
"Aku gak akan iba melihat air mata buayamu itu, Dini. Yang jelas, kalau kamu gak mau jadi pelayan, ya jangan kerja di aku. Cari aja kerjaan lain yang sesuai dengan passion kamu. Dan jangan harap aku serahkan bagian kasir ke kamu!" Tuding Romi menekan rasa kesal.
"Dan soal kamu dicampakkan suamimu karena kelakuan kamu yang minus, uang suami kamu habis buat foya foya. Jangan lagi kamu jelekkan mantan suami kamu didepan aku!" imbuhnya. Sedikit banyak ia tahu keadaan mereka di pulau sebrang, karena Romi dan mantan suami adik iparnya itu masih sering saling berkirim pesan. Tapi itu dulu saat ibunya Dina dan Dini masih hidup dan sakit keras. Dari mantan suaminya itu juga Romi tahu Dini enggan pulang, rumah tangga mereka sudah tak baik baik saja, dan kondisi perekonomian mereka di sana sudah tak sebaik dulu. Karena Dini sendiri sulit untuk dihubungi.
"Itu tidak benar, mas Romi! Sungguh, aku tidak seperti yang mantan suamiku tuduhkan!" Dini masih juga berusaha membela diri.
Malah dengan tak tahu malu ia mendekat cepat kearah Romi dan berusaha memeluknya yang sedang duduk dari belakang.
"Jaga batasanmu, Dini!" sentak Romi.
"Atau aku akan berbuat lebih kasar dari ini. Kamu udah dewasa bahkan udah pernah menikah dan punya anak. Kamu harus bisa jaga batasan antara laki laki dan perempuan yang bukan mahram!" sambung Romi dengan nadi tinggi.
Tangan yang sudah melingkar dileher Romi itupun segera ditarik kembali, menciut karena bentakan Romi.
"Santailah, mas! Jangan galak galak sama aku! Aku...!"
"Duduk didepan!" tunjuk Romi pada kursi didepannya yang terhalang meja. Dengan bersungut-sungut Dini bergeser duduk di sana.
"Ok! sekarang gini aja deh, mas Romi.
Mas Romi pasti masih ingat, dulu waktu mas Romi dan mbak Dini memulai usaha ini, mas Romi pinjam dana ke ibu 100 juta, bukan?" Dini tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Romi tajam.
"Kalau kau tidak tahu duduk persoalannya, jangan ngaco!" sahut Romi tak terima. Tatapannya tajam menghujam pada wanita didepannya. Tapi Dini tak gentar.
"Ngaco gimana? Bukannya benar ya, apa yang aku katakan barusan? Dan mas Romi, belum mengembalikan uang itu!" Dini tersenyum merasa mendapat celah.
"Itu artinya, ibuku juga turut andil menyumbang berdirinya toko ini. Jangan gak tahu terimakasih, ya mas Romi!" Dini mulai menunjukkan taringnya. Mengungkit ungkit bagaimana peran orang tuanya dulu ikut berpartisipasi dalam usaha yang dirintis Romi. Saat Romi masih pengantin baru, dan uang yang diberikan pada Romi adalah sebagai pinjaman. Dan itu semua telah dikembalikan pada ibu mertuanya saat ibu mertuanya sakit tanpa sepengetahuan Dini yang saat itu berada jauh diluar pulau bersama suaminya yang katanya pengusaha tambang batubara di pulau sebelah.
Dini menikah lebih dulu ketimbang Romi dan Dina, setelah menikah Dini ikut suaminya pindah ke luar pulau.
Romi mendesah.
__ADS_1
"Uang yang aku pinjam itu, telah habis untuk operasi pasang ring jantung ibu. Dan setahun setelahnya, ternyata ibu juga mengalami gagal ginjal. Dan sebelum mendapat donor ginjal, ibu keburu meninggal Dini!" nada suara Romi lebih rendah, tak lagi meledak ledak seperti tadi.
Dan sayangnya Romi terlalu percaya diri jika tak ada persoalan di kemudian hari, hingga tak ada bukti konkret hitam diatas putih, bahwa ia telah mengembalikan uang yang ia pinjam ke ibu mertuanya.
"Sebagai anak kandungnya, kemana kamu waktu itu, heh! Bahkan waktu itu hanya aku dan ibuku yang menjaga dan merawat Bu Sulis ibumu. Gak malu apa kamu mengungkit hal itu."
"Padahal seluruh harta peninggalan Ayah yang ibu punya sudah kau ambil semuanya, tapi kau dan suamimu malah tak menampakkan hidung saat ibu sakit keras hingga meninggal. Anak macam apa kau ini!" suara Romi terdengar emosi lagi. Ia tak habis pikir dengan Dini, setelah menguras habis harta ibunya, dan hanya menyisakan sedikit uang yang oleh ibu Sulis dibelikan rumah sangat sederhana untuk dijadikan tempat tinggal. Sedang uang yang 100 juta memang ibu Sulis meminta Romi untuk membawanya, karena jika tidak maka uang itu akan jatuh pula ke tangan Dini.
Dan uang itu telah habis untuk biaya operasi dan untuk menutup kekurangannya, Romi membeli rumah sederhana milik mertuanya.
Sebelum sakit, Romi sebenarnya meminta pada neneknya Shila itu untuk tinggal dirumahnya saja, karena tak ada kerabat lain yang bisa menampung dirinya. Namun Bu Sulis enggan dikarenakan ia merasa sungkan pada Bu Alvi, walaupun Bu Alvi sebenarnya tidak keberatan.
"Mas Romi jangan mengalihkan pembicaraan ya! Apa buktinya kalau mas Romi udah mengembalikannya?"
"Sumpah demi apapun, aku telah mengembalikan uang itu, untuk biaya rumah sakit ibu yang tidak sedikit jumlahnya."
Dalam hati Dini percaya, ia tahu operasi jantung tidaklah murah, tapi karena tak ada bukti, ia merasa diatas angin.
"Tanya aja langsung apa maunya, mas! Kalau dia ingin uang, berikan saja. Toh gak akan rugi ngasih ke adik ipar sendiri. Tapi harus disertai bukti, suruh dia tanda tangani sebuah perjanjian! Keutuhan dan ketentraman keluarga kita lebih penting."
Romi tersenyum tipis mengingat perkataan istrinya sebelum ia berangkat tadi.
Ada benarnya juga.
Ccck, tapi aku harus kehilangan sebagian tabunganku buat Dini. Males banget sebenernya.
"Uang bisa dicari mas, tapi daripada nanti kedatangan Dini jadi batu sandungan, malah berabe. Atau gimana kalau pakai uangku aja, yang dulu dikasihkan mas Wahyu sebagai harta Gono gini dan pengganti Iddah?"
Nggak nggak nggak! Uang itu adalah milik kamu, hak kamu seutuhnya. Aku gak berhak pakai uang itu, apalagi ini gak ada sangkut pautnya sama kamu.
Ya udah aku berangkat, nanti kalau Kia rewel lagi telpon aku, ya!
__ADS_1
Ia lalu membuka laptopnya, lalu mengetik sebuah surat perjanjian.
"Mas Romi lagi nulis apaan, sih?" tanya Dini penasaran.
"Tutup mulut kamu!" tanpa mengalihkan tatapan pada keyboard dan layar laptop. Romi terus mengetik, sesekali mengamati hasil ketikannya.
Tak sampai sepuluh menit, ia langsung ngeprint apa yang ia ketik tadi.
Romi lalu menempelkan sebuah materai, membubuhkan tanda tangan, lalu memberi cap stempel pada tanda tangannya. Semua itu tak luput dari pandangan Dini.
"Itu seperti surat perjanjian!"
"Ya!"
"Maaf, Dini. Sebenarnya aku menganggapmu seperti adikku sendiri. Tapi kalau seperti ini dan terus menerus, bisa bisa aku pailit. Usahaku bisa hancur."
"Kita harus menempuh jalur ini!" menyerahkan surat perjanjian pada Dini. Dini menerima dengan rasa heran. Lalu membacanya.
"Aku sudah melebihkan 20 juta dari pinjamanku waktu itu. Untuk biaya pengobatan ibu, sebagai menantunya biarlah itu jadi tanggung jawabku. Kalau memang anak kandungnya sendiri tak bisa." sindir Romi.
"Kok jadi begini, mas! Aku tuh maunya, kita sama sama kelola swalayan ini biar jadi lebih besar lagi! Atau siapa tahu kita bisa buka cabang!" Dini merasa kecewa. Apa yang diharapkan sama sekali tak sesuai dengan isi perjanjian. Inti dari surat perjanjian itu adalah, dirinya sudah mengambil hak dia beserta kelebihannya sebesar 120 juta. Dan dia sudah tak ada sangkut pautnya dengan swalayan ini, disertai sebuah ancaman, jika ia melanggar surat perjanjian itu maka ia bisa dijebloskan ke penjara.
"Bagaimana? Kuharap kamu tak keberatan dengan surat perjanjian ini, dan segera cabut dari sini. Aku sudah tak mau lagi berurusan dengan kamu."
"Silakan tanda tangan, dan aku akan mentransfer uangnya."
"Ah, gak mau! Pokoknya aku maunya ikut terlibat disini. Walaupun sebagai kasir. Ya, bagian kasir serahkan padaku, dan kita impas!" Dini tetap ngeyel dengan pendiriannya. Romi menahan geram.
"Aku sudah berbaik hati, Dini! Jangan sampai aku berubah pikiran."
"Aku lebih percaya sama Fani. Dia udah bertahun tahun kerja sama aku, dan gak ada masalah yang berarti selama ini. Kasir tetap Fani yang pegang!"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=