Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 81


__ADS_3

******


Wahyu duduk di kursi plastik didekat kepala ibunya. Bu Adnan yang masih terlihat lemah berusaha tersenyum. "Wah_ yu!" kata ibu pelan dan cedal. Bibir bagian kirinya tertarik ke bawah tidak simetris dengan bagian kanan. Terkadang keluar air liur dari sana.


"Iya, Bu! Ibu jangan banyak pikiran. Ibu harus sehat kembali seperti dulu, biar bisa bermain sama Rayyan. Semangat! Wahyu sayang ibu! Kita semua sayang ibu, iya kan Yah?" Ayah yang ada di sisi ranjang yang kain tersenyum.


"Iya, Ayah gak tahu kalau ibu sakit atau kenapa napa. Ayah sayang ibu. Cepat sembuh ya? Biar kita bisa shalat berjama'ah, bisa ke pengajian sama sama. Kalau gak ada ibu, hidup ayah rasanya hampa. Siapa yang bakal ngomelin Ayah kalau ayah pulang telat. Siapa yang nemenin Ayah sarapan, nemenin Ayah tidur!" sindir pak Adnan, karena pak Adnan tahu, istrinya tak pernah menjalankan kewajiban yang lima waktu. Hanya sesekali jika Pak Adnan tak sibuk dan mengajak berjamaah saja. Namun Bu Adnan seolah olah tak dengar apa yang dikatakan suaminya. Ia malah melirik pada anak lelaki satu satunya itu.


"Ja_ngan. I_bu ga ma _u ka_mu ni_ kahh sa_ma di_a!" Bu Adnan ternyata membicarakan tentang dirinya dan Imah, langsung bilang bahwa ia tak setuju Wahyu nikah sama Imah.


Nah kan ketahuan kalau ibu cuma pura pura baik sama Imah, dan aku yakin, ibu terpeleset minyak yang sengaja ia tumpahkan sendiri di depan pintu. Berharap Imah yang kena apes.


Wahyu saling pandang dengan ayahnya.


"Bu, dengan keadaan ibu seperti ini, kenapa ibu masih mengungkit tentang hal itu." keluh Wahyu.


"Iya! Harusnya ibu itu taubat. Jangan lagi menjahati orang. Pada orang yang jahat sama kita saja kita tak disarankan membalas kejahatan mereka, apalagi ini orang yang sudah berbaik hati mengasuh cucu kita. Sehingga ibu gak repot lagi ngurusi cucu. Apa masih kurang?" pak Adnan menambahkan kata kata Wahyu.


"Po_kokya i_bu ndak ma_hu. pu_nya ma_ntu di_a!" tangan kanan Bu Adnan bergerak gerak tanda tak mau.


Wahyu memijit pelipisnya.

__ADS_1


Dengan keadaan Bu Adnan yang belum stabil, membicarakan hal sensitif seperti ini hanya akan menambah masalah. Lebih baik ia diam.


Kesehatan ibu nomer satu, semoga aja ada keajaiban yang membuat ibu sadar, dan bisa menerima Imah yang terlanjur aku ikat dalam pernikahan yang sangat sederhana. Aku berjanji tak akan lagi menodai kesucian sebuah pernikahan. Cukup yang dulu menjadi pembelajaran. Sekuat tenaga akan pertahankan janji suci pernikahan menjadi pernikahan yang diridhai di hadapan Tuhan dan direstui ibu dan ayah.


Sepertinya jalan satu satunya aku harus menyingkirkan Imah dan anak anak dari rumah Ibu.


"Baiklah, kalau memang ibu gak suka sama Imah, Wahyu janji gak akan bawa Imah ke hadapan ibu." ucapnya kemudian. Sang ibu terlihat tidak puas dengan jawaban Wahyu, namun kemudian hanya diam saja.


*****


"Apa nanti sehabis kerja mas Wahyu langsung ke rumah sakit nengok ibu?" pertanyaan Imah pada Wahyu pagi itu. Sebelum berangkat kerja dan setelah sarapan.


"Lalu gimana dengan ibu, mas? Siapa yang jaga ibu kalau kita pergi dari sini?" Wahyu menghela nafas, mengelus pundak istrinya lalu tersenyum.


"Nanti aku carikan orang buat jaga ibu, kamu gak usah berpikir macam macam. Fokus saja pada anak anak, mereka lebih penting." Imah mengangguk.


"Apa tadi malam ini menyinggung tentang aku?" selidiknya kemudian.


"Hmm, sepertinya ibu tetap kukuh pada pendiriannya. Tak merestui kita, tapi kamu gak perlu khawatir, biarkan saja. Daripada nanti ibu jadi marah marah karena gak suka lihat kamu, lebih baik kamu di rumah kita saja. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu ataupun pada ibu jika kalian tinggal serumah."


"Sekarang kamu jadi tanggung jawab aku, aku tak ingin terjadi sesuatu seperti dulu yang bakal buat aku menyesal seumur hidupku."

__ADS_1


"Ya udah, aku berangkat dulu, ini bekal buat aku, kan?"Wahyu menunjuk tas yang berisi kotak wadah makanan yang ditenteng istrinya.


Imah mengangsur tas itu. "Itu sekalian aku masukin buah buahan yang sudah siap makan. Dimakan dulu sebelum makan nasi ya, mas! Setahu aku buah itu akan maksimal manfaatnya dimakan sebelum makan yang lain!" ujar Imah mengingatkan.


"Wow istriku makin pintar saja. Makasih ya sarannya. Jadi makin sayang sama kamu!" gombalnya tepat mengenai sasaran. Wajah istrinya merona merah karena malu.


"Dikecupnya kening dan kedua pipi sang istri. " Jangan lupa siap siap ya, kemungkinan jam 3 sore aku udah pulang. Kita langsung pulang nantinya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam, mas. Titi Dije..!" ucap Imah tersenyum.


"Haa!" Wahyu yang baru melangkah maju kembali diam dan menoleh pada Imah.


"Maksudnya...?"


"Titi Dije mas! Hati hati di jalan!" beberapa detik kemudian Wahyu baru mengerti apa maksud istrinya lalu tertawa.


"Hahaha... ada ada aja kamu. Iya, doakan pekerjaanku lancar ya."


"Aamiin!" balasnya. Wahyu belum berhenti tersenyum hingga ia masuk ke dalam mobilnya, membunyikan klakson dan Imah pun melambaikan tangannya.


Maafkan aku mas Wahyu, kamu pasti sulit dengan keadaan ini. Andai kamu tak menikahiku, mungkin gak akan terjadi hal hal kayak gini. Imah bermonolog. Lalu masuk kedalam rumah, menemui Ifah dan Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2