Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 32. Melamar


__ADS_3

Jangan lupa tinggalin jejaknya. Like, komen daaan Gift seikhlasnya. Jangan jadi pembaca ghaib ya! bikin merinding tahu. Hehehe.....


*****


📱Yul, boleh aku bertanya?


📱Masa Iddah kamu udah selesai kan?


Dua buah pesan masuk ke hape Yulia minggu pagi itu. Ia sedang memasak ikan gurame gulai dan oseng kangkung serta acar mentimun di dapur. Semua itu adalah makanan kesukaan kak Angga. Sedang Bu Kanti juga membantunya mengupas mentimun, wortel, bawang merah bawang putih, dan bumbu bumbu dapur lainnya berjejer di atas meja.


Kak Angga rencananya akan datang lagi berkunjung, karena Rima terus merengek ingin ke rumah nenek Kanti katanya. Dan mereka baru bisa mewujudkan keinginan Rima hari ini.


📱 Aku akan datang ke rumah hari ini sama Om aku dan ibu!"


Pesan ketiga masuk ke hape Yulia. Semua pesan yang dikirimkan Romi pagi ini belum di buka.


Berkali kali Romi melihat hapenya. Hari ini ia merencanakan untuk mendatangi keluarga Yuli untuk proses meminang. Sebuah kejutan. Karena sebelumnya ia jarang berkomunikasi dengan Yulia atas permintaan Yulia sendiri dan ia menyanggupinya. Dan tak memberitahu atas rencana itu.


Bagaimana ini? Apa dia pergi ya. Duuh, mau bikin surprise tapi akunya ketakutan sendiri. Jangan jangan...


Jangan jangan....Aaaaah! Romi.


"Gimana Rom, kamu bisa pastikan mereka ada di rumah?" Om Gun, adik Bu Alvi bertanya pada Romi yang mondar mandir di teras rumah dengan gelisah. Pria itu sudah rapi menggunakan atasan batik lengan pendek dan celana kain hitam. Terlihat kebapakan, namun tetap terlihat tampan.


"Udah aku kirim pesan Om, tapi belum dibuka. Apalagi dijawab!" keluh Romi. Ia jadi menyesal sama sekali tak memberi clue pada Yuli tentang lamarannya hari ini.


"Harusnya 'kan kami kasih tahu dulu, sebelum kesana. Biar kamunya gak gamang seperti ini. Gak lucu kali, andai kamu datang melamar dia, eh dia sama keluarganya lagi pergi. Rumah kosong." cerocos sang Om membuat Romi tambah panik. Tapi Yulia bukan tipe wanita yang senang keluar rumah, ia akan keluar rumah jika memang benar benar ada perlu.


Ia lalu menepis semua pikiran buruknya.


"Bismillah. Aku sangat yakin dia ada dirumah, Om. Dan kalau dia kebetulan pergi, aku akan menunggunya sampai dia pulang." begitu percaya dirinya Romi bicara.


" Kalau Om tak sabar menunggu dia pulang?" goda Om Gun pada ponakannya tersenyum meledek. Walaupun udah duda beranak satu, tingkahnya seperti jejaka yang nervous saat mau melamar kekasihnya.

__ADS_1


"Aku akan melamarnya sendiri." jawabnya tegas. Om Gun tertawa puas meledek Romi, sambil menepuk pundak tegap itu.


"Aku sungguh kagum dengan denganmu Romi, kamu pantang menyerah. Om bangga sama kamu. Tapi...."


"Tapi apa Om...!" Romi merasa was-was Oom nya tiba tiba seperti ragu.


"Biasanya kalau sehabis acara kan ada doanya, ya? Terus siapa nanti yang memimpin doa?" tanya Om Gun. Om Gun dan keluarganya memiliki keyakinan sama dengan Bu Alvi. Namun membiarkan anaknya, Fani untuk memilih keyakinan mengikuti suaminya.


Romi terlihat berpikir. " Kalau itu sih, biasanya dari pihak tuan rumah, tapi... ini kan acara kejutan, bahkan mungkin di sana gak ada laki laki..." Romi menerawang. Ia menekan telunjuknya di bawah bibir.


" Ah, gak usah repot repot mikirin ding Om, kalau dari pihak mereka gak ada yang doa, ya terpaksa deh Romi yang berdoa sebisanya. Kasih aja doa sapu jagat, beres kan. Terus sama doa sebelum makan..." Om Gun tergelak dengan jawaban Romi.


Doa sapu jagat, doa apa itu dan dia sebelum makan?


" Hahaha kocak kau Romi, doa sebelum makan? Lah iya kalau kita ditawari makan di sana. Mereka kan gak ada persiapan sama sekali buat menyambut kedatangan kita. Ahahah!" memegangi perutnya yang agak buncit. Dan saat itulah muncul Bu Alvi dari dalam rumah


"Ini pada ngapain sih. Sampai ketawanya kenceng gitu? Ayo kita berangkat! Keburu siang."


" Rom, gimana? bisa kan kita kesana sekarang? Maksud aku Yulia sama ibunya ada di rumah?" pertanyaan sang ibu membuat Romi garuk kepala. pasalnya sampai saat ini ia belum dapat jawaban dari Yulia, Bahkan chatnya dari tadi belum di buka.


"Ayah, kita kemon ke rumah bunda, Shila nanti mau lama lama di tempat bunda ya, Ayah!" gadis kecil itu begitu antusias saat diberitahu mereka akan ke rumah Bunda Yulia.


"Williih, manggilnya aja udah bunda. Hmmm, Kakek jadi penasaran, seperti apa cantiknya calon Bundamu itu! yuk ah kita berangkat!" Menggendong Shila dan menciumi pipinya.


" Bundaku cantik sekali Kakek. Bunda juga yang ngajari Shila ngaji."


Akhirnya mereka berangkat ke rumah Yulia. Sebelum menstarter mobil Romi masih menyempatkan diri membuka pesan yang ia kirimkan. Masih belum di buka. Om Gun, menggunakan mobilnya sendiri karena nanti setelah acaranya Romi, ia akan pergi ke suatu tempat. Sedangkan istrinya tidak bisa ikut karena ada keperluan yang lain. Tapi ikut mendoakan supaya apa hajat keponakannya itu terkabul, tanpa adanya hambatan.


Hanya butuh waktu dua puluh menit, mereka sampai di depan gang rumah Yulia. Om Gun celingukan menatap rumah rumah yang berjejer di sana.


"Oh rumahnya deket sama rumahnya Bu Santo ya mbak? Yang mana rumahnya?" tanya Om Gun pada kakaknya.


"Rumahnya ada di belakang situ Gun, mobilnya gak bisa masuk gang jadinya kita parkir disini." jawab Bu Alvi. Mereka membawa beberapa buah tangan. Dan masuk ke dalam gang.

__ADS_1


"Oh, aku pikir rumahnya yang didepan tadi, Rom! Tapi gak pa apa deh, yang penting kamu udah bisa buka hati dan mau menikah lagi itu bagi Om sudah cukup. Shila butuh sosok seorang ibu dan mbak Alvi juga udah makin tua!" ucapnya sambil berjalan dan Romi hanya mengangguk mendengar kata kata Omnya.


Hati Romi bergemuruh, saat ia melihat sepertinya di rumah Yulia ada orang lain. Di depan rumah sederhana itu ada seorang lelaki dengan anak perempuannya sedang bermain sambil bercanda dan langsung diam dengan kedatangan Romi beserta rombongan.


Siapa mereka?


"Maaf mas, permisi. Apa Yulia ada dirumah?" tanya Bu Alvi pada pria tampan itu. Sebelum menjawab pertanyaan Bu Alvi, pria itu mengedarkan pandangan heran. Tatapannya berhenti pada Romi yang juga sedang menatapnya penuh tanda tanya yang menggandeng Shila. Shila sedang saling tatap dengan anak perempuan bersama pria itu. Namun sejurus kemudian ia mengangguk.


"Iya, Yulia ada. Mau ketemu sama Yulia? Silakan, masuk!" pria itu mempersilakan masuk dan rombongan masih berdiri di teras rumah.


Sedang lelaki itu masuk ke dalam dan terdengar memanggil manggil.


"Buu! Ibuuu! Yul... Yulia...." ada tamu nih!" panggilnya. Apa lelaki ini saudaranya Yulia? Romi.


Ia tak banyak tahu tentang keluarga Yulia, dan tak tahu apa Yulia punya saudara apa tidak. Tak lama Bu Kanti muncul dengan seorang wanita yang memakai jilbab instan dan berdaster.


"Loh, Bu Alvi kemari ya? Kok Yulianya gak tahu!" seru Bu Kanti. Lalu mempersilakan masuk keempat tamunya.


"Eh, ini Shila... bisa main sama cucu saya, Rima. Mereka sepertinya sepantaran." Shila dan Rima masih saling pandang dan mereka langsung bisa akrab karena setelah itu mereka bersalaman, saling tanya kemudian bergandengan dan duduk menjauh dari orang orang dewasa.


Tak lama Yulia datang dengan raut heran melihat Bosnya datang bersama ibunya dan laki laki entah siapa. Yulia lalu menyalami ketiganya.


"Apa ini yang namanya Yulia ya? Pantas saja ponakan saya maksa nyeret saya kesini. Nggak sabar rupanya dia buat meminang neng Yulia yang cantik gini. Padahal tadinya saya ada acara, tapi ini. Romi ngeyel ngajak saya kesini dulu!" ucapan Om Gun membuat Romi menunduk.


Yulia tentu kaget, ia yang duduk bersama ibunya tak menyangka Romi bakalan datang dan serius dengan ucapannya beberapa bulan yang lalu, dan Yulia menganggap Romi sudah lupa dengan kata katanya.


Ia jadi panik sendiri


Duuh, gimana nih. Padahal ia belum mempersiapkan apapun. Belum mempersiapkan jawabannya.


Yulia saling tatap dengan ibunya. Mereka semua sama sama kaget.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2