan bersyukurlah.


Bila mendapat atau mengalami penderitaan bersabarlah.


quote by Esti Yuliani


******


Hari ini adalah hari yang di rasa begitu berat buat Wahyu. Ia merasa menjadi orang yang paling malang di dunia. Dunia seakan mau runtuh, saat mengetahui kenyataan yang terjadi.


Pikirannya buntu semenjak malam itu, berusaha memejamkan mata namun rasa kantuk tak jua menghampiri. Dia bisa memejamkan mata sekitar dua jam setelah subuh.


Ia ketiduran masih dengan memakai sarung dan baju Kokonya, hanya menanggalkan kopyah lalu menghempaskan diri di ranjang yang tak terlalu besar. Rasa pening yang mendera membuatnya pun terpaksa meminta izin tak masuk kantor.


Seharian Wahyu tak keluar dari kamar, tubuhnya serasa remuk terutama di bagian tangan kanannya yang terluka. Terlebih lagi hatinya. Ini adalah harga yang harus ia bayar, setelah selama ini membuat kesalahan yang fatal dalam hidupnya.


Terbayang dalam benaknya saat ia bertemu Yulia pertama kalinya, mereka bertemu karena sesama karyawan pabrik, Wahyu sebagai managernya dan Yulia bekerja di bagian pengepakan.


Saat pulang kerja, Wahyu menunggui Yulia di depan pintu masuk pabrik, walau hanya sekedar berbincang atau bertanya sesuatu membuat moodbooster Wahyu bertambah setelah bertemu dengannya. Saat itu ada staf Wahyu yang terang terangan menyukainya, namun tak ia gubris, hingga gadis itu mundur dengan sendirinya.


Tiga bulan sejak proses pedekatenya pada Yulia, ia memberanikan diri melamar pada ibu Yulia. Yulia yang juga kepincut dengan Wahyu, bahkan tak menghiraukan ibunya yang terlihat tidak begitu menyukai Wahyu. Entah apa sebabnya, padahal Wahyu sudah sedemikian rupa bersikap manis di depan ibunya. Tapi Bu Adnan, sedari awal tak menyukai Yulia dan pertama kali bertemu Bu Kanti sikapnya pun terlihat begitu arogan. Terlebih saat melihat rumahnya, Bu Adnan hanya tersenyum sinis, dan dari gerak tubuh dan wajahnya ia terkesan i merasa jijik jika di rumah Yulia.


Hingga saat setelah menikah, ia langsung memboyong Yulia ke rumah yang di belinya dengan cara kredit, yang empat bulan kemudian sudah lunas.


Tok tok tok.

__ADS_1


Pintu di ketuk setelah tak terasa Wahyu masuk ke alam mimpi lagi pagi itu, tadi ia menggenggam foto Yulia yang sebenarnya masih ada di dalam dompetnya, foto saat hari bahagia mereka.


Ia menyembunyikan foto Yulia di bawah bantal, lalu segera bangkit dan membuka pintu. Ia menguap setelahnya.


"Ma_maafkan sa_ saya pak Wahyu. Saya cuman khawatir terjadi apa apa sama pak Wahyu, dari tadi malam tidak keluar kamar. Sarapan juga terlewat pak, udah hampir jam makan siang ini!" Imah mengatakannya dengan menunduk, takut Wahyu akan memarahinya karena telah mengganggu.


Wahyu menatap jam dinding di kamarnya. Lagi lagi ia menguap, bahkan keluar air mata dari sudut matanya.


"Iya, aku sedang pusing, Imah. Aku juga nggak selera makan, tubuhku rasanya sakit semua!"


Terlebih lagi hatiku.


Imah mendongak, namun sedetik kemudian menunduk lagi.


"Apa perlu saya balikan obat di apotek pak, kalau sakit jangan dibiarkan lama lama! Nanti bertambah parah.


Wahyu mengangkat tangannya, ia lupa kalau tangannya terluka. Hingga lukanya tertangkap oleh mata Imah.


"Ah, ini gak apa apa, cuma luka sedikit. Oiya nanti aku mau ke rumah sakit, mau konsultasi ke dokter saja." katanya sambil menutup pintu.


"Kamu masak, Imah?"


"Iya pak, saya sudah siapkan di atas meja sejak pagi tadi, karena saya pikir bapak sarapan. Biar saya panaskan dulu, ya pak!" Imah mendahului Wahyu menuju meja makan. Namun Wahyu mencegah Imah untuk memanasi sayur.


"Sudah, gak apa-apa sayurnya dingin. Yang penting nasinya panas, kan? Gak baik kalau sayur di panaskan!" Imah pun mengurungkan niatnya untuk ke meja makan mengambil sayur.


Wahyu makan dengan ogah ogahan. Namun ia harus mengisi perutnya, agar jangan sampai ia sakit. Akan sangat repot jika ia sampai sakit.


Butuh tenaga ekstra untuk menghadapi kenyataan pahit.


Wahyu sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit, ia berencana untuk melakukan tes DNA, untuk mengetahui apakah benar yang di katakan Wida dalan suratnya tadi malam, bahwa Rayyan bukanlah anak kandungnya.


"Imah, mana Rayyan?" tanya Wahyu dengan kencang.

__ADS_1


"Baby Rayyan sedang tidur di kamar saya, pak! Tadi malam bapak mengatakan kalau tidak mau mendengar Rayyan menangis, jadi dia saya bawa ke kamar saya." tanpa menjawab Wahyu pergi menemui baby Rayyan dan mengambil sedikit dari rambutnya dengan menggunting di bagian belakang kepala. Ia juga mengambil sedikit dari kuku Rayyan, setahu dia, tes DNA bisa di lakukan dengan cara itu.


Sesampainya dirumah sakit ia menemui dokter spesialis genetika, setelah membuat temu janji terlebih dulu. Namun, saat dokter memberitahu jika untuk melakukan serangkaian tes DNA memerlukan biaya sekitar sepuluh_an juta, ia menjadi ragu. Apakah ia akan meneruskan niatnya, atau membiarkan saja keadaan ini.


Ia sudah membulatkan tekad untuk tetap menyayangi Rayyan, meskipun ia bukan anak kandungnya, ia hanya ingin kepastian. Dan saat ini tak ada yang bisa ia mintai petunjuk tentang kebenaran kecuali melalui tes.


Baiklah, sepuluh juta tak masalah. Aku ingin memastikannya, meyakini kalau dia anakku. Kamu bohong Wida, dia anakku. Cuma anakku. Aku bapaknya! bibirnya bersikeras mengucap itu, walau hatinya meragu.


Setelah keluar dari rumah sakit, ia menuju bank terdekat untuk mengecek ATM yang ia temukan dalam amplop tadi malam.


Dan Wahyu melotot tak percaya, di dalam ATM itu tersimpan uang dengan angka sepuluh digit. Harta warisan sang ibu yang telah meninggal sebelum ayahnya menikah lagi. Semua aset punya ibunya di uangkan dan di tabung oleh ibunya sebelum sakit dan diatasnamakan Wida.


*Ternyata ia cukup kaya.


Baiklah, uang yang tersimpan adalah hak milik Rayyan*.


*****


Dua Minggu telah berlalu, kini saatnya Wahyu mengambil hasil tes. Dengan hati berdebar dan berharap Rayyan adalah anak kandungnya.


"Gimana dok, hasil tesnya?" tanya Wahyu tak sabar di depan dokter setengah baya di depannya. Dokter yang masih membaca hasil lab itu pun menatap Wahyu.


"Pak Wahyu, disini disebutkan bahwa analisa dari hasil tes, menyebutkan bahwa tidak terdapat kesamaan dan tidak adanya kecocokan kromosom antara Anda dengan Bayi Rayyan. Dengan begitu kesimpulannya adalah anda dengan baby Rayyan bukan ayah dan anak kandung!" ucapan sang dokter bagaikan petir yang menyambar di siang hari.


Wajah Wahyu langsung pucat, lututnya lemas, rasanya tak kuat menyangga tubuhnya jika ia berdiri. Walaupun sudah memprediksi dan menguatkan hati jauh jauh hari, namun kenyataan ini benar benar seperti palu godam menghantam dirinya. Rasanya remuk dan sakit terutama hatinya.


Wahyu duduk beberapa saat lamanya di depan ruangan dokter, berusaha menguasai perasaannya sebelum pulang. Untungnya tadi ia sempat membeli minuman berenergi kemasan botol sebelum masuk, di tempat parkir rumah sakit tadi.


\=\=\=\=\=\=\=


Masih lanjuuut karmanya Wahyu...


TBC

__ADS_1


__ADS_2