
"Mas, aku pake baju yang mana nih!" Yulia mematut beberapa baju, membawanya ke depan cermin. Menimbang nimbang, pakaian mana yang paling pas untuknya. Karena mereka akan menghadiri pesta pernikahan Andre dan Yesi.
"Yang mana aja, tapi jangan terlalu mencolok ya! Aku gak mau kamu jadi pusat perhatian, terutama laki laki." kode keras Romi memberi ultimatum pada sang istri. Bagi Romi, ini hanya undangan pernikahan teman, gak perlu terlalu dilebih lebihkan. Apalagi sampai berdandan yang menarik perhatian.
"Kita couple an aja, yang batik biru itu. Biar orang pada tahu kalau kita pasangan. Sama anak anak juga." Yulia yang sedang didepan cermin menoleh pada Romi yang hanya mengenakan handuk karena baru mandi.
"Baiklah!"
Yulia mengangguk, lalu juga mengambilkan baju berwarna dan motif sama untuk Romi dan kedua anaknya ikut kondangan.
"Berangkat!" Mereka berempat pun berangkat menuju tempat resepsi pernikahan. Mima, dan keluarganya yang beberapa Minggu lalu datang, kemarin datang lagi dan menginap di rumah Romi untuk berangkat kondangan bersama sama.
Romi, Yulia, Shila dan Kia yang memakai baju seragam batik warna biru, begitu juga Mima, Christian, Ricky dan Bu Alvi memakai baju couple berempat dengan warna dan mode berbeda.
Tiba di acara, sudah ramai para hadirin mengantri menuju pelaminan untuk menyalami pengantin. Romi menggendong Baby Kia, sedang Shila digandeng tangannya oleh Yulia.
Berbaur dengan banyak orang dengan berbagai aroma parfum membuat perut Yulia bergejolak. Apalagi jika tercium aroma parfum bunga, ia benar benar tak tahan. Untungnya tadi ia sudah menyiapkan diri, membawa buah jeruk. Ia buka kulit buah yang mengandung minyak Atsiri itu, lalu menghirupnya dalam dalam.
"Apa tuh, Bunda?"
"Jeruk!" " Bunda mual kalau di tempat banyak orang gini."
"Karena dedek bayi ya, Bun?" Yulia mengangguk menatap Shila yang juga menatapnya.
"Bunda, nanti aku mau makan cup cake, ya Bunda?" rengek Shila memohon dengan mimik lucu. Biasanya jika mengikuti orang tuanya menghadiri kondangan, makanan yang pertama kali dicarinya adalah cake.
Wajahnya yang bulat dipadukan jilbab instan bahan Ceruti dengan dobel layer, menambah keimutannya. Sebagai kakak ia bisa ngemong adiknya, tapi jika bersama bunda Yulia dan tak bersama adik, ia menjadi manja bukan main.
"Iya, sayang. Nanti habis salim sama Om Andre dan Tante Yesi, ya. Ucapin selamat dulu sama yang punya hajat, baru Shila boleh ambil makanan yang Shila suka. Ok!" Yulia dan Shila saling beradu telapak tangan dan tersenyum.
"Ok, Bunda!"
"Makasih ya, kalian udah mau datang ke pesta kami!" Yulia dan Yesi saling berpelukan. Sang pengantin wanita begitu anggun dan manglingi, seperti berbeda dengan wajah aslinya. Jika tak bersama Andre, mungkin Yulia tak yakin kalau itu adalah Yesi.
"Iya, sama sama. Selamat buat kalian, semoga cepeet daper momongan dan bisa langgeng sampai tua. Sampai jadi Kakek Nenek."
"Aamiin!" Yesi mengaminkannya. Dan saat dengan Andre, Yulia hanya berjabat tangan dengan ujung jari saja. Dan memberi selamat dengan kalimat yang sama.
Saatnya menuju ruang jamuan. Berbagai macam makanan, camilan dan minuman menggugah selera di stan masing masing. Namun tidak bagi Yulia. Kerongkongannya seperti tersumbat, jika tak ingat Shila begitu antusias untuk menghadiri acara, ia ingin segera pulang saja. Kia bersama ayahnya telah membawa cup cake di tangannya. Begitu juga Shila, membawa dua buah sekaligus, sambil meringis pada Bunda yang geleng kepala akan tingkahnya. Anak itu begitu antusias jika diajak kondangan, dan makanan yang pertama kali ia serbu adalah segala jenis cake.
" Kamu mau makan apa, sayang? Biar aku ambilkan?" tanya Romi ketika melihat istrinya tak membawa apa apa ditangannya.
"Enggak mas, aku lagi gak selera makan. Mas ambil sendiri ya, aku mau duduk di...!"
"Romi...!" belum sempat Yulia meneruskan ucapan, seorang wanita memanggil namanya yang sontak menoleh.
"Laura!"
"Ya ampun Romi, kamu makin kelihatan matang secara usia, tapi makin ganteng deh!" wanita itu tanpa basa basi memuji Romi, tak tahu jika Yulia sudah mengerutkan bibirnya tanda tak suka.
"Kita duduk sana, Shila!" bisik Yulia mengajak Shila duduk di tempat yang disediakan, tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kedua orang yang baru bersua juga seakan lupa pada sekitarnya.
"Ih, unyu nya, ini anak kamu, Rom?" sembari menjawil pipi baby Kia yang terbalut hijab dengan aksen kupu kupu diatas kepala, terlihat sangat lucu.
__ADS_1
"Iya, ini anak keduaku. Anak pertamaku juga cewek, sama istriku tadi!" Romi menoleh ke sebelah kirinya, tempat dimana tadi Shila dan Yulia berdiri, namun nihil.
"Eh, kemana mereka?" gumamnya lalu mengedar pandangan.
"Duuuh, hot Papa banget ya kamu. Nilai plus kamu makin banyak deh, nyesel dulu aku gak gebet kamu aja!" Romi hanya tertawa mendengar gurauan Laura. Wanita berpakaian anggun dan terkesan seksi yang dulu teman SMPnya. Juga teman seangkatan Yesi dan Andre, cuma beda jurusan.
"Kamu bisa aja, Ra! Makasih. Btw, mana suami kamu?" Romi sudah menemukan tempat duduk Shila dan Yulia tak jauh darinya. Pembicaraannya tentu terdengar juga di telinga Yulia, walaupun sayup sayup terdengar lagu dari sound sistem.
"Aku, pisah sama suamiku, Rom. Lima bulan lalu. Suamiku ketahuan selingkuh. Setelah anak yang kami inginkan tak kunjung datang, ia memilih bermain bersama wanita lain di belakangku. Dan saat ja langnya hamil, ia langsung menceraikanku." wanita yang tadi begitu ceria itu kini berwajah sendu, dan cukup membuat Romi salah tingkah dan tak enak hati.
"Eh, maaf. Bukan maksud aku membuka luka hati kamu. Aku benar benar tak tahu. Maaf ya!" wanita itu tersenyum.
"Gak apa, Rom. Memang sudah jalan nasib aku. Oiya, mana istri kamu, apa aku kenal? Maaf waktu Dini meninggal, aku tak ada di kota ini. Ikut perjalanan dinas mantan suami ke luar pulau." sesalnya.
" Iya gak papa. Kayaknya kamu gak kenal deh. Kita tak pernah satu sekolah dengannya. Itu dia duduk disana!" Romi menunjuk dengan jarinya.
"Itu anakmu juga?"
"Iya, udah mau tiga. Yang didalam perut masih dua bulan lebih."
"Oiya!"
"Unda...!" Kia yang tadi asyik makan kue di tangannya menunjukkan jari pada Sang Bunda bersama Kakaknya.
"Kia, sini!" panggil Shila. Laura mengiringi jalan Romi yang menggendong Kia menuju tempat duduk Yulia.
"Sayang, kenalin ini teman aku namanya Laura. Kita dulu teman sedari SMP. Ya, kan Ra?" Romi duduk disisi sang istri dengan Kia yang langsung melompat ke pangkuan ibunya.
"Hai, aku Laura. Salam kenal!" wanita dengan rambut di cat beberapa warna itu tersenyum mengulurkan tangan. Lalu duduk disebelah Yulia.
"Maaf, Yulia. Aku sepertinya gak asing deh sama wajah kamu. Tapi dimana ya, apa cuman mirip doang?" Laura memindai Yulia dari atas ke bawah, seperti mengingat sesuatu.
"Mmm, mungkin seseorang yang mirip saya, mbak. Wajah saya kan pasaran, jadi ...gitu deh!" Yulia meringis.
"Masa, sih gitu. Tapi, mungkin juga kali."
"Kamu kenal sama pengantinnya?"
"Ya, keduanya aku kenal, meski gak dekat sih. Kalau yang pengantin prianya malah dia tetangga aku. Rumah ibuku dibelakang rumah dia.
Rumah dia di pinggir jalan raya, kalau rumah aku masuk gang!" jelas Yulia.
"Oh, kamu tetangganya Andre? Pantesan, aku kayak gak asing. Kalau gak salah kamu sering lewat depan rumah Andre, waktu aku dulu sering main kesana."
"Mungkin juga sih, mbak!" mereka langsung terlihat akrab.
"Oiya, ini pasti anaknya Dini? Mirip banget sama ibunya." wanita itu terus berbicara membuat Yulia melirik sang suami. Romi hanya diam menatap sang istri berharap Yulia tidak tersinggung.
"Eh, maafkan aku. Aku keceplosan ya." tersenyum mengelus lengan Yulia.
" Hai cantik, namamu siapa?" Shila merengut, tempat duduknya dipakai duduk oleh Laura.
"Shila, ditanya Tante tuh. Dijawab dong sayang!" tegur Yulia dengan mengelus hijab Shila.
__ADS_1
" Kan, Tante itu udah tahu nama aku, karena Bunda nyebut nama aku. Lagian tempat duduk aku diambil!" sungut Shila ketus. Laura tertawa, baru tahu anak itu kesal karena tempat duduknya dipakainya duduk.
"Ehehe, maaf ya sayang. Kalau gitu duduk sama Tante yuk!" Shila memberontak tak mau sebab Laura menarik tangannya agar duduk di pangkuannya.
"Gak mau!"
"Shila...!"
"Shila...!" Romi dan Yulia menegur Shila bersamaan.
"Jangan gitu sayang. Shila harus hormat sama orang yang lebih tua, ya. Kesayangan Bunda pasti tahu, kalau gak hormat sama orang yang lebih tua itu adalah perbuatan dosa. Yuk minta maaf, dulu!" Shila bergeming. Dari cara bicara wanita itu bersama Ayahnya ia tak suka. Ia tetap bersidekap dan memanyunkan bibirnya. Tangan kanannya masih memegang satu buah kue yang belum sempat ia makan..
"Maaf, mbak Laura. Shila memang lagi sensi. Gak tahu kenapa. Sekali lagi maaf." Yulia merasa tak enak hati. Dikiranya tidak mengajarkan sopan santun pada sang anak.
"Iya gak papa Yulia. Kamu sayang banget sama anak ini. Maaf, aku memanggilmu seperti itu biar kita akrab. Aku berteman sama Romi, aku harap bisa berteman juga sama kamu."
" Iya, mbak dengan senang hati. Sayang, mau es buah gak?" bujuk Yulia untuk menghentikan ambek Shila. Tapi gadis cilik itu menggeleng.
"Mmm, kalau es krim?"
"Mau Bun," Shila langsung ceria.
" Ayo kita ke sana, ambil es krim." Shila menurunkan tangannya, dan menarik tangan sang Bunda.
"Kia disini aja sama Ayah, ya. Bunda repot kalau harus gendong Kia."
"Ndak mahu, Kia cama Unda!" menampik tangan Romi yang akan mengambilnya dari gendongan Yulia.
" Ayo Ayah juga harus ikut. Gak boleh disini." sembari melirik sinis ke arah Laura yang menatap Shila.
"Yaudah, ayo. Ra, aku tinggal dulu, ya."
"Iya, Rom. Santai aja. Aku juga mau pulang kok. Aku udah dari tadi, udah aku cicipin semua makanannya."
" Yaudah aku pamit. Yulia, boleh aku pegang anak kamu, sebentar?" Yulia hanya tersenyum sebagai tanda memperbolehkan.
Laura memegang tangan Zaskia dalam gendongan, lalu menciumnya sebentar, karena anak itu tak mau diam, seakan menolak ciuman. Laura malah tertawa.
"Ahaha, anak anak kamu kayak kamu, Rom. Nolak aku. Benci banget kayak kamu ke aku dulu." ucap Laura tanpa canggung. Romi melirik istrinya yang juga sedang meliriknya penuh tanda tanya. Lalu menggaruk alisnya.
"Gak gitu juga kali. Kalian kan baru ketemu, anakku memang gak mudah akrab sama orang baru."
"Hahaha, kayak bokapnya, dong." Laura tertawa.
" Ya udah aku pergi dulu Rom, Yulia, bye...!"
"Bye juga ...Tante!" Yulia menggenggam tangan Kia dan melambaikannya pada Laura yang sudah menjauh.
"Ayo, Bun! Aku pengen makan es krim nih!" Shila menarik tangan Yulia saat Laura sudah pergi menjauh.
"Jadi, itu salah satu mantan kamu, mas!" Yulia bertanya sembari berjalan dibelakang Romi yang menggandeng Shila.
"Hhhh, cinta monyet dulu. Udah lama banget. Waktu SMP."
__ADS_1
"Dia yang ngejar aku, bukan aku yang gatel pengen jadian sama dia." Romi menegaskan, melihat raut istrinya yang tak sedap dipandang. Padahal tadi mereka cukup akrab.