
******
Selamat Hari Raya Iedul Adha 1442 H.
Teruntuk teman teman pembaca semua, ditengah pandemi yang mewabah ini, banyak diantara kita yang tidak bisa merayakan hari raya Iedul Adha bersama sama.
Marilah kita berdoa semoga keadaan ini segera berlalu, dan negara kita Aman tentram Sentosa. Aamiin
*****
Akan ada saatnya, dimana sesuatu hal tidak sejalan dengan yang kita mau. Tapi kita harus tetap melangkah untuk mencapainya, life must go on. Istilah kerennya.
Sakit memang, pahit memang dan juga, melelahkan. Namun semua diluar kendali kita sebagai manusia biasa. Namun janganlah di biasakan terus mengeluh. Terus saja melangkah, disertai usaha dan doa untuk tercapai di titik tujuan hidupmu.
****
Romi dan Shila melangkah ke rumah Yulia. Tatapan Romi tak lepas dari pria yang pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu.
Bukannya itu mantan suaminya Yulia ya? Kok bawa bayi? mau apa dia disini? Romi.
Romi dan Shila berjalan mendekat ke arah pintu rumah. Matanya tajam menatap pria yang bangun dari bersimpuhnya dengan menggendong bayi. Rahangnya mengeras, bisa bisanya laki laki ini datang, dengan membawa anaknya pula. Disaat pernikahannya dengan Yulia di depan mata.
"Assalamu'alaikum, bundaaaa! Shila dataang!" Shila mengucap salam, tak perduli dengan sekitarnya. Ia langsung melangkah masuk, sedang Romi berdiri tepat di depan Wahyu.
"Ada apa lagi anda datang kemari, Bung? Belum puas anda mencaci Yulia waktu itu!"
" Saya gak ada urusan dengan anda!" Wahyu merapikan tas yang ia bawa, dan juga bayinya yang telah tidur kembali.
"Heh, sombong sekali anda! Udah jadi mantan juga!" Romi tersulut emosi. Kata kata lelaki itu menguji kesabarannya.
"Sekarang jangan harap lagi, anda bisa mencela, apalagi menyentuh Yulia. Karena dia calon istri saya!" menuding dengan jarinya ke wajah Wahyu dan tatapan menghunus.
"Memang saya peduli?" Wahyu menjawab dengan ketus dan acuh, bahkan menampik jari Romi yang menunjuk wajahnya. membuat Romi mengepalkan tangan dan hampir melayangkan tinju pada Wahyu yang terlihat pasrah dengan apa yang ingin di lakukan Romi. Jika di saat itu Yulia dan Shila tidak datang dari dalam rumah, bogem mentah pasti sudah melayang.
"Mas Wahyu, saya sudah memaafkan mas Wahyu. Sekarang saya mohon mas Wahyu pergi, saya gak mau ada ribut ribut disini."
__ADS_1
"Tapi Yulia, saya ingin bicara sebentar!" Wahyu mendekat, namun dengan cepat Romi menghadangnya. Berdiri diantara mereka berdua merentangkan tangan.
"Sudah saya bilang, anda jangan ganggu Yulia lagi. Dengar gak sih! kalau kamu gak bawa bayi udah aku hajar kamu dari tadi!" pekik Romi dengan wajah merah menahan marah. Tangannya mengepal erat, buku buku jari tangannya memutih ingin menghajar.
Yulia menahan lengan Romi. Ia tak ingin Romi berbuat di luar batas, apalagi sampai menyakiti bayi dalam dekapan Wahyu.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu, pada mantan istriku, apa itu salah? please, aku hanya ingin bicara sebentar!" Akhirnya Wahyu memohon pada kedua orang yang akan menjadi pasangan suami istri beberapa hari lagi.
"Jangan ribut di rumahku....!" terdengar suara bu Kanti dari dalam. Dari dalam ternyata Beliau mendengar keributan diantara mereka.
"Sudahlah mas Romi, biarkan dia bicara sebentar! Dan setelah ini biarkan dia pergi." Yulia menatap penuh permohonan.
Akhirnya mereka duduk bertiga di sofa ruang tamu, karena Yulia meminta Shila untuk masuk menemani Bu Kanti. Kini mereka duduk berhadapan, Yulia duduk berdampingan dengan Romi dan Wahyu di hadapan mereka.
"Apa yang mau mas Wahyu katakan. Aku sudah tak mau lagi berurusan denganmu. Katakanlah sekarang, kita juga mau pergi, tak ada lagi waktu karena kita lagi buru buru." ucap Yulia tanpa basa basi berharap semuanya segera berakhir dan Wahyu segera pergi.
"Baiklah, saya. saya kesini mau minta maaf pada mu dan juga pada ibu, atas perlakuan saya selama kita menikah. Aku menyesal Yul..."
"Cukup, aku tak mau dengar lagi kata kata penyesalanmu. Katakan to the poin apa maumu datang kesini?" potong Romi. ucapan tajam Romi pada Wahyu membuat Wahyu mendengus. Bayi di di gendongannya juga tak nyaman.
"Saya sudah memaafkan, tapi bukan berarti saya melupakan begitu saja perlakuan mas Wahyu. Dan sekarang, kiranya sudah cukup, tak ada masalah lagi kan, mas?" Setelah ini Yulia berharap mas Wahyu tak mengganggunya saya lagi."
"Baiklah, cukup Yulia! sudah cukup bagi saya kamu mau memaafkan aku. Aku tahu kamu butuh waktu untuk menyembuhkan luka. Dan saya juga tak punya waktu lama, selain saya pribadi minta maaf, saya ingin menyampaikan permintaan maaf almarhumah istri saya Wida untukmu, Yulia. Dia, ingin minta maaf padamu secara langsung, namun semua itu tak kesampaian karena.. karena ia keburu menghembuskan nafas terakhirnya, sesaat setelah melahirkan bayi ini..." ucap Wahyu lemah, Romi terkesiap mendengar penuturan Wahyu. Tak bisa berkata apa apa. Hanya menyimak pembicaraan mereka berdua.
Apa? Jadi istrinya sudah tiada? Wanita yang waktu itu bersama dia di mall. Romi.
Romi merasa deja vu. Apa yang dialami Wahyu sama persis seperti yang dialaminya, istri meninggal saat habis melahirkan. Wahyu berdiri menenangkan anaknya saat anaknya mulai menangis. Rupanya karena dipaksa keadaan, ia jadi lebih lihai mengurus anak bayi seorang diri.
"Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. saya turut berduka cita mas! atas meninggalnya istri mas Wahyu."
Wahyu mengangguk.
"Terima kasih, Yulia atas pengertiannya. Aku tadi bahkan tak berpikir kamu mau memaafkanku. Aku berpikir kamu akan memaki dan mencelaku seperti yang selama ini aku lakukan padamu. Ternyata kamu memang benar benar baik, sekali lagi maafkan aku karena gelap mata dengan menelan mentah mentah apa yang dikatakan ibuku. Mengiyakan apa yang diinginkan ibuku, yang ternyata menjerumuskan ku ke lembah jurang yang dalam. Hingga dengan teganya menceraikanmu secara sepihak, dan menikahi wanita lain yang dipilihkan ibu." Wahyu mengambil nafas setelah bicara panjang lebar. Kini dadanya lebih lega sekarang.
"Selain permintaan maaf, saya... saya juga ingin menyampaikan ini." mengambil sebuah amplop coklat tebal
__ADS_1
" Ini adalah nafkah mut'ah dan nafkah masa Iddah dariku, mohon di terima untuk mengurangi rasa bersalahku. Tak seberapa Yulia, tapi untuk mengurangi rasa bersalahku, terimalah. Dan aku akan pergi setelah kamu menerimanya!"
Romi dan Yulia saling pandang.
Romi mengangguk. Yulia lalu membuka isinya. Matanya melotot melihat lembaran uang berwarna merah yang ia taksir ratusan juta rupiah.
"Tapi, mas! Apa ini tidak terlalu berlebihan. Uang ini sangat banyak." melihat uang segitu banyak secara langsung saja itu Yulia sepertinya baru kali ini.
"Itu sebagian hasil penjualan rumah yang pernah kita tempati bersama. Aku menjualnya dan kembali ke rumah ibu, karena waktu siang hari saat aku kerja tak ada yang merawat bayiku. Sebagian lagi aku simpan untuk anak ini kelak." Yulia menatap sendu bayi itu. Dulu, yang seperti itu lah yang mereka inginkan, hingga berujung pertengkaran dan mertua yang turut campur rumah tangga mereka.
Dan kini mas Wahyu sudah mendapatkannya. Dan aku...hikks
Yulia merasa patah harapan. Hingga saat di perjalanan bersama Romi,ia hanya diam saja.
"Kenapa? masih memikirkan 'mantan' kamu tadi!" nada suara Romi agak sinis di pendengaran Yulia. Di tolehnya laki laki yang bakal bersanding dengannya beberapa hari lagi itu.
"Aku hanya berpikir, mas Wahyu telah mendapatkan apa yang ia mau, anak." menghela nafas.
"Dan aku...." Yulia memalingkan wajahnya, tak sanggup berkata kata.
"Sudahlah, Yulia! biarkanlah hidup mengalir begitu saja. Ikuti saja arusnya. Katamu dulu rahimmu baik baik saja, kan saat periksa kandungan? Yakinlah!"
"Jangan terus terusan berkecil hati. Terkadang apa yang kita pikirkan, apa yang kita khawatirkan, itu yang akan terjadi, akan menjadi kenyataan. Be Possitive thinking aja yah! Harus kau rubah pola pikir"
"Kalau kau benar benar menginginkan, banyak metode yang bisa di tempuh di era modern seperti sekarang. Program bayi tabung misalnya, atau adopsi bayi, bisa aja kan?"
Romi telah memarkirkan kendaraan roda empatnya di halaman sebuah rumah yang cukup luas, yang banyak di tumbuhi bunga bunga yang bermekaran, dan di dominasi berbagai macam anggrek beraneka warna yang membuat Yulia takjub dan mengucap tasbih.
Subhanallah!
Selain itu di halaman rumah juga tampak sebuah mobil terparkir di luar garasi. Sepertinya bukan mobil pemilik rumah, spa sekarang sedang ada tamu?
"Assalamu'alaikum!" ucap Romi sambil mengetuk pintu.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
To be continued