Aku Bukan Wanita Mandul

Aku Bukan Wanita Mandul
Bab 79


__ADS_3

"Nanti pulang ke rumah, ya! Disini kurang bebas ngapa ngapain!" bisik Romi di pagi hari itu. Tadi malam mereka berhimpitan tidur bertiga. Si bucin tak mau melepas tangannya yang menggenggam tangan istrinya.


Yulia mengangguk tanpa menoleh, dia yang sedang menjemur baju yang baru dicucinya di belakang rumah. Sedang Romi terus mengekornya sedari tadi.


Yess! dalam hati Romi bersorak gembira sambil menyeringai senang di belakang Yulia.


"Mas, kamu itu kok kayak gak ada kerjaan aja ya! Sana lah, jangan ikut ikutan aku terus! Kok jadi kayak Shila gede dan kumisan, sih." tegur Yulia ketus sambil melirik ke belakang. Romi langsung pasang muka innocent, bersiul siul sambil pura pura mengibaskan tangan di udara.


"Uh, ada nyamuk! Di sini pasti ada genangan air ya, bahaya ini bisa jadi sarang nyamuk Aedes aigepty, penyebab demam berdarah." ucapnya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


Menghindari tatapan maut sang istri.


"Dasar tukang modus!" ucap Yulia yang kini menghadapnya sambil melotot dan berkacak pinggang.


Gak apalah dikatain tukang modus.


Hahaha, kini Romi ingin rasanya tertawa melihat kelakuan sang istri yang melotot padanya.


"Ah, aku gak takut kamu melotot. Yang ada aku malah tambah gemes sama kamu!" tangan Romi terulur, memencet hidung namun segera di tepis Yulia. Bayangkan saja, perempuan dengan perut gede melotot dan berkacak pinggang. Terlihat lucu.


Huuuh, Yulia cemberut, lalu membalikkan badan dan berjalan masuk ke rumah.


Romi masih dengan tawa merekah tetap ngintil di belakang istrinya.


"Aku tuh ngikutin kamu terus sebab aku khawatir istri cantikku ini kan lagi hamil gede. Takut kenapa napa aja!" katanya memberi alasan.


Masuk akal sih alasannya.


****


Setelah sarapan Romi berangkat ke swalayan. Karena ini hari libur, Shila bermain di teras rumah, ditemani Yulia dan Bu Kanti.


Bu Nur, seorang tetangga Bu Kanti datang bersama cucunya yang seusia Shila.

__ADS_1


"Anaknya mas Romi cantik banget, boleh dong main sama cucu saya?" Yulia yang sedang becanda dengan sila sambil duduk selonjoran menoleh, dan tersenyum pada Bu Nur.


"Iya Bu Nur, silakan. Malahan senang, Shila ada temannya!" tutur Yulia beranjak berdiri. Namun agak kesulitan.


"Aduuh, kalau udah hamil tua jangan duduk di bawah dong, jadi sulit kan mau berdiri!" omel Bu Nur sembari membantu Yulia.


"Hehehe, iya Bu! Makasih udah di bantuin berdiri." jawab Yulia sambil membetulkan bajunya.


Di saat itu ada sebuah sepeda motor melintas lalu berhenti di halaman rumah, dan Yulia terkejut melihat siapa penumpangnya. Dengan senyum manis gadis itu turun dari sepeda motor dan menghampiri mereka.


"Selamat pagi!"


"Pagi juga." jawab semua orang.


"Tante kalau baru datang salam dong? Assalamu'alaikum, gitu!" omel Shila. Wanita itu hanya tersenyum. Yulia mengusap kepala anak sambungnya.


"Shila, ucapan selamat pagi itu juga salam. Gak semua orang mengucap salam dengan assalamu'alaikum. Terutama untuk keyakinan lain." terang Yulia. Shila manggut manggut walau ia belum paham dengan apa yang dikatakan Yulia.


Dengan agak ragu Yulia mengangguk. Ia masih kesal dengan perlakuan wanita itu pada Romi kemarin. Entah siapa yang memulai, tapi di mata Yulia wanita itu begitu senang memeluk Romi.


"Bagaimana kalau kita bicara di rumah makan depan sambil sarapan? Aku traktir kamu, deh!" ucap wanita itu tersenyum upsok akrab.


"Maaf mbak Yesi, saya sudah sarapan barusan. Kalau mau bicara, silakan masuk. Disini mbak juga bisa bicara tanpa ada yang mengganggu!" tolak Yulia membuat wanita itu yang ternyata Yesi, menatap satu persatu orang yang ada. Sepertinya ia ragu akan bicara berdua dengan Yulia di tempat ini.


"Kalau begitu gimana kalau kau aku traktir minum, saya cuma ingin bicara berdua denganmu Yulia!" Yesi masih kekeuh pada keinginannya. Yang mana membuat Yulia agak kesal juga.


"Maaf sekali lagi ya mbak Yesi, aku dan kamu gak ada urusan penting sepertinya, Kalau soal kemarin suami saya sudah mengatakannya, kami juga sudah baikan. Jadi kalau urusan mbak Yesi bicara dengan saya cuma masalah kemarin, tak ada salahnya kita bicara disini. Mbak Yesi gak lihat apa kalau saya lagi hamil tua begini!" agak kesal Yulia mengatakannya, hingga Bu Kanti yang sejak tadi diam saja menyenggol lengan Yulia.


Sedang Bu Nur mengajak Shila dan cucunya menjauh. Merasakan hawa panas tengah menyelimuti. Dan wanita itu adalah tetangga yang super julid, cerita apapun bakal booming kalau Bu Nur yang mengemasnya.


"Baiklah kalau begitu, kita bicara di dalam!" sahut Yesi kemudian melangkah masuk rumah Yulia.


Yesi menatap ke sekeliling ruang tamu, mungkin merasa heran dengan keadaan rumah ini.

__ADS_1


"Maaf mbak Yesi, seperti inilah keadaan saya dan ibu saya. Kami bukan orang kaya, seperti mbak Yesi dan mas Romi tentunya." sindir Yulia karena Yesi mengernyit saat memandang rumahnya.


"Tak apa Yulia, cinta memang tak memandang miskin atau kaya, aku juga tahu Romi bukan tipe pria yang suka membeda bedakan. Ia pasti punya alasan yang kuat milih kamu jadi istrinya. Yang aku lihat kamu adalah apa ya.... wanita yang memegang teguh keyakinan. Entah dalam keyakinan kalian apa itu namanya aku lupa."


"Aku... mau minta maaf perihal kemarin. Aku tak bermaksud mengacaukan hubungan kalian, dan karena kamu sedang hamil tua, itu sebabnya aku secepatnya ingin mengklarifikasi tentang peristiwa yang kemarin itu."


"Aku tak tahu, kalau Romi telah menikah lagi, Sungguh! aku sudah hampir tiga tahun tak bertemu dengannya, tak pernah contact. Sejak aku pindah ke Bali, aku hanya beberapa kali bertemu dengannya."


Yesi berbicara panjang lebar dan Yulia mendengarnya tanpa di sela.


"Romi itu cinta pertamaku Yul, sepertinya memang benar kata orang kalau cinta pertama itu akan sangat berkesan dan sulit dilupakan. Tapi sekarang aku sadar, aku tak akan pernah mendapatkan cinta pertama ku."


Darah Yulia berdesir, Yesi terlalu berterus terang.


"Aku yang pertama kali menyatakan cinta sama Romi, semasa kita kuliah dulu. Tapi ternyata, Romi lebih tertarik dengan sahabatku Dina, pada awalnya aku sakit hati, tapi aku terus memupuk untuk terus berpikir positif, karena aku berpikir Romi dan Dina beda keyakinan. Aku berharap suatu saat Romi akan sadar dan tidak mengubah keyakinannya, namun aku salah."


"Romi memilih mengikuti keyakinan Dina demi menikah dengannya, dan orang tua Romi tak menghalangi kemauan Romi, jalannya mulus menuju pelaminan bersama Dina. Hatiku hancur kala itu, dan aku memilih mengikuti kedua orang tuaku ke Bali, membantu bisnis kecil kecilan mereka di sana."


Hingga aku mendengar kabar Dina sahabatku meninggal, maka aku terbang lagi kesini, ingin menguatkan Romi. Tapi Romi sama sekali tak melihatku. Aku sadar itu mungkin karena Romi baru berduka sepeninggal istri tercintanya. Lalu aku terbang lagi ke Bali, berharap suatu saat ada celah untukku memasuki ruang hati Romi dan menggantikan posisi Dina di hatinya."


" Aku datang dua tahun kemudian, dan keadaan masih sama, Romi sama sekali tak melihatku. Tapi aku tak putus asa, aku selalu mengikutinya kemana ia pergi dan ia seperti jengah kepadaku. Sebelum aku balik ke Bali, aku bicara dengannya dari hati ke hati. Saat itu ia mengatakan belum bersedia memikirkan berumah tangga lagi, dan aku adalah orang yang ia beritahu jika ia ingin membuka hati pada wanita lain. "


"Tapi kenyataannya ia tak pernah mengabari aku, tak mau membuka hati untukku, di sana aku juga begitu sibuk dengan usaha yang didirikan orang tuaku. Hingga baru sekarang aku bisa kemari dan mendapati kenyataan Romi sudah menikah denganmu."


"Aku sadar aku memang tak pernah ada dihatinya, baginya aku hanyalah sahabat istrinya dan tak lebih dari itu. Harapan aku dengannya hanyalah tinggal harapan. Jadi intinya aku dan Romi memang tak ada hubungan apa apa. Tak perlu risau aku mengganggu hubungan kalian. Romi itu tipe setia dengan satu hati. Tak kan dengan mudah pindah, aku berhenti mengejarnya." hampir beberapa menit Yesi bicara tanpa sela. Dan Yulia menjadi pendengar yang baik.


\=\=\=\=\=\=\=


Nah loh siapa yang bilang kemarin ada pelakor...


Othor gak suka pelakor....


Gak mau cerita tentang pelakor...

__ADS_1


__ADS_2