
*****
Mereka berempat tengah makan malam dalam hening. Romi, Yulia, Shila dan Bu Kanti.
"Bunda, Shila mau ayam goreng!" rengek manja Shila.
"Biar Ayah yang ambilin, ya?" tangan Romi sudah akan mengambil ayam yang tinggal dua potong di piring. Namun melihat Shila yang menggeleng kuat membuat tangannya berhenti di udara. Lalu menatap Yulia yang berseberangan kursi dengannya.
Tanpa mengatakan apapun Yulia mengambil ayam goreng dan meletakkannya di piring Shila.
"Makasih, Bunda!"
"Sama sama sayang. Habisin, makan yang banyak biar tambah gede." balas Yulia.
"Kamu juga makan yang banyak, biar anak kita sehat di dalam kandungan!" Romi menyela, sambil meletakkan di piring Yulia ayam yang tinggal satu itu. Namun Yulia hanya diam saja.
Bu Kanti melirik anak dan menantunya bergantian. Ada rasa iba melihat Romi diabaikan istrinya.
"Yul, kalau marah jangan lama lama. Kalau gak suka sesuatu lebih baik di bicarakan dengan baik, jangan malah berdiam diri. Gak baik buat perempuan hamil marah. Akan mempengaruhi janinmu dan juga dirimu pula nantinya." Yulia terdiam mendengar nasehat ibunya. Ia hanya mengangguk lirih.
Di saat itu hape Romi bergetar tanda sebuah panggilan masuk.
"Hei, bang! Mana motor aku? kamu suruh aku pulang jalan kaki apa?" cerocos Fani saat tombol hijau ditekan oleh Romi. Romi melihat jam yang menempel di dinding. Jam delapan malam, waktunya swalayan tutup. Rupanya Romi lupa tadi ia menggunakan motor Fani. Sibuk merayu sang istri yang masih ngambek membuatnya lupa segalanya.
"Oh iya, maaf! Maaf! Aku benar benar lupa. Ini aku di rumah mertua, kamu tunggu ya!" Romi buru buru menghabiskan makannya, lalu pergi ke toko, mengembalikan motor Fani. Sesampainya di toko ia mendapati Fani seorang diri, karyawan lainnya sudah pulang semua.
"Kenapa sih kusut gitu, kayak baju belum disetrika, masih marah ya mbak Yulianya?!" tegur Fani pada Romi yang kelihatan loyo. Dari siang sampai saat ini ia sudah berusaha mendekati istrinya namun belum berhasil. Bahkan tadi Yulia merengek minta tidur sama ibunya, Bu Kanti yang menolak pada awalnya pun akhirnya diam dan mengiyakan permintaan anaknya dengan alasan ngidam.
"Gara gara si sontoloyo tuh, Yulia kan anti sama perempuan dan laki laki yang pelukan dan cipika cipiki kalau bukan mahramnya." keluh Romi lalu duduk di kursi plastik di samping Fani.
__ADS_1
"Mangkanya bang, jadi laki tuh kudu tegas. Ngapain juga dulu ngasih janji janji palsu. Kata si Yesi kamu tuh dulu bilang suruh dia nunggu kamu. Bener gak sih!" Fani mematikan komputernya, memasukkan hape ke dalam tas dan mengeluarkan bedak dan lipstik. Touch up sebelum ketemu suami katanya.
"Aku tuh dulu kepaksa bilang gitu. Dia tuh udah kayak bayang bayang aku tahu gak, risih aku jadinya. Aku bilang gitu biar dia cepat kembali ke Bali. Bayangin aja, kemana mana dia ngintil kayak anak kecil sama ibunya, apa gak risih?" Fani manggut manggut memajukan bibirnya.
****
Malam ini Romi menatap langit langit kamar yang di tempatinya bersama Shila. Kedua tangannya ia sangga sebagai bantal, dan menghembuskan nafas dengan berat. Yulia ingin tidur bersama ibunya, walau ibunya agak keberatan dengan keinginan anaknya namun juga tak bisa berbuat apa apa. Apalagi kalau bukan karena alasan ngidamnya.
Ia melirik pada Shila yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Anak kecil yang belum mengerti tentang persoalan orang tua.
Buah hatinya dengan Dina, istri pertamanya itu berkembang dengan cepat setahun ini, itu semua karena Yulia merawat anak ini dengan baik.
Pipi gadis kecil ini tambah bulat, tubuhnya terawat dengan baik, sudah sangat jarang makan makanan instan. Di sekolahnya, ia juga termasuk anak yang cepat bisa menyerap ilmu yang di sampaikan Bunda Bunda di sana. Di tempat Shila sekolah, mereka membiasakan memanggil gurunya dengan sebutan Bunda.
Shila juga terlihat lebih ceria, terlebih lagi saat tahu di dalam perut bunda Yulia ada adiknya yang akan menjadi pelengkap rumah tangga Ayah dan Bundanya. Ia sangat senang karena bakal punya teman bermain.
"Ayahhh!" terdengar suara serak Shila. Anak itu tiba tiba terduduk.
"Ingin tidur sama Bunda!" rengeknya dengan mata setengah terpejam.
"Bunda lagi pengen bobo sama Nenek, sayang! Shila sama Ayah, ya? Sini ayah puk puk!" Shila menggeleng dan hampir menangis.
"Maunya di puk puk bunda, Ayah!!! Huaaa... huaaa!" Romi jadi kelabakan Buru buru ia bangkit dari tidurannya, bingung apa yang harus dilakukannya. Shila kalau ingin sama bundanya, maka ia tak akan mau sama yang lain.
"Shila sayang, Ayo Shila udah besar udah mau punya adek bayi, jadi Shila nurut ya sama Ayah! Karena nanti Bunda harus merhatiin adek kecil biar cepet gede. Katanya mau maen sama adek!"
"Pokoknya Shila mau sama Bunda sekarang, Ayah! Huaaaa....!" tangis Shila makin kencang. Tak biasanya anak ini rewel seperti ini. Ia membuang guling yang di pegangnya.
Tak lama, pintu di ketuk dari luar. Dan masuklah Yulia, sambil memegang perutnya ia berjalan ke sisi ranjang dimana Shila berada.
__ADS_1
"Bundaaa!"
"Shila kenapa sayang! Kok nangis malam malam?" Shila langsung menghambur ke pelukan Yulia. Dipeluknya erat leher ibu sambungnya itu.
"Bundaaa, bunda tidur disini sama Shilaaa!" gadis kecil itu terus saja merengek dan pelukannya makin kencang.
"Tapi tempat tidurnya gak muat buat bertiga, sayang!" ucap Yulia memberi alasan. Romi menatap istrinya lekat, namun Yulia pura pura tak tahu dan sama sekali tak menoleh pada suaminya. Dengan nafas berat akhirnya Romi berkata kalau ia akan tidur di sofa depan.
Yulia diam, tak menjawab sepatah katapun. Hanya melirik sekilas. Karena Yulia tak memberi reaksi, Romi akhirnya beranjak dari kamar itu. Yulia melirik dari ekor matanya sampai Romi hilang di balik pintu.
Sebenarnya kasihan juga mas Romi.
"Yuk, kalau begitu kita tidur sekarang!" ajak Yulia mencium pipi gembul Shila. Setelah beberapa saat akhirnya Shila tertidur lagi dengan mendekap erat tangan Yulia. Takut Yulia pergi lagi.
Sudah hampir satu jam akhirnya pelukan Shila di tangan Yulia lepas, dengan langkah perlahan ia turun dari ranjang, menyelimuti tubuh Shila sampai bahu. Lalu ia melangkah menuju ruang tamu.
Terlihat suaminya telentang dengan kaki panjangnya menjuntai, melebihi panjang sofa. Ia masih terjaga sambil menatap langit langit ruangan itu. Tangannya bersedekap, menahan udara agar tak terlalu dingin.
Muncul rasa iba di hati Yulia. Malam ini terasa begitu dingin, bagaimana nanti kalau Romi sampai sakit karena udara dingin, tidur di luar ruangan tanpa memakai selimut. Ia pasti akan diliputi rasa bersalah.
Romi dengan cepat memutar kepalanya saat terlihat sebuah bayangan dari lampu yang menyala. Terlihat sekelebat bayangan Yulia menjauh, ternyata sang istri tak bisa tidur sama seperti dirinya.
Perlahan ia bangkit, lalu berjalan menuju kamar yang ditempati Shila, Romi mengintip masuk. Shila tertidur lelap, sedang Yulia tengah mencari sesuatu dalam lemari. Ia menghampiri istrinya tanpa suara.
"Kenapa belum tidur?" tanya Romi membuat Yulia terlihat sedikit berjingkat kaget. Namun sedetik kemudian ia bisa menguasai diri dari rasa kagetnya. Sebuah kain selimut ada ditangannya, dan diangsurkannya pada Romi.
"Biar gak terlalu dingin." ucapnya tanpa menatap Romi.
Romi meraih selimut itu, dan tangan Yulia. Dengan cepat menariknya dalam pelukan. Walaupun Yulia meronta tenaganya kalah jauh dengan Romi. Akhirnya dia hanya diam saja dalam pelukan hangat suaminya. Karena bagaimanapun ia rindu di pelukan suaminya yang terasa nyaman.
__ADS_1
"Selimut setebal apapun gak akan bisa menghangatkan tubuhku. Terlebih hatiku! Hanya kamu yang bisa menghangatkan ku, karena kamu lah selimutku" ucapnya mencium rambut Yulia dan tangan kanannya mengelus perut.
\=\=\=\=\=\=\=