
"Mas Wahyu, nanti kalau kita lewat jalan depan itu ada swalayan yang lumayan selalu rame, aku jadi penasaran deh. Mungkin harganya selisih sama toko lain. "
"Kita mampir, ya? Ada beberapa kebutuhan yang habis dirumah. Sekalian belanja disitu!"
"Oiya, dimana?"
"Lurus saja sebentar, nanti, depan Bank sebelah kanan jalan itu, depannya!"
"Nah, itu swalayannya. Rame kan?"
"Lumayan."
"Mas Wahyu tolong belanjain ya! Rayyan lagi tidur, nih!" Wahyu tersenyum, ia kini telah memarkirkan mobilnya.
"Wokeh, bos nyonya!" sebelum keluar, ia mengecup kepala Rayyan yang sedikit berkeringat dan mulut agak mangap. Ia sama sekali tak terusik tidurnya.
"Ini mas, catatan belanjaannya." sebelum melangkah, Wahyu menerima secarik kertas berisi daftar belanjaan yang harus dibeli.
Wahyu masuk kedalam swalayan, banyak orang sedang berbelanja. Ia baru pertama kali belanja di tempat ini, tempatnya lumayan nyaman dan luas, pantas saja jika orang rela antri dan jauh jauh belanja ke tempat ini.
@@@@
"Sebelum kita jalan, mampir dulu ke toko, ya! Mau ngambil sesuatu." Yulia yang duduk di jok samping pengemudi mengangguk, Romi membelokkan mobil ke toko miliknya.
"Kita tunggu di mobil aja ya, mas!" Romi mengangguk dan memarkirkan mobilnya di pelataran toko. Saat setengah berlari ia melintas depan kasir mau naik ke lantai dua, Fani memanggilnya.
"Bang Romi kebetulan, please gantiin aku sebentar!" Romi langsung memberhentikan langkah dan menoleh.
"Lah, aku juga buru buru, memang kenapa sih?"
"Please Abang! aku kebelet!" Fani memelas, padahal didepannya antrian orang yang mau membayar belanjaan cukup banyak.
"Duuuh, jangan lama lama!" Romi menggerutu, tapi juga merasa kasihan pada Fani kalau harus nahan hajat.
"Iya iya, bawel!" Romi menoyor kening Fani tak terima dikatain bawel, dan Fani balas mengeplak lengan Romi dan langsung pergi dengan tergesa. Yeni yang bertugas di bagian packing belanjaan tersenyum di kulum menyaksikan interaksi keduanya.
Diantara para customer yang antri didepan kasir, seorang pria mengerutkan kening, lalu bertanya pada orang didepannya.
"Mbak, maaf mau tanya boleh?" wanita didepannya menoleh.
"Iya, silakan! Mau tanya apa, mas?"
"Mbak sering belanja disini?"
"Iya, mas! Saya hampir tiap minggu belanja kebutuhan disini. Disini stok bahan kebutuhan cukup lengkap, dan yang penting harganya juga lumayan miring. Jadi, bisa berhemat!" wanita berjilbab ungu dan berkacamata itu tersenyum.
"Oh, gitu ya. Saya baru sekali ini belanja disini. Kalau begitu, mbak tahu dong pria yang di kasir itu?"
"Iya, mas. Namanya mas Romi, owner swalayan ini. Kalau yang perempuan tadi, Fani sepupunya. Dia kerja dan dipercaya jadi kasir disini." pria berkemeja biru laut itu manggut manggut.
"Oh, gitu ya. Makasih infonya, mbak!" wanita itu pun mengangguk. Ada empat orang antrian didepan pria itu.
Ternyata swalayan ini punya suami Yulia. Pria itu bergumam sangat lirih.
"Yayah, ayo pergi!" terlihat seorang anak perempuan yang menggemaskan berlarian memanggil ayahnya, dibelakang bocah itu wanita hamil tergopoh mengikuti tingkah anak itu diikuti anak perempuan berusia 8 tahunan. Mereka adalah Kia, Yulia dan Shila yang gak sabar menunggu Romi di mobil karena ternyata dia cukup lama.
"Ih, katanya sebentar, Mas kok malah ngasir. Fani mana?"
"Lagi kebelet, katanya!" sembari terus meng input belanjaan, Romi menjawab pertanyaan istrinya.
"Bentar ya, nunggu Fani datang dulu."
"Yayah, ayo jayan jayan (jalan jalan)!" si kecil Kia merengek dan menarik narik ujung kaos Ayahnya.
"Ayah kerja bentar, sayang. Nunggu Tante Fani lagi ke kamar mandi sebentaar aja." bujuk sang ibu sembari menggenggam tangan Kia, agar tak berlarian diantara para pelanggan yang sedang belanja.
Dan semua gerak gerik sepasang suami istri dan anak kecil tak luput dari pandangan pria tadi.
__ADS_1
"Oh, jadi Yulia hamil lagi!" batinnya melihat perut Yulia yang besar dibalik gamis warna maroon. Lalu pura pura menunduk agar wajahnya tak dikenali.
Pria itu terlihat berpikir, ia mengenal Romi tapi malas untuk bertemu dengannya. Pria itu lalu keluar toko membiarkan belanjaannya begitu saja dalam troli dan menghampiri sebuah mobil hitam yang terparkir.
" Loh, mana belanjaan mas Wahyu?" tanya wanita dengan raut heran, ia memangku seorang anak yang tidur berusia sebaya Kia, 3 tahunan. Pria yang ternyata Wahyu itu meringis pada istrinya.
"Ssst, sini Rayyan biar aku pangku. Kamu yang antri di kasir sana ya."
"Loh, kirain dah selesai. Masih antri toh?"
"Aneh, mas ini!" sambil menyerahkan Rayyan ke pangkuan suaminya yang duduk dibelakang kemudi.
"Ini tuh ternyata toko milik Romi, suaminya Yulia. Aku malas ketemu dia, dia tuh kalau lihat aku udah kayak liat setan yang harus dibasmi. Udah sana, ikut antrian." pinta Wahyu pada istrinya, Imah.
Tanpa banyak tanya Imah masuk ke toko dan ikut mengantri menggantikan suaminya.
"Yeeeay, sudah sampai!" Shila bersorak girang saat mereka tiba di tempat yang dituju. Sebuah pusat perbelanjaan yang memiliki wahana permainan anak yang cukup lengkap didalam sana.
"Bunda, Ayah! Shila mau main lego!"
"Yayah...Keta...Keta...!"
"Hah, apa sayang!" Romi tak begitu paham dengan apa yang diucapkan Kia yang menunjukkan jari ke suatu tempat.
"Keta...Yayahhh...Unda! Kia mau naik Keta!" ucap ya lagi dengan nada cedal khas anak usia 3 tahunan. Yulia dan Romi kompak menoleh kearah yang ditunjuk Kia dan baru mengerti.
"Ohh, Adek mau naek kereta?" Kia berbinar bahagia dengan mengangguk di gendongan Ayah.
"Ya udah, gantian ya. Kakak ngalah dulu, kita main kereta, habis itu main lego, ya!" tawar Romi pada Shila. Shila mengangguk setuju. Jadilah mereka berempat menaiki kereta mainan memutari mall. Setelah itu menuruti kemauan sang kakak bermain Lego.
Anak anak begitu antusiasnya bermain di arena itu, hampir semua permainan dijajal oleh Shila tanpa terlihat rasa lelah. Dan baru berhenti di sore hari menjelang maghrib. Untungnya lantai dilokasi mereka berada dekat dengan mushala, sehingga tak perlu jauh untuk mereka menjalankan ashar, dan juga maghrib.
"Yah, lapar! mau makan di Mekdi!" protes Shila sembari memegang perutnya. Bermain sepanjang sore membuat cacing diperutnya memberontak.
"Mau...mau....mau!" Kia pun tak mau kalah.
Kedua anak memesan paket nasi dengan ayam gorang crispi dengan minumnya Coca-Cola dingin, sedang Romi dan Yulia memesan minuman es jeruk.
"Gimana? Puaskan mainnya hari ini? Tadi pagi juga dah main sekuter di taman." Shila mengangguk dengan mulut mengunyah ayam goreng kesukaannya.
"Iya, yah. Puaaaas banget!" Kia pun tak mau kalah, menirukan ucapan sang kakak yang menimbulkan gelak tawa keduanya.
Setelah puas bermain dan makan makan, mereka pun pulang dengan Kia yang sudah langsung tepar saat mobil baru berjalan.
"Yahhh, cemen. Adek dah langsung tidur, aku kan masih pengen main!"gerutu Shila saat melihat adiknya tidur di Baby Car Seat disampingnya.
Di lain tempat.
Imah membawakan teh hangat untuk suaminya di balkon kamar. Rayyan sudah tertidur di kamarnya ditemani Iffah yang sedang belajar.
"Ini tehnya, mas!"
"Makasih, istriku!" Wahyu menerima teh yang diangsurkan istrinya, sembari bergeser memberi tempat Imah untuk duduk.
"Sudah aku katakan berkali kali, kalau mas Wahyu menganggap aku istri, katakan apa yang menjadi beban pikiran mas Wahyu." wanita itu sangat paham, dari raut wajah suaminya tak bisa berbohong kalau suaminya itu sedang banyak pikiran.
"Aku cuma capek, Li. Pekerjaan di kantor sedang menumpuk akhir akhir ini. Ini kan akhir tahun, aku harus membuat laporan tahunan hasil produksi yang akurat secara sistem ke perusahaan. Belum lagi pekerjaan yang lain yang harus aku handle. Membuat aku kurang istirahat. Stres rasanya."
"Yang sabar ya! InsyaAlloh kalau mas ikhlas akan menjadi ladang pahala buat mas." Wahyu mengangguk.
"Aamiin. Anak anak udah tidur?"
" Rayyan sudah, Iffah masih belajar di kamarnya, jadi bisa aku tinggal." lama keduanya terdiam. Hembusan angin malam yang sejuk sangat rugi untuk tidak dinikmati. Berkali kali Wahyu menghembuskan nafas besar, membuat Imah, eh Lili, memberanikan diri bertanya pada suaminya.
"Selain pekerjaan di kantor, ada sesuatu yang mengganjal pikiran mas Wahyu."
"Nggak ada!"
__ADS_1
"Mas bisa bohong lewat mulut mas. Tapi bahasa tubuhmu mengatakan ada beban lain yang mas pikirkan. Katakanlah, sebagai istri aku berhak tahu, bukan?"
"Walaupun aku mungkin tak bisa memberi solusi, setidaknya dengan berbagi mas Wahyu akan berkurang bebannya."
"Kau ini, sudah aku bilang tak ada juga!" jawabnya agak kesal tanpa menatap sang istri.
"Baiklah mas, rupanya kebersamaan kita selama 3 tahun belum ada artinya apa-apa. Ya, dibanding mbak Yulia mantan mas, aku memang bukan apa apa, mbak Yulia jauh lebih cantik, lebih unggul dalam segala hal dibanding aku. Itu mungkin makanya mas Wahyu belum bisa move on, walau mbak Yulia udah nikah lagi, begitu juga dengan kamu!" Wahyu melongo mendengar kata kata istrinya. Setelah berkata demikian, Imah dengan gerak kasar berdiri dan langsung pergi meninggalkan Wahyu di balkon sendirian.
Ada apa sih, Apakah itu uneg uneg dari dalam hatinya?
Wahyu segera menghabiskan teh di cangkirnya, lalu menyusul sang istri yang terlihat akan keluar kamar.
"Mau kemana, Li?" Imah membisu dan meraih handel pintu.
"Heii!"
"Kamu kenapa sih, kenapa jadi membanding bandingkan dengan dia? Tentu saja kalian beda. Bedanya adalah kamu adalah istriku, dan dia mantan." Imah tak menyahut apalagi berbalik.
"Lili" Wahyu menangkap tangan istrinya.
"Lepas mas." ia urung membuka pintu. "Kalau memang mas Wahyu belum bisa move on. Lebih baik aku dengan anak anak. Untuk apa aku bersama orang yang memikirkan orang lain, walaupun itu mantannya?" Imah berusaha melepas cengkraman tangan Wahyu, jari tangan kirinya ia pergunakan menyeka air mata yang telah membasahi pipi.
"Ya Alloh, Li. Bagaimana bisa kamu berpikiran semacam itu, kenapa tiba tiba mengaitkan dengan Yulia? Kamu liat sendiri kita, tadi bahkan tak berinteraksi sama sekali dengannya?" melepas tangan Imah yang kemudian berbalik menghadap padanya.
" Tapi mas Wahyu sangat berbeda dari semenjak melihat mbak Yulia tadi. Mas Wahyu jadi banyak ngelamun. Bahkan tadi hampir nabrak orang gara gara ngelamun, kan? " Imah terisak dalam curhatnya. Wahyu menggaruk rambutnya tersenyum, namun kemudian langsung diam saat melihat sang istri raut mukanya terlihat marah. Rupanya sang istri melihat perubahan pada dirinya.
"Kau anggap ini lelucon, mas?"
"Oke, maaf. Aku tahu, kamu sedang cemburu, kan. Maaf ya!"
"Kamu salah kalau berpikir aku sedang memikirkan Yulia dan belum bisa move on darinya."
"Mari sini, sepertinya sudah saatnya aku mengatakan sesuatu padamu." menarik tangan Imah untuk duduk di tepi ranjang tanpa penolakan.
"Yuk kita duduk dulu!"
###
" Awas, mas!" untuk kedua kalinya Wahyu buru buru menekan pedal rem saat didepannya mobil berhenti karena lampu merah, ia sama sekali tak menyadari bahwa rambu lalu lintas sedang merah menyala, dan ada sebuah motor berhenti di depannya.
Tadi ia hampir menyerempet sepeda motor karena menyalip terlalu dekat, dan sumpah serapah terdengar melalui pendengarannya dari pengendara motor yang hampir terserempet itu.
"Astaghfirullahaladzim!" Wahyu mengeluarkan napas lewat mulut, berusaha menguasai diri.
"Mas ngantuk, ya!"
"Nggak! Air, mana air?"
"Ini, Pak!" Iffah yang duduk dibelakang menyodorkan sebotol air mineral, Wahyu langsung membuka dan meneguknya hingga habis separuh.
"Ternyata benar, kekurangan mineral membuat gagal fokus!" Wahyu tertawa, mencoba bercanda walau dipaksakan.
"Oiya! Bukan karena memikirkan hal lain kan?"
"Maksud kamu apa? " tanya Wahyu yang tak memalingkan wajah, tetap fokus pada kemudi.
"Ah, nggak. Lupain aja mas." Imah alias Lili melengos, memandang keluar lewat jendela mobil.
"Mas Wahyu bisa mencelakakan diri sendiri, kita, dan orang lain juga kalau sampai gagal fokus. Bahaya, mas!" ucapnya masih tak mau menatap Wahyu yang sedang menyetir.
"Iya, maaf ya!" tangannya terulur untuk meraih kepala istri untuk dielusnya, namun Imah menjauhkan kepala, dengan alasan pegal karena memangku Rayyan yang sedang tidur, setelah itu Imah tak bertanya lagi sampai mereka tiba di rumah.
Dirumah, Wahyu juga terkesan diam, biasanya ia tak berhenti menggoda kedua anaknya, atau mengajak mereka bermain. Kali ini tidak, ia lebih suka menyendiri, memisahkan diri dari istri dan anaknya.
####
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Aku minta maaf jika baru berterus terang sekarang! " Wahyu menggenggam telapak tangan istrinya, lalu meletakkan didada. Hingga wanita disampingnya itu bisa merasa detak jantungnya.
__ADS_1