
"Fan, si Yesi masih di sini?" Fani yang sedang sibuk di meja kasir menggeleng.
"Gak tahu, bang! Coba tanya tuh sama anak anak!" dan saat itu melintas Yeni yang membawa kardus entah apa.
"Yeni, kamu tahu perempuan yang tadi di mana?" tanya Romi. Yeni yang tahu siapa yang di maksud menunjuk ke atas dengan dagunya.
"Di atas sepertinya, Pak. Saya belum lihat dia turun." Romi mengangguk dan berterima kasih. Lalu dengan kaki panjangnya ia melangkah ke lantai dua.
Di ruangannya terlihat Yesi duduk di sofa dengan tenangnya sambil berselancar di dunia maya.
"Apa apaan kamu bilang begitu sama istri aku? Dasar sontoloyo! Malah enak enakan duduk di sini " semprot Romi tanpa basa basi.
Yesi hanya tersenyum seperti tadi. Nyengir kuda.
"Iya iya, aku cuma becanda kok tadi. Tenang aja, besok atau lusa aku bakal samperin istri kamu buat bilang kalau kita gak ada apa apa!" dengan santainya Yesi bilang seperti itu. Romi mendesah kecewa. Ingin rasanya menjambak rambut jelek milik perempuan didepannya itu. Kalau bukan ia sahabat dari mendiang istrinya, pasti sudah dia usir sedari tadi.
Eittts, bilang rambut jelek. Karena rambut Yesi di warnai coklat sebagian bawah.
"Besok? atau lusa? Kamu tuh ya gak mikir apa kalau istriku itu lagi hamil tua. Bercandanya kamu tuh gak lucu tahu nggak? Tadi aku nyusul pulang gak di bukain pintu kamar." adunya yang membuat Yesi tertawa terpingkal.
"Ahahaha, rasain. Mangkanya jadi laki tuh jangan plin plan. Kamu tahu nggak kenapa aku lakuin itu sama kamu?"
"Enggak," Romi mengepalkan tangannya, andai yang di hadapannya laki laki, ia pasti sudah meninjunya, kalau perlu sampai babak belur.
"Pokoknya aku gak mau tahu ya! sekarang ikut aku dan bilang sama istri aku kalau kita gak ada hubungan apa apa, hanya sebatas teman, oke!"
"Kamu tuh sahabat Dina, hingga aku juga menganggapmu sahabat. Tapi kamu tega ya!" Romi menjambak rambutnya sendiri untuk meredam emosi jiwanya.
"Sudahlah Romi, aku tuh cuma sedikit membalas perlakuan kamu ke aku. Cuman sedikit, gak ekstrim kok. Besok kamu juga baikan ma istri kamu. Cuman, aku pengen kamu ngerasain istri kamu marah terus kamunya tidur di sofa bertemankan nyamuk.hehehe...!" masih saja nyengir sehari tadi.
"Aku lakuin itu sama kamu, karena kamu tuh plin plan. Dulu aku duluan yang bilang cinta sama kamu, eh kamu malah nikahin Dina, ya udah aku ngalah terus pergi. Sakit rasanya orang yang dicinta milih orang lain jadi pasangannya." Yesi meluapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Itu namanya emang gak jodoh. Ada ungkapan kalau laki laki itu berhak buat memilih. Aku milih Dina, itu hak aku. Dan sekarang aku milih Yulia, itu juga hak aku." semprot Romi lagi. Tak terima dikatai plin plan.
"Terus waktu Dina udah gak ada, aku pernah datang ke kamu, waktu Shila umur tiga tahunan, aku datang lagi menawarkan diri buat jadi istri kamu sekaligus ibu sambung buat anaknya sahabat aku sendiri pun kamu tolak. Kata kamu belum siap buka hati buat perempuan lain."
"Terus waktu itu kamu juga janji kalau kamu udah siap nikah lagi, kamu bakal bilang ke aku. Tapi apa? Nyatanya kamu malah kawin sama perempuan lain." Romi seperti mengingat sesuatu.
"Soal itu aku benar benar minta maaf, aku benar benar lupa. Lupakan kalau aku pernah bilang gitu."
__ADS_1
"Dan lagi, pernikahan kami itu karena Shila dan ibu pada awalnya yang minta. Shila yang minta Yulia untuk jadi Bundanya. Dan aku, akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Shila."
"Dan lagi, kalau kau benar benar suka padaku, lalu kenapa kau selama ini pergi tanpa kabar? Tanpa jejak. Memang ada jaman sekarang cinta tapi gak ada komunikasi?"
"Tapi kamu blokir nomer aku, mana bisa aku hubungi kamu?" balas Yesi tak terima.
"Oke oke, jangan kuatir, aku bukan tipe perempuan pelakor ya! Gak usah kuatir, aku gak bakalan ganggu rumah tangga kalian. Aku cuman ngasih sedikit pelajaran buat kamu, di cuekin sama orang yang di cinta itu gak enak tauk. Jadi, nanti malam silakan tidur di sofa. Aku yakin itu. hahaha!" dengan tak tahu malunya Yesi mengatakan itu.
"Eh, apa kira kira aku buat aja istrimu marah sampe seminggu ya!" Yesi menyeringai senang, menggoda suami mendiang sahabatnya. Romi mendengus kesal dan melotot.
"Sia lan kamu! pergi sana, sebelum aku remas mukamu itu kayak kertas kucel ini." Romi menunjukkan kertas ditangannya yang ia remas sampai menjadi bulatan di tangannya.
Setelah beberapa waktu Yesi pergi, Romi ingat sudah waktunya menjemput Shila di sekolahnya. Ia pun bergegas turun dan pergi menggunakan motor Fani lagi buat jemput Shila.
"Ayaaah!!" Shila melambaikan tangannya saat Romi tiba di gerbang.
"Maaf ya! ayah telat jemput!" sesal Romi saat Shila sudah nemplok di belakangnya, rambutnya yang di kuncir dua terlihat agak lepek karena keringat, seragamnya juga terlihat agak basah. Sepertinya Shila habis main lari larian dengan temannya yang sama sama belum di jemput orang tuanya.
"Telat sepuluh menit Yah! Tapi gak apa, Shila ada teman main anaknya Bu guru. Jadi Shila gak sendirian."
"Wiiiuh, anak ayah pengertian banget. Makasih ya sayang. Shila kangen kan sama dedek bayi? Yuk kita pulang!" Romi punya ide menggunakan Shila untuk mendamaikannya dengan sang istri. Yulia pasti gak akan nolak sesuatu yang dipinta Shila. Romi pun meluncur pulang membonceng Shila yang mendekapnya erat dari belakang, Tas berwarna pink dengan gambar kartun kesayangan menggantung di punggungnya.
Dimana mereka.
Tok tok tok
"Yul,...! bukain pintu Yul!"
"Bu... ibu, Romi pulang...!"
Tak ada sahutan.
"Bundaaaa!"
"Nenekkkk! Ssalamualaikum" Teriak Shila bersahutan dengan sang Ayah.
Romi lalu mengambil hape di saku, dan membuka aplikasi pesan.
Ia ingin melakukan panggilan pada istrinya, namun tertarik setelah ada pesan dari ibu mertuanya.
__ADS_1
Nak Romi, Yulia tiba tiba ngajak pulang ke rumah. Susul ya nanti kalau udah gak repot!
Begitu isi pesan dari bu Kanti. Seketika lega pikirannya. Ia berpikir yang tidak tidak tadi.
Ada lagi satu pesan masuk.
Kunci rumah ada ditempat biasa, nak Romi. Karena Mak Minah izin pulang. Anaknya lagi sakit katanya.
Romi pun mengirim pesan balasan.
Makasih Bu infonya. Iya ini Shila juga lagi nanyain bundanya. Saya sama Shila bakalan nyusul segera.
Send....
Pesan terkirim, lalu tanpa menanti jawaban pesan Romi mencari kunci rumah, setelah berhasil menemukannya, Romi dan Shila masuk rumah, berganti pakaian. Shila membawa beberapa boneka buat mainan mereka dan meluncur lagi menuju rumah Bu Kanti.
Sepeda motor terparkir rapi di depan rumah Bu Kanti. Namun Yulia tak kelihatan didepan rumah. Hanya Bu Kanti terlihat duduk di kursi rotan di teras rumah. Tersenyum melihat menantu dan cucunya.
"Nenek, Ssalamu'alaikum!"
"Waalaikum salam. Waah cucu nenek sudah pulang sekolah rupanya. Gimana sekolahnya pinter nggak? Bunda-mu lagi istriahat di kamarnya, susul sana, gih!"
"Shila mau main sama nenek aja. Gak boleh ganggu Bunda sama dedek lagi istirahat." sungguh anak yang pengertian. Shila mengeluarkan mainannya dari dalam tas dan mulai bermain didampingi bu Kanti.
Sedang Romi telah masuk rumah, menyusul istrinya dikamar yang ternyata tengah tidur memeluk guling. Dan anehnya kaos warna biru yang kemarin ia pakai seharian, Yulia gunakan jadi sarung guling.
Romi menahan nafas, istrinya akhir akhir ini sering mengeluh sakit pinggang. Tidurnya juga selalu gelisah karena perut besarnya membuatnya tak nyaman melakukan apapun.
Bunyi dipan yang diduduki Romi membuat Yulia membuka mata, dan saat menyadari kalau yang tengah di sampingnya adalah sang suami, ia pun mengubah posisi tidur, memunggungi sang suami.
"Masih marah juga...!"
Tak ada jawaban.
Romi memutuskan untuk berbaring di sisi sebelah kanan, karena Yulia beringsut ke sebelah kiri, menjauhinya. Atau memberi ruang untuk tidur disisinya?
Hari yang melelahkan gara gara kedatangan si Yesi.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
TBC.