
*****
"Assalamu'alaikum...!"
Romi mengetuk pintu. Sedang Yulia dan Shila bergandengan di sampingnya.
"Ini rumah siapa, ayah?" tanya Shila yang merasa asing dengan rumah yang didatanginya.
"Ini rumah temannya Ayah. Nanti juga kamu tahu, sayang!" menjawil pipi anaknya. Tak lama pintu dibuka oleh pemilik rumah.
"Waalaikum salam!" seorang wanita paruh baya terlihat cantik tersenyum.
"Tante! apa kabar?" Romi menyalami wanita itu dan mencium punggung tangannya.
"Alhamdulillah, baik Nak Romi, ayo silakan masuk," ucap ibu itu mempersilakan dan menyalami Yulia dan Shila.
"Apa ini Shila? waah cantik banget! Dia kan seumuran ya sama Thalia! cucu Tante." ibu itu menggendong Shila yang hanya manut saja.
"Terus yang ini....?" menunjuk pada Yulia, Yulia pun menyalami ibu itu.
"Yulia, Tante!"
"Ayo! ayo silakan duduk!"
"Makasih Tante!"
"Aam ada kan, Tan?" tanya Romi setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu itu.
"Eh, ayo kita ke ruang tengah aja. Kebetulan kita lagi kumpul kumpul, pas banget kamunya datang!"
Mereka bertiga mengikuti wanita paruh baya itu, dari ruang tamu memang terdengar suara riuh orang tua dan juga anak anak.
"Assalamu'alaikum semuanya!" ucap Romi saat tiba di ruang tengah. Di sana ada beberapa orang yang tengah bercengkrama, laki laki dan perempuan.
Yulia mengenali beberapa diantaranya. Aam, dan Diah istrinya. Diantara mereka berdua ada bayi berumur setahun.
Ada laki laki paruh baya yang ia kenal sebagai dokter yang merawat ibunya, dan dokter langganan keluarga Romi, disampingnya ada... Tante pemilik toko kue beberapa waktu lalu yang dikunjungi Romi saat pulang dari rumah Mima. Dan Tante itu... sangat mirip dengan Tante yang membukakan pintu.
Sedang yang lainnya masih asing bagi Yulia. Namun ia tersenyum ramah dan mengikuti langkah Romi yang sepertinya sudah sangat akrab.
"Waalaikum salam!" ucap mereka serentak dan menoleh pada si empunya tamu.
"Waaah, ada angin apa yang bawa elo ke sini, Bro..! Masih ingat juga elo kesini hahaha..." laki laki yang Yulia kenali bernama Aam mendekati mereka, lalu menyalami dan mempersilakan duduk di karpet yang tersedia.
"Angin kencang wussh, hahaha!" Romi pun ikut tertawa setelah mereka toss ala anak muda.
"Nak Yulia, pasti belum kenal mereka. Kanalkan, mereka anak sama menantu Tante. Oiya, nama Tante Sofi, panggil aja Tante Sofi. Nak Yulia ini, calonnya Romi kah?" Yulia hanya tersenyum dan mengangguk.
" Nah, yang itu adik Tante, Nisa dan suaminya Dek Rama, dan yang ini, suami kesayangan Tante! Namanya Om Farhan!" Mereka semua tersenyum ramah pada Yulia.
"Oiya, salam kenal semuanya, Nama saya Yulia!" Yulia menangkupkan tangannya pada para lelaki.
Yulia bergabung dengan para wanita yang berkumpul jadi satu.
"Hai kak, namaku Shera!"
"Kalau saya Meera! kita kakak beradik. Salam kenal juga!"
"Aku yang paling cantik ini, namaku Ayu! salam kenal kak!" yang bernama Ayu memperkenalkan diri dengan kemayu.
__ADS_1
"Huuuu!" sontak Meera dan Shera menyoraki Ayu.
Yulia tersenyum, mereka mama mama muda yang ramah.
*****
"Hei bro, kayaknya ini lagi bawa undangan resepsi nih! benar kan kataku?" ucap Aam menepuk paha Romi yang duduk di sebelahnya. Mereka kini duduk di ruang tamu berempat bersama Yulia dan Diah. Romi hanya meringis, karena sedang makan kue cinnamon rolls di tangannya.
"Nggak kok!" jawab Romi acuh.
"Nggak salah maksudnya....!" dengan santai Romi mengunyah makanannya walau Aam menatapnya.
"Sia lan elu!" um pat Aam. Namun Romi tak peduli.
"Hmmm, ini kue pasti bikinan Tante Nisa ya! Enak...!" Romi dengan tak tahu malu mengambil kue kedua.
"Enak aja, itu bikinan bini gue!"
"Waah, benarkah? Kalau gitu, ntar Yulia biar belajar sama bini elu!" Romi melirik Yulia yang duduk bersama Diah.
"Dasar kau Rom!"
"Minta aja resepnya, pasti bisa kok. Lihat di you tube juga bisa! Mudah kan jaman sekarang mau bikin apapun ada sampelnya."
Mereka pun lanjut berbincang bincang setelah Romi menyerahkan undangan pernikahannya. Shila pun langsung kerasan jika di tempat yang di datangi ada anak sebayanya ataupun bayi. Dari tadi ia pun tak berhenti bermain dengan baby Yumna yang tertawa tawa saat bermain dengannya.
"Baby Yumna lucu ya Bunda! dia ketawa tawa terus lihat Shila!"
"Iya sayang! Karena Baby Yumna tahu kalau kakak Shila sayang sama dia!"
"Nanti Shila punya adik kan?"
Sebelumnya Yulia juga bertanya tanya tentang cara merawat tanaman bunga Tante Sofi, terutama bunga anggrek. Ia sangat menyukai salah satu bunga yang tergolong mahal itu.
Dulu di rumah Wahyu, ia juga menanam beberapa anggrek, dan entah bagaimana nasibnya sekarang. Mungkin telah mati bersama perasaannya terhadap mantan suaminya itu.
"Kamu suka menanam bunga Yul?" tanya Romi saat mereka sudah sampai dirumah Romi, Shila telah tidur di jok belakang.
"Mas tahu dari mana?" jarinya tak berhenti membalas chat yang ada di grup WA sesama karyawan di swalayan.
"Hei, kalian bekerja yang bener, jangan main hape aja! Awas ya ketahuan Bu Bos, ku pecat kalian πΆπΆπΆ! Potongan gaji 50 persen, itu paling ringan π€§π€§!"
"Ampyuun, Bu Bos! Kami akan bekerja dengan baik! Ampuuuuun! ππ." Lasmi.
"Wealaah, Bu Bos kita galak bingit sekarang, mentang mentang naik ke loteng, eeeh!" Yeni.
πππππ
"Naik Jabatan π€Έπ€Έπ€Έ" Lasmi.
"Naik tangga, tros jatuh ditangkap bang dude Herlino, wiiih mantap." Risma.
"Hahaha, aku kan Alyssa Soebandeno. Trus, masalah buat elu -elu pada?" Yulia.
______
"Yull...!"
"Eh, apa mas? Aku sedang balas chat teman teman!" terlihat Romi kesal. Yulia mengerti, ia pun langsung meletakkan hapenya dan tersenyum manis pada Romi.
__ADS_1
" Peace!" ucapnya mengangkat kedua jari, Romi pun tak jadi marah dan malah tertawa.
"Tadi aku lihat kamu antusias banget tanya tanya sama Tante Sofi caranya tanam bunga, kamu mau punya kebun bunga?" Romi mengulangi perkataannya tadi.
"Apa boleh, mas?" binar rasa senang terlihat jelas di mata Yulia.
"Apa sih, yang gak boleh buat calon permaisuri ku ini!" Yulia tersenyum dengan pipi merona.
"Gombal aja terus!" keduanya lalu turun dari mobil. Romi mendekati Yulia dan bersandar di body mobilnya.
"Disana, halaman ini kosong. Kamu bisa mengeksplor tempat itu sesuai keinginanmu." menunjuk sudut halaman rumahnya.
"Ibu sudah tua, maklum kalau halamannya gersang. Terkadang aku berpikir, jika ada halaman se gersang ini, jawabannya adalah pemilik rumah itu sudah tua, atau tak ada nyonya rumahnya alias pemiliknya duda, Hehehe!" Romi tertawa sumbang, merasa tertohok dengan pernyataannya sendiri.
*****
Pagi yang cerah. Mentari memancarkan sinarnya yang terang karena langit biru. Hari ini hari bahagia Romi dan Yulia telah tiba. Tenda yang indah dengan bunga bunga asli ditata dengan apiknya oleh pihak WO. Begitu juga dengan makanan yang disajikan begitu menggugah selera.
Bu Kanti tersenyum, dalam hati ia berdoa semoga ini adalah pernikahan terakhit buat anak perempuannya. Dan langgeng serta di beri curahan nikmat dan karunia Tuhan semesta Alam.
Yulia terlihat cantik dalam balutan kebaya pengantin berwarna putih. Walaupun ini pernikahan kedua untuknya, namun tak membuat ia lepas dari rasa nervous.
Gugup, jantungnya juga bertalu kencang.
"Duuh, mbak Yulia, relax ya? Kok keringet dingin begini!" ujar mbak Rena, perias pengantin Yulia.
"Iya nih mbak! Gak tahu juga. Padahal ini bukan yang pertama kalinya!" ucap Yulia.
"Coba deh, atur nafasnya mbak Yulia, hirup dalam dalam, simpan sebentar, lalu hembuskan lewat mulut pelan pelan." Yulia mempraktekkan apa yang dikatakan mbak Rena. Di ulanginya beberapa kali.
"Gimana mbak! Sudah mendingan?"
"Iya mbak! Sudah, Alhamdulillah lebih mendingan. Lebih relax."
Mbak Rena memberikan secangkir teh untuk Yulia.
"Coba minum ini juga dulu!" Yulia melirik cangkir itu.
"Ah, aku kalau minum teh suka ke belakang mbak, gak tahan pipis mulu. Air putih aja ya!" pinta Yulia dan asisten MUA yang ada di dekat mereka sigap mengambilkan air mineral. Lalu Yulia meminumnya hingga tinggal setengah.
"Hmmm, Alhamdulillah! udah lebih enakan mbak! bisa diteruskan riasannya!" Setelah minum air putih dan juga mengambil nafas, Yulia jauh lebih baik. Mbak Rena tersenyum lalu meneruskan merias Yulia yang tadi sempat tertunda. Tak henti henti Yulia meremas tisu dalam genggamannya, untuk menguatkan diri.
Pukul 09.00
"Saya terima nikah dan kawinnya Yuliana binti Munandar dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat seratus gram dibayar tunai!"
\=\=\=\=\=\=\=
Alhamdulillah, 3 bab selesai. Moga cepet dapat inspirasi lagi....
Othor: Eh, kalo udah sah nikah, terus di bikin gimana ya? Apa end aja ya, Kan udah happy, si Yuyu kangkang juga udah minta maaf ngaku salah, dan sekarang dapat karma. Ngurus bayi sendiri karena ditinggal pergi. Emang enak Yuyu?
Reader: iya, end aja. lama lama garing juga cerita recehmu Thor!
Othor: πππππ auto kumenangiiiiis!
Reader: Emang enak! weeek!
Big hug from far away for my reader.....
__ADS_1
thank you so much....