Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 120


__ADS_3

Selesai makan siang, Romi setengah memaksa istrinya ke rumah sakit terdekat. Karena Romi merasa ada yang tak beres dengan sang istri. Dan berharap, apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya tadi pagi menjadi kenyataan.


Yulia menyampaikan keluh kesahnya pada sang dokter dan Romi disampingnya mendengarkan dengan telaten. Namun menautkan alis heran karena sang dokter malah menyarankannya pergi ke dokter spesialis kandungan.


"Tuh, kan. Perkiraan ibu sama perkiraan aku kayaknya bener deh. Kia mau punya adek. Masa sih kamu gak ngerasa aneh sama tubuhmu sendiri?" kalimat Romi yang terucap saat mereka sedang di ruang tunggu poli kandungan. Tangan Romi sibuk mengelus, sedikit memberi pijatan bagian belakang perut Yulia yang katanya merasa seperti diaduk aduk setelah memasuki tempat yang sarat bau obat dan disinfektan tersebut. Ia sampai meminta Romi membelikan masker dan segera memakainya.


"Sebenarnya ngerasa sih, walaupun agak berbeda dari waktu hamil Kia dulu. Tapi kan mas Romi selalu pakai pengaman, cuman sekali kelupaan, masa sih langsung jadi!" jawab Yulia sembari berbisik, karena ada beberapa orang juga yang sedang mengantri.


"Ya itulah mungkin Kuasa Tuhan, yang mengamanahkan kita untuk mendapat momongan lagi, meski cuman kelupaan sekali. Gak ada yang gak mungkin bukan, jika Allah memang berkehendak?"


"Iya, mas. aku juga bersyukur, diusia pernikahan kita masuk di tahun ketiga, aku dipercaya hamil lagi. Eh, inikan belum tentu. Kok udah begitu yakinnya ya, kita!" Yulia dan Romi saling pandang sembari tersenyum lebar. Sembari menikmati sensasi pijatan lembut Romi. Terlihat sekali selayaknya pasangan yang berbahagia. Padahal beberapa jam yang lalu mereka sempat bersitegang setelah kedatangan Yesi dan Andre ke toko.


"Tapi, aku yakin sembilan puluh sembilan koma sembilan persen, yang sekali kelupaan itu langsung jadi. Itu cara Tuhan yang tak pernah kita sangka sangka." tangan Romi menggenggam erat jemari sang istri, setelah Yulia memintanya menyudahi pijatannya.


****


" Alhamdulillah, feeling aku benar. Kamu hamil lagi. Mesti disyukuri, sayang. Gak usah khawatir tentang Kia, dia udah cukup gede. Udah disapih juga.” Romi tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sekeluarnya mereka dari poli kandungan. Dokter mengatakan usia kandungan Yulia telah berusia 8 mingguan. Tujuh bulan lagi akan ada tangis bayi lagi di rumah mereka. Dan harapan Romi adalah anak ketiganya ini adalah laki laki. Lengkap sudah kebahagiaannya jika anak yang masih berwujud janin sebesar kacang merah itu nantinya menjadi anak laki laki.


"Kenapa senyum terus sih, mas?"


"Ya pasti senang, dong. Mau tambah buntut. Gak bisa bayangin rumah kita 2 tahun yang akan datang. Pasti akan rame dan lebih heboh lagi dari sekarang."


Mereka kini duduk di depan apotek rumah sakit untuk antrian mengambil vitamin yang diresepkan dokter obygin.


“Aku harap yang ini laki laki, ya. Bosan jadi yang paling ganteng dirumah.” Seloroh romi yang membuat sangat istri melengkungkan bibir ke bawah. Mengejek suaminya yang super narsis.


"Kenapa? Bener kan aku yang paling ganteng? Bahkan se RT tempat tinggal kita, banyak yang bilang gibahan emak emak, aku yang paling ganteng." Yulia sampai terpingkal dibalik tutup wajahnya. Dibalik masker serta kerudungnya, ia mencoba menguasai diri, agar derai tawanya tak terlalu kencang dan terdengar di sekelilingnya.


"Parah mas, kamu ini! Sampe sakit perut aku." Romi menatap, tersenyum pada sang istri yang masih tertawa, terlihat dari matanya yang menyipit dibalik masker. Tujuannya membuat sang istri tertawa bahagia berhasil. Ia lalu mengarahkan tatapannya mengelilingi ruangan itu, semua orang sibuk sendiri. Ada yang sibuk dengan gawainya, sibuk berbincang dengan pasangannya, bahkan ada yang sambil terkantuk- kantuk.


"Padahal kamu dulu tuh ya mas, juteknya minta ampun. Gak pernah senyum, tatapanmu tajam setajam silet. Ucapannya juga selalu ketus, sampe aku tuh mikir, apa waktu Ibu hamil kamu kurang asupan gula ya! Aku sampai menyebut kamu bos jutek waktu itu." ucap Yulia ditengah tawanya.


"Oiya?" Romi pura pura terkejut, padahal ia telah tahu hal itu dari Fanni.


"Terus kalau sekarang?" Yulia tersenyum dibalik maskernya.


"Kalau sekarang sih kamu manis, semanis gula, tapi terkadang ngeselin juga sih. Perhatian sama istri sana anak. Hehe!" Yulia terkekeh geli mengucapkan analisanya terhadap diri sang suami.


Hampir sepuluh menit menunggu, akhirnya nama Yulia yang dipanggil. Setelah menebus obat mereka pun pergi meninggalkan area farmasi menuju tempat mobil diparkirkan.


Saat mereka berjalan keluar, terlihat seorang pria masuk sembari mendorong kursi roda yang berisi seorang wanita yang seusia dengan bu Kanti.


“Itu seperti Yulia dan suaminya. Kenapa mereka ke rumah sakit. Siapa yang sakit?” gumam pria itu merasa penasaran. Ia terus menatap punggung dua orang yang berjalan semakin menjauh dengan bergandengan tangan itu, terlihat mesra sekali. Hingga ia dikejutkan suara anak yang mengaduh karena tertabrak kursi roda yang didorong nya.


“Aduh!”

__ADS_1


“Eh, maaf, maaf ya Dek. Om gak liat kamu disitu. Sekali lagi, maaf!”


“Om, aku segede gini masak gak kelihatan. Atau Om yang jalan sambil ngelamun. Awas loh Om, di rumah sakit banyak orang sakit bahkan mati. Bisa bisa Om kesurupan arwah orang yang mati disini!” anak perempuan tomboy berusia sekitar 10 tahun itu mengomel tiada henti. Pria itu hanya tertawa, jadi teringat anaknya dirumah. Walau cuma anak tiri, ia sangat menyayanginya.


“Iya deh, iya. Om gak akan ngelamun, sekali lagi, maaf ya Dek! Ada yang sakit gak?” pria itu meneliti bagian tubuh bawah anak itu, sepertinya hanya sedikit tersenggol dan tak menimbulkan luka. Tanpa menjawab gadis kecil tomboi dan terlihat pemberani itu ngeloyor pergi.


“Kamu ini kenapa, Yu. Jalan kayak gak konsen gitu? Sampe nabrak orang?”


“Oh, gak papa bu, tadi aku kayak liat seseorang yang aku kenal. Teman kerja aku, tapi kayaknya aku salah liat, sih!” jawabnya berbohong tak mau menambah masalah, karena ia merasa melihat mantan istrinya bersama suami.


Pria itu menyerahkan resep obat di loket, lalu kembali dan duduk disamping wanita paruh baya yang didorongnya tadi, mengantri untuk dipanggil mengambil obat. Bibir wanita tua itu terlihat asimetris, dan tangan kanannya seperti kaku. Terlihat seperti wanita yang terkena stroke. Tak butuh waktu lama, nama sang 8bu dipanggil, dan setelah menerima obatnya, mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


“Ibu, kenapa kok tensinya selalu naik. Parah loh ini, sampai 190 per 120. Ibu gak usah mikir macam macam napa? Biar ibu sehat seperti sedia kala.” ucap pria itu berjalan mendorong kursi roda ibunya. Ibu pria itu sudah sekitar dua tahun mengalami stroke.


“Ini tuh gara gara istri kamu itu, yang selalu buat tensi ibu naik. Ngeselin banget loh, dia itu. Apalagi anaknya, liat mereka saja rasanya ibu udah geregetan.”


"Ya Alloh, Bu!" Pria itu menggelengkan kepala, ternyata sang Ibu tak pernah berubah. Ia tak mengerti jalan pikiran ibunya. Padahal selama ibunya sakit, istrinya begitu telaten merawatnya dengan sabar dan tak banyak bicara pada sang ibu. Merawat ibunya dengan sukarela dan ikhlas, belum lagi melayani dirinya dan dua anak mereka. Tapi memang dasar ibunya yang tak pernah suka dengan sang istri. Hingga apapun yang dilakukan istrinya salah dimata ibu.


Apalagi anak perempuan yang di maksud ibunya, walau cuma anak sambung, anak itu juga patuh dan tak neko neko, ikut membantu mengurus adiknya pula. Sepertinya, kebencian ibu pada anak dan istrinya sudah mendarah daging. Hingga sebaik apapun sikap istrinya, sang ibu tak pernah melihat sisi baik itu. Entah apa yang diinginkan oleh sang ibu. Untungnya sang istri selalu sabar tetap mau melayani sang ibu. Tapi ia juga manusia biasa, yang punya batas kesabaran.


Ia hanya bisa mengatakan sabar dan sabar serta ikhlas, semua itu akan indah pada waktunya, untuk meringankan beban sang istri yang di benci mertua. Itu yang selalu diucapkannya saat sang istri mengeluh, sembari memeluknya untuk menghibur.


Yah, kata sabar dan ikhlas memang sangatlah mudah untuk diucapkan, namun untuk pengamalannya, sangatlah susah. Tidak ada yang bisa diraih dengan mudah tanpa kesabaran dan keikhlasan. Kesabaran akan mengajari kualitas pribadi meski kuantitas kegagalan dan tragedi kerap menghampiri. Kesabaran menguji kekuatan kita untuk bertahan. Dan mereka yang bertahan adalah pemenangnya.


Dan karena satu kata sabar itu, setiap penantian pasti berujung.


Selama bertahun-tahun tahun ibunya terkena serangan stroke, namun sikapnya masih tak pernah berubah pada sang istri. Mungkin hanya kematian yang bisa mengubahnya. Untungnya sang istri adalah wanita yang sabar luar biasa.


Astaghfirullahaladzim. Apa yang aku pikirkan.


“Itu karena perempuan perempuan pilihan kamu itu gak ada yang bener.” Sentak sang ibu walaupun suaranya tertahan dan tak jelas, karena stroke telah membuat lidahnya serasa kaku. Tapi ia tak ada kapok kapoknya, selalu mencari kesalahan kesalahan sang menantu, lalu mengomelinya.


Ibu tuh yang gak bener. Boleh gak sih aku memang menyesal terlahir dari rahim ibuku ini. Astaghfirullah. Pria itu meremas rambutnya.


Pria itu terus diam, jengah dan bosan dengan perdebatan seperti itu. Selalu saja, dan sang ibu tak pernah merasa salah. Ia hanya bisa mengelus dada, bagaimanapun juga wanita itu adalah wanita yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia.


****


Kembali pada Yulia dan Romi.


Sore itu semua keluarga telah berkumpul, kedua anaknya, ditambah lagi kehadiran bu Alvi, Christian dan Yemima yang memang lama tak berkunjung, dan saling melepas rindu.


“Jadi, mbak Yulia hamil lagi, waah selamat ya! Surprise nih, pas kesini pas denger mbak Yulia isi.” Komentar Mima, adik Romi.


“Ibu bakal tambah cucu dong. Senangnya Ibu. Terus kamu juga gimana Mima? Ricky sering ngerengek pengen punya adik, kan. Kia aja masih dua tahun udah mau punya adik.” Bu Alvi menimpali komentar anak perempuannya. Sang cucu, Zaskia menempel dan meminta pangku dari semenjak mereka datang tadi.

__ADS_1


“Belum di planning, Buk. Nanti aja kalau Ricky udah sekolah, apalagi aku kan harus kerja juga, rencana sih kalau aku udah bener bener siap punya baby lagi, itu artinya aku udah siap resign dari tempat aku bekerja. Fokus ngurus anak suami juga ibu.” Jawab Mima diplomatis.


Yulia yang duduknya disamping Mima pun berbisik.


“Kalau yang ini aku tanpa planning, dek. Gara gara mas Romi kelupaan pake balon sekali aja aku hamil. Hhhh.” Bisik Yulia ditelinga sang adik ipar. Mima tertawa terbahak bahak mendengar aduan Yulia, hingga mengundang tatapan semua orang di ruangan itu.


“Upsss! Sorry.” Sesalnya lalu menutup mulut memakai punggung tangan.


“Ada apa sih?” Romi yang duduk di sofa berdua dengannya Tian penasaran.


“Rahasia!” ucap Yulia bersemu merah. Namun mulut Mima keceplosan.


“Mbak Yulia hamil gara gara mas romi kelupaan pake pengaman katanya, padahal kelupaan sekali doang.” Tawa Mima masih berderai, saat Yulia mencubit lengannya pelan.


“Kamu tuh apaan, sih, Mima. Aku udah bisik bisik, malah kamu bilangnya kenceng banget. Malu kan, aku.“ dan begitulah keluarga itu jika berkumpul, walau mereka berbeda keyakinan, namun tak melunturkan rasa persaudaraan diantara mereka.


Malam harinya mereka makan malam bersama di teras belakang rumah. Membentangkan karpet hijau di teras belakang rumah, lalu menaruh makanan ditengah karpet.


Yulia sedari tadi hanya duduk dan bersandar di sofa, saat adik ipar dan ibu mertuanya membantu Mak Minah di dapur untuk memasak makan malam. Ia tak kuat dengan bau bawang dan aroma bumbu lainnya, meskipun bagi orang lain aroma itu sangat menggugah selera dan membuat cacing dalam perut menggeliat minta asupan. Ia memejamkan mata, aroma itu sampai juga ke ruangan depan tivi.


"Mas, aku gak tahan. Aku tiduran dikamar ya?" Romi yang sedang melihat berita di tivi, menoleh, dan mengiyakannya.


"Jangan tidur dulu, biar aku buatkan susu, mau yang rasa apa? Plain, strawberry, atau coklat?" tanya Romi sembari menyelimutinya yang telah terbaring diatas ranjang.


"Terserah kamu, mas. Kalau yang bikin mas Romi pasti bakal aku minum sampe habis." Romi menjawil dagu sang istri, manis sekali ucapan sang istri itu.


"Mau bikin apa, Rom?" tanya Bu Alvi saat Romi masuk ke dapur.


"Mau bikinin Yulia susu, Bu. Dia istirahat di kamar, gak tahan aroma dari dapur katanya."


"Duh, kasian sekali. Kitanya mau pesta sebab hamilnya dua. Malah dianya mabok. Jadi gak enak hati, nih!" Mima yang menaruh gulai ikan bandeng bumbu merah ke mangkuk besar menyahut.


"Santai aja, Ma. Kayak gak pernah ngalamin aja, entar juga aku yang ngabisin jatahnya Yulia." ucap Romi tanpa rasa bersalah. menuang air hangat ke gelas yang sudah ia taruh susu khusus ibu hamil rasa strawbery. Lalu mengaduknya sebentar, menaruhnya dengan dialasi lapik, dan ditutup bagian atasnya.


"Coba aku icip dulu, enak gak masakan kamu!" Mima mencebik saat Romi merasai kuah bandeng menggunakan sendok kecil.


"Hmmm!"


"Gimana?"


"Gak enak?"


"Masa sih? Ekspresi sama komentarmu gak meyakinkan, mas?"


"Mangkuknya yang gak enak, gue kagak doyan!" Goda Romi pada adiknya lalu setengah berlari membawa segelas susu buatannya sebelum sang adik mengamuk karena ucapannya.

__ADS_1


"Mas Romiii!"


__ADS_2