
****
Baby Rayyan sudah tidur, begitu juga Ifah kelelahan bermain dan telah tidur pula.
"Imah, aku ingin bicara sama kamu!" ucap Wahyu saat Imah menggendong anaknya yang tidur di atas karpet di pindahkan ke kamar. Imah mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Tak berapa lama ia muncul lagi keluar menemui Wahyu.
"Pak Wahyu mau bicara apa sama saya?" Imah bertanya tanpa basa basi.
"Duduklah Imah!" setelah Imah mengambil duduk didepannya, Wahyu pun bicara.
" Aku mau tanya sesuatu, kumohon kamu tidak tersinggung. Selama ini kita tinggal satu rumah, tapi aku tak tahu apa-apa tentang kamu." Imah mengangguk, namun duduknya gelisah. Sebentar sebentar ia bergerak.
"Kalau kau keberatan dengan pertanyaanku, kamu bisa bilang. Dan gak usah menjawabnya." di jawab dengan anggukan lagi.
"Apa statusmu sekarang ini, maksud aku apa kau masih punya suami? karena yang aku lihat kamu gak pernah minta izin pulang untuk nengok suami misalkan, atau orang tuamu?" raut wajah Imah tegang, dan terlihat murung.
"Saya...saya anu... Suami saya pergi ke negeri Jiran pak! Mengadu nasib, untuk memperbaiki nasib kami."
"Sudah lama nggak pulang. Tapi dia sering telpon kita kok! Saya sama Ifah!" jawabnya agak terbata. Wahyu menatap Imah lekat, terlihat sekali ia gelisah.
"Ooh, begitu ya? Berarti Ifah bo'ong dong! Padahal anak kecil kan polos gak pernah bohong!"
Deg!
"Ifah bilang ia gak tahu siapa ayahnya. Katanya Ayahnya pergi ke luar negeri mencari uang yang banyak. Tapi waktu aku tanya apa ia sering telponan dengan ayahnya, dia menggeleng kuat."
Imah tertunduk. Merasa risih dengan tatapan Wahyu.
"Maaf!"
"Buat...?"
"Saya...Ifah yang benar. Dia memang tak pernah telpon dengan kami!" akhirnya jujur juga. Imah bukan tipe orang yang bisa bohong.
"Sudah lama?"
"Sekitar empat tahun, pak. Waktu itu Ifah berusia satu tahunan." Wahyu mengangguk angguk. Sepertinya ia mempunyai celah untuk....
"Kalau dia ke luar negri untuk cari uang selama itu, tapi kenapa kamu mencari kerjaan sampai kamu dan anakmu belum makan seharian waktu kita pertama kali ketemu, apa ia tak mengirimkan uangnya untuk biaya kamu hidup sehari hari?"
"Eh, itu anu sa_saya... saya...!" Imah tak kuasa menjawab.
"Tatap aku Imah, kita sedang bicara. Gak sopan tahu kalau bicara tak lihat orangnya." Wahyu merasa geli sendiri dengan perkataannya, selama hampir tujuh bulan Imah kerja padanya, Imah selalu menjaga pandangannya terhadap dirinya. Ia juga pernah melihat Imah berinteraksi dengan seorang laki laki, sama seperti pada dirinya, ia hanya menunduk.
Perempuan seperti ini jarang di temukan di zaman sekarang. Tapi ia tidak berjilbab seperti ...Yulia! Upps.
__ADS_1
Imah menegakkan wajahnya, tapi tatapan matanya tetap ke bawah.
"Dia.. dia ketemu mantan pacarnya waktu sekolah di sana, dan mereka menikah dan menetap di negeri itu. Setelah sebelumnya menggugat cerai saya. Dua tahun lalu. Kabar yang saya dengar mereka telah memiliki anak!"
"Ya, tapi ia tetap punya kewajiban pada Ifah harusnya."
"Kok bisa proses cerai dari sana?"
"Saya tak tahu pak! Mungkin saudaranya yang mengurus perceraian kami, saya tinggal tanda tangan waktu itu. Dan diusir dari rumah kami sendiri tanpa membawa apapun."
"Hmmm, berarti mereka memalsukan alasan perceraian. Ternyata mantan suamimu sama breng seknya dengan aku, hehehe!" Wahyu tertawa sendiri.
"Ya, aku dulu juga menceraikan istri pertamaku dengan cara seperti itu. Dia cuma tinggal tanda tangan dan langsung aku usir dari rumahku." Wahyu menghela napas, mengingat kenyataan pahit hidupnya dulu. Menceraikan istri yang sangat ia cintai. Dan membuang sebutir berlian untuk memungut sebongkah batu yang sekarang hasilnya ia tuai. Merawat anak yang bukan anak kandungnya.
"Cuman bedanya, dia punya tempat berpulang ke rumah ibunya. Dan kami tak memiliki keturunan setelah tiga tahun pernikahan." Wahyu melengos.
Oh, jadi pak Wahyu sudah menikah dua kali.
"Menyedihkan bukan, kedua pernikahan aku kandas. Di usia yang masih semuda ini "j
"Lalu bagaimana dengan keluargamu, saudara dan orang tuamu? Tinggal dimana mereka semua?"
"Ibu saya meninggal sebelum saya menikah. Dan Ayah saya sakit sakitan setelahnya. Saat tiba tiba adik mantan suami saya datang membawa surat perceraian, Ayah yang menerimanya. Karena merasa sedih Ayah drop dan harus di larikan ke rumah sakit. Namun nyawanya tak tertolong, beberapa hari kemudian meninggal. Kami tak punya apapun selain rumah yang kami tinggali, dan terpaksa kami jual untuk biaya pengobatan Ayah saya. Dan itupun sama sekali tak membantu, karena penyakitnya sudah terlalu parah." Wahyu menyimak Imah dengan seksama. Ternyata kehidupan Imah jauh lebih memprihatinkan.
Imah mengusap sudut matanya yang berair.
Imah mengangguk.
****
"Mas, jangan jauh jauh dong! aku masih kangen!" Romi merasa gerah dan sedikit menjauh. Peluh di dahinya ia seka dengan tisu yang selalu tersedia di meja kecil. Nafasnya pun belum benar benar teratur.
"Kangen apa minta lagi?" Romi tersenyum jahil. Merasa lucu namun senang juga, Yulia akhir akhir ini suka meminta lebih dulu, tak malu menggodanya lebih dulu.
Sejak tragedi bau terasi berakhir, libido yulia makin tinggi. Tapi tentu Romi melakukannya dengan hati hati, tak mau yang di dalam kandungan kenapa napa.
"Boleh!"
"Boleh apanya? Bicara yang jelas dong!" Romi menggoda istrinya.
"Boleh nambah...!" Muka malu malu dengan pipi merah semerah kepiting rebus mencuat. Ia mengelap juga peluh di dahi Yulia.
"Kamu yang bergerak aktif ya! Aku yang tinggal menikmati! Woman on top gaya yang aman buat wanita hamil!" Yulia mengangguk malu malu. Setuju.
****
__ADS_1
"Mas!"
"Kenapa, masih mau lagi? Mas capek besok lagi ya?" ucap Romi dengan mata terpejam. Suaranya juga serak karena setengah sadar. Mereka telah menyelesaikan ronde kedua pertempuran di ranjang.
"Bukan itu...!"
"Hmmm, aku lapar. Pengen makan mi pakai telur di ceplok, sayurnya timun sama taoge!"
"Sebentar ya, aku bener bener gak bisa buka mata nih!" Yulia beringsut dengan kasar. Memunggungi Romi dengan mulut manyun.
Dasar laki laki, kalau udah puas aja langsung ngorok.
Yulia menutupi bahunya yang terbuka. Terasa dingin dari AC namun tubuh terasa lengket karena keringat.
Karena merasa tak nyaman ia memutuskan untuk turun dari ranjang bermaksud berendam dengan air hangat.
Ia menoleh pada Romi saat hendak berjalan menuju kamar mandi, tak ada pergerakan dan terdengar dengkuran halus.
Berendam selama 15 menit membuat tubuhnya lebih segar, ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer sampai kering. Dan saat keluar kamar, ia tak mendapati suaminya di ranjang.
Kemana mas Romi? Apa menengok Shila di kamarnya?
Yulia menantu Romi sambil duduk duduk di ranjang, melihat jam sudah jam sebelas malam. Mulutnya menguap, tapi kembali lagi perutnya merasa lapar.
*****
"Kirain ke kamar Shila, mas!" Berbinar pandangan Yulia dan senyumnya juga merekah. Saat mencium aroma mie kuah waktu Romi masuk ke dalam kamar.
"Mana tega aku membiarkan istriku kelaparan, bisa bisa besok gak dapat jatah lagi!" godanya sambil meletakkan nampan berisi semangkuk mie yang menggugah selera. Dan teh hangat tawar kesukaan Yulia.
"Mas gak makan? kok cuma bikin satu?" menurut pengalaman Romi, Yulia pasti hanya akan makan beberapa suap, dan tidak di habiskan. Di buang juga mubadzir, bikin sendiri pasti kekenyangan karena harus makan juga sisa punya Yulia.
"Mas masih kenyang. Makan kah, atau perlu aku suapi?" tawarnya sambil meraih sendok. Namun dengan cepat Yulia menggeleng.
Romi hanya menelan ludah saat istrinya ternyata tidak membagi mie dengannya. Sebenarnya ia merasa lapar juga, tapi apalah daya tinggal kuah dan irisan bawang yang ada di mangkuk.
"Merhatiinnya begitu amat, Mas! Pengen? Tapi sayang tinggal kuahnya nih!" ucapnya sambil menyerahkan mangkuk pada sang suami tanpa rasa bersalah.
\=\=\=\=\=\=
Ahaha... Bang Romi...
Gak sesuai dengan yang di harapkan ternyata....
dobel up nih...
__ADS_1
Semoga ada yang berbaik hati ngasih vote nya ....