Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 60


__ADS_3

*****


"Yuliaaaa!" yang diluar pintu teriak lagi.


"Iya maaas!" Yulia membawa alat tes itu keluar kamar mandi.


"Gimana hasilnya?" Romi bertanya dengan tak sabar saat istrinya membuka pintu. Yulia keluar dengan wajah datar dan biasa biasa saja, membuat Romi heran. Dan pandangannya mengikuti ke mana arah istrinya melangkah.


Yulia duduk ditepi ranjang, lalu meneteskan air mata bahagia, namun wajahnya di buat sedatar mungkin.


"Loh gimana hasilnya, kok malah nangis?" Romi yang menyusul duduk di samping Yulia.


"Mas! Aku.. aku...!" sambil memperlihatkan tespek yang ada di tangannya. Romi mengerutkan kening.


"Ini... bukannya hasilnya positif ya?"


"Dua garis merah kan? Tapi kenapa kau menangis?" heran Romi, ia yang semula merasa bahagia menjadi terheran heran. Romi pun berdiri.


Apa tidak senang ia akan punya baby? Romi.


Lalu ia merasakan Yulia memeluk pinggangnya erat.


"Mas... aku hamil! Aku gak percaya aku bisa hamil mas!" Romi mengangguk senang, dan mengelus rambut istrinya.


"Aku kan udah bilang, aku yakin kamu gak mandul. Meskipun kamu gak bisa hamil pun aku tetap akan cinta kamu sampai kapan pun, sampai maut memisahkan kita."


"Aku benar benar gak percaya aku hamil secepat ini mas! Mangkanya tadi aku lama di kamar mandi, serasa ini sebuah mimpi. Sampai sampai aku tadi menampar muka aku sendiri, mas! Ku kira aku mimpi, aku hamil hikks hikkks! kita...kita bakal punya keturunan...!" Yulia mengulang ulang kata hamil, seakan akan itu adalah suatu keajaiban


Ternyata Yulia menangis saking terkejut dan rasa bahagia yang membuncah. Tadi Romi sempat salah paham kalau istrinya tidak suka kehamilannya.


"Ya udah, kalau gitu sekarang aja kita ke dokter obgyn, buat mastiin aja! supaya kamu benar benar percaya kalau ini bukan mimpi" Yulia mengangguk setuju.


Hari ini mereka akan langsung ke dokter kandungan. Mereka belum memberitahu siapapun selain orang rumah, Bu Kanti dan Mak Minah.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan Yulia memakai maskernya dan hanya diam.


"Kenapa diam saja? bicara dong!"


Yulia menggeleng.


"Kenapa sih, marah?" Romi bingung tiba tiba Yulia mendiamkannya.


"Please lah, sayang, bicara! Kalau kamu marah, apa salah aku? Biar aku introspeksi diri. Kalau kamu diam, aku gak tahu apa kesalahanku!" Romi bicara masih tetap fokus mengemudi. Yulia geram. Ia memang diam saja, karena jika bicara ia merasa mual mau muntah. Apalagi di manapun dia berada, rasa rasanya yang tercium di hidungnya hanya bau terasi.


Sungguh menyebalkan. Apa wanita hamil semua seperti ini? Ternyata gak enak banget. Tapi aku bahagia.


Ahaaaa!


Yulia menjentikkan jari, sebuah ide hinggap di kepalanya. Di dashboard depannya ada sebuah nota beserta pulpennya. Lalu ia menuliskan sesuatu dan di perlihatkannya pada Romi.


Sesaat Romi membacanya dan tersenyum.


"Ooh, jadi itu sebabnya diam. Kirain marah." Romi tertawa sendiri.


Hhhh, serba salah. Lebih baik diam aja lah! Walaupun masih pengen ketawa. Romi.


"Gimana kalau nanti setelah dari dokter kita beli parfum yang kamu sukai baunya, setuju gak?" Yulia langsung mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


Sesampainya di poli kandungan, Yulia mengatakan apapun keluhannya dan saat di lakukan USG, di ketahui kalau kehamilan Yulia berjalan 6 minggu. Belum terlihat apa pun hanya setitik noktah yang terlihat di layar, yang kata dokter adalah calon janin.


Dan dokter mengatakan semua keluhan yang dialami Yulia itu adalah hal yang wajar untuk wanita hamil pada trimester pertama dan akan hilang sendirinya di trimester kedua dan ketiga. Setiap individu berbeda beda pula ngidam dan apa yang jadi keluhannya.


Romi melongo saat di depan dokter dan suster di ruangan itu, Yulia lancar sekali bicara, tak mengeluh bau terasi atau apa. Bahkan ia melepas maskernya. Namun saat di luar ruangan dan dekat dengan Romi, ia menggunakan lagi maskernya dan mengeluh bau dengan mengibas tangan di depan hidung.


Gini amat ya, rasanya mau punya anak. Romi menggelengkan kepala.


****

__ADS_1


Di tempat yang lain. Berbanding terbalik dengan apa yang dialami Yulia dan Romi yang sedang bahagia karena adanya calon jabang bayi dalam rahim Yulia, Wahyu sudah tak tahan tinggal bersama ibunya diam diam mencari kontrakan rumah.


Ia belum bisa menabung karena kebutuhannya begitu membengkak tiap bulannya. Terutama susu Baby Rayyan dan Bu Adnan juga sering minta uang padanya. Sedang untuk melepas Imah, ia tak bisa, sebab masih sangat membutuhkan tenaganya.


Dengan modal nekat ia pindah dari rumah ibunya dan mengontrak sebuah rumah yang di sewa perbulan. Bersama baby Rayyan yang berusia enam bulan, ia membawa serta juga Imah dan Ifah.


Sang ibu yang tak terima Wahyu pindah mencak mencak dan menuding Imah yang menjadi biang kerok kepindahan Wahyu. Namun itu tak menggoyahkan keinginan Wahyu.


Sebuah mobil pick up membersamai mobil Wahyu, dua orang laki laki yang di sewanya menurunkan barang barang propertinya yang di bawa dari rumah sang ibu.


"Kita tinggal disini Imah, Maaf ya, kalau aku membuatmu susah. Aku masih sangat membutuhkan tenaga kamu menjaga Rayyan, jadi aku memutuskan pindah, agar ibu tak selalu memarahimu dan juga Ifah. Aku juga butuh ketenangan. Di rumah ibu, hal itu tidak aku dapatkan."


Entah kenapa, aku begitu mengedepankan kenyamanan mu dan anakmu. Batin Wahyu.


"Disini ada dua kamar, satu yang di depan kamarku dan Rayyan, dan yang dekat dapur kamarmu dan juga Ifah.


Oiya, Rayyan kan tidur, biar dia sama aku di sini. Kamu kalau udah gak capek, tolong susun baju aku di kamar depan ya! Aku mau istirahat dulu, capek banget!" Wahyu memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi krek, begitu juga saat memutar pinggangnya.


"Baik pak!"


Wahyu pun tidur di sofa ruang tamu, dan Baby Rayyan di dalam box bayinya.


Hari ini menjadi hari yang sibuk bagi Imah, di saat majikannya tidur bersama baby nya, ia menata barang barang bawaan sesuai tempatnya. Ifah dengan senang hati membantu ibunya. Juga membersihkan tempat tempat yang sekiranya kotor di rumah itu, agar nyaman di tinggali.


"Kalau capek kamu istirahat ya, Nduk! Tidur aja di kamar belakang. Biar ibu selesaikan yang ini!" tunjuk Imah pada sebuah kardus yang berisi pakaian Wahyu.


"Nggak Bu, Ifah mau disini sama ibu. Ifah duduk disitu ya, Bu!" Ifah menunjuk sebuah sofa tunggal di kamar Wahyu dan Imah mengangguk.


"Eh, apa itu, Bu?" Ifah menunjuk sesuatu yang jatuh diantara baju baju Wahyu. Sebuah amplop biasa berwarna putih. Ifah lalu mengambilnya.


"Ifah, itu punya pak Wahyu, ya! jangan sampai kamu buka. Kasihkan itu sama pak Wahyu sekarang juga!" titah Imah pada anaknya. Ifah segera berlari keluar, dan saat di dapati Wahyu masih tidur, ia meletakkannya di atas meja.


\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


TBC


__ADS_2