
"Cayamekum!" seorang gadis yang imut nan lucu berumur 2 tahunan mengucap salam, sedang orang tuanya tersenyum lebar mendengar sapaan anaknya untuk tuan rumah yang mereka datangi.
"Waalaikum salam, anak cantik!" jawab Yulia, Bu Kanti dan Shila bersamaan.
"Waah, ada tamu agung, mari silakan masuk semuanya!" Yulia membuka pintu lebar. Ia tahu, yang barusan datang adalah sahabat suaminya.
Kini para tamu telah duduk di ruang tamu setelah saling bersalaman.
"Mbak Yulia, maaf baru datang! Kita nggak tahu kalau mbak Yulia sudah melahirkan, dan baru sempet datang sekarang!" Wanita memakai gamis coklat dan kerudung putih menyerahkan sebuah kado untuk Yulia.
"Aduh, kok repot repot ya mbak Diah ini. Terima kasih banyak ya, kadonya! Jadi terharu! " Mereka berlima pun berbincang hangat.
"Bukan apa apa mbak, cuman sekedarnya aja!" senyum dan tawa merekah diantara mereka.
"Gimana keadaannya mbak Diah sama mas Aam, sehat kan?"
"Alhamdulillah seperti yang mbak Yulia lihat. Kita sehat wal afiat."
"Mbak Yulia, perkenalkan nih! Ini adik sepupuku namanya Raka dan ini calon istrinya. Namanya Nuris!"
"Dia ini anaknya Om Rama, mbak Yulia!" Aam menyahuti perkataan istrinya. Yulia membulatkan bibirnya, lalu tersenyum.
"Betul, mbak Yulia!"
"Mereka ini, dua Minggu lagi akan melangsungkan resepsi pernikahan. Dan kami tadi sekalian ngasih kartu undangan sama mbak Yulia dan Mas Romi!" Raka lalu menyerahkan sebuah kartu undangan di tangannya.
"Hai mbak Yulia, salam kenal ya! Maaf, kalau saya datang datang mengantar undangan pernikahan!" ucap Raka merasa tak enak hati.
"Salam kenal juga, Dek Raka, dek Nuris! Tak apa, kita kenal baik dengan Ayah dek Raka. Bahkan Ibu saya sama ibu mertua saya langganan berobat di klinik punya Om Rama!" jelasnya kemudian.
"Datang ya mbak, sama suaminya nanti di nikahan saya!" sahut Nuris, calon istri Raka.
"Insya Alloh, dek! Semoga tak ada aral merintangi, dek!" jawab Yulia.
Pandangan Diah kini tertuju pada stroller bayi milik Yulia, Dia yang semula duduk lalu mendekatinya.
"Bayinya imut dan lucu!" komentar wanita yang ternyata Diah bersama Aam dan Raka bersama calon istrinya Raka.
Namun tanpa dinyana, anak gadisnya yang lucu tadi berubah mode cemberut mukanya.
"Unda! Unda ndak boyeh pegang adekk bayi..!" ucapnya dengan cedal. Bibirnya mengerucut, mukanya memerah sudah akan turun hujan, dan tangannya erat menggenggam baju Bundanya atas reaksi saat bundanya mendekati bayi lain.
"Oh, ya Alloh sampai lupa... Kaka Uyum coba lihat adeknya lucu ya!" Diah mencoba membujuk anaknya yang merajuk dengan menggendong dan mendekatkan pada baby Kia. Bayi itu tersenyum menggerak gerakkan kedua tangan dan kakinya dalam stroller membuat kemarahan Uyum mereda. Ia pun ikut tersenyum, tapi saat Bundanya mau memegang pipi baby Kia ia berseru.
"Unda ndak boyeh pegang adekk! Huaaaa!" tangis Uyum meledak, mencebikkan bibir mungilnya. Air matanya sudah membanjiri pipi mulus khas anak anak.
"Oh, rupanya kak Uyum lagi cemburu, ya!" mereka semua malah tertawa melihat Uyum menangis.
"Aduuh! Padahal Bunda pengen pegang adek bayi, sebentar saja." keluh Diah. Suami Diah yaitu Aam, sudah tak terlihat. Ia berpindah tempat karena sudah bertemu Romi.
"Uyum sini, sama Om Raka! Yuk di depan sana ada temannya coba kenalan dulu terus main bersama!" Ajak pemuda tampan yang bersama mereka. Dan anehnya Uyum langsung manut dan mengulurkan kedua tangan untuk di gendong Omnya. Raka lalu mengambil beberapa tisu untuk mengelap air mata dan liur Uyum.
Mereka berdua keluar ke teras depan. Diikuti oleh Nuris, gadis yang bersama mereka.
__ADS_1
"Hai, girl!" sapa Pemuda bernama Raka pada Shila yang asyik bermain boneka sendiri. Shila mendongak, melihat gadis kecil dalam gendongan Raka.
"Yuk kenalin nih, Ini namanya Uyum, kalau kakak siapa?" mengulurkan tangan mungil Uyum untuk bersalaman dengan Shila.
"Namaku Shila!"
"Waah, nama kakak bagus, boleh gak kalau adik Uyum ikut main bonekanya?"
"Silakan Om!"
"Eh, bukan om yang main boneka, tapi adik kecil ini!"
"Iya iya, Shila tahu kok Om!" sewot Shila dan langsung berwajah jutek. Bibirnya mengerucut, membuat Raka dan gadis yang bersamanya tertawa.
"Lucu ya adek Shila! Jangan jutek gitu dong! Ntar Omnya takut nih!" Kedua orang dewasa itu malah terkekeh.
"Ih, Beb! Jangan di ganggu!"
" Nanti kita kalau punya anak maunya laki laki atau perempuan, Beb? Aku sih maunya perempuan yang lucu kayak baby Uyum dan kalau besar imut kayak Shila ini!" Nuris mentoel dagu Shila.
Ucap Nuris sambil tertawa.
Kini mereka duduk di teras berempat.
"Dek Shila jangan galak gitu, ya! Ntar Om cium loh kalau galak galak!" canda Raka masih menggoda Shila.
"Gak boleh! Kata Bunda, cuma Ayah sama Bunda sama Nenek yang boleh cium Shila, karena Shila udah gede!" serunya lagi dengan galak.
"Nih, ini boneka buat kamu, Uyum!" Uyum menatap Shila tak berkedip, beberapa saat tangan Shila yang mengulurkan boneka menggantung di udara.
"Ayo, Uyum! Di pinjemin boneka sama kak Shila. Ambil dong!"
Dengan ragu ragu Uyum mengambilnya, lalu menenggelamkan wajahnya malu malu pada Raka dan memeluk leher omnya.
Tak berapa lama ia menoleh dan mendapati Shila tersenyum padanya, Uyum pun ikut tersenyum malu malu dan melepaskan pelukan pada Raka.
"Udah kenalkan? Nah, sekarang main sana berdua!" Bujuk Raka pada keponakannya.
Mereka akhirnya bermain berdua, berceloteh riang berdua, dengan diawasi Raka dan Nuris yang duduk di kursi teras sambil ngobrol.
"Beb, habis ini kita mampir ke toko Bunda Nisa, ya! Mama pesen kue brownis sama pie buah! Mama ketagihan kue bikinan Bunda, deh!"
"Hmmm, masa sih?"
"Iya, betul. Katanya Mama kue bikinan Bunda lain dari yang lain yang pernah Mama cicipi."
"Dan Bunda, suka sekali dengan baju muslim yang di desain oleh Mama kamu! Mereka memang calon besan yang cocok, hehehe!" mereka tertawa bersama sama.
"Nanti, aku juga pengen belajar bikin kue dari Bundamu!"
"Hampir satu jam Aam sekeluarga bertamu ke rumah Romi. Kini saatnya mereka berpamitan.
"Makasih, atas jamuannya Romi, sampai ketemu lagi dinikahkan adek sepupu gue. Dan jangan lupa, datang ke acara syukuran rumah baru gue. Ku tunggu, bro!"
__ADS_1
"Insya Alloh! insya Alloh gue bakalan datang sama istri. Gak usah khawatir. Siapin aja santapan terlezat yang elu bisa suguhkan ke gue, hahaha!" jawab Romi tertawa lebar sambil beradu high five.
"Mbak Yulia, kami pamit ya! assalamu'alaikum!" Diah pun bercipika cipiki dan saling memeluk dengan Yulia. Begitu juga Nuris, calon istri Raka.
Malam telah semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Romi menemani Shila tidur di kamarnya, sedang Yulia telah terlelap, dikamarnya bersama baby Kia.
Setelah Shila tidur, maka Romi kembali ke kamarnya bersama Yulia, dan melihat istrinya yang tidur miring menghadap box bayi.
Dua hari ini Romi melihat Yulia telah melaksanakan ibadahnya. Itu artinya, sang istri telah selesai masa nifasnya.
Hmmm, saatnya buka puasa nih!
Didekatinya tubuh sang istri, lalu memeluknya dari belakang. Tak ada reaksi.
Ia lalu menghirup harum sampo dari rambut istrinya, menyingkap rambut itu, dan beralih menghirup aroma leher dan menyusurinya dengan bibir hingga ke belakang telinga sang istri dan bermain main di sana hingga membuat sang empunya membuka mata.
"Aahh, mas! Kamu..!" Yulia membalikkan badan.
"Sudah selesai nifas, 'kan?" tanya Romi dengan bibir menempel di bahu, lalu mengecupnya.
"Mas mau....!" Romi mengangguk, walau Yulia tak meneruskan kata katanya.
"Tapi.... gimana kalau sampai aku hamil. Jangan ah! Baby Kia juga masih umur satu bulan."
"Tenang, sayang! Aku sudah mempersiapkan semua. Tadi aku udah beli sarung pengaman! Anti bocor, anti hamil. Aman!"
Dengan penuh semangat Romi bangkit dan membuka laci meja kecil disisi tempat tidur. Dan memperlihatkan sesuatu pada istrinya.
"Taraaa!" Romi memperlihatkan satu box balon khusus laki laki dewasa pada istrinya yang disambut tawa cekikikan dari sang istri.
"Kok malah ketawa, sayang!" begitulah Romi, kalau ada maunya bilangnya sayang sayang.
"Belinya banyak banget, mas! Niat banget pengen sering makenya! hehehe!" Yulia masih terus tertawa dengan menutup mulutnya. Hilang sudah rasa kantuk akibat ulah sang suami.
"Ya iyalah! Kan udah puasa satu bulan lebih, dan sekarang waktunya balas dendam!"
\=\=\=\=\=\=
Ahaha... ada yang benar tebakannya kalau yang datang Aam. Hehehe!
Maaf akhir akhir ini jarang sekali up!
Otak lagi loading, gak bisa dibuat ngehalu. Pasti pada jenuh ya, ceritanya gitu gitu aja.
Gak ada istimewanya.
Karena jika author baru baca cerita lain yang femes, rasa insecure itu langsung saja datang....
Ih, ini gak ada ilmunya sama sekali yang bisa dipetik.
Entahlah....ckkkk!
Maaf, jadi curhat....
__ADS_1