
####
"Shila jangan gitu, dong. Mereka cuma bercanda, emangnya gak boleh? Shila juga suka becanda sama teman teman, kan?"
"Pokoknya Shila gak suka, Yahh!"
"Iya, deh iya." Romi menertawakan dalam hati keposesifan Shila.
Tak lama mereka telah sampai di taman yang menyediakan banyak arena bermain untuk anak anak. Kia dengan antusias menunjuk tempat dimana ada sebuah ayunan yang kosong. Disekitarnya banyak pula mainan yang lain.
"Ayo, Yah! Kita main disini!" ajak Shila menunjuk taman yang terdapat banyak anak anak bermain didalamnya. Romi ragu menerima ajakan kedua anaknya, didalam sana ada penyewaan sepeda listrik, Shila pasti juga ingin mencobanya. Karena terburu buru, ia tak membawa uang sepeserpun.
" Tapi sayang, Ayah gak bawa uang, gimana nih!" raut antusias Shila berubah mode cemberut.
"Yayah, yayun ...yayun..!" Kia pun ikut ikutan menunjuk seperti Shila.
"Ahaa!" Romi menjentikkan jari, setelah berpikir sejenak, Romi mendapat ide.
"Ayah telpon bunda aja dulu, biar kesini bawain uang, biar kalian bisa mainan disana. Ayo kita masuk, nunggu Bunda didalam." ajak Romi pada kedua anaknya. Ketiganya masuk beriringan, dan mencari tempat untuk duduk nyaman.
"Yah... yah, aku mau yang itu...!" tunjuk Shila pada anak anak yang dengan sukacita bersepeda keliling lapangan kecil yang ditengahnya terdapat kolam air mancur.
*N*ah kan, mereka pasti kepingin yang itu.
"Bentar ya sayang, nunggu Bunda datang dulu. Adek sama Kakak main ayunan dulu, yuk!" bujuk Romi dan untungnya kedua anak itu nurut dan mengangguk.
Romi melakukan panggilan ke nomer istrinya dirumah, memintanya datang membawa uang yang mereka butuhkan. Sambil mengawasi kedua anaknya bermain Romi duduk di bangku taman.
"Haiii!" sapa seseorang saat Romi menunduk, sibuk melihat hape.
"Haiii juga, Laura!"
"Kok kamu disini, Ra?"
"Surprise kamu disini, Rom! Aku bawa keponakan aku. Tadi kita jalan jalan terus dia ngajakin main disini!" ucapnya mengambil tempat duduk disisi Romi, bangku yang cukup untuk tempat duduk 3 sampai 4 orang.
"Sama dong, tadi aku juga gak ada rencana buat masuk sini, eh anak anak malah pengen main. Yaudah, kita mampir." keduanya tertawa.
"Btw, kamu kok sampai sini? Bukannya rumah kamu jauh dari sini?"
"Oh, itu. Adik aku rumahnya diujung jalan itu belok kanan, rumah ke empat sampai. Aku tinggal disana beberapa hari ini. Kapan kapan mampir lah, Rom?" senyum tersungging dari bibir Laura, menatap pria masa cinta monyetnya. Yang sekarang menjelma menjadi pria matang yang pesonanya belum pudar baginya.
"Makasih, lain kali aja. Rumahnya adikmu Maria, kan?"
"Iya, dia suaminya seorang prajurit TNI yang bergabung dalam kontingen Garuda. Sekarang ini suaminya sedang bertugas ke luar pulau dan aku bertugas menemaninya di rumah, selama suaminya pergi."
Ya, Romi baru ingat, perumahan yang dimaksud Laura adalah kompleks perumahan khusus Angkatan Darat.
"Oh, gitu." ujar Romi berkomentar singkat, lalu menekuri ponselnya yang terdengar notif pesan berkali kali.
"Oiya Rom, udah berapa bulan kandungan istrimu?"
"Tujuh bulan jalan." jawab Romi pendek tanpa menoleh.
"Oh, udah besar ya pastinya. Kamu pasti sayang banget ya sama istri kamu, Rom?"
"Tentu saja, Ra. Kalau enggak mana mungkin kami bertahan sampai saat ini. Makin hari aku makin cinta sama dia. Padahal dulu aku tak yakin bisa jatuh cinta lagi setelah kepergian ibunya Shila...!"
"Ya, itu artinya kalian memang jodoh. Semoga rumahtangga kalian langgeng sampai tua."
"Aamiin."
"Ayah....!" pekikan Shila menghentikan perbincangan mereka berdua. Shila berkacak pinggang didepan keduanya, membuat Laura ingin tertawa saja. Anak itu begitu posesif terhadap ayahnya, ia tahu dari dulu waktu bertemu di pesta pernikahan Yesi dan Andre anak itu terlihat tak suka padanya. Disaat itu pula seorang anak perempuan mendekat.
"Tante...aku mau main disana!" anak berusia 5 tahunan menarik narik ujung kaos Laura.
"Atta mau ke prosotan itu?" anak dengan kuncir dua itu mengangguk antusias.
__ADS_1
"Yaudah, Yuk!"
"Rom, aku kesana dulu ya! Ini keponakan mau main prosotan!"
"Silakan, Ra!"
Begitu wanita dan keponakannya menjauh, Romi menggeleng pada Shila yang masih terlihat cemberut.
"Shila, ayah kan udah bilang jangan jutek gitu, apalagi sama orang tua. Gak baik. Shila kan bisa temenan sama anak yang tadi."
"Gak mau, lah!"
"Assalamu'alaikum, Kia, Shila, Ayah." tanpa mereka duga Yulia telah datang dengan membawa rantang ditangannya.
"Waalaikum salam." jawab mereka serempak.
"Loh, bunda kok bawa rantang?" tanya Romi bernada heran.
"Iya, Kita sarapan dulu disini. Biar tenang mainnya. Habis sarapan anak anak bisa lanjut main lagi."
"Wiih, asyiiik. Serasa piknik dong kita." Romi mencari cari tempat cuci tangan, setelah melihat ia lalu mengajak Kia cuci tangan bersamanya.
"Bunda, Ayah genit tadi sama Tante Tante!" lapor Shila pada Bundanya yang terlihat terkejut.
"Oiya? Memang Ayah genit sama siapa?"
"Sama Tante yang it...tu!" Shila menunjuk kearah dimana Laura pergi, tapi tak mendapatinya lagi disana.
"Udah pergi orangnya, Bun. Udah gak ada. Dijalan tadi juga gitu, Ayah digodain sama Tante tante."
"Benarkah?" Yulia mendelik pada Romi yang baru datang.
"Ada apa ini?"
"Bener ya, Yah? Kata Shila kamu genit sama cewek. Ayo ngaku?"
Bener bener nih anak merusak suasana. Pengen tak jitak, tapi kok ya anak sendiri.
"Suer sayang, tadi tuh Laura yang tiba tiba nyamperin. Dia kan lagi momong keponakannya, jadi gak sengaja ketemu disini." ucap Romi membela diri.
Oh, jadi Laura.
"Shila, tolong ambil tikarnya di sepeda dulu ya!" perintah Yulia yang dipanggil Shila. Yulia diam seribu bahasa sampai Shila datang lagi membawa tikar.
Berempat mereka duduk diatas tikar, mengelilingi makanan yang disiapkan Yulia, yang dimasak pagi tadi.
"Ayo, Shila memimpin doa, biar makanannya berkah!" tanpa membantah Shila melakukannya, menengadahkan tangan lalu berdoa.
"Shila makan yang banyak biar cepet gede, sayang."
"Kia juga makan yang banyak. Ini punya bunda juga banyak, makan berdua sama Dede bayi!" Romi hanya nyengir diasinin istrinya.
"Kia mau Ayah suapin?"
"Atu mau mamam cama Unda!"
"Ya Allah, berikanlah Hamba kekuatan Iman. Beri hamba cahaya mata berupa bayi lelaki yang ada dalam perut istriku. Biar aku punya teman, ya Alloh, Hamba sengsara dikucilkan oleh para wanita ini." Romi menengadahkan tangan, berdoa dengan suara pelan, dan bisa didengar oleh istri dan anaknya, lalu mengusap wajah.
Aamiin.
Yulia melengos, menahan geli dengan apa yang dilakukan suaminya, tapi tak berkomentar apapun.
"Sayang, aku suapin ya?" Romi mencoba merayu sang istri lewat suapan nasi.
"Aku bisa makan sendiri, lagian ini tempat umum!" jawab Yulia dengan ketus. Mendadak selera makan Romi lenyap seketika.
Selama menemani Shila dan Kia naik sepeda berkeliling taman, Yulia masih diam membisu, bahkan cenderung menghindar. Ia terlihat sibuk berkirim pesan, dan mondar mandir didepan Romi.
__ADS_1
"Sayang duduklah, kamu gak capek hilir mudik gitu?"
"Perempuan hamil gak boleh terlalu banyak duduk, mas. Harus banyak jalan. Banyak banget manfaatnya, apalagi kalau pagi begini. Searching sana, biar tahu apa aja manfaatnya jalan buat wanita hamil." jawab Yulia tanpa menatap sang suami. Membuat Romi bungkam.
Salah lagi.
Keadaan berbanding terbalik dengan Shila dan Kia yang riang berboncengan sepeda elektrik. Mereka tiada henti tertawa dengan riangnya.
"Hati hati sayang!" teriak Yulia saat Shila melintas didepan mereka.
Sesampai di rumah pun, hanya Kia yang berceloteh menanggapi omongan Romi. Saat pulang, mereka berempat berboncengan naik motor, dan yang mengherankan buat Romi Yulia, Shila dan Kia malah asyik duduk di teras, tak langsung masuk rumah untuk membersihkan diri. Mak Minah pun terlihat sibuk menyiangi rumput pada tanaman bunga didepan rumah bersama Bu Kanti.
"Shila sayang, Kia juga, yuk masuk. Kita bersih bersih dulu!" bujuk Romi pada kedua anaknya. Yulia terlihat tak peduli, malah menghampiri Mak Minah di taman. Kedua anak itu juga menggeleng, ingin bersama Bunda katanya.
"Kia cama Unda, Yah!"
Dengan langkah kesal, Romi
mengayun langkah ke pintu dan membukanya.
Byuuuurrrr!
Serbuk putih cukup banyak mengenai kepala Romi, membuat matanya kelilipan, dan tersedak karena ada yang terhirup hidung juga.
"Apa apaan ini?" teriaknya dengan mata merem.
"Selamat ulang tahun, Ayah!" tiba tiba Shila berteriak dibelakang Ayahnya dan bertepuk tangan.
"Haah, ul_ ulang tahun?" Romi membuka mata.
Yulia, Kia, dan Mak Minah pun mendekat. Tak tahu darimana arahnya, ada juga Fani dan anaknya.
"Selamat ulang tahun ke 34 ya, mas! Semoga usianya makin berkah, tambah rajin ibadah dan makin sayang keluarga!"
"Kena prank ini aku?"
Yulia dan Shila tertawa, begitu juga Bu Kanti dan Mak Minah.
"Sini peluk!" Romi pun memeluk istrinya, begitu juga kedua anaknya ikut menempel pada orang tuanya.
" Makasih ya, sayang, inget hari kelahiran aku. Jadi ini sebab kalian jutekin aku pagi ini?"
"Tapi aku senang. Aku bahkan sama sekali gak ingat hari ini ultah aku loh!" mencium ubun ubun dan pelipis istrinya, disaksikan kedua anak, Mak Minah, Bu Kanti beserta Fani dan anaknya.
"Yayah, Kia peyuk juja...!" tangan Kia melambai ingin digendong ayahnya. Setelah puas mencium pipi Kia, beralih mencium Shila dan mengucap terimakasih.
"Wahaha, kalian berempat lucu. Putih putih semua, cemong. wahaha ...!" Safa, anaknya Fani tertawa geli melihat keempat orang yang belepotan entah tepung terigu, entah tepung kanji atau tepung beras. Bukannya marah, mereka malah tertawa tawa bahagia saling meledek jika mereka jelek sekali karena belum mandi air, malah mandi tepung.
"Enak aja, Bunda kan udah mandi!" protes Yulia gak mau dikatai belum mandi.
"Yaudah, kalian mandi duluan. Setelah ini ada acara potong kue dan acara bagi bagi pada tetangga. Sana cepat!"
Kedua anak dan suami berhamburan menuju kamar mandi begitu mendapat titah dari sang ibu.
"Mak Minah, tanggung jawab nih. Rumah kotor gara gara Mak Minah!" dengan nada becanda Yulia meminta Mak Minah segera menyingkirkan tepung yang bertebaran disekitar area pintu.
"Hadeuh, Mak juga yang kena. Apes!" sambil menepuk jidat, Mak Minah berangkat mengambil sapu dan pengki untuk membereskannya.
"Sabar Mak, sabar. Ini ujian. Nanti juga dikasih bonus, yakin deh, hehehe!" Fani menepuk pundak Mak Minah.
Lima belas menit berselang, Romi dan anak anak telah segar beraroma shampo dan sabun. Dan acara potong kue tart ukuran kecil dimulai, karena cuma dirayakan oleh keluarga kecil mereka. Semua mengucapkan selamat ulang tahun pada Romi.
"Padahal usia kita berkurang ya, tapi patut disyukuri karena kita masih diberi kesehatan, dan segalanya yang Allah titipkan pada kita. Dan juga, baby ini, semoga nanti sehat sampai hari kelahiran nanti." harap Romi sambil mengelus perut sang istri, lalu menciumnya sembari diiringi shalawat. Setelah itu mereka membagi bagikan sekotak nasi dan sekotak kue untuk para tetangga, untuk berbagi kebahagiaan.
Setelah berbagi kebahagiaan dengan para tetangga, sore harinya Romi berinisiatif memberi timbal balik dengan mengajak anak dan istrinya jalan jalan sekalian makan malam.
"Hari ini kita jalan jalan sampai puas!" ucap Romi sembari mengemudikan mobilnya, dan kedua anak berteriak, yeeeay!"
__ADS_1