Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 40. Iya, Saya Terima.


__ADS_3

******


"Pak Romi, hari ini aku janji untuk menjawab lamaran pak Romi bukan?" Romi menegakkan badannya. Sinar netranya terlihat berseri. Ini adalah waktu yang di tunggu tunggu dari beberapa hari kemarin. Walaupun semalam sampai saat ini ia tak ingat dan baru sadar hal itu karena Shila yang mengeluh sakit.


Yulia tersenyum sambil menunduk melihat reaksi Romi. Tak mau menundanya lagi, bibir pria itu terlihat bergetar saat Yulia meliriknya. Seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Iya, saya menerima lamaran pak Romi untuk menjadikan saya istri pak Romi, sekaligus ibu sambung buat Shila!" ucap Yulia lirih, Romi mengerjapkan matanya, tersenyum. Seakan ini mimpi walaupun ia tahu ini nyata.


"A_aku aku gak mimpi kan Yulia, aku gak salah dengar?!" Romi menepuk pipinya dan Yulia mengangguk mantap. Senyum Romi tambah lebar.


Tiba tiba Romi beranjak, berjongkok didepan Yulia, membuatnya terperangah kaget.


"Pak Romi...!"


"Yul! Aku mau mengulang lamaran sekali lagi. Ehhhm!"


"Yulia, ah maaf! Tapi cincinnya lupa gak aku bawa. Tapi gak apa apa lah!" menggenggam erat kedua tangan Yulia.


"Yulia! Hari ini aku, Romi Yoseph Setiawan bin Ardi Setiawan, melamarmu! Bersediakah engkau Yulia menjadi istriku, menjadi ibu dari Arshila Devi, anakku. Aku yang hanya seorang duda beranak satu ini, yang hanya seorang pemilik toko kecil warisan Ayah dengan penghasilannya tak seberapa? Aku tak punya sesuatu yang bisa kamu banggakan Yulia, Aku hanya punya cinta, yang insha Alloh akan aku jaga cintaku sampai aku mati!" Yulia terharu dengan ucapan rendah hati Romi yang menengadah menatapnya penuh harap.


"Pak Romi, ini sungguh berlebihan! Berdirilah!" Romi menggeleng. Yulia menitikkan air mata bahagia.


"Yul, jawablah dulu! Sekarang!!" Romi masih betah jongkok di depan Yulia.


"Baiklah, iya! dengan senang hati saya menerima lamaran anda, pak Romi. Saya juga berjanji, Saya akan mencintai anda sebesar pak Romi mau mencintai saya! Dan mencintai Shila seperti mencintai anakku sendiri." Romi langsung mendongak, pandangan mata mereka bertemu. Saling menatap sambil tersenyum, ada pancaran rasa bahagia membuncah yang tak bisa digambarkan dengan kata kata.


"Iyesss! Alhamdulillah...Terima kasih Yulia, terimakasih." Ucap Romi sekali lagi mengecup punggung tangan Yulia. Romi lalu berdiri dari jongkoknya, namun tiba tiba Yulia menjerit kaget saat Romi meraih pinggangnya dan mengangkatnya di pundak seperti mengangkut karung beras sambil tertawa senang.


"Pak Romi, turunkan saya!!!" pekik Yulia tertawa, kakinya ia ayun ayunkan agar Romi menurunkannya. Mereka tak menyadari, Shila terbangun mendengar mereka sangat berisik, dan tertawa saat melihat ayahnya menggendong Yulia. Romi menurunkan Yulia dan segera memeluknya erat. Yulia sangat kaget dengan reaksi Romi atas penerimaannya.


"Pak Romi, lepas....Engap ini saya gak bisa nafas!!!" Romi melepas pelukannya. Yulia yang setinggi leher Romi tertunduk dengan wajah merona merah, namun senyumnya terus merekah. Yulia lalu menjauhkan tubuhnya,

__ADS_1


" Pak Romi gitu amat reaksinya..." ucap Yulia masih menunduk. Mereka berdua merasa sama sama malu.


"Hehehe, ayah sama bunda berpelukan kaya teletubies! Shila juga pengen dipeluk ayah sama bunda!" celetuk Shila tertawa. Keduanya langsung menoleh, dan disaat itu terdengar suara pintu di buka.


"Permisi... waktunya adek Shila di periksa ya! Waah ibunya Shila sudah datang rupanya!" seloroh salah seorang suster, saat melihat Yulia di ruangan itu. Dua orang suster masuk untuk memeriksa keadaan pasien. Memeriksa tensi, denyut nadi, suhu dan lainnya. Romi dan Yulia mendekat.


"Permisi adek, kakak mau ngasih ini di ketiak adek, jangan sampai lepas ya!" suster itu menyelipkan alat pengatur suhu pada ketiak Shila.


"Adek makan yang baik yah, jangan makan dari tempat sembarangan, terus kalau mau makan itu cuci tangan du_lu! Biar bakterinya gak masuk ke badan adek!" nasehat suster muda itu sambil tersenyum pada Shila.


"Iya, kakak!"Sahut Shila tersenyum juga.


"Waaah, perkembangannya Adek Shila sangat bagus pagi ini, panasnya sudah mulai turun. Masih kerasa mau muntah gak, sayang?" suster itu memeriksa perut Shila. Shila menggeleng dengan pelan.


"Shila udah sehat, kak!" jawab Shila dengan suara keras.


"Anak pinter, bundanya datang Shila langsung sehat ya? Padahal tadi malem masih muntah dan nangis terus!!" ucap sang suster membuat Yulia mendekati Shila dan mengelus rambutnya. Mereka saling memandang dan tersenyum.


"Gak ada yang perlu di khawatirkan dengan keadaan Shila, pak Romi. Bu! Semua normal normal saja, kita tunggu Shila ketemu dokter dulu, dokter yang akan menentukan boleh tidaknya Shila pulang ke rumah." ucap suster itu sambil membereskan alatnya.


"Shila mau cepet pulang gak?"


"Tentu mau suster, Shila gak betah tinggal disini. Sakit tangan Shila dikasih ini, Shila mau cepet pulang aja!" Shila menunjukkan tangannya yang tertancap jarum infus. Tadi malam bahkan infusnya sampai ganti dua kali karena tangan Shila tak mau diam dan terus menangis semalaman.


"Nah, karena Shila mau cepat pulang, itu makannya dimakan sampai habis yah, biar cepat sehat. Kalau cepat sehat sama Bu dokter juga boleh pulang, sayang!" suster itu menjawil dagu Shila gemas.


"Iya, kak suster!" Shila tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


"Ih, kamu cantik banget, jadi gemoy deh... pengen jadiin Shila adek...!" lagi lagi Shila tersenyum. Kedua suster muda itupun segera pamit dan berlalu, memeriksa pasien yang lain.


"Suster!" panggil Romi saat kedua suster itu sampai di pintu.

__ADS_1


"Kapan kira kira dokternya datang, Sus?"


"Kira kira jam tiga sore, pak! Dokternya datang." Melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.


"Kira kira dua sampai tiga jam lagi, pak. Permisi!"


" Makasih, sus!" mereka pun mengangguk dan berlalu.


*****


"Nah, tadi suster bilang apa sama Shila? Shila harus banyak makan buat cepet sembuh. Daaan, sekarang Shila harus makan, biar cepet pulang ya sayang!" Yulia mengambil jatah makan siang Shila diatas meja kecil yang belum tersentuh, lalu menyuapinya.


Nasi yang tersisa ditempat makan masih tinggal separoh, tapi Shila sudah menggelengkan kepala, tanda sudah tak mau meneruskan makannya lagi.


"Sudah bunda. Shila udah kenyang!" rengek Shila.


"Ya udah, sekarang waktunya Minum obat ya!" Yulia meletakkan nasi yang tinggal separoh, dan mengambil obat cair yang di sodorkan Romi. Senyum Romi terus mengembang melihat anaknya begitu dekat dengan Yulia. Dan berharap semua itu tak akan pernah luntur sampai kapan pun.


"Anak Ayah pinter, manut banget sama bunda! Coba kalau sama Ayah, harusnya manut juga dong!"


Romi menguyel uyel pipi dan hidung Shila. Mereka pun tertawa bersama. Entah mengapa, walaupun saat ini mereka di rumah sakit, namun kebahagiaan jelas terpancar dari ketiga orang yang berada di ruangan itu.


Setelah meminum obatnya Shila terlihat mengantuk lagi. Yulia duduk di kursi di samping brankar sambil mengelus kepala Shila, hingga tak terasa gadis kecil itu tertidur dengan keadaan tersenyum.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ehehe....


Maaf ya, jangan pada penasaran lagi sekarang....


Bersambung lagi....

__ADS_1


__ADS_2