
Romi meletakkan peci di meja kecil, melirik sang istri yang selonjoran dengan punggung bersandar di head board.
"Capek ya, sini aku pijitin kakinya!" merangsek ke pinggir ranjang, menempel dengan tubuh sang istri.
"Tumben nawarin, aku gak minta pijit loh ya." Romi tersenyum menjawab hidung mungil sangat istri karena Yulia memperhatikannya dengan raut curiga.
" Hmm, ini sih ada maunya pasti...!" tebak Yulia mencibir dan menunjuk dada Romi, bertambah lebar tawa Romi.
"Hehehe, tau aja, kamu!" Romi membaik naikkan alis, Yulia menebak dengan benar.
"Maunya sih, diijinin nengok baby. Lagi apa ya, dia?" sambil mengelus perut buncit lalu mengecupnya. Tangan satunya lagi mengelus kaki sang istri.
"Tuh, kan! Gayamu itu pasti ada maunya. Modus kamu tuh aku hafal luar kepala, mas." cibirnya lagi.
"Gak papa kan, modus sama istri sendiri. Pahala tau! "
"Hai, baby Boy! Sedang apa kamu di dalam perut Bunda? Jangan nakal ya!" Romi berkata seolah berinteraksi dengan anak yang sudah terlihat saja, sekaligus mengultimatum nya.
"Enggak Ayah, aku gak nakal. Yang nakal tuh, Ayah tau!" Yulia yang menjawab menirukan suara anak kecil. Romi mendongak menatap wajah istrinya, sekali lagi nyengir bagai kuda.
"Memang aku nakal, sayang?"
"Iya, pake banget. Emang gak ngerasa kalau kamu tuh nakal?"
"Tapi aku tuh, nakalnya cuman sama kamu, dan kamu suka, 'kan? Ayo ngaku! "
"Hehe, heeh.... Ayah!"
"Oiya, Memang Mas rasa anak kita cowok? Kok manggilnya Boy?"
"Harapan sayang. Aku berharap kan sejak tahu kamu hamil, kalau anak kita cowok. Biar aku ada temennya."
"Tapi, kalau yang ini cewek lagi, gimana?" Yulia tak sependapat dengan suaminya. Feeling dia mengatakan kalau anak dalam kandungannya adalah perempuan.
"Ya gak papa juga. Pantang menyerah lah, maju teroos, bisa bikin lagi dan lagi sampai dapet anak cowok. Gampang, kan?" Romi tertawa diakhir jawabannya. Yulia melotot kesal, mencubit bahu Romi dan cemberut.
"Enteng banget Mas Romi ngomong gitu. Aku padahal yang kepayahan membawa perut gedenya kemana mana selama sembilan bulan." protesnya kemudian.
"Ya, mau gimana lagi coba. Memang kodrat istri 'kan hamil dan melahirkan. Lalu suami yang cari nafkah!"
"Pokoknya, cowok atau cewek yang ini, sudah. Stop sampai disini!"
"Gak bisalah, walaupun nambah tiga atau empat anak, aku maunya kalau udah ada punya baby boy, baru berenti." Yulia berdecak.
"Enak aja, emang aku pabrik anak apa. Mas gak ngerasain susahnya hamil dan melahirkan, makanya enteng aja ngomong gitu."
"Udah, ah. Mau tidur! " Yulia benar benar ngambek suasana hatinya sedang tak baik.
"Ahaha, becanda sayang. Jangan marah marah, entar cepet tua loh."
"Tuh kan, keliatan keriputnya nih!" candanya lagi menusuk dengan jari ujung bibir sang istri yang terlihat ada kerutan. Wajah Yulia terlihat cubby dan ada beberapa noda kecoklatan bekas jerawat, walau sedikit tersamarkan dengan polesan bedak two way cake. Wajah Yulia mudah berjerawat semenjak hamil, membuatnya tak percaya diri berdekatan dengan sang suami yang wajahnya bersih tanpa jerawat. Jambang dan kumis tipisnya pun rapi terawat.
"Tau, ah. Aku mau tidur, jangan ganggu!" masih dalam mode ngambek.
"Aku cuman berkata sesuai feeling aku. Kalau anak kita cewek. Mas, gimana kalau besok kita ke dokter obgyn. Minta USG aja, biar tahu gendernya, Cewek apa cowok. Daripada berandai andai, ya...ya...?" tawar Yulia namun Romi menggeleng keras. Dari Dina, istri pertamanya yang hamil Shila, sampai Yulia hamil Kia dan yang masih didalam kandungan ini, Romi bersikeras tak mau melihat jenis gendernya terlebih dulu, biarlah jadi surprise nanti saatnya lahir, itu adalah alasannya.
Dan lagi, terkadang dokter juga salah mendiagnosa. Yang katanya bayi laki laki, ternyata perempuan. Atau sebaliknya.
"Pokoknya sekali enggak tetap enggak. Jangan terlalu diyakini apa kata dokter. Buktinya dulu anaknya Mima dokter bilang perempuan. Kamu tahu, Mima udah ngeborong pernak pernik untuk anak perempuan, tahunya waktu lahir, laki laki bukan?"
"Tentu ia lumayan kecewa, tapi aku enggak, laki laki atau perempuan sama aja. Cuman kalau yang ini perempuan lagi, kita bisa coba sekali lagi. Kalau perempuan lagi, ya dicoba lagi, begitu 'kan harusnya? Awwwduh... ! " Romi mengaduh karena Yulia mencubit nya lebih keras dan tentu lebih sakit.
"Rasain....weee! Hoaamm, ngantuk nih, mau tidur." Romi menahan tubuh Yulia yang mau merosot untuk berbaring.
"Eit, tunggu dulu, ritualnya belum main tidur aja." ucapnya tersenyum menggoda.
"Aku capek, Mas. Absen dulu malam ini aja, ya! Babynya gumoh tiap malem ditengok Ayah." tawar Yulia.
"Gak bisa gitu, dong. Mana ada babynya gumoh. Yang ada Bundanya yang ketagihan. Nanti kalau kamu lahiran kan, aku harus puasa lama. Yang kemarin aja, dua bulan penuh. Sekarang puas puasin, dong. Ya ya ya..."
"Kamu kan juga tahu, kepalaku pening liat kamu seksi gini. Salah siapa seksi menggoda, adek kecil jadi suka bangun liat istriku yang seksi gini, masa dianggurin. Mubadzir, tau." masih mengelus perut sang istri sembari menatapnya mesra.
" Ish, dasar hiper. Mana ada perempuan seksi dengan perut buncit gini. Yang ada udah kayak semar. Kamu tuh kalau menghina gak tanggung tanggung, ya mas."
__ADS_1
"Siapa yang ngehina. Aku serius. Kamu seksi, dan menggoda... "
"Boong!"
"Ssttt, must i silent you with a kiss?" bisik Romi yang membuat Yulia berubah meremang, nafas hangat suaminya terasa menyapu wajahnya. Ia paham betul cara membuat sang istri berhenti merajuk.
"Maas! " Yulia mulai tergoda. Ia memejamkan mata, merasakan dan menikmati sensasi sentuhan tangan kekar Romi. Walau bukan di area yang sensitif, ia terbuai juga.
"Boleh, ya?"
"Hmmm, kalau gak boleh kamu tetep aja maksa." tataan mata terlihat mulai sayu.
"Pinter!" ia kecup bibir tipis nan merekah menggoda itu. Tak ada jawaban lagi, sebab bibir mereka bertaut, bahkan tubuh mereka saling menempel sempurna. Sapuan lembut antar bibir pun semakin panas saat tiba tiba handle pintu kamar bergerak kebawah dan terbukalah pintu dengan cepat.
"Ayaaaah!"
Pelaku yang membuka pintu langsung berteriak, berkacak pinggang sambil melotot dan cemberut melihat adegan mesra kedua orang tuanya. Beruntungnya posisi kepala Romi menghalangi pandangan anak berusia 3 tahun itu.
"Kamu gak kunci pintu?" Romi menjauhkan kepalanya, antara kesal dan mulai terasa pusing.
"Hehehe, lupa." Yulia mode nyengir.
"Ayyahhh! Gak boleh nempel cama Bunda, nanti adek kegencet!" Tangan mungil Kia mendorong tubuh Ayahnya, agar menjauh dari sang Bunda. Tentu saja tubuh Ayahnya bergeming.
"Siapa bilang? Ayah gak nempel kok sama Bunda. Cuman deket saja, Sayang."
Ayahmu tuh sibuk ngerayu Bundamu, Kia.
Yulia.
"Ga Boleh. Tadi Kia nempel sama Bunda dilarang sama Ayah, katanya adek kegencet badan Kia." anak itu masih menatap tajam sang Ayah yang gak mau bergeser. (eh, mana ada anak usia 3 tahun punya perbendaraan kata seperti itu?)
Othor kata, anggaplah itu perkataan Kia yang berusia 3 tahun ya. hehe.
"Ya udah, kalau gitu Kia duduk ditengah sini, Biar Ayah gak deket sama Bunda sama Adek!" ajak Yulia menuntun tangan mungil duduk diantara keduanya.
"Eh...nasib nasib! " Romi memijit pelipis, kesenangannya terganggu. Lalu menggeser tubuh agak menjauh, memberi ruang pada anak keduanya itu. Tatapannya memelas memandang sang istri yang juga tengah menatapnya tersenyum meledek.
****
"Sayang, udah lupa ya, ritualnya gimana kalau pulang sekolah?" tanya Yulia sembari duduk disamping Shila yang mencopot jilbab putihnya.
"Aku lagi kesel, Bunda. Sama anak cowok namanya Viyo. Dia anaknya tengil banget, suka godain Shila!" adanya setelah mencium punggung tangan sang Bunda.
"Masa, sih!"
"Bunda gak percaya?" tambah merah padam muka Shila, anak itu sifatnya seperti sang Ayah. Wataknya keras, jika marah membeludak bak petasan.
Dar dor dar dor dar....
Yulia mengelus rambut Shila yang sedikit kusut dan lepek karena berkeringat.
"Bukannya gak percaya, Bunda percaya, kok! Shila 'kan anaknya jujur. Sekarang, coba ceritakan, Bunda pengen tahu apa yang bikin Shila kesel, hmm!"
"Viyo teman sekelas aku, itu suka nyolek nyolek janggut aku, terus suka narik narik jilbab, kalau nggak narik tas aku. Dia juga pernah sembunyiin buku aku. Padahal waktu itu ada PR yang harus dikumpulkan. Mana Bu gurunya galak lagi. Shila sampai mau nangis Bunda, bagaimana kalau Shila sampai disuruh berdiri dengan satu kaki depan kelas sampai pelajaran bubar. Capek kan, Bun! " ucapnya berapi api menceritakan ketengilan teman satu kelasnya.
"Waktu pelajaran dia juga suka manggil manggil Shila dari belakang, dia kan duduknya di belakang Shila. Terus narik narik baju juga. Aku 'kan keganggu! "
"Benarkah? Apa Pak Guru atau Bu Gurunya gak ada yang tahu?"
"Sudah sering kena tegur, Bun. Tapi gak kapok juga dia!"
"Yaudah, mungkin dia caper sama Shila! "
"Caper, apaan tuh! Bun?"
"Ya, cari perhatian sama Shila. pengen berteman, tapi gak tau caranya, karena Shila cuekin."
"Coba deh, kalau dia manggil Shila, Shila tanggepin, terus kalau dia tanya Shila jawab, berubah gak dia? Kalau berubah, berarti benar, dia pengen berteman sama Shila." Shila diam mencerna ucapan Yulia.
"Iya, kalau anak cewek. Ini cowok, Bun, Shila gak mau, ah!"
"Yaudah, Bunda gak maksa kok. Gini aja, kalau anaknya masih begitu, bilang aja sama Pak Guru kalau Shila mau pindah tempat duduknya. Kalau anaknya masih ganggu juga, nanti bilang sama Ayah, biar Ayah yang lapor sama pihak Sekolah."
__ADS_1
"Sekarang Shila mandi dulu, udah sore! Bau acem nih. Bentar lagi Ayah juga pulang. Adek Kia lagi bobok."
"Oh, pantesan sepi. Terus, Adek yang disini, lagi ngapain?"
"Adek yang disini juga lagi bobo." jawab Yulia.
"Oiya! Coba aku denger, Bun" Shila mengelus perut Yulia, lalu menempelkan kupingnya pada puncak perut yang membuncit itu. Lalu tiba tiba ia tergelak.
"Hehehe, kayaknya Adek lapar deh, Bun. Tadi aku denger perutnya Bunda bunyi, 'krucuk krucuk' gitu." bahu Shila berguncang.
"Masa, sih!"
Keduanya tertawa tawa. Sebelum akhirnya Yulia mendorong pelan anak sambungnya itu untuk berangkat mandi.
"Ayo, mandi. "
Ting Tong...
Suara bel berbunyi menghentikan tawa mereka, gegas Shila menuju kamar mandi setelah menyambar handuknya. Takut sang Ayah yang datang dan dimarahi.
Siapa sih yang bertamu. Kayaknya bukan mas Romi. Batin Yulia yang hafal kebiasaan Romi. Ia tak pernah membunyikan bel rumah.
"Di-Dini!" sebelum membuka pintu, Yulia mengintip dari kaca jendela, membuka tirainya sedikit dan terkejut. Adik ipar suaminya itu tiba tiba datang tanpa pemberitahuan. Penampilannya pun jauh berubah dari yang dulu. Kini ia berjilbab.
"Assalamu'alaikum!" sapa Dini saat Yulia membuka pintu.
"Waalaikum salam. Dini, Arsen, kalian datang kok gak ngasih kabar dulu!" Arsen mengangguk sebagai tanda hormat pada sang tuan rumah.
"Maaf, mbak. Kami datang tiba tiba. Dini bilang dia teringat Ibu sama Ayah dan juga, mbak Dina. Kami kesini untuk berziarah, mbak!" Yulia melirik koper yang dibawa Dini, dia membawa koper ukuran jumbo kalau hanya untuk menginap beberapa hari. Raut wajahnya pun terlihat acuh pada suaminya.
"Oiya, lupa. Silakan masuk."
"Dion, wah kamu sudah besar banget. Tinggian kamu loh, sama Tante. Ganteng lagi" Yulia takjub akan pertumbuhan Dion. Usianya baru 13 tahun, tapi tingginya hampir menyamai Papanya. Dion hanya tersenyum sambil mencium punggung tangan Yulia. Anak itu memang pendiam.
"Mas Romi sebentar lagi pulangnya." ucap Yulia saat mereka sudah duduk bersama di ruang tamu. Teh dan camilan telah dihidangkan diatas meja oleh Mak Minah.
"Iya, mbak. Bolehkah kami menginap beberapa hari disini? Saya ada urusan disini selain berziarah ke makam mertua sama kakak ipar." Arsen bersuara. Sedang Dini hanya menunduk memainkan jari jemarinya.
"Tentu saja boleh. Kalian kan, saudara kami. Masa iya gak boleh!" seutas senyum Yulia begitu tulus.
"Sebelumnya kami juga minta maaf, nantinya mungkin Dini akan merepotkan kalian dengan ngidamnya." Yulia menganga takjub.
"Oiya, jadi, Dini sedang hamil juga? Tapi, periytnya belum kelihatan menonjol. Sudah berapa bulan? " tanya Yulia memperhatikan gerak Dini.
"3 bulanan mbak. Mbak Yulia sendiri usia berapa kandungannya?"
"Udah delapan bulan, Din."
"Sebulan lagi lairan, dong!" suasana terasa cukup mencair. Dini tersenyum menatap perut Yulia.
"Oiya, minumlah dulu terus istirahat di kamar tamu. Kalian pasti capek, 'kan?"
"Terima kasih mbak. Ayo Dion, katanya tadi kamu capek. " Dini yang menyahut, tanpa mengajak suaminya, ia menarik tangan Dion agar mengikutinya.
Tercipta keheningan serta rasa canggung saat Dini dan Dion telah masik ke kamar. Mau bertanya, tapi Yulia takut salah. Beruntung Romi datang beberapa saat kemudian.
"Assalamu'alaikum. Loh, Arsen! Kapan datang?" heran Romi menepuk pundak adik iparnya, mereka sama sekali tak memberi kabar jika mau bertandang.
"Iya, mas. Tadi, belum setengah jam. Ada perlu disini, dan saya izin sama mas Romi, kami diperbolehkan untuk menginap 2 atau 3 malam disini. "
Tentu saja Romi memperbolehkan Arsen menginap. Setelah berbasa-basi sebentar, Arsen menyusul istri dan anaknya ke kamar. Romi juga segera membersihkan diri. Kia ternyata sudah bangun tidur dan sedang bermain dengan Shila di ruang tengah.
Saat tiba waktunya makan malam.
"Dini, kenapa gak makan? Apa terasa mual perutnya?" tanya Yulia yang melihat Dini hanya menatap makanannya, seperti tak berselera.
"Atau kamu mau apa? Bumil 'kan, kadang maunya yang gak biasa."
"Nggak mbak, saya makan yang ini aja." Dini segera melahap makanan di piringnya, namun terlihat ogah ogahan.
Arshila Devi Setiawan
Zaskia Zhifa Salsabila
__ADS_1
Hanin Syahra Kamila