
"Kata Imah, ada ceceran minyak di depan pintu, Yah! padahal Imah juga baru ngepel. Terus masuk kamar ngurus Ifah sama Rayyan. Tiba tiba ibu teriak teriak di depan pintu suruh Imah masak buat makan siang"
"Tapi Imah lagi sakit perut, sedang di kamar mandi, waktu keluar Ifah bilang ibu sudah jatuh!" Wahyu bercerita dari versi Imah, sesuai keterangan Imah. Kini mereka duduk berdua di ruang tunggu rumah sakit itu. Kondisi Bu Adnan belum ada perubahan.
"Iya, aku percaya. Aku dari tadi malam tuh curiga sama ibu kamu, dia mencak mencak gak karuan terus tiba tiba dia baik dan bilang merestui kalian. Bukannya itu aneh. Memang ibu kamu bisa semudah itu berubah?"
"Membuatmu bercerai dari Yulia saja sampai sekarang ia tak pernah menyesal. Apalagi ini." Wahyu mengusap wajahnya. Memang seperti itulah watak ibunya dari dulu.
"Ayah sarankan, kalau kamu memang niat mau nikahin Imah, disegerakan saja sebelum terlambat. Ayah harap saat ibumu telah sadar, kalian sudah resmi. Atau jika ada kemungkinan yang buruk...!" pak Adnan menerawang. Wajah yang tampak keriput itu begitu muram. Tatapan matanya seolah ia mempunyai beban berat.
"Dalam keadaan seperti ini, apa pantas Wahyu nikah, Yah? Bagaimanapun dia wanita yang melahirkan Wahyu. Ibu sedang koma!"
"Menurut Ayah itu semua tak masalah. Justru nanti jika ibumu sadar, semua akan menjadi masalah. Andai dia sadar, terus memintamu membatalkan rencana pernikahanmu terus karena alasan sakitnya dia memintamu menikahi perempuan pilihannya, apa kau siap? Apa kau mau? Bukan hanya kau kehilangan calon istri, kau akan kehilangan orang yang telah mengasuh anakmu. Kau mau membawa anakmu kerja ke kantor?" Wahyu langsung menggeleng.
"Ayah mendukungmu seratus persen, Wahyu. Kamu jangan kehilangan jatidiri. Lakukanlah apa yang menurutmu baik, dan tidak merugikan orang lain."
"Seperti yang kamu katakan, belum tentu perempuan yang di jodohkan ibumu bisa menyayangi Rayyan, seperti tak kenal ibumu saja. Jadi, sebelum terlambat."
"Jangan membuang kesempatan yang sudah ada di depan mata!" Kata ayah mengakhiri perkataannya menepuk bahu Wahyu. Lalu masuk menemani sang ibu di dalam.
Wahyu membenarkan kata kata ayahnya. Niatnya sudah bulat, jadilah tiga hari ia sibuk mempersiapkan pernikahan, surat surat yang di perlukan untuk keperluan pernikahan harus secepatnya dilengkapi. Dan sore harinya ia gunakan untuk menjaga ibunya yang sama sekali belum sadar.
****
"Bu, maafkan Wahyu. Kali ini Wahyu gak nurut sama ibu. Besok Wahyu akan menikah, tolong jangan marah ya!" mengecup punggung tangan ibunya dengan sayang.
"Ibu bangunlah, agar ibu bisa menyaksikan pernikahanku besok. Ketiga kalinya, Bu. Sebenarnya Wahyu malu, menikah untuk yang ketiga kalinya. Doakan ya, Bu! ini adalah pernikahan yang terakhir kalinya. Doakan Wahyu langgeng sampai tua nanti."
Hanya alat alat yang menempel di tubuh ibunya di ruangan itu yang menjadi saksi perkataan Wahyu. Ia menelungkup kan wajah dan memejamkan mata dengan tangan ibunya sebagai bantal. Hingga sebuah tepukan lembut terasa di bahu. Wahyu mendongak, sang ayah tersenyum.
"Calon pengantin pulanglah sana! Persiapkan dirimu dengan baik. Jangan sampai kau menikah dengan keadaan loyo. Ayah sudah menghubungi Om Firman dan Mas Kevin sebagai saksi dari pihak laki laki besok." Wahyu mengangguk.
Persiapan pernikahan secara sederhana telah di rancang. Tak ada pesta, hanya ada calon pengantin, wali nikah dari pengantin perempuan, saksi, baik dari pihak Wahyu dan Imah. Serta penghulu.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Wahyu Hidayat bin Adnan Nasri dengan adik saya yang bernama Halimah binti Hamdan dengan maskawin nya berupa seperangkat alat shalat dan uang lima juta rupiah di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Halimah binti Hamdan dengan maskawin tersebut dibayar tunai." lantang Wahyu mengucap kalimat kabul dalam sekali tarikan nafas.
__ADS_1
Teriakan sah langsung menggema di ruangan itu.
Dan detik itulah mereka resmi menjadi suami istri yang sah.
Setelah ini, mereka akan mengunjungi Bu Adnan di rumah sakit.
****
"Mas, ayo! aku udah siap nih!" panggil Yulia yang agak lama duduk di teras rumah. Rencananya hari ini mereka akan mengunjungi dokter kandungan untuk melakukan USG.
Romi keluar dari dalam rumah, mengayun ayunkan kunci mobil di tangan kanannya, melangkah mendekati sang istri.
"Kok lama banget sih mas, ditungguin dari tadi juga!" Romi tersenyum menggandeng istrinya dengan satu tangan mengelus perut buncit Yulia.
"Gak tahu nih, perut aku dari tadi mules mules gitu. Makan pedes kemarin mungkin!" jawab Romi membuka pintu mobil untuk istrinya.
Dari teras rumah Shila terlihat keluar dengan boneka Masha ditangan kirinya, melambaikan tangan, dikawal oleh Bu Kanti dan Mak Minah.
****
"Iya, sayang. Mas nyerah deh. Dua bulan lagi juga kita bakalan tahu anak kita laki laki apa perempuan. Kalau dilihat dari caranya menyembunyikan *********** sih, aku pikir dia perempuan. Pemalu seperti bundanya!" mereka saling melempar senyum.
"Laki laki atau perempuan sama aja kan? gak bakalan di beda bedain?"
"Ya enggak dong sayang! Apapun jenis kelaminnya dia anak kita, yang harus kita cinta dan kita rawat sepenuh hati." Romi mengelus kepala yang terbungkus hijab oranye itu.
Setelah menebus vitamin di apotek mereka bermaksud untuk pulang.
"Mampir beli ikan tuna bakar ya mas, lagu kepengen banget dedek bayinya!" pinta Yulia.
"Ok! Asshiaaap badadari cantikku!"
Langkah Yulia tiba tiba terhenti saat beberapa orang berjalan dari arah berlawanan. Ia sangat mengenali mereka. Selain wanita yang masih memakai kebaya pengantin.
"Mas Wahyu!" gumam Yulia. Ya, Wahyu berjalan menggandeng seorang wanita dan beberapa orang lainnya yang juga Yulia kenal, karena mereka keluarga mantan suaminya itu.
"Ayah, Om Firman sama Kevin, mau kemana mereka. Apa ada yang sakit? Tapi kok mas Wahyu pakai baju pengantin ya?" Yulia memperhatikan mereka yang melewatinya dan Romi. Tapi sepertinya mereka tak menyadari keberadaan Yulia.
__ADS_1
Tanpa sengaja Wahyu yang berjalan agak di belakang menoleh pada Yulia dan Romi. Ia dan wanita yang di gandeng tangannya berhenti.
"Yul! ka_kalian disini? sedang apa?" Wahyu menyapa duluan. Lalu ia melihat perut Yulia yang besar.
"Aku baru periksa kandungan, mas Wahyu. Siapa yang sakit?" pertanyaan Yulia mengalihkan perhatian Wahyu pada perut Yulia. Ada rasa sesak di dadanya. Ia menelan ludah.
"Ibu, ibu jatuh dan sekarang koma Yul! Oiya, kenalkan! Ini istriku, namanya Halimah. Halimah, ini Yulia, dia... mantan aku!"
"Hai mbak!" sapa Yulia pada Imah. Mereka saling melempar senyum, mendekat lalu bersalaman.
"Oiya, tadi katanya ibu sakit, sakit apa, mas?" Romi hanya melengos melihat interaksi Yulia dan mantan suaminya. Tak ada niat bertegur sapa.
"Ibu jatuh, dan sekarang sedang koma. Sudah empat hari ini!" Yuli menutup mulutnya.
Innalilahi wa innailaihi rojiun. Batin Yulia.
Bu Adnan membenci Yulia, bahkan ia yang menjadi penyebab perceraiannya dengan Wahyu. Tapi tak sedikitpun ada dendam di hatinya.
"Aku minta maaf atas nama ibu ya Yul! aku tahu beliau dulu sering menghina dan menyakitimu. Tapi dengan keadaannya sekarang, aku mohon kamu mau memaafkannya!"
"Iya, mas! aku udah maafin ibu kok. Oh, apa boleh kita menengoknya?" Romi menoleh pada istrinya ingin melayangkan protes.
Kenapa sih harus nengok segala, mereka semua kan jahat sama kamu Yul, ngapain coba!
Romi hanya menahan kesal dalam hati, namun tak bisa berbuat apa apa selain menuruti kata sang istri. Kini mereka berjalan menuju ruang dimana Bu Adnan dirawat.
Pasangan Wahyu dan Imah berjalan di depan, sedang Romi dan Yulia berjalan di belakang mereka.
Sesampainya mereka di sana terlihat keluarga Wahyu yang tadi berjalan lebih dulu.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yulia pada semua orang di ruangan itu.
"Waalaikum salam."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
TBC.....
__ADS_1