
****"
Sore harinya Wahyu pulang jam tiga lebih duapuluh menit yang langsung di sambut keceriaan Ifah. Wahyu menggendongnya lalu membawanya masuk ke rumah. Sedang Rayyan di gendongan Imah.
"Rayyan rewel ya, kok digendong?"
"Sedikit, mas! Mungkin karena sering jatuh waktu belajar berdiri, itu sebabnya kayaknya."
"Oh, gitu ya. Maafin aku yang telat, sebenernya tadi aku udah mau pulang mendadak temen aku ada yang datang terus ngobrol sebentar gitu." mengeratkan pelukan pada Ifah dan menghujaninya dengan ciuman di pipi. Membuat si empunya tertawa tawa kegelian, dan Rayyan yang digendong Imah menoleh pada mereka, tersenyum lebar menampilkan dua giginya di bagian atas dan dua gigi di bagian bawah. Tangannya memegang erat baju Imah yang menggendongnya.
" Iya mas, tenang aja. Aku ngerti keadaan kamu lagi sulit sekarang, pasti berat dengan semua ini. Andai aku bisa meringankan bebanmu, andai ibu bisa terima hadirku, pasti semua akan lebih mudah."
"Jangan berkata seperti itu. Kamu sudah sangat mengurangi bebanku, makasih ya!"
"Udah gak usah bahas itu lagi. Berdua saja untuk yang terbaik buat keluarga kita."
"Yah, kata ibu kita mau pulang ya? Asyiiik! Aku juga kangen sama teman temanku, Ayah! Ada Titi, Tata, Tuti, sama Tito." adu bocah kecil itu menyela omongan kedua orang dewasa itu.
"Iya, kita mau pulang sekarang. Suka banget sih mau pulang?"
"Memang siapa Titi, Tito, Tata, sana Tuti? Apa mereka kembar?" tanya Wahyu tak mengerti.
"Hahah, ayah gak tahu ya? Itu nama nama boneka yang ayah belikan kemarin waktu belum ke sini, Yah!"
"Ooo, kirain anak kembar. Hehehe!"
"Oiya, Li! Untuk sementara, aku mohon kamu sabar ya, kalau aku membagi waktu senggang ku setelah kerja. Aku bagi waktu juga nemenin ibu meski cuman sebentar."
"Iya, mas!" Wahyu menurunkan Ifah, lalu memasukkan barang barang yang sudah disiapkan Imah ke dalam bagasi mobilnya.
"Terus ini kuncinya gimana, mas?"
"Gak papa, bawa aja, Ayah bawa kunci serepan kok."
"Ya udah kalau gitu." Imah memasukkan kunci ke dalam Sling bag nya, sambil menggendong Rayyan yang tertidur. Pipi bocah berusia hampir setahun itu sangat cubby dan putih. Seperti kulit ibunya, Wida.
__ADS_1
****
Malam harinya, saat mereka sampai dirumah, segera membersihkan diri. Setelah makan malam dengan menu yang di beli dari rumah makan, mereka kini bersiap untuk rehat.
"Ngomong ngomong gimana, Ifah jadi daftar sekolah, kan? Di TK ujung komplek itu?" Imah hanya mengangguk, tangannya menelusup di balik kaos yang dikenakan Wahyu. Memutar mutar ujung jari telunjuknya di pu ting dada Wahyu.
"Li...!"
"Iya, mas!"
"Li...!" panggil ulang Wahyu. Namun dengan mata terpejam. Ia seperti sedang menikmati sesuatu. Ia yang tidur telentang dengan dan kepala Imah dibawah ketiaknya, masih terus memainkan ujung jari di dada. Hingga terasa sesuatu yang terasa mengeras di bagian bawah.
"Li...!" Imah tersenyum, saat Wahyu menoleh padanya. Sepertinya sang suami bereaksi.
"Sekarang kamu lebih berani ya, lebih agresif, mau memulai lebih dulu. Tapi aku suka!" matanya terpejam menyunggingkan senyum. Apa yang diperbuat istrinya membuat melayang di angkasa, merasakan getaran getaran membawa kenikmatan membuat nafasnya lebih memburu. Tapi Wahyu masih bergeming menutup mata dalam diamnya.
"Berdasarkan pengalaman dan cerita menarik dari teman teman arisan komplek mas!" Wahyu membuka mata dan menatap istrinya tak mengerti.
"Maksudnya...?"
"Meski itu gak seratus persen benar, ada juga kucing yang masih suka kelayapan dan makan bahkan nyuri ikan asin walaupun dirumah ia sudah kenyang. Kalau yang seperti itu sih tabiat namanya." kilah Imah.
"Hahaha... kamu samakan suami kamu dengan kucing rupanya. Yeeah! Tak apalah, so apa sekarang mau ngasih jatah makan kucing kesayangan kamu!" Kini mereka berbaring berhadapan dengan saling bertatap mata. Saling mengerti apa yang diinginkan hanya dari tatapan sayunya.
*****
Di waktu yang sama, ditempat berbeda.
Yulia duduk di pembaringan, menunggu suaminya yang sedang mandi. Iseng ia membuka album foto yang ia temukan di tumpukan buku tak terpakai yang disimpan di gudang.
Foto foto saat suaminya masih bujang, foto foto teman teman sekolahnya, foto ayah dan ibu mertuanya yang masih lengkap, dan foto Mima.
Saat membuka di bagian bagian akhir, ia melihat foto pria dengan rambut gondrong juga kumis dan jenggotnya cukup lebat. Ia perhatikan dengan seksama, yang ternyata itu Romi.
Hah, mas Romi pernah berambut gondrong. Penampilannya pun seperti anak muda pada umumnya, aku tak percaya itu adalah foto Romi. Sepertinya foto itu saat belum menikah.
__ADS_1
"Liat apa hayoh, senyum senyum gaje." Seloroh Romi sambil mengenakan kaosnya berwarna putih, Yulia sampai tak sadar suaminya telah selesai mandi dan kini duduk di sampingnya. Mengelus perut, lalu menciumnya, berinteraksi dengan calon bayinya.
"Eh mas, ini kamu kan mas?" Yulia menggeser buku album dihadapan Romi. Ia hanya tersenyum. Tak mengiyakan namun juga tak membantah. Karena di foto itu terlihat sungguh berbeda. Yang Yulia hafal hanyalah senyum suaminya yang masih sama.
"Kalau diliat liat, mas kok mirip bule ya? Ini waktu rambutnya gondrong!" memperlihatkan album lagi pada suaminya yang kepalanya di bagian bawah perut Yulia.
"Iya, kakek buyutku orang Belanda, makanya selain paras bule, keluargaku semua non muslim, mengikuti keyakinan kakek buyut. Mungkin cuma aku disini yang muslim!" Yulia manggut manggut.
"Waah, ternyata aku punya suami bule. Ah senangnya! Aku harap bayi ini nanti lebih dominan daria gen kamu, mas," mengusap usap perutnya. Bertemu dengan tangan suaminya, lalu saling menggenggam erat. Kalau di lihat dan dibandingkan dari fotonya, sepertinya Romi yang sekarang lebih berisi. Dulunya kerempeng dan tinggi.
"Terus sekarang baby kok kayaknya pingin Ayah penampilan kayak gini lagi ya! Pengen liat si Ayah rambutnya gondrong, terus kumisan juga jenggotan. Kayaknya keren!" Yulia terkikik geli membayangkan suaminya. Romi lalu duduk lagi ke samping Yulia.
"Dipanjangin lagi ya rambut sama kumis ini? Kayaknya gimanaaa gitu, Mas. Ya ya ya!" mengedip kedipkan matanya tanda memohon yang sangat sangat ingin dikabulkan. Romi masih bergeming.
"Mas Romi tuh kalau klimis begini keliatan banget cakepnya, aku jadi insecure sama diri aku. Mangkanya panjangin lagi ya rambutnya, biar gak ada cewek yang ngelirik."
"Kan jarang zaman sekarang cewek suka yang brewok. Cewe sekarang sukanya sama oppa oppa Korea yang mengkilat dan glowing mukanya." Romi tertawa.
"Kenapa? Pede aja lagi! Kamu tuh tetap cantik kok dimata aku, tambah seksi dengan perut besar seperti ini. Kan aku yang bikin perut kamu besar. Malah bangga lagi kalau laki bisa bikin perut istrinya gede selama sembilan bulan." masih juga berseloroh ria.
" Dimana mana dan kemana mana kamu yang ter the best. Mau kamu pake baju apapun, pake kaos ketat, mo pake daster kek, mo pake kulot atau pake baju belel kek, apalagi dan terutama waktu gak pake baju, wuuuiihh! seksi banget. Dahsyat cuii."
" Cantiknya gak ada yang ngalahin. Natasha Wilona aja lewat. Kalah jauh dari istriku cantiknya." gombalan Romi panjang lebar yang mendapat cebikan dari sang istri.
"Modus doang." Mau tidur ah, Mana ada perempuan perut gede gini di bilang seksi. Realistis dong gombalannya!"
\=\=\=\=\=\=
Wkwkwk...
wkwkwk...
Gombal mukiyo...
Romi Romi...
__ADS_1