Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 114


__ADS_3

Yulia dan Romi sudah bersiap untuk pergi, saat terdengar bel rumah berbunyi.


"Ada tamu, mas. Siapa ya?" tanya Yulia mengusapkan liptint di bibir.


"Mana ku tahu, biar aku yang keluar!" Romi segera keluar kamar menuju ruang tamu dan membuka pintunya.


"Kalian...!"


Ada Arsen tersenyum ke arahnya, Dini yang menunduk menggandeng Dion yang menggunakan alat penyangga kaki.


"Assalamu'alaikum, Mas Romi. Maaf baru bisa mampir ke sini."


"Waalaikum salam. Oh, tak masalah Sen. Kamu pasti sibuk ngurusin Dion, ayo masuk kalian. Dion udah baikan ya!" Dion yang berjalan memakai kruk.


"Kapan keluar dari rumah sakit, kok gak ngabarin, kalau tahu sih aku jemput kesana?" tanya Romi setelah mereka duduk di ruang tamu.


"Kemarin pulangnya, dan saya ajak kesini dulu sebelum bawa dia ke Samarinda, mas. Aku bakalan rawat dia, sebaik baiknya." ucapnya melirik sang mantan istri yang menunduk pura pura tak mendengar percakapan mereka.


Tak lama, Yulia keluar kamar, dan tersenyum bahagia melihat keadaan Dion yang sudah lebih baik kelihatannya.


"Loh, sepertinya kalian mau pergi ya? Maaf kalau kami mengganggu. Kalau begitu biar kami pulang." Arsen yang melihat gaya pakaian Romi dan Yulia yang seperti hendak keluar berseru, namun Romi langsung menggeleng kuat. Begitu pula Yulia, mencegah kepergian mereka yang baru saja datang. Karena keperluan mereka bisa dilakukannya lain kali.


"Nggak, kok. Kita lebih senang dengan kedatanganmu. Kita tadi cuma mau jalan jalan doang, iya kan, Bun?" Romi menatap minta persetujuan sang istri. Hingga Yulia mengangguk.


"Iya, kita bisa keluar lain kali aja." tungkas Yulia menatap Dini yang hari ini lebih banyak diam dan menunduk.


"Mam, Dion mau pipis!" ucap Dion lirih tapi masih didengar oleh semua orang yang ada disitu.


"Oh, kamar mandi ada disebelah sana. Mau Tante antar?" tawar Yulia pada Dion yang langsung menggeleng dan terlihat malu.


"Biar Papah yang antar!" Arsen bersiap berdiri namun dicegah Dini. Ia merasa sungkan duduk diantara Yulia dan Romi tanpa Arsen dan Dion. Maka ia yang mengantar Dion.


"Betul, kamu yakin bawa Dion ke Samarinda, Sen?" Arsen mengangguk yakin.


"Lalu, gimana dengan ibunya, apa Dini juga ikut?" tanya Romi lirih, tangannya terulur di bahu istrinya.


"Aku terserah dia, mau ikut atau nggak aku udah gak peduli!" jawab Arsen menunduk, seperti tak yakin akan jawabannya sendiri.


"Maaf, kalau boleh aku tahu, kalian ini sebebernya sudah benar cerai atau gimana statusnya?" tanya Romi dengan penasaran.


"Aku... talak dua Dini, mas. Udah dua kali saya talak Dini." Romi mengangguk mengerti. Ia sekarang lebih paham tentang hukum talak.


"Udah berapa lama kamu menalak istrimu, Dek Arsen?" kali ini Yulia yang bertanya. Arsen seperti berfikir.

__ADS_1


"Sekitar dua bulanan, mbak Yulia."


"Oh, itu artinya kalian masih bisa rujuk jika memang menginginkan. Tanpa adanya akad nikah lagi. Karena sebenarnya Dini masih dalam masa Iddah." Yulia bersuara.


Perhatian mereka tertuju kearah dimana Dini dan Dion yang muncul dari kamar mandi.


"Memang kamu masih kepengen rujuk sama dia?"


"Tentu saja, saya sebenarnya masih cinta sama dia.Tapi saya juga geram dan marah setiap ia bertingkah, dia telah menghabiskan semuanya. Untung saja saya masih punya aset yang ia tidak ketahui, hingga saya masih bisa bertahan dan bisa bangkit sekarang." ucapnya lirih, tepat saat itu Dion dan Dini sampai ke sofa dan duduk lagi di tempat semula.


"Mam, kakiku sakit!" keluh Dion lagi sembari mendesis, kaki Dion tentunya memang belum begitu pulih, dan merasa sakit karena kelamaan dibuat jalan atau duduk.


"Sayang, kamu berbaring di sofa saja ya." Dion mengangguk.


"Eh, Dion boleh kok istirahat di kamar tamu. Mas, coba itu Dion digendong aja ke kamarnya!" usul Yulia.


***


Dion telah istirahat di kamar tamu rumah Romi, kini tinggal keempat orang yang duduk berhadapan. Kedua laki laki bicara santai bercerita tentang kesibukan masing masing, sambil sesekali tertawa senang. Mereka memang sudah lama sekali tak bertemu.


"Kamu memang hebat, Arsen. Kalau mas ini, ya seperti ini lah. Cuma pemilik swalayan kecil." Romi tertawa setelah mengatakan itu.


"Ah, dari dulu mas Romi memang selalu merendah. Liat aja, sebentar lagi mas Romi pasti mau buka cabang. Sebanyak jumlah keluarga! Anak megang satu satu, mbak Yulia juga suatu saat pasti mas Romi pinta handle salah satu swalayannya. Aku yakin itu." tawa mereka berderai lagi.


Sementara kedua lelaki asyik berbincang, duduk bersebelahan. Mengabaikan kedua wanita dihadapan mereka yang masih terlihat canggung.


"Dini...!"


"Iya, mbak Yulia...!" Dini menoleh pada Yulia.


"Selama ini kamu tinggal di mana?"


"Aku... tinggal di kontrakan. Gak jauh dari sini." Dini tak mampu menatap Yulia, wajah cantik itu kini terlihat sayu dan kurang terawat.


****


Malam itu, Romi dan Yulia setengah memaksa Dion dan kedua orang tuanya tidur di rumah mereka, Dion dan Arsen tidur di kamar tamu, sedangkan Dini tidur di kamar Shila.


Secara sepihak, Arsen memutuskan besok ia akan membawa Dion kembali ke Samarinda, ia telah memesan tiket untuk dua orang, dirinya dan Dion. Itu sebabnya malam itu Dini tidur dengan gelisah, ia hanya membolak-balikkan badan hingga Shila yang tidur disampingnya terganggu.


"Tante Dini kenapa kok tidurnya gelisah. Mau pipis?" tanya polos Shila dengan suara serak.


"Eh, enggak kok. Maaf kalau tidurnya Shila terganggu. Tidur lagi saja, La. masih malam." Shila membalikkan tubuh memunggungi sang Tante.

__ADS_1


"Mas, aku mohon sekali ini aja biarkan aku yang ngerawat Dion. Aku janji bakal senengin dia, jaga dia lebih baik lagi. Aku ibunya, Mas!" Dini berurai air mata berusaha merayu Arsen pagi itu. Arsen sedang menata barang barangnya dan milik Dion ke dalam sebuah koper.


"Aku sudah beri kamu kesempatan, Dini! Tapi apa nyatanya, kamu tak bisa menjaganya. Sampai dia kecelakaan karena ulah kamu. Masih bisa mangkir kamu!" terdengar suara Arsen bernada tinggi, dan suara isak tangis Dini.


"Aku gak bakalan kasih barang barang Dion ke kamu!" ancam Dini yang ditanggapi dengan senyum sinis Arsen. Dion yang sedang berbaring terlihat berkaca kaca. Ia sudah sering kali melihat kedua orang tuanya seperti ini, berdebat dengan suara keras.


Hingga akhirnya kadang banyak perkakas di rumah yang melayang dan lengkingan jeritan dari sang Mama.


Mereka lupa, saat ini mereka ada dimana.


"Aku masih bisa membelikan Dion barang barang yang ia butuhkan disana, tanpa membawa satupun barang dia disini!"


"Aku gak sebodoh dulu, Dini. Aku berhasil menyembunyikan sebagian asetku hingga kamu tak tahu kalau aku masih punya harta yang bisa aku gunakan sebagai modal usaha, aku gak semiskin yang kamu bayangkan!"


Arsen tersenyum sinis, dan hendak keluar dari kamar. Dan terhenyak menyadari, dimana saat ini mereka berada.


Sedari tadi keduanya tak menyadari si tuan rumah terganggu dengan perdebatan mereka. Romi yang sedang duduk berdua dengan Romi sembari minum teh, menghela napas dan saling pandang.


"Kasian Dion mas, kalau orang tuanya sering bertengkar didepan matanya. Anak itu bisa terganggu secara psikologi, merasa cemas, depresi, dan bisa mengalami gangguan dalam berperilaku."


Yulia menghela napas lagi, ia melihat ke arah Shila yang sedang memasukkan alat tulis pada tasnya.


"Aku yakin ini karena sifat buruk Dini, dia tak bisa dikendalikan. Selalu semaunya, Arsen pasti sudah angkat tangan dengan perilakunya."


Harusnya tidak begitu juga, mereka harus bisa mengendalikan emosi, apalagi di depan anak. Kayak orang gak berpendidikan aja!" gerutu Yulia.


Disaat itu, Arsen membuka pintu, dan terpaku sembari menelan ludah.


"Maaf, mas Romi. Aku membuat keributan pagi pagi."


"Kalian mau teh, biar Mak Minah buatkan. Mak Minah...!" Yulia memanggil asisten rumah tangganya untuk membuatkan Arsen dan Dini teh hangat.


"Memangnya setiap hari kalian berdebat seperti itu?" Romi menatap Arsen yang telah duduk didepannya dengan menatap tajam. Tadi saat ia keluar, Dini menangis di samping Dion. Bagaimanapun tingkah laku istrinya sangat mengesalkan baginya, tapi ia sebenarnya Dini adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.


"Saya tahu saya yang salah, gak bisa membimbing dia."


...Bersambung...


Haii, aku datang lagi nih. ada yang masih ngarep story ini gak yah!


Maaf ya lama gak nongol, gak ada kabar....Begini nih kalau othor remahan. pusing sendiri dan sering stuck, kehilangan kata kata.


Moga ada masih ada yang ngarep story ini lanjut.

__ADS_1


__ADS_2