
"Hmmm, seneng bener yang banyak penggemarnya." celutuk Yesi saat dalam perjalanan pulang. Cukup lama mereka terdiam, Andre hanya senyum senyum saat terlihat air muka tak suka Yesi pada Putu.
Tapi ia tak mengatakan apapun. Jika dikata ataupun dituduh cemburu, Yesi pasti menyangkalnya. Andre tersenyum samar, melihat perubahan demi perubahan mimik muka Yesi yang terlihat kesal saat dirinya disapa oleh para gadis.
Pelan pelan, Ndre! Percaya, usahamu tak mengkhianati hasil.
Gumamnya dalam hati.
Seperti nya butuh strategi buat memaksa Yesi mengakui perasaan dihatinya.
Andre memegang stir erat, mengetuk ngetuk dengan jarinya mengikuti irama lagu yang terdengar dari audio mobilnya, sedang Yesi membuang muka kearah jendela saat lampu merah menyala.
Meski bibir ini tak berkata
Bukan berarti ku tak merasa ada yang
berbeda di antara kita
Dan tak mungkin ku melewatkanmu
Hanya karena diriku tak mampu untuk
bicara
Bahwa aku inginkan kau ada di
hidupku
Potongan sebuah lagu dari HiVi yang berjudul 'Siapkah kau tuk jatuh cinta lagi', yang dinyanyikan seorang pengamen jalanan dengar gitar tuanya cukup mewakili rasa dihati Andre, membuat senyum tak pernah pudar dibibir pemuda tiga puluh tahun itu.
Ia lalu mengambil uang pecahan dari laci mobilnya, dan menyerahkan pada sang pengamen jalanan yang membawa bekas air minum mineral untuk wadah uang recehan.
"Makasih, mas!"
"Sama sama!" jawab Andre, lalu pengamen itupun pergi berjalan diantara sepeda motor dan mobil yang berhenti.
"Ndre..!"
"Hmmm!" menoleh sekilas karena Lampu hijau telah menyala, ia harus konsentrasi menyetir, karena dengan seenaknya para pesepeda motor menyalip dengan jarak cukup dekat. Membuatnya seringkali mengumpat, karena ia harus ekstra hati hati jika tak ingin bersenggolan.
"Kok elu diem aja sedari tadi?"
"Lah, kamu juga diam."
"Bicaralah! Biar aku yang dengarkan!"
"Gimana kalau kita mengenang waktu SMA dulu, waktu itu elu...!"
__ADS_1
"Yesi,cukup! Jangan teruskan!" potong Andre. Yesi menoleh dengan alis mengerut.
Sebenarnya, masa sekolah Andre sedikit menyakitkan. Ia seringkali kena kejahilan teman teman sekelasnya. Karena penampilannya yang kurang up to date, dari potongan rambutnya, dengan kacamata tebal yang bertengger di hidungnya, dan ia kurang berkumpul dengan teman yang lain, lebih memilih berkutat dengan buku buku pelajaran atau menyendiri di perpustakaan sekolah.
Itulah sebabnya Andre enggan mengingat masa itu, apalagi jika bertemu teman lama yang mengungkitnya untuk sekedar mengolok dan membuly dirinya. Jikalau orang bilang masa putih abu abu adalah masa yang indah. Banyak cerita yang nantinya bakal jadi kenangan di masa yang akan datang. Tapi tidak bagi dirinya.
"Kamu tahu apa sebabnya, kan? Jadi gak usah diteruskan!" ucap Andre tegas.
"Maaf!"
"Oiya, tapi gue jadi ingat satu hal, Ndre."
"Yang sampai saat ini gue belum sempat minta maaf ke elu!"
"Karena jika gue ingat, gue selalu merasa berdosa, elu telah banyak membantu gue, tapi....!"
"Gue malah bikin elu sedih dan kecewa!"
"Apa itu?"
"Tapi elu jangan marah ya! Ini sebenernya gue juga cuman disuruh. Pelaku utamanya, ya si Willy, ketua geng kelas waktu itu."
"Itu, waktu buku buku elu hilang, sebenernya gue yang ambil. Terus gue serahin si Willy, gue gak nyangka kalau sampai buku buku elu disobek dan dibakar. Gue sih nyesel dan merasa bersalah sebenarnya waktu itu, sumpah!"
"Tapi gue malah diem aja. Gue harap elu maafin gue!" Ucap Yesi dengan raut menyesal. Andre diam sejenak. Namun kemudian ia tersenyum.
" Udahlah, itu kenangan buruk saat sekolah. Sudah kubilang, gak perlu diingat ingat. Gak perlu diungkit ungkit lagi" jawaban tegas Andre membuat Yesi bergumam.
"Syukur deh! Gue juga lega udah minta maaf, gak punya beban rasa salah karena terbakarnya buku elu."
Yesi terdiam, lalu iapun menyadari sesuatu. Ia tak lagi mengingat seseorang yang sudah lama bertahta dihatinya. Seseorang yang hampir sembilan tahun ia tunggu sambutannya, dan saat ini mustahil ia gapai.
Sungguh ajaib. Puji Tuhan, seminggu ini aku tak mengingat Romi sama sekali. Hanya Andre Andre dan Andre. Semenjak pertemuan dengan Andre, perlahan nama Romi bergeser.
Yesi melirik Andre di belakang kemudi. Cukup lama Yesi melirik wajah yang sebenarnya cukup tampan di balik kacamatanya itu.
Apa bener aku sudah jatuh cinta sama dia?
Yesi sedikit tersenyum melihat Andre yang fokus ke jalan raya yang sedang ramai.
Au ah, pusing!
"Kenapa? Apa baru sadar kalau aku ini ganteng?" perkataan cukup narsis sambil tersenyum smirk itu mengejutkan Yesi.
"Apaan sih! Lebay!" ucapnya menutupi rasa malu, walau wajah bersemu merahnya tak dapat disembunyikan.
****
__ADS_1
"Mbak Dini, tolong dong! Toko lagi ramai, kok mbak Dini malah enak enakan main hape?" protes Lasmi mengingatkan Dini, ia sedang mengisi rak rak mie instan yang telah kosong. Bukannya membantu, Dini malah asyik sendiri dengan benda pipihnya.
"Eh, gue bilangin ya! Gue ini adik iparnya mas Romi. Dulu, swalayan ini dibangun dengan dana patungan dengan mbak Dina."
"Jadi, gue ini juga punya hak disini, gue majikan kalian, sebagai gantinya kakak gue. Enak aja elu nyuruh gue kerja. Mau elu gue pecat?" bentakan Dini disertai tudingan jari cukup keras hingga beberapa customer yang sedang ada berbelanja geleng geleng kepala dengan tingkah Dini. Bahkan ada dari beberapa yang saling mendekat dan berbisik Begitu juga Fani pun mendengarnya. Ia menghela napas saling tatap dengan Yeni.
Lasmi hanya bungkam, sembari menunduk ia menata mie instan di rak rak kosong.
"Udah, biarin aja Las! Kerjakan pekerjaanmu, gak usah pedulikan dia!" komentar Fani kemudian dengan raut wajah tak suka pada Dini. Dini lalu mendekati Fani di meja kasir dengan mimik kesal.
"Fan, sini biar gue pegang kasir. Elu sana, bantuin si cerewet Lasmi tuh!" perintah Dini namun Fani menggeleng.
"Enggak Din, Bang Romi udah pesen sama gue jangan tinggalin meja kasir. Kerena ini tanggung jawab gue, Gitu kata bang Romi, jadi gue gak akan serahin ini ke elu!" Fani menuding balik Dini.
"Alaah, itu pasti cuman alasan elu doang! Gue juga bisa kok jadi kasir!"
"Sini gih, serahin ke gue!" kekeh Dini.
Fani meraih ponselnya. Lalu memanggil nomor kontak Romi.
"Eh, elu telpon siapa, mas Romi? Dia pasti setuju, gak udah lebay deh!" sewotnya. Namun Fani tak mengindahkan kata kata Dini dan menepis tangannya yang hendak mengambil hapenya.
"Halo Bang Romi!" sapa Fani saat Romi menerima panggilannya. Ia juga mengaktifkan loudspeaker biar Dini juga mendengarnya.
Dini memutar bola mata.
"Ini bang! Dini ngeyel mo ngasir, boleh nggak?" lapor Fani ke Romi.
"Sudah kubilang Fan, jangan pernah biarkan Dini pegang kasir. Bisa berabe, aku gak percaya sama dia!"
"Tapi ini orangnya ngeyel, bang!"
"Sudah kubilang nggak, kerjaan bakalan gak beres di dia, yakin itu!" Dini terlihat geram.
"Bilang sama dia, atau kasih hapenya ke Dini, biar aku coba ngomong sama dia!"
"Dia juga udah denger kok, bang! Orang ini speaker aku aktifkan. Berarti gak boleh, kan?"
"Sebentar lagi aku kesitu, ini baby Kia lagi rewel, gantian sama Yulia lagi di kamar mandi! Bentar ya!"
****
"Tuh, kan Din. Gue udah bilangin elu ngeyel aja!" Dengan wajah merah padam Dini pergi ke belakang, saat melewati Lasmi ia menatap tajam sembari melangkah. Seolah dengan tatapannya itu ia berkata
"Awas kau!"
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1